Tanganku gemetar saat menekan bel pagar rumah Pak Hendra. Bunyi *ting-tong* yang biasanya terdengar ceria, kini di telingaku terdengar seperti lonceng kematian di film-film horor klasik. Aku meremas map plastik berisi draf revisi ke-15 yang sudah lewat tenggat tiga hari. Kertas di dalamnya sedikit lembap karena keringat dingin yang mengucur dari telapak tanganku.
"Ayo, Bara. Kamu bisa. Kamu sudah menghadapi singa, sekarang tinggal menghadapi pawangnya yang punya hobi mencoret-coret masa depanmu," bisikku pada diri sendiri, mencoba membangun kepercayaan diri yang sebenarnya sudah lama runtuh ke dasar bumi.
Pintu utama terbuka. Sosok tinggi tegap dengan kacamata bertengger kaku di hidungnya muncul. Pak Hendra. Ia tidak memakai kemeja batik formal seperti biasanya di kampus. Hari ini ia hanya mengenakan kaus polo berwarna biru tua yang dima**kkan rapi ke dalam celana bahan. Namun, aura 'Dosen Killer' itu tidak berkurang satu persen pun. Matanya yang tajam menatapku dari balik lensa kacamata, membuatku merasa seperti amuba yang sedang diteliti di bawah mikroskop.
"Bara. Kamu terlambat tiga hari," suaranya berat, datar, dan mematikan.
"I—iya, Pak. Mohon maaf sebesar-besarnya. Ada kendala teknis di... di bagian metodologi, Pak. Saya harus memastikan data sekundernya tidak *bias*," jawabku terbata-bata. Bohong besar. Kendala teknis sebenarnya adalah aku menghabiskan waktu dua hari untuk merenung di depan laptop sambil memikirkan bagaimana caranya agar Tasya tetap mencint**ku saat tahu ayahnya adalah pria yang sedang menatapku seolah ingin menelanku hidup-hidup ini.
Pak Hendra tidak segera menjawab. Ia melangkah keluar ke teras, melipat tangan di dada. Matanya tidak beralih dari wajahku yang mungkin sudah sepucat kertas HVS 80 gram yang kubawa.
"Ma**k," perintahnya singkat.
Aku mengekor di belakangnya dengan langkah lunglai. Pikiranku sudah melanglang buana. Apakah aku akan diusir? Apakah skripsiku akan dilempar ke tempat sampah? Atau lebih buruk, apakah dia sudah tahu kalau aku yang kemarin menjemput Tasya dengan motor bututku?
Namun, Pak Hendra tidak membawaku ke ruang tamu atau ruang kerjanya yang penuh dengan buku-buku berat. Ia justru membawaku melewati lorong menuju halaman belakang. Aku mengerutkan kening. Apakah dia akan mengeksekusiku di sana agar tidak ada saksi mata?
"Taruh mapmu di kursi itu," tunjuknya ke sebuah kursi rotan di teras belakang.
Aku menurut tanpa bantahan. Saat itulah aku melihat kekacauan di halaman belakangnya. Sebuah tangga aluminium bersandar di tepi atap gudang kecil di pojok taman. Beberapa keping genteng berserakan di bawahnya, dan ada rembesan air yang c**up parah di dinding gudang tersebut.
Pak Hendra berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya tidak suka mahasiswa yang tidak disiplin, Bara. Kamu tahu itu."
"Tahu, Pak. Sangat tahu," sahutku cepat, nyaris seperti refleks militer.
"Tapi, saya juga tidak suka melihat sesuatu yang rusak dan dibiarkan saja," ia menunjuk ke arah atap gudang. "Tukang langganan saya sedang pulang kampung. Istri saya mengeluh plafon gudang mulai lapuk karena bocor. Kamu bilang di CV-mu saat pendaftaran organisasi kampus dulu, kamu punya keahlian 'problem solving' yang kreatif, kan?"
Aku mengerjap. Bagaimana dia bisa ingat det**l sekecil itu dari berkas dua tahun lalu? "Eh, iya Pak. Secara teoretis..."
