Revisi Cinta: Menantu Idaman Sang Dosen Killer

Bab 5: Bab 5 - Mengajak Bara makan malam bersama keluarganya

Pengaturan Membaca

Jari-jariku menari di atas permukaan gelas kopi yang mulai berembun, sementara mataku tak lepas dari sosok pria di hadapanku. Bara. Dia sedang menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut dalam, seolah-olah barisan kalimat di sana adalah kode nuklir yang bisa meledak kapan saja. Ada sesuatu yang sangat menggemaskan dari caranya menggigit bibir bawah saat sedang fokus, meski aku bisa melihat ada gumpalan kantung mata yang mulai menghitam di balik kacamatanya.

"Bara," panggilku lembut.

Dia tersentak, hampir menjatuhkan tetikusnya. "Eh, iya, Sya? Kenapa? Ada yang salah? Aku telat respons ya?"

Aku tertawa kecil, suara denting tawaku seolah memecah ketegangan yang menyelimuti meja kami di sudut kafe ini. "Enggak ada yang salah. Kamu cuma kelihatan... tegang banget. Skripsinya susah ya?"

Bara menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Dia melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya. "Bukan susah lagi, Sya. Ini sudah level 'misi mustahil'. Dosen pembimbingku itu... ya ampun, aku rasa dia punya hobi mengoleksi air mata mahasiswa. Revisi ke-15 dan dia masih bilang landasan teoriku 'selembek bubur bayi'."

Aku meringis simpati, meski dalam hati aku merasa dosen itu mungkin hanya ingin yang terbaik untuk Bara. "Sabar ya. Mungkin dia cuma perfeksionis. Papa juga sering bilang kalau ilmu itu harus dikejar sampai ke akar-akarnya, jangan cuma kulitnya aja."

"Papamu pasti orang yang bijak," gumam Bara sambil menyesap kopinya yang sudah mendingin. "Beda sama 'Malaikat Maut' di kampusku itu. Kalau dia lewat di koridor, suhu udara rasanya langsung turun sepuluh derajat."

Aku terkekeh, membayangkan betapa dramatisnya imajinasi pacarku ini. Bagiku, Bara adalah sosok yang hebat. Dia gigih, meskipun sering terlihat panik berlebihan. Kejujurannya dalam mengekspresikan ketakutan justru membuatku merasa dia adalah pria yang tulus. Dan karena ketulusan itulah, aku merasa ini adalah waktu yang tepat.

"Ngomong-ngomong soal Papa," aku memajukan posisi dudukku, menopang dagu dengan kedua tangan. "Dia tanya soal kamu lagi kemarin."

Bara yang baru saja hendak menyuap sepotong *croissant* tiba-tiba mematung. Matanya membulat. "Tanya... tanya apa?"

"Ya tanya, kapan cowok yang bikin anaknya senyum-senyum sendiri di depan HP ini mau mampir ke rumah," godaku sambil mengedipkan sebelah mata. "Malam minggu ini, kamu kosong kan? Aku mau ajak kamu makan malam di rumah. Papa yang masak. Dia jago banget bikin rendang, lho."

Wajah Bara mendadak pucat. Bukan pucat karena sakit, tapi lebih seperti orang yang baru saja melihat surat tagihan utang dalam jumlah besar. "Makan malam? Di rumahmu? Sama... papamu?"

"Iya. Cuma makan malam sant** kok. Ada Mama juga. Kamu nggak perlu grogi gitu, Papa itu orangnya hangat banget kalau sudah kenal. Dia suka diskusi, suka anak muda yang punya visi. Aku sudah cerit**n banyak hal bagus tentang kamu ke dia."

Bara menelan ludah dengan susah payah. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun. "Sya, apa nggak kecepetan? Maksudku... aku kan belum lulus. Skripsiku masih berdarah-darah. Nanti kalau papamu tanya rencana masa depan dan aku cuma bisa jawab 'revisi', gimana?"

Aku meraih tangannya, menggenggam jemarinya yang terasa dingin dan sedikit gemetar. "Bara, Papa nggak sejahat itu. Dia dosen juga, lho. Dia pasti paham perjuangan mahasiswa tingkat akhir. Justru mungkin kalian bisa nyambung kalau ngobrol soal akademik. Siapa tahu Papa bisa kasih saran buat skripsimu."

Bara memberikan senyum yang lebih mirip ringisan kesakitan. "Dosen juga? Di mana?"

"Di kampus yang sama kayak kamu, tapi beda fakultas kayaknya. Dia di Ekonomi. Namanya Hendra. Kamu pernah dengar?"

Bara terdiam sejenak, tampak berpikir keras. "Hendra? Nama Hendra di fakultas itu banyak, Sya. Tapi... ya sudahlah. Kalau itu mau kamu, aku usahakan datang. Aku cuma takut beliau nggak suka sama aku."

