Revisi Cinta: Menantu Idaman Sang Dosen Killer

Bab 4: Bab 4 - Mencoba bersikap profesional di kampus setelah ...

Pengaturan Membaca

Jantungku rasanya seperti sedang melakukan maraton di dalam rongga dada yang sempit. Setiap langkah menyusuri koridor Fakultas Ekonomi pagi ini terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Bau karbol pembersih lant** yang biasanya netral, entah kenapa tercium seperti aroma ruang tunggu rumah sakitβ€”dingin dan mencekam.

Aku merapatkan jaket, berusaha menenggelamkan leherku ke dalam kerah. Bayangan kejadian semalam masih menari-nari dengan kejam di depan mata. Wajah Pak Hendra yang kaku, ruang tamu yang mendadak terasa seperti ruang interogasi, dan yang paling parah: Tasya. Gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama itu ternyata adalah benih biologis dari sang 'Malaikat Maut' skripsiku.

"Tenang, Bar. Profesional. Anggap saja semalam itu cuma mimpi buruk akibat terlalu banyak begadang," bisikku pada diri sendiri, meski tanganku gemetar saat memegang tali ransel.

Aku ma**k ke ruang kelas 3.2. Suasananya sudah ramai, tapi mendadak hening begitu aku melangkah ma**k. Teman-temanku, yang biasanya sibuk bergosip atau main *game*, menatapku dengan tatapan kasihan yang tidak membantu sama sekali. Mereka tahu aku adalah korban favorit Pak Hendra untuk urusan revisi ke-15 yang legendaris itu.

"Bar, muka lo kayak orang mau dikubur hidup-hidup," celetuk G***ng, sahabat karibku, saat aku duduk di sampingnya.

"Gue baru saja melihat neraka, Lang. Dan pintunya ada di rumah dosen pembimbing kita," jawabku lemas, menyandarkan kepala ke meja yang dingin.

Tepat saat itu, bunyi ketukan sepatu pantofel yang ritmis terdengar dari koridor. *Tak. Tak. Tak.* Suara itu sudah seperti lonceng kematian bagiku. Pintu terbuka, dan Pak Hendra melangkah ma**k dengan setelan safari abu-abunya yang selalu rapi tanpa cela. Kacamata minusnya bertengger angkuh di batang hidung, dan tas kulit tuanya diletakkan di atas meja dengan dentum yang terasa menggetarkan ulu hatiku.

Pandangan Pak Hendra menyapu seluruh ruangan. Aku segera menunduk, pura-pura sangat tertarik dengan goresan-goresan tidak jelas di permukaan meja kayu. Namun, aku bisa merasakan sensor 'bahaya' dalam diriku berdenyut kencang.

"Selamat pagi," suaranya berat, datar, dan mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Pagi, Pak..." jawab seisi kelas serempak, lebih mirip gumaman ketakutan daripada salam.

"Sebelum kita mulai materi hari ini, saya ingin memastikan satu hal," Pak Hendra berhenti sejenak. Aku bisa merasakan tatapannya berhenti tepat di puncak kepalaku. "Ada beberapa mahasiswa yang sepertinya mulai lupa batas antara urusan pribadi dan urusan akademis. Saya harap, di ruangan ini, kalian tetap menjaga profesionalitas. Paham?"

Kalimat itu telak menghantam ulu hatiku. Aku memberanikan diri sedikit mendongak. Benar saja, mata di balik lensa kacamata itu sedang menatapku tajam. Bukan sekadar tatapan dosen kepada mahasiswa yang skripsinya hancur lebat, tapi tatapan seorang ayah yang baru saja melihat kecoa mencoba ma**k ke kamar putri tunggalnya. Tatapan itu lebih tajam dari biasanya, seolah-olah dia sedang menguliti setiap sel saraf di wajahku.

"Saudara Bara," panggilnya tiba-tiba.

Aku tersentak sampai kursiku berderit nyaring. "I-iya, Pak?"

"Majulah. Tunjukkan progres revisi Bab 4 kamu di depan kelas. Saya ingin melihat apakah kualitas berpikir kamu sebanding dengan keberanian kamu... bertamu," ucapnya dengan penekanan yang sangat halus pada kata terakhir.

Darahku serasa berhenti mengalir. Seluruh kelas menatapku bingung, terutama G***ng yang menyikut lenganku dengan wajah penuh tanya. Aku berdiri dengan lutut yang terasa lemas seperti jeli. Sambil memeluk laptop, aku melangkah ke depan. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung es.

