Toga yang kupakai terasa lebih berat daripada kelihatannya. Kain hitam sintetis ini seolah-olah menyerap seluruh keringat dingin yang mengucur dari pelipisku, sementara kuncir di topiku terus-menerus menampar pipi setiap kali aku menoleh gelisah. Di podium tadi, saat Pak Hendra menyalami dan memindahkan kuncir togaku, tangannya terasa seperti besi panas yang mencapku sebagai "Alumni". Tapi ketegangan itu belum berakhir. Justru, malam ini adalah ujian skripsi yang sebenarnya: Makan malam perayaan kelulusan di rumah keluarga Tasya.
Ruang makan itu beraroma rendang dan melati. Sangat kontras dengan aroma kertas fotokopi dan kafein yang biasanya menyelimuti hari-hariku. Aku duduk di kursi kayu jati yang ukirannya terasa menusuk punggungku yang kaku. Di depanku, Pak Hendra duduk dengan kemeja batik rapi, wajahnya tetap datar seperti penggaris besi, namun matanya tidak lagi memancarkan sinar laser yang siap menghanguskan draf bab empatku.
Di sampingnya, Ibu Sari, istrinya yang selalu tampak lembut dan keibuan, tersenyum begitu manis hingga membuatku sedikit merinding. Dan tentu saja, ada Tasya. Gadis itu mengenakan gaun biru muda, tangannya sesekali menyentuh lenganku di bawah mejaβsebuah jangkar yang menjagaku agar tidak melayang pergi karena kecemasan akut.
"Makan yang banyak, Bara. Kamu terlihat jauh lebih kurus sejak revisi ke-12," suara Pak Hendra memecah kesunyian, berat dan berwibawa.
Aku tersedak nasi putih. "Terima kasih, Pak. Eh... Om. Maksud saya... ya, begitulah."
Tasya tertawa kecil, suaranya seperti denting lonceng yang menenangkan. "Pa, jangan panggil 'revisi' lagi. Bara sudah lulus. Hari ini dia bukan mahasiswa Papa lagi."
Pak Hendra mendengus pelan, sebuah suara yang biasanya berarti 'argumenmu lemah', tapi kali ini diikuti dengan senyum tipis yang sangat langkaβseperti melihat komet Halley muncul di siang bolong. "Ya, ya. Dia sudah membuktikannya. Meskipun di revisi ke-15 saya hampir saja melempar laptopnya keluar jendela karena dia salah meletakkan daftar pustaka."
Aku hanya bisa tersenyum kecut, memori tentang malam-malam tanpa tidur dan mi instan dingin kembali berputar di kepala. "Itu... pengalaman yang sangat mendewasakan saya, Om."
"Bara itu gigih, Pa," sela Ibu Sari. Beliau menuangkan teh hangat ke gelasku. "Ibu perhatikan, tidak banyak mahasiswa yang tahan menghadapi 'standar emas' Papa yang tidak ma**k akal itu. Tapi Bara tidak menyerah. Dia tetap datang ke rumah ini dengan wajah pucat, membawa map merah, demi mendapatkan tanda tanganmu... dan tentu saja, demi melihat Tasya."
Wajahku memanas. Tasya menyenggol bahuku, menggoda.
"Sebenarnya," lanjut Pak Hendra, meletakkan sendok dan garpunya dengan presisi yang sangat simetris, "saya bangga. Kamu punya *grit*, Bara. Di dunia kerja nanti, atasanmu mungkin tidak sekejam saya, tapi tekanan hidup akan jauh lebih berat. Saya rasa... saya bisa mempercayaimu untuk menjaga Tasya."
Jantungku rasanya ingin melompat keluar dari toga yang belum sempat kuganti ini. Pengakuan! Pengakuan resmi dari sang 'Malaikat Maut' akademik! Aku merasa seperti baru saja memenangkan Nobel, atau setidaknya mendapatkan nilai A mutlak tanpa syarat.
"Terima kasih banyak, Om. Saya janji tidak akan mengecewakan Om, Tante, dan terutama Tasya," ucapku dengan nada yang berusaha kubuat semantap mungkin, meski suaraku sedikit retak di ujungnya.