"Dia bakal sayang sama kamu, sama kayak aku sayang sama kamu," balasku mantap, memberikan tekanan lembut pada genggaman tanganku untuk menyalurkan keberanian.

***

Malam minggu yang dinanti tiba. Aku sudah mengenakan terusan berwarna biru muda favoritku. Di dapur, Papa sedang sibuk dengan celemeknya, mengaduk bumbu rendang yang aromanya sudah memenuhi seluruh penjuru rumah. Papa memang tipe pria yang sangat menjaga wibawa di luar, tapi di dapur, dia adalah koki yang paling bersemangat.

"Sudah jam tujuh, Tasya. Mana 'kandidat' itu?" suara berat Papa terdengar dari arah kompor.

"Bentar lagi sampai, Pa. Tadi katanya sudah di jalan, cuma agak macet di depan gerbang komplek," jawabku sambil menata piring di meja makan.

Mama keluar dari kamar dengan dandanannya yang selalu rapi. "Kamu jangan galak-galak ya, Mas. Kasihan anaknya Tasya, nanti kalau dia ketakutan dan nggak mau datang lagi gimana?"

Papa hanya mendengus, meski aku tahu dia sedang menyembunyikan senyumnya. "Papa cuma mau memastikan dia punya mental yang kuat. Laki-laki itu harus tahan banting, bukan lembek seperti kerupuk kena air."

Tepat saat itu, bel rumah berbunyi. Jantungku ikut berdegup kencang karena antusias. Aku berlari kecil menuju pintu depan dan membukanya dengan semangat.

Di sana, berdirilah Bara. Dia terlihat sangat rapiβ€”mungkin terlalu rapi untuk sekadar makan malam keluarga. Dia memakai kemeja batik lengan panjang yang disetrika sangat licin, rambutnya disisir klimis dengan *pomade* yang wanginya tercium sampai ke teras, dan di tangannya ada sebuah bingkisan buah yang dipegang dengan sangat erat, seolah itu adalah benda pusaka yang tak boleh jatuh.

"Hai, Sya," sapanya dengan suara yang sedikit bergetar. Dia tersenyum, tapi aku bisa melihat keringat dingin di pelipisnya meski cuaca malam ini c**up sejuk.

"Kamu ganteng banget malam ini," bisikku sambil menarik lengannya untuk ma**k. "Ayo, Papa sudah nunggu di dalam."

Kami berjalan menuju ruang makan. Papa masih membelakangi kami, sibuk memindahkan rendang ke piring saji besar.

"Pa, ini Bara sudah sampai," ucapku dengan nada bangga.

Papa mematikan kompor, melepas celemeknya dengan perlahan, lalu berbalik badan dengan gerakan yang sangat berwibawa. Dia membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap tajam ke arah tamu yang kubawa.

Suasana tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Aku merasakan lengan Bara yang sedang kurangkul mendadak menjadi kaku seperti beton. Bingkisan buah di tangannya sedikit miring, hampir merosot.

"Kamu..." Papa menyipitkan mata, suaranya rendah dan penuh penekanan.

Aku menoleh ke arah Bara, bingung dengan reaksi mereka berdua. Wajah Bara kini benar-benar kehilangan warna. Dia tidak lagi pucat, tapi sudah berubah seputih kertas HVS 80 gram yang biasa dia gunakan untuk mencetak revisinya. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.

"Selamat malam... Pak Hendra," suara Bara nyaris tidak terdengar, lebih mirip bisikan orang yang sedang melihat ajal menjemput.

Papa tidak tersenyum. Dia justru melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Bara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang biasa dia gunakan saat menemukan kesalahan fatal dalam metodologi penelitian.

"Jadi, kamu yang berani mendekati putri saya?" Papa melangkah maju, satu langkah yang membuat Bara mundur secara refleks. "Setelah semua coretan merah yang saya berikan, kamu masih punya c**up nyali untuk datang ke rumah saya, Bara?"

Aku mengerutkan kening, menatap Papa dan Bara bergantian. "Tunggu... Papa sudah kenal sama Bara?"

Papa mendengus dingin, matanya tak lepas dari mata Bara yang bergetar hebat. "Kenal? Dia adalah mahasiswa yang landasan teorinya lebih kacau daripada benang kusut. Mahasiswa yang kemarin hampir saya minta ganti judul di bab empat."

Duniaku rasanya berputar sesaat. Jadi, 'Malaikat Maut' yang diceritakan Bara selama ini... adalah Papaku sendiri?

Bara menoleh ke arahku dengan tatapan memelas, seolah-olah dia sedang meminta izin untuk pingsan detik itu juga. "Sya... kenapa kamu nggak bilang kalau papamu itu... Pak Hendra sang 'Eksekutor Skripsi'?"

Sebelum aku sempat menjawab, Papa sudah duduk di kursi utama meja makan, mengetukkan jarinya ke meja dengan irama yang mencekam. "Duduk, Bara. Mari kita bahas 'revisi' hubungan kalian sambil makan malam."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca