Gagang pintu besi itu terasa sedingin es saat telapak tanganku menyentuhnya. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, berdentum keras seperti drum band yang sedang parade di dalam dada. Ini adalah momen yang sudah aku bayangkan selama empat tahun, namun tidak pernah sekalipun aku membayangkan situasinya akan seaneh ini.
Aku melangkah ma**k ke Ruang Sidang 302. Aroma kopi hitam yang tajam bercampur dengan bau kertas lama dan sisa-sisa pengharum ruangan rasa jeruk yang mulai memudar. Di depan sana, di balik meja kayu panjang yang disusun melintang, duduk tiga orang eksekutor. Dua dosen penguji lainnya tampak sibuk membolak-balik draf skripsiku, sementara pria di tengah, Pak Hendra, hanya duduk diam dengan tangan tertaut di depan dagu.
Mata Pak Hendra yang tajam di balik kacamata minusnya menatapku lurus-lurus. Tidak ada jejak senyum ramah seperti saat beliau menerima oleh-oleh martabak manis dariku minggu lalu di rumahnya. Di sini, dia bukan calon ayah mertua yang kikuk. Di sini, dia adalah Sang Malaikat Maut Akademis.
"Silakan duduk, Saudara Bara," suara Pak Hendra berat dan datar, bergema di ruangan yang sunyi itu.
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemetar di ujung jariku saat menyalakan proyektor. "Terima kasih, Pak."
Presentasiku dimulai dengan suara yang sedikit parau di awal, namun perlahan aku menemukan ritmeku. Aku menjelaskan tentang metodologi, pengolahan data, hingga temuan penelitianku dengan lancarβsetidaknya itu menurut perasaanku. Aku sudah berlatih di depan cermin, bahkan di depan kucing kampung di depan kosan, selama berhari-hari. Namun, setiap kali mataku tidak sengaja beradu dengan mata Pak Hendra, aku merasa seolah-olah seluruh teoriku sedang dipreteli satu per satu oleh tatapan dingin itu.
Dua dosen penguji pertama memberikan pertanyaan yang c**up standar. Aku berhasil menjawabnya dengan c**up baik, meski harus berkali-kali menyeka keringat dingin yang mulai merembes di pelipis. Namun, aku tahu ini hanyalah pemanasan. Hidangan utamanya baru saja akan dimulai.
Pak Hendra berdehem, suara yang seketika membungkam seluruh ruangan. Beliau membolak-balik draf skripsiku dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat untuk menyiksaku.
"Saudara Bara," Pak Hendra memulai, nadanya sangat formal. "Saya membaca bab pembahasan Anda, khususnya pada halaman 87. Di sana Anda menyebutkan bahwa 'integritas dalam pengumpulan data adalah fondasi utama dari sebuah penelitian'."
Aku menelan ludah. "Betul, Pak."
Beliau melepaskan kacamatanya, lalu menggosok lensanya dengan kain kecil seolah-olah hal itu jauh lebih penting daripada nasib kelulusanku. "Jika kita berbicara soal integritas, saya jadi bertanya-tanya. Di dalam penelitian ini, Anda menggunakan teknik purposive sampling. Tapi saya melihat ada kejanggalan dalam pemilihan responden nomor 12 sampai 20."
Jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat. Aku hafal setiap angka di data itu. Responden 12 sampai 20 adalah data yang paling sulit kudapatkan, dan akuβdengan sedikit improvisasi kreatif karena tenggat waktu yang mencekikβmungkin sedikit terlalu berani dalam menginterpretasikannya.
"Ada apa dengan responden tersebut, Pak?" tanyaku, berusaha terdengar setenang mungkin meski lututku mulai lemas.
Pak Hendra mencondongkan tubuh ke depan. Aura dominasinya memenuhi ruangan, membuat AC yang sudah dingin terasa semakin menusuk tulang. "Data Anda terlihat... terlalu sempurna. Terlalu rapi untuk sebuah fenomena sosial yang biasanya berantakan. Dan saya sangat benci sesuatu yang dipoles hanya agar terlihat manis di depan mata saya."
Kata 'manis' itu ditekankan dengan cara yang membuatku merinding. Apakah dia sedang bicara soal skripsiku, atau soal cara aku mendekati Tasya selama ini?
"Coba jelaskan pada saya, Bara," lanjutnya dengan suara yang kini merendah, hampir seperti bisikan yang mengancam. "Bagaimana Anda bisa menjamin bahwa data ini bukan sekadar hasil rekayasa demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan Anda? Karena jika saya menemukan satu saja ketidakkonsistenan, saya tidak hanya akan meminta Anda revisi. Saya akan membatalkan seluruh sidang ini dan meminta Anda mengulang penelitian dari nol tahun depan."
Aku terpaku. Ruangan itu mendadak terasa menyempit. Aku bisa merasakan tatapan dua dosen lainnya yang kini ikut menaruh curiga padaku. Di kepalaku, bayangan Tasya yang sedang menungguku di luar ruangan dengan buket bunga mulai memudar, digantikan oleh bayangan diriku mengenakan toga di usia 30 tahun sebagai mahasiswa abadi.
Aku menatap layar proyektor yang menampilkan tabel data tersebut. Otakku bekerja keras, mencari celah, mencari jawaban yang paling logis namun tetap jujur. Aku tahu, Pak Hendra tidak hanya sedang menguji ilmuku. Dia sedang menguji keberanianku untuk mengakui kelemahan karyaku sendiri di depan orang yang paling ingin kupukau.
"Mengenai responden 12 sampai 20, Pak..." kataku pelan, suaraku sedikit bergetar.
Aku menarik napas, lalu memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat berisiko. Sesuatu yang mungkin akan membuatku lulus, atau justru langsung menendangku keluar dari ruangan ini dengan status 'Gagal'.
"Sebenarnya, ada alasan mengapa data itu terlihat sangat rapi, Pak. Dan itu berkaitan dengan kesalahan teknis yang saya temukan di lapangan, yang baru saya sadari setelah draf ini dijilid."
Pak Hendra menaikkan sebelah alisnya, sebuah gestur yang sangat kukenal sebagai tanda bahwa beliau siap menerkam mangsanya. Beliau menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada, dan menatapku dengan tajam.
"Oya? Kesalahan apa itu? Dan kenapa Anda baru jujur sekarang di depan meja penguji?"
Suasana menjadi sangat mencekam. Keheningan yang mengikuti pertanyaan itu terasa begitu berat sampai aku bisa mendengar detak jarum jam di dinding. Aku tahu, satu kalimat berikutnya akan menentukan apakah aku akan keluar dari ruangan ini sebagai sarjana, atau sebagai pecundang yang kehilangan masa depan sekaligus restu calon mertua.
Aku menatap Pak Hendra dalam-dalam, mengabaikan rasa takut yang mencekik tenggorokan, lalu membuka mulut untuk memberikan pengakuan yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!