Kertas skripsi di tanganku bukan lagi sekadar tumpukan kertas A4 80 gram, melainkan sebuah medan perang yang penuh dengan tumpahan darah. Tinta merah dari pulpen Pak Hendra mencoret-coret lembar konsultasiku dengan garis-garis tajam yang seolah-olah berteriak, *“Kamu bodoh, Bara! Kamu tidak berbakat!”* Bau soto ayam dari kantin kampus yang biasanya menggugah selera, kini terasa seperti bau kegagalan yang menyengat.
Aku duduk di pojok kantin, menyembunyikan wajah di balik tumpukan revisi ke-15 yang sudah hancur lebur. Jantungku masih berdegup tidak karuan setiap kali mengingat wajah Pak Hendra tadi pagi di ruangannya. Dan yang lebih mengerikan, bayangan wajah manis Tasya terus berkelebat, menempel tepat di samping wajah galak ayahnya. Bagaimana mungkin dua kutub yang begitu berbeda bisa berasal dari garis keturunan yang sama?
“Bar, lo masih hidup atau udah jadi fosil?”
Suara cempreng Rio memecah lamunanku. Ia meletakkan mangkuk bakso dengan denting yang keras ke atas meja, lalu menarik kursi di hadapanku tanpa diundang.
“Gue lebih suka jadi fosil, Yo. Setidaknya fosil nggak perlu ngerjain revisi bab empat,” gumamku tanpa mengangkat kepala.
Rio melirik kertas-kertas berserakan di depanku, lalu bersiul pelan. “Busyet. Itu coretan Pak Hendra atau lukisan abstrak aliran amarah? Merah semua gitu. Lo ngajak ribut dia atau gimana?”
Aku menegakkan punggung, menatap Rio dengan mata yang mungkin sudah tampak seperti mata panda yang kurang tidur tiga musim. “Yo, gue butuh saran serius. Menurut lo, ada nggak celah buat meluluhkan hati seorang malaikat maut akademis?”
Rio berhenti mengunyah baksonya. Ia menatapku seolah aku baru saja bertanya di mana letak pintu gerbang menuju Narnia. “Saran gue? Simpel. Ganti pembimbing. Sekarang juga, mumpung semester masih bisa diselamatkan.”
“Nggak bisa, Yo. Pak Hendra itu koordinator mata kuliah inti gue. Kalau gue pindah, gue harus ngulang riset dari nol. Gue bakal lulus pas anak lo udah ma**k TK.”
“Ya terus mau gimana? Pak Hendra itu batu karang, Bar. Dan lo itu cuma butiran debu yang mencoba menggeser karang pakai sikat gigi,” sahut Rio enteng, kembali menyeruput kuah baksonya. “Cari dosen lain deh, tanya-tanya siapa tahu ada yang punya kelemahan dia. Bu Sari, misalnya. Beliau kan seangkatan sama Pak Hendra.”
Ide Rio terdengar ma**k akal, meski sedikit putus asa. Dengan langkah gont**, aku menyeret kakiku menuju ruang dosen. Lant** tiga gedung Fakultas Ekonomi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aku berdiri di depan pintu ruang Bu Sari, merapikan kemeja yang sudah kusut, dan menarik napas panjang seolah-olah oksigen di dunia ini akan segera habis.
“Ma**k!” Suara lembut Bu Sari menyahut ketukanku.
Bu Sari sedang menyesap teh melati saat aku ma**k. Ia adalah antitesis dari Pak Hendra; selalu tersenyum dan