Aku menyambungkan kabel HDMI ke laptopku dengan tangan yang berkeringat dingin sampai kabelnya meleset dua kali. Pak Hendra berdiri hanya satu meter di sampingku, menyilangkan tangan di dada. Bau parfum cendananya yang maskulin dan intimidatif memenuhi indra penciumanku.

"Silakan, Bara. Jelaskan kenapa data korelasi kamu masih berantakan seperti ini," perintahnya, suaranya kini terdengar sangat dekat di telingaku.

Aku mulai berbicara, suaranya parau di awal. Aku mencoba menjelaskan metodologi penelitianku sesempurna mungkin. Aku ingin menunjukkan bahwa meski aku 'berani' mendekati putrinya, aku bukan mahasiswa bodoh. Namun, setiap kali aku menunjuk slide, Pak Hendra mengeluarkan suara "Hm" yang skeptis.

"Data ini tidak sinkron, Bara. Kamu fokus atau tidak semalam?" tanyanya retoris.

Aku menelan ludah. "Fokus, Pak. Saya mengerjakannya sampai jam dua pagi."

"Oh ya? Saya pikir kamu sibuk memikirkan hal lain. Hal-hal yang bukan kapasitas kamu untuk dipikirkan saat ini," sindirnya pedas. Wajahnya tetap datar, tapi ada kilat peringatan yang sangat jelas di matanya. "Lanjutkan. Dan jangan coba-coba memanipulasi angka. Saya tahu mana yang asli dan mana yang... pencitraan."

Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisku. Ini bukan lagi sekadar presentasi skripsi; ini adalah ajang pembuktian kelayakan hidup. Aku berusaha keras untuk tetap tenang, menjawab setiap pertanyaannya yang bersifat menjebak dengan logika yang kupaksakan tetap tegak.

Hingga akhirnya, presentasi berakhir setelah tiga puluh menit yang terasa seperti tiga abad.

"Duduk," perintah Pak Hendra singkat. "Temui saya di ruangan setelah kelas ini selesai. Ada yang perlu kita bicarakan secara 'lebih mendalam' soal masa depan kamu."

Aku kembali ke kursi dengan perasaan hancur berkeping-keping. Temui dia di ruangan? Berdua saja? Itu sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa yang belum makan seminggu.

Sisa jam pelajaran terasa berlalu dalam kabut. Aku tidak bisa fokus pada materi apapun. Pikiranku hanya berputar pada satu hal: apakah dia akan menyuruhku menjauhi Tasya, atau dia akan langsung memberikan nilai E di KHS-ku dan mengakhiri karier akademisku saat ini juga?

Saat bel berbunyi, Pak Hendra segera membereskan tasnya tanpa menoleh lagi padaku. Dia keluar ruangan dengan langkah gagah, menyisakan aura dingin yang masih tertinggal.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Aku harus menghadapi ini. Jika aku ingin mendapatkan Tasya, aku harus bisa menaklukkan naga penjaganya terlebih dahulu.

Aku berjalan menuju ruang dosen dengan langkah berat. Saat sampai di depan pintunya yang tertutup rapat, aku melihat sebuah catatan kecil tertempel di sana: *Bara, Langsung Ma**k.*

Dengan tangan gemetar, aku memutar knop pintu. Begitu terbuka, aku melihat Pak Hendra tidak sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia berdiri membelakangiku, menatap keluar jendela ke arah lapangan kampus.

"Tutup pintunya, Bara," ucapnya tanpa berbalik.

Aku menutup pintu dengan pelan. Suara klik kunci yang bergeser entah kenapa terdengar sangat final.

"Kamu tahu, Bara," dia berbalik perlahan, meletakkan sebuah map merahβ€”map skripsikuβ€”di atas meja. Di samping map itu, ada sebuah ponsel yang layarnya menyala, memperlihatkan sebuah pesan WhatsApp yang ma**k. "Tasya baru saja mengirim pesan. Dia bilang kamu meninggalkan sesuatu di rumah saya semalam."

Mataku membelalak saat melihat apa yang dipegang Pak Hendra dari balik laci mejanya. Itu adalah gantungan kunci motor kesayanganku yang berbentuk karakter kartun konyol, yang entah bagaimana bisa tertinggal di sofa ruang tamunya.

"Dan dia minta saya untuk mengembalikannya padamu," Pak Hendra melangkah mendekat, auranya mendadak berubah dari dosen killer menjadi seorang ayah yang sangat protektif. "Tapi sebelum itu, saya ingin tahu, seberapa besar nyawa cadangan yang kamu punya untuk berani menyentuh putri saya lagi?"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca