Keringat dingin mulai merembes dari pori-pori pelipis, mengalir pelan melewati cambang sebelum akhirnya terjun bebas ke kerah kemeja yang tiba-tiba terasa mencekik leher. Duduk di ruang makan rumah Pak Hendra tidak terasa seperti tamu kehormatan yang akan menikmati makan malam rumahah yang lezat. Bagiku, ini lebih terasa seperti duduk di kursi pesakitan, menanti vonis hukuman mati dari seorang hakim agung yang kebetulan sedang memegang sendok dan garpu dengan presisi yang mengerikan.
Aroma rendang yang menggoda selera seharusnya menjadi surga bagi perut mahasiswaku yang terbiasa dengan a**pan mi instan. Namun, saat ini, wangi rempah itu justru membuat lambungku melilit gugup. Di depanku, Pak Hendra duduk dengan tegak. Wajahnya yang biasanya kaku di ruang dosen, kini tampak sedikit lebih sant**, namun matanya tetap memiliki ketajaman yang mampu menembus lapisan pertahanan mentalku.
"Ayo dimakan, Bara. Jangan sungkan," ujar Bu Ratna, istri Pak Hendra, dengan senyum hangat yang berbanding terbalik 180 derajat dengan aura suaminya. "Tasya bilang kamu suka rendang."
Aku melirik Tasya yang duduk di sampingku. Gadis itu tersenyum manis, mencoba memberiku kekuatan lewat tatapan matanya. Ia menyentuh punggung tanganku sekilas di bawah mejaβsebuah gestur kecil yang seharusnya menenangkanku, tapi justru membuat jantungku berdegup makin kencang. Bagaimana jika Pak Hendra melihat gerakan itu di balik taplak meja yang tipis ini?
"Terima kasih, Bu. Masakan Ibu kelihatannya enak sekali," jawabku dengan suara yang sedikit bergetar. Aku berusaha menyendok nasi dengan tangan yang sebisa mungkin tidak gemetar.
"Jadi," suara bariton Pak Hendra memecah denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Aku nyaris menjatuhkan potongan daging rendang dari garpuku. "Kamu satu jurusan dengan Tasya, tapi beda angkatan?"
"Iya, Pak. Saya tingkat akhir," jawabku sesingkat mungkin, berharap pembicaraan ini tidak meluas ke arah yang berbahaya.
Pak Hendra mengangguk perlahan. Ia mengunyah makanannya dengan ritme yang sangat teratur. "Tingkat akhir ya? Berarti sedang sibuk-sibuknya dengan tugas akhir. Siapa dosen pembimbingmu?"
Pertanyaan itu seperti granat yang dilemparkan tepat di tengah meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Rendang yang seharusnya empuk mendadak terasa seperti potongan karet ban di tenggorokanku. Aku melirik Tasya, yang kini juga tampak sedikit menahan napas.
"Anu... Pak..." Aku berdeham, mencoba mencari suara yang hilang. "Dosen pembimbing saya... Bapak sendiri."
Keheningan mendadak menyergap ruangan. Bu Ratna tetap tersenyum, seolah sudah terbiasa dengan drama akademis suaminya, sementara Pak Hendra meletakkan alat makannya dengan pelan. Ia menatapku lurus, seolah baru saja menyadari bahwa mahasiswa yang ia beri coretan merah di revisi ke-15 adalah pria yang sekarang mencoba mendekati putri tunggalnya.
"Ah, pantas wajahmu tidak asing," ujar Pak Hendra tenang, namun ada nada intimidasi yang terselip di sana. "Bara... Bara Mahardika? Mahasiswa yang variabel penelitiannya masih berantakan itu?"
Tasya tersedak air minumnya. "Papa! Ini lagi makan malam, jangan bahas skripsi dulu, dong."
"Papa hanya bertanya, Tasya. Ini namanya *quality control*," balas Pak Hendra sant**, namun matanya tetap terkunci padaku. "Jadi, Bara, mumpung kita sedang tidak di kampus, jelaskan padaku. Kenapa kamu bersikeras menggunakan metode *purposive sampling* padahal populasi penelitianmu itu h***gen? Bukankah itu sebuah c**** logika dalam metodologi?"
Aku merasa kursi yang kududuki mendadak panas. Ini bukan makan malam. Ini adalah sidang skripsi dadakan yang dibalut dalam jamuan kekeluargaan. Aku bisa merasakan keringat di punggungku semakin menderu. Aku menatap piringku, mencari jawaban di antara butiran nasi, tapi yang kutemukan hanyalah kepanikan.