Suasana menjadi begitu hangat. Tasya menatapku dengan mata berbinar penuh kebanggaan. Aku merasa beban dunia terangkat. Tidak ada lagi revisi, tidak ada lagi coretan merah, hanya masa depan cerah bersama gadis impianku.
Namun, di tengah momen haru itu, Ibu Sari tertawa kecil. Tawa yang terdengar sedikit... berbeda. Beliau menatap Pak Hendra, lalu kembali menatapku dengan binar jenaka yang misterius di matanya.
"Bara, kamu tahu tidak? Sebenarnya Hendra itu sudah ingin meluluskanmu sejak revisi kedelapan," ucap Ibu Sari sant** sambil mengunyah kerupuk.
Gerakan tanganku yang hendak menyuap rendang terhenti di udara. "Hah? Maksudnya, Tante?"
Pak Hendra tiba-tiba terbatuk, wajahnya yang kaku mendadak berubah menjadi merah padam. "Ma, sudahlah. Tidak perlu dibahas."
"Kenapa tidak? Bara harus tahu betapa visionernya calon ibu mertuanya ini," Ibu Sari mengabaikan protes suaminya. Beliau mencondongkan tubuh ke arahku, suaranya merendah seolah membocorkan rahasia negara. "Waktu itu, Ibu bilang ke Papa, 'Pa, anak ini kelihatannya terlalu gampang menyerah. Kalau cuma sampai revisi delapan dia sudah lulus, mentalnya tidak akan kuat kalau nanti kamu galaki sebagai menantu'."
Mataku membelalak. Tasya pun tampak terkejut, mulutnya membentuk huruf 'O' sempurna.
"Jadi," lanjut Ibu Sari dengan senyum paling manis namun paling mengerikan yang pernah kulihat, "Ibu yang menyuruh Papa untuk mencari-cari kesalahan sekecil apa pun. Ibu yang bilang, 'Coret saja lagi, Pa. Biar dia balik lagi ke sini minggu depan. Biar kita bisa lihat seberapa besar usahanya buat mengejar Tasya lewat jalur skripsi'. Tragedi revisi ke-9 sampai ke-15 itu... sebenarnya itu ide Ibu, Bara. Supaya kita bisa mengetes 'kadar cinta' dan ketahanan mentalmu."
Duniaku serasa berhenti berputar. Garpu di tanganku berdenting jatuh ke atas piring porselen. Aku menatap Pak Hendra yang kini sibuk memandangi cicak di langit-langit, menghindari tatapanku. Lalu aku menatap Ibu Sari yang masih tersenyum anggun, seolah baru saja menceritakan resep kue bolu, bukan menceritakan bagaimana beliau menyabotase kesehatan mental mahasiswanya selama tiga bulan terakhir.
Selama ini aku mengira Pak Hendra adalah musuh terakhirku. Ternyata, naga yang sebenarnya sedang duduk dengan tenang sambil menuangkan sambal ke piringnya.
"Tante... yang merencanakan semuanya?" suaraku nyaris berupa bisikan.
Ibu Sari mengangguk ceria. "Dan hasilnya luar biasa, kan? Kamu jadi lulusan terbaik, dan kamu terbukti tahan banting. Oh, tapi jangan senang dulu, Bara. Itu baru tes tahap pertama untuk jadi menantu di rumah ini. Ibu punya daftar 'revisi' lain untuk persiapan lamaran kalian nanti."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dingin AC di ruangan itu mendadak terasa seperti musim salju di Siberia. Aku menatap Tasya yang hanya bisa meringis simpati, lalu kembali menatap Ibu Sari yang kini mulai mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku daster batiknya.
Jika revisi skripsi saja membutuhkan 15 kali percobaan untuk memuaskan Pak Hendra, berapa ratus revisi yang harus kulalui untuk memuaskan Ibu Sari? Ternyata, kelulusanku hari ini bukanlah garis finis, melainkan gerbang menuju labirin revisi yang jauh lebih mematikan.
"Nah, untuk poin pertama rencana pertunangan," Ibu Sari membuka buku catatannya dengan gerakan elegan yang membuat bulu kudukku berdiri, "Ibu rasa konsep yang kamu usulkan lewat Tasya kemarin... perlu sedikit banyak perbaikan. Mari kita mulai revisi pertamanya malam ini, ya?"
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!