"Jangan beri saya teori. Skripsimu itu sudah terlalu banyak teori yang berputar-putar tanpa solusi," potongnya pedas. "Sekarang, buktikan kemampuan praktismu. Perbaiki genteng itu. Pastikan tidak ada celah untuk air ma**k lagi. Jika kamu berhasil menyelesaikannya sebelum matahari terbenam, saya akan mempertimbangkan untuk membaca revisi ke-15-mu itu tanpa mencoret-coretnya di halaman pertama."
Mulutku ternganga. "Bapak... Bapak serius?"
Pak Hendra mengangkat alisnya sebelah. "Apa wajah saya terlihat seperti sedang melawak, Saudara Bara? Pilihannya ada di tanganmu. Naik ke atas sana dan perbaiki itu, atau bawa pulang mapmu dan silakan cari dosen pembimbing lain yang punya kesabaran seluas samudra untuk menghadapi keterlambatanmu."
Ini g***. Aku, Bara, mahasiswa tingkat akhir yang bahkan sering gemetar saat memegang penggaris, kini diminta menjadi tukang bangunan dadakan oleh calon bapak mertua—maksudku, dosen pembimbingku.
Aku menatap tangga aluminium itu, lalu menatap map revisiku, dan terakhir menatap wajah Pak Hendra yang tanpa ekspresi. Tidak ada pilihan lain. Ini adalah harga yang harus kubayar untuk kelulusan, dan mungkin, untuk restu di masa depan.
"Saya kerjakan, Pak!" kataku dengan suara yang dipaksakan mantap.
Aku melepas sepatu ketsku dan menggulung lengan kemeja. Dengan ragu, aku mulai memanjat tangga. Setiap anak tangga berderit, seirama dengan detak jantungku yang kian kencang. Pak Hendra berdiri di bawah, memerhatikanku dengan tangan terlipat, persis seperti mandor bangunan yang sedang mengawasi kuli yang dicurigainya akan mencuri semen.
Saat aku sampai di atap, angin sore berembus kencang, membuatku hampir kehilangan keseimbangan. Aku melihat beberapa genteng yang bergeser dari posisinya. "Hanya menggeser genteng, Bara. Kamu bisa. Ini lebih mudah daripada mencari korelasi antara variabel X dan Y," gumamku menyemangati diri sendiri.
Aku mulai merangkak di atas atap yang panas. Keringat mulai memba****i dahi, membuat mataku perih. Aku mencoba menarik satu genteng yang tampak miring, namun gerakanku terlalu kuat.
*Krak!*
Satu keping genteng pecah di tanganku. Aku membeku. Keringat dingin yang lebih besar mengucur di punggungku. Aku perlahan menengok ke bawah. Pak Hendra masih di sana, menatapku dengan mata yang kini menyipit tajam.
"Bara," panggilnya dari bawah, suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Itu genteng jenis *clay tile* pesanan khusus. Jangan katakan padaku kalau kamu baru saja memecahkannya."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi saat ini juga. Di tengah kepanikanku, tiba-tiba pintu belakang rumah terbuka.
"Pa, ini tehnya—"
Suara itu. Suara yang sangat kukenal. Aku menoleh ke bawah dan jantungku seolah berhenti berdetak. Tasya berdiri di sana, memegang nampan berisi dua gelas teh. Matanya membelalak lebar saat melihatku—mahasiswa bimbingan ayahnya sekaligus cowok yang kemarin mengajaknya makan martabak—sedang nangkring di atas atap dengan potongan genteng pecah di tangan.
"Bara? Kamu sedang apa di atas sana?" tanya Tasya dengan nada antara bingung dan ingin tertawa.
Pak Hendra menoleh ke putrinya, lalu kembali menatapku dengan pandangan yang kini penuh selidik. "Kalian... sudah saling kenal?"
Aku terdiam di atas atap, memegang pecahan genteng, terjebak di antara tatapan maut Pak Hendra dan ekspresi terkejut Tasya. Di titik ini, aku sadar bahwa revisi skripsi bukanlah satu-satunya hal yang terancam hancur berantakan sore ini.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!