"Izin menjelaskan, Pak," kataku, mencoba memanggil sisa-sisa sel otak yang masih berfungsi di bawah tekanan. "Saya memilih metode itu karena meskipun populasinya terlihat h***gen, ada karakteristik spesifik yang ingin saya soroti, terutama terkait perilaku konsumsi mereka yang..."
"Karakteristik spesifik?" potong Pak Hendra cepat. Beliau memiringkan kepalanya sedikit. "Bara, jangan gunakan istilah-istilah keren untuk menutupi kemalasanmu dalam mengumpulkan data primer yang lebih luas. Kamu tahu kan, di draf terakhir yang saya coret kemarin, kamu bahkan tidak bisa menjelaskan korelasi antara variabel X dan Y secara signifikan?"
"Pa, c**up!" Tasya menyela, wajahnya mulai memerah karena kesal. "Bara datang ke sini sebagai tamu, bukan sebagai mahasiswa bimbingan."
Pak Hendra mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Tasya tenang. "Tasya, pria yang baik harus bisa mempertahankan argumennya, baik di depan dosen maupun di depan calon mertua. Kalau skripsinya saja dia tidak bisa pertanggungjawabkan, bagaimana dia mau mempertanggungjawabkan hidupmu?"
Kalimat itu telak menghantam ulu hatiku. Aku memandang Pak Hendra. Di balik sikap 'killer'-nya, aku tahu dia sedang mengujiku. Bukan hanya soal skripsi, tapi soal mentalitas. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung yang tadinya liar.
"Pak Hendra," kataku dengan nada yang lebih stabil, meski tanganku masih sedikit dingin. "Soal korelasi variabel itu, saya mengakui ada celah dalam draf kemarin. Saya sedang merombak bab tiga berdasarkan catatan Bapak yang... luar biasa tajam itu. Tapi mengenai metode sampling, saya punya data pendukung yang belum sempat saya lampirkan karena Bapak sudah lebih dulu menyuruh saya pulang kemarin sebelum saya sempat menyelesaikannya."
Pak Hendra terdiam sejenak. Ia mengambil gelas air putihnya, meminumnya sedikit, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oh ya?" Pak Hendra menyeringai kecilβsebuah pemandangan langka yang lebih menakutkan daripada wajah marahnya. "Kalau begitu, setelah makan malam ini, bawa laptopmu ke ruang kerja saya. Kita lihat, apakah argumenmu itu hanya sekadar pembelaan diri atau memang ada isinya."
Aku membeku. Ruang kerja Pak Hendra? Itu adalah 'Gua Singa' yang bahkan mahasiswa paling berani pun enggan mema**kinya. Tasya menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran, seolah memberi kode agar aku mencari alasan untuk pulang secepatnya.
Namun, sebelum aku sempat merespons, Pak Hendra melanjutkan dengan suara yang lebih rendah dan penuh penekanan. "Dan satu lagi, Bara. Jika ternyata revisimu nanti masih sama berantakannya dengan yang terakhir, jangan harap kamu bisa menjemput Tasya lagi akhir pekan depan. Saya tidak memberikan izin putri saya pergi dengan pria yang tidak becus menyelesaikan bab empat."
Aku menelan ludah. Taruhannya sekarang bukan hanya gelar sarjana, tapi juga masa depan asmaraku. Di hadapanku, rendang itu kini sudah mendingin, sama seperti keberanianku yang mulai terkikis perlahan. Pak Hendra kembali menyendok nasi, seolah baru saja memberikan pengumuman cuaca yang sepele, sementara aku tahu bahwa setelah piring ini kosong, ujian yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
"Bagaimana, Bara? Kamu siap ma**k ke ruang kerja saya, atau mau pulang sekarang dan kita anggap makan malam ini tidak pernah terjadi?" tanya Pak Hendra sambil menatap jam dinding.
Aku melirik Tasya, lalu kembali menatap Pak Hendra. Pilihannya hanya dua: lari sebagai pecundang, atau bertarung di kandang lawan. Namun, saat aku hendak menjawab, ponsel Pak Hendra di atas meja bergetar, menampilkan sebuah pesan singkat yang membuat kening sang dosen killer itu berkerut dalam.
"Tunggu sebentar," gumam Pak Hendra dengan nada yang tiba-tiba berubah serius. Ia menatapku tajam, lalu menatap ponselnya lagi. "Bara, kamu bilang kamu mengerjakan skripsi ini sendirian, kan?"
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!