Cangkir porselen berisi kopi hitam pekat yang sudah mendingin itu terabaikan di sudut meja kerja jati yang kokoh. Hendra menyesap udara ruangan yang beraroma buku tua dan tinta printer, lalu mengembuskannya perlahan. Di hadapannya, tertumpuk naskah skripsi setebal dua ratus halaman dengan coretan merah yang merajai hampir setiap lembar. Nama di sampulnya tertulis jelas: **Bara Mahendra**.
Hendra menyandarkan punggung, membiarkan sendi-sendinya berkerut pelan. Di luar sana, mahasiswa menjulukinya 'Malaikat Maut'. Mereka pikir Hendra menikmati penderitaan mereka. Mereka pikir setiap coretan merah itu adalah cara Hendra memuaskan ego intelektualnya.
Ia meraih pena merahnya, memutarnya di antara jari-jari yang mulai keriput. Sebenarnya, alasan di balik ketegasannya—yang orang lain sebut kekejaman—jauh lebih sederhana. Dunia di luar pagar kampus tidak peduli pada air mata mahasiswa tingkat akhir. Dunia kerja adalah hutan belantara yang akan mengunyah dan memuntahkan siapa pun yang lembek. Hendra hanya ingin mereka menjadi baja, bukan sekadar plastik yang meleleh saat dipanaskan sedikit saja.
Namun, variabel baru bernama Bara ini membuat situasinya menjadi... personal.
Pikiran Hendra melayang pada kejadian kemarin sore, saat ia melihat dari balik jendela ruang kerjanya. Bara berdiri di parkiran, merapikan kemejanya yang kusut dengan raut wajah seolah sedang menuju tiang gantungan, hanya untuk menjemput Tasya—putri tunggal Hendra.
Hendra mendengus pelan. Senyum tipis yang jarang terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Bara, Bara..." gumamnya pelan. "Kamu punya nyali, tapi apakah kamu punya tulang punggung?"
Tasya adalah segalanya bagi Hendra. Sejak istrinya meninggal sepuluh tahun lalu, dunianya berputar pada kebahagiaan gadis itu. Dan sekarang, seorang mahasiswa yang bahkan tidak bisa membedakan antara 'di mana' sebagai kata depan dan awalan, berani-beraninya mendekati intannya.
Hendra menarik laci meja, mengambil sebuah foto kecil Tasya saat wisuda SMA. Ia harus memastikan satu hal: Apakah Bara mencint** Tasya lebih dari ia mencint** kelulusannya? Ataukah Bara akan lari terbirit-birit saat beban akademis dan tekanan mental darinya digabungkan menjadi satu badai yang sempurna?
Ia kembali menatap naskah bab 15 milik Bara. Sebenarnya, argumen yang ditulis mahasiswa itu mulai menunjukkan pola yang menarik. Ada kreativitas yang liar, meski masih berantakan. Tapi bagi Hendra, itu belum c**up. Ia butuh lebih dari sekadar kecerdasan. Ia butuh integritas.
Hendra mengambil pena merahnya lagi. Dengan sapuan tangan yang mantap, ia mencoret seluruh paragraf di halaman terakhir—bagian kesimpulan yang sudah diperbaiki Bara dengan susah payah. Di pinggir kertas, ia menuliskan catatan dengan huruf kapital yang tajam: *REVISI TOTAL. ARGUMEN TIDAK BERDASAR. TEMUI SAYA BESOK JAM 7 PAGI DI LABORATORIUM.*
Ia tahu, jam tujuh pagi adalah waktu di mana Bara biasanya baru mulai mengumpulkan nyawanya. Ia sengaja. Ia ingin melihat sejauh mana pemuda itu bisa ditekan sebelum akhirnya meledak atau menyerah.
Tiba-tiba, ponsel Hendra bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp dari Tasya ma**k.
*“Pa, nanti malam Bara mau mampir sebentar ya, mau bawain Martabak kesukaan Papa. Jangan galak-galak, please? He’s a good guy.”*
Hendra menatap layar ponsel itu dengan tatapan datar. *Good guy?* Mungkin. Tapi apakah dia *strong man*?
Ia meletakkan ponselnya kembali dengan posisi layar menghadap ke bawah. Rencana jahat—atau lebih tepatnya, ujian final yang sesungguhnya—mulai terbentuk di kepalanya. Hendra ingin menguji apakah Bara akan menggunakan "jalur belakang" melalui Tasya untuk melunakkan hatinya, atau apakah Bara akan tetap bertarung sebagai lelaki sejati di ruang bimbingan.
Jika Bara meminta Tasya untuk membujuknya agar revisi ini dipermudah, maka saat itu juga Hendra akan memastikan hubungan mereka berakhir. Hendra tidak akan menyerahkan putrinya kepada pria yang menggunakan perempuan sebagai perisai dari tanggung jawabnya.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah gerbang kampus. Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, ia bisa melihat siluet mahasiswa yang masih berlalu-lalang, berjuang demi selembar ijazah.
"Dunia ini keras, Bara," bisik Hendra pada kaca jendela yang dingin. "Dan aku akan menjadi guru yang paling keras untukmu. Jika kamu bisa bertahan dariku, kamu bisa bertahan dari apa pun. Terma**k menjaga putriku."
Ia mengambil jaketnya, bersiap untuk pulang. Namun, sebelum mematikan lampu ruangan, matanya tertuju pada tumpukan revisi ke-15 milik Bara. Ada sesuatu yang tertinggal di selipan kertas itu—sebuah foto kecil yang tampaknya terjatuh dari dompet Bara saat bimbingan tadi siang.
Hendra memungutnya. Itu adalah foto Tasya yang sedang tertawa lebar di sebuah kedai kopi, tampak diambil secara diam-diam oleh seseorang yang memandangnya dengan penuh kekaguman. Di balik foto itu tertulis kalimat sederhana dengan tulisan tangan Bara yang cakar ayam: *Alasan untuk tidak menyerah hari ini.*
Jantung Hendra berdenyut aneh. Ada rasa bangga yang berusaha ia tekan kuat-kuat. Namun, egonya sebagai dosen killer dan pelindung sang putri tetap menang. Ia meremas foto itu perlahan, lalu mema**kkannya ke dalam saku jasnya.
"Kita lihat saja besok pagi," gumam Hendra dengan nada yang lebih dingin dari biasanya. "Saat aku memberimu pilihan: skripsi ini selesai, atau kamu menjauhi putriku selamanya."
Hendra mematikan lampu, meninggalkan ruangan yang kini tenggelam dalam kegelapan, menyisakan aura ancaman yang akan menyambut Bara esok hari. Ia sudah menyiapkan skenario paling sulit yang pernah ada dalam sejarah bimbingan skripsi di universitas ini. Sebuah dilema yang akan memaksa Bara memilih antara masa depannya atau cintanya.
Dan Hendra sudah tidak sabar melihat wajah pucat Bara saat menerima 'hadiah' tersebut.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!