Aroma kopi hitam yang tajam selalu menjadi pertanda bahwa Papa sedang dalam "mode berburu". Ruang kerja Papa yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit itu biasanya menjadi tempat favoritku untuk mencari ketenangan, tetapi malam ini, ruangan itu terasa seperti ruang interogasi yang dingin. Aku berdiri di ambang pintu, membawa nampan berisi teh melati hangat dan beberapa keping biskuit, namun langkahku terhenti saat melihat pemandangan di atas meja jati besarnya.
Di sana, di bawah sorot lampu meja yang kekuningan, bertumpuk lembaran kertas yang sangat kukenali. Di sudut kanan atas, tertulis nama yang membuat jantungku berdesir sekaligus mencelos: *Bara Prasetya*.
Aku meletakkan nampan dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan denting sekecil apa pun. Papa bahkan tidak mendongak; jemarinya yang panjang masih lincah menari-nari, menggoreskan tinta merah di atas paragraf yang tampak sudah sangat rapi.
"Pa, ini sudah hampir jam sebelas," ucapku lembut, mencoba memecah konsentrasinya.
Papa hanya bergumam tidak jelas, kacamata bacanya turun hingga ke ujung hidung. "Satu halaman lagi, Tasya. Mahasiswa ini... logika berpikirnya masih perlu diasah dengan batu gerinda yang lebih kasar."
Aku memberanikan diri mengintip. Mataku menangkap sebuah catatan di pinggir kertas yang ditulis dengan huruf kapital yang tegas: *GANTI SEMUA DATA. REVISI TOTAL BAB 4.* Aku menelan ludah. Aku tahu persis Bara sudah begadang seminggu suntuk hanya untuk menyelesaikan bab itu. Aku bahkan menemaninya via *video call* sampai dia tertidur di atas laptopnya.
"Ganti semua data?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar. "Bukankah minggu lalu Papa bilang kerangka pemikirannya sudah benar? Bara bilang Papa sendiri yang mengarahkan ke metode ini."
Papa akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menatapku dari balik lensa kacamata. "Situasi berubah, Tasya. Dalam dunia akademis, apa yang benar kemarin bisa jadi sampah hari ini. Dia harus belajar fleksibilitas."
"Atau Papa yang sedang sengaja menyulitkannya?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku sebelum aku sempat menyaringnya.
Ruangan itu mendadak sunyi. Detik jam dinding yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti dentuman palu hakim. Papa meletakkan pulpen merahnya perlahan, sebuah gerakan yang jauh lebih menakutkan daripada jika dia menggeb**k meja.
"Apa maksudmu, Tasya?" tanya Papa dengan nada datar yang mengerikan.
Aku mengepalkan tangan di balik piyama sutraku. "Aku melihat bagaimana Papa memperlakukan mahasiswa lain. Kak Rendy, asisten Papa, bilang Papa biasanya hanya memberikan tiga atau empat kali revisi mayor. Tapi Bara? Ini revisi ke-15, Pa! Dan tadi aku lihat, Papa mencoret bagian yang sebenarnya adalah saran Papa sendiri di pertemuan sebelumnya."
Aku melangkah mendekat, jariku menunjuk tumpukan kertas itu. "Papa tidak sedang membimbingnya. Papa sedang menyiksanya. Ini karena dia pria yang mengajakku kencan minggu lalu, kan? Karena dia 'Bara' yang menjemputku dengan motor bututnya itu?"
Papa bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan tangan di dada. "Seorang ayah punya hak untuk menguji kualitas pria yang berani mendekati putri tunggalnya. Jika dia tidak bisa menghadapi tekanan dari seorang dosen pembimbing, bagaimana dia bisa menghadapi tekanan dunia untuk menghidupimu nanti?"
"Ini tidak adil!" suaraku meninggi satu oktav. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang meluap. "Papa mencampuradukkan urusan profesional dengan obsesi protektif Papa. Bara itu pintar, dia gigih, dan dia sangat menghormati Papa sampai-sampai dia tidak berani mengeluh sedikit pun di depanku. Dia merasa dirinya yang bodoh, padahal Papa yang sengaja memindahkan garis finisnya setiap kali dia hampir sampai!"
"Tasya, jaga bicaramu," tegur Papa dingin. "Papa hanya memastikan dia layak. Pria medioker tidak punya tempat di keluarga ini."
