Kain toga yang terasa gatal di leher dan udara panas yang terperangkap di dalam aula universitas seharusnya membuatku uring-uringan. Namun, saat namaku digemakan oleh pengeras suara—“Bara Mahendra, Sarjana Ekonomi”—rasanya seolah-olah beban beton seberat sepuluh ton yang selama ini bertengger di pundakku luruh seketika. Aku melangkah dengan tungkai yang sedikit gemetar menuju podium. Di sana, berderet para petinggi fakultas, dan di ujung barisan itu, duduk sesosok pria dengan kacamata bertengger di ujung hidung dan tatapan yang sanggup membekukan aliran darah: Pak Hendra.
Saat aku berdiri tepat di depannya, Pak Hendra tidak langsung memindahkan tali togaku dari kiri ke kanan. Ia menatapku selama beberapa detik yang terasa seperti satu milenium. Aku menelan ludah, refleks memeriksa apakah ada noda kopi di kemejaku atau apakah resleting celanaku sudah tertutup rapat. Penyakit *overthinking*-ku kambuh di saat yang paling tidak tepat.
"Akhirnya lulus juga kamu, Bara," bisiknya, sangat pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengar di tengah keriuhan tepuk tangan. Senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tidak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Jangan pikir ini akhir dari penderitaanmu."
Ia memindahkan tali togaku. Aku menyalami tangannya yang dingin dan kaku, lalu bergegas turun sebelum ia berubah pikiran dan memintaku melakukan revisi ke-16 tepat di atas panggung.
Di luar aula, di bawah sinar matahari yang terik, aku menemukan sosok yang membuat semua drama revisi ini terasa sepadan. Tasya berdiri di sana, mengenakan gaun floral yang cerah, memegang buket bunga matahari yang besar. Senyumnya merekah, jauh lebih terang daripada kilatan lampu kamera para fotografer wisuda keliling.
"Selamat, ya, Sarjana!" Tasya menghambur memelukku. Aroma parfum vanilanya menyapu kegelisahanku. "Aku bangga banget sama kamu. Kirain kamu bakal jadi mahasiswa abadi."
"Aku juga hampir mengira begitu," jawabku, tertawa sambil mengeratkan pelukan. "Kalau bukan karena motivasi dari 'malaikat maut' pribadiku, mungkin aku masih berkutat di Bab Empat sampai sekarang."
Kami melepaskan pelukan saat sebuah dehaman berat terdengar dari belakang. Pak Hendra sudah berdiri di sana, masih mengenakan jubah kebesarannya, didampingi Ibu Tasya yang tampak jauh lebih ramah. Aku refleks menegakkan posisi berdiri, tangan secara otomatis ma**k ke sikap sempurna seperti prajurit yang sedang diinspeksi jenderal.
"Jadi," Pak Hendra memulai, melipat tangan di depan dada. "Sudah dapat ijazah, sudah dapat pekerjaan di perusahaan konsultan itu. Apa rencana selanjutnya?"
Aku melirik Tasya, yang memberiku anggukan penyemangat. Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang biasanya habis saat berhadapan dengan coretan tinta merah di draf skripsiku.
"Pak, seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya secara informal," kataku dengan suara yang diusahakan tetap stabil meski lututku mulai goyah. "Setelah saya stabil di pekerjaan baru ini, saya berniat untuk serius dengan Tasya. Saya ingin membicarakan rencana masa depan kami... pernikahan kami."
Tasya menggenggam tanganku. Suasana mendadak hening. Seorang mahasiswa yang lewat dan tidak sengaja menab**k pundak Pak Hendra langsung meminta maaf dengan wajah pucat dan lari tunggang langgang. Pak Hendra tidak bergeming. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pulpen pilot hitam yang sangat kukenal. Pulpen yang sama yang sering mematikan harapan-harapanku di ruang bimbingan.
"Pernikahan, ya?" Pak Hendra membuka buku catatannya. "Saya sudah membuat draf awal untuk rencana kalian. Dan jujur saja, Bara, proposal rencana masa depan yang kamu ceritakan pada Tasya tempo hari itu... masih sangat medioker."
Aku ternganga. "Maksud Bapak?"
"Pertama, soal lokasi," Pak Hendra mulai menulis dengan cepat di bukunya. "Kamu mau menyewa gedung di pusat kota pada hari Sabtu? Secara metodologis itu salah. Kemacetan akan menurunkan tingkat kehadiran tamu hingga empat puluh persen. Revisi: cari tempat yang aksesnya dekat dengan stasiun atau pintu tol."
Tasya mengerang kecil. "Papa, ini pernikahan, bukan seminar nasional."
"Diam dulu, Tasya. Ini demi kebaikan kalian," potong Pak Hendra tanpa menoleh. Tatapannya kembali padaku, lebih tajam dari biasanya. "Lalu soal katering. Kamu bilang ingin konsep *standing party* dengan menu nusantara? Tidak efisien. Analisis risiko menunjukkan tamu akan berebut rendang dan menyebabkan antrean yang tidak perlu. Saya mau kamu buat daftar vendor alternatif dengan sistem *layouting* yang lebih logis."
Aku merasa duniaku mulai berputar. Wisuda ini ternyata bukan garis finis, melainkan garis start untuk babak bimbingan yang lebih mengerikan.
"Dan yang paling penting," Pak Hendra mendekat, menatap langsung ke mataku hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang gemetaran di kacamatanya. "Rencana cicilan rumahmu. Bunga bank yang kamu ajukan itu terlalu tinggi. Saya sudah buatkan perbandingan dari tiga bank berbeda. Pelajari malam ini, besok jam sepuluh pagi datang ke rumah. Kita akan lakukan bimbingan pertama untuk 'Proposal Pernikahan' kalian."
Ia menyodorkan selembar kertas yang disobek dari buku catatannya. Di bagian atas, tertulis dengan tinta hitam tebal yang sangat rapi: **REVISI TOTAL: RENCANA HIDUP BARA & TASYA (VERSI 1.0).**
"Tapi Pak, besok kan hari Minggu..." protesku lemah.
"Tidak ada hari libur untuk kesempurnaan, Bara. Kamu mau menjadi menantu saya atau tidak?"
Aku melihat kertas itu, penuh dengan coretan dan panah-panah instruksi yang rumit. Aku menelan ludah, melihat Tasya yang hanya bisa menepuk-nepuk bahuku dengan tatapan prihatin. Sepertinya, gelar sarjanaku tidak akan membantuku lolos dari 'dosen killer' ini.
Pak Hendra berbalik pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh sedikit. "Oh, satu lagi. Font di proposalmu nanti harus *Times New Roman* ukuran 12, spasi 1,5. Jangan coba-coba pakai *Calibri* kalau tidak mau saya coret dari daftar ahli waris."
Aku menatap lembaran kertas di tanganku dengan lemas. Saat aku melihat poin nomor empat di daftar revisinya, mataku membelalak. Di sana tertulis: *Lampirkan bukti survei kepuasan calon mertua terhadap perilaku harian.*
"Tasya," bisikku parau. "Survei kepuasan calon mertua itu instrumen penilaiannya pakai skala apa?"
Tasya hanya bisa meringis, sementara dari kejauhan, aku bisa bersumpah mendengar suara tawa kecil yang dingin dari Pak Hendra yang mulai menghilang di kerumunan wisudawan lainnya. Perjuanganku baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada kata 'lulus' jika aku gagal memenuhi revisi sang calon mertua.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!