Suasana di ruang makan rumah Pak Hendra malam ini terasa lebih dingin daripada suhu AC di perpustakaan pusat saat musim hujan. Aku duduk kaku di kursi kayu jati yang rasanya lebih tidak nyaman daripada kursi plastik di ruang tunggu sidang skripsi. Di depanku, sepiring nasi goreng spesial buatan Bu Hendra—yang untungnya sedang pergi ke pengajian—tampak tidak tersentuh. Aroma bumbunya yang gurih kalah telak oleh aroma ketegangan yang menguar di udara.
Tasya duduk di sebelah kananku dengan punggung tegak dan mata yang memerah, menatap lurus ke arah ayahnya. Sementara itu, Pak Hendra—sang 'Malaikat Maut' akademisku—duduk di seberang kami dengan kacamata bertengger di ujung hidung, sibuk membedah sepotong kerupuk seolah itu adalah draf skripsi mahasiswa yang penuh kesalahan tipografi.
"Ayah selalu begitu. Tidak pernah mau mendengarkan," suara Tasya bergetar, ada nada luka yang dalam di sana. "Ini bukan tentang logika atau hitung-hitungan efisiensi, Yah. Ini tentang apa yang Tasya impikan!"
Pak Hendra meletakkan kerupuknya. Bunyi *klotak* kecil saat kerupuk itu menyentuh piring terasa seperti hantaman palu hakim di telingaku. "Impian tanpa rencana yang realistis itu namanya lamunan, Tasya. Ayah hanya ingin kamu tidak membuang waktu untuk sesuatu yang hasilnya sudah bisa diprediksi secara matematis akan gagal."
Aku menelan ludah. Keringat dingin mulai merembes dari pelipis, mengalir pelan melewati pipi. Di kepalaku, otakku sedang bekerja lembur layaknya prosesor komputer tua yang dipaksa merender video 4K. Jika aku membela Tasya, Pak Hendra pasti akan mengingat ini saat mencoret-coret revisi ke-16-ku besok pagi. Tapi jika aku membela Pak Hendra, kencan minggu depan dengan Tasya bisa dipastikan hanya tinggal kenangan.
"Bara, menurutmu aku salah?" Tasya tiba-tiba menoleh padaku. Matanya yang bulat kini berkaca-kaca, menuntut dukungan penuh.
Di saat yang sama, Pak Hendra menatapku tajam dari balik lensa kacamatanya. Tatapan yang sama yang ia gunakan saat menemukan kutipan yang tidak ada di daftar pustaka. "Ya, Bara. Bagaimana menurut perspektifmu sebagai mahasiswa yang... katakanlah, sudah c**up lama mengenal metodologi penelitian?"
Aku berdeham, mencoba mencari suara yang entah hilang ke mana. Kerongkonganku terasa seperti habis mengonsumsi segenggam pasir gurun. *Ayo, Bara. Problem solving. Gunakan kemampuan kreatifmu atau kamu akan kehilangan gelar sarjana sekaligus pacar dalam satu malam.*
"Begini," aku memulai dengan suara yang sedikit mencicit, lalu berdeham lagi untuk mengembalikan wibawa yang tersisa. "Tasya, aku paham kenapa kamu marah. Ide pameran seni digitalmu itu brilian, sangat progresif. Itu adalah bentuk ekspresi yang jarang ada."
Tasya mulai mengangguk pelan, secercah harapan muncul di wajahnya. Namun, aku segera melihat otot rahang Pak Hendra mengeras. Aku harus segera bermanuver.
"Tapi," lanjutku cepat, "aku juga mengerti posisi Pak Hendra. Maksud saya... Om Hendra." Aku sempat melihat kilatan koreksi di mata Pak Hendra saat aku nyaris memanggilnya dengan sebutan dosen. "Om Hendra bicara seperti itu bukan karena ingin membunuh mimpimu, Sya. Tapi karena beliau tahu betapa kejamnya dunia luar jika kita tidak punya tameng yang kuat."
Tasya mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Aku memberanikan diri menatap Pak Hendra sebentar, lalu kembali ke Tasya. "Kamu tahu kan bagaimana Om Hendra kalau di kampus? Beliau adalah dosen yang paling ditakuti. Mahasiswa sering mengeluh karena revisi yang tidak habis-habis. Terma**k aku." Aku memberikan senyum kecut yang tulus. "Tapi kalau aku mau jujur pada diriku sendiri, setiap coretan merah yang beliau berikan itu sebenarnya adalah bentuk perlindungan. Beliau tidak ingin kita dipermalukan saat sidang. Beliau ingin hasil kerja kita sempurna agar tidak ada celah bagi orang lain untuk menjatuhkan kita."
Suasana mendadak hening. Pak Hendra terdiam, tangannya yang tadi hendak mengambil sendok terhenti di udara. Aku bisa melihat sedikit perubahan pada ekspresi wajahnya—sebuah campuran antara terkejut dan sesuatu yang tampak seperti... apresiasi?
"Om Hendra melakukan hal yang sama padamu, Tasya," ujarku lagi, suaraku kini lebih stabil. "Caranya memang menyebalkan. Sangat menyebalkan, malah. Beliau menggunakan logika yang dingin karena beliau tidak ingin melihatmu kecewa nantinya. Beliau cuma ingin 'revisi' rencanamu jadi lebih matang, supaya saat kamu 'sidang' di dunia nyata nanti, kamu bisa lulus dengan predikat terbaik. Beliau hanya tidak tahu cara menyampaikannya tanpa terdengar seperti sedang menguji skripsi."
Tasya terdiam c**up lama. Ia menatap ayahnya, lalu menatapku. Ketegangan di bahunya tampak sedikit mengendur. Ia menghela napas panjang, lalu menyeka sudut matanya dengan tisu.
Pak Hendra berdehem keras, seolah mencoba menyingkirkan kecanggungan yang tiba-tiba memenuhi ruangan. Ia membenarkan posisi kacamatanya dengan gerakan yang sangat kaku.
"Analisis yang... lumayan, Bara," gumam Pak Hendra. Suaranya masih berat dan datar, tapi tidak ada nada mengancam di sana. "Setidaknya kemampuan observasimu terhadap objek penelitian lebih baik daripada kemampuanmu mengutip jurnal internasional."
Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Rasanya seperti baru saja lolos dari lubang jarum. Tasya meraih tanganku di bawah meja, meremasnya pelan sebagai tanda terima kasih. Aku merasa seperti pahlawan, setidaknya untuk lima detik ke depan.
"Tapi," Pak Hendra melanjutkan, membuat jantungku kembali melompat ke tenggorokan. Beliau menatapku dengan tatapan yang sangat familiar—tatapan 'ada yang kurang' yang biasa muncul di lembar revisiku. "Karena kamu sudah merasa begitu paham dengan cara berpikir saya, Bara... besok pagi jam delapan, datang ke ruangan saya. Bawa draf bab empatmu yang katanya sudah kamu perbaiki itu."
Senyum di wajahku membeku.
"Saya ingin lihat apakah kemampuan 'problem solving' verbalmu ini sejalan dengan kualitas tulisanmu," tambahnya sambil mulai menyuap nasi gorengnya dengan tenang. "Kalau tidak, mungkin kamu butuh sepuluh atau lima belas revisi lagi untuk benar-benar paham maksud 'perlindungan' yang kamu bicarakan tadi."
Tasya menahan tawa sambil menatapku prihatin, sementara aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Nasi goreng di piringku tiba-tiba tampak seperti tumpukan kertas revisi yang harus kuselesaikan sebelum fajar menyingsing. Ternyata, menjadi penengah di keluarga ini jauh lebih berbahaya daripada menghadapi ujian komprehensif sekalipun.
"Jam delapan tepat, Bara," Pak Hendra mengingatkan tanpa menoleh. "Jangan sampai saya harus menandai namamu dengan tinta merah lagi."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, menyadari bahwa kemenangan kecil malam ini baru saja membuka pintu menuju medan perang yang jauh lebih besar esok pagi.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!