"Dia bukan medioker! Dia sedang berjuang, dan Papa malah mematahkan kakinya saat dia sedang berlari!" Aku menarik napas panjang, mencoba meredam isak tangis yang mendesak keluar. "Papa tahu apa yang paling menyakitkan? Dia sangat mencint** studinya, dia ingin lulus tepat waktu agar bisa membantu ibunya di kampung. Dan Papa menggunakan impian itu sebagai sandera hanya karena Papa tidak suka dia menyukai putrimu."
Aku membalikkan badan, berniat pergi sebelum aku mengatakan hal yang lebih kasar lagi. Namun, kata-kata Papa selanjutnya membuat langkahku terpaku di lant**.
"Kalau dia memang hebat seperti yang kamu bilang, dia pasti akan menemukan cara untuk melewati 'tembok' ini, Tasya. Tapi ingat, besok adalah batas akhir pengumpulan draf untuk sidang periode ini. Dan lihat..." Papa mengangkat lembaran draf milik Bara yang kini sudah penuh dengan coretan merah seperti terkena tumpahan darah. "...dengan revisi sebanyak ini, menurutmu berapa persen kemungkinan dia bisa mengumpulkannya besok pagi?"
Aku berbalik, menatap Papa dengan tatapan yang tidak pernah kuberikan sebelumnyaβtatapan penuh kekecewaan. "Papa bukan sedang mengujinya. Papa sedang menghancurkannya."
Aku berlari keluar dari ruangan itu, mengabaikan pangg***n Papa. Aku ma**k ke kamar, membanting pintu, dan langsung meraih ponselku. Tanganku gemetar saat mencari nama Bara di daftar kontak. Aku ingin meneleponnya, ingin berteriak padanya untuk menyerah saja pada Papa, atau memintanya datang ke rumah dan menculikku sekalian.
Namun, pesannya baru saja ma**k sebelum aku sempat menekan tombol panggil.
*Bara: "Sayang, jangan begadang ya. Aku baru selesai makan mie instan, sekarang mau lanjut ngerjain revisi Bab 4 lagi. Pak Hendra tadi kasih catatan sedikit (oke, banyak sih hehe), tapi aku yakin kalau aku kerjain malam ini, besok pagi bisa langsung aku setor. Doakan aku ya, demi masa depan kita!"*
Aku menutup mulut dengan telapak tangan, merosot duduk di balik pintu kamar. Air mata akhirnya jatuh juga. Dia tidak tahu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa pria yang paling dia segani di kampus itu baru saja merancang sebuah jebakan yang mustahil untuk ia lewati.
Mataku tertuju pada jam di dinding. Pukul 11.15 malam. Hanya tersisa kurang dari sembilan jam sebelum kantor administrasi kampus dibuka. Dan aku tahu, jika aku tidak melakukan sesuatu sekarang, Bara tidak akan pernah mendapatkan gelar sarjananya, apalagi restu dari Papa.
Aku menghapus air mata dengan kasar, lalu berdiri. Jika Papa ingin bermain kotor, maka aku harus belajar menjadi "asisten" yang sedikit melanggar aturan. Aku tahu di mana Papa menyimpan kunci lemari arsip cadangan dan stempel pengesahannya.
Namun, sebuah pikiran tiba-tiba melintas. Bagaimana jika Papa menangkapku? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Papa tahu aku mencampuri urusannya dan malah memberi nilai 'E' permanen untuk Bara?
Layar ponselku menyala lagi. Sebuah foto ma**k. Bara mengirimkan foto *selfie* dengan wajah kusam, mata panda yang parah, namun dengan senyum lebar sambil memegang pulpen. Di latar belakangnya, terlihat tumpukan buku referensi yang menggunung.
*Bara: "Apapun buat lulus, apapun buat restu calon mertua killer!"*
Aku memejamkan mata erat-erat. Aku harus memilih: menjadi putri penurut yang menyaksikan kekasihnya hancur, atau menjadi pemberontak yang mungkin akan mengakhiri karier akademik Bara selamanya jika rencana ini gagal.
Suara langkah kaki Papa terdengar mendekati kamarku, lalu berhenti tepat di depan pintu. Jantungku berpacu g***-g***an. Apakah Papa tahu apa yang sedang kurencanakan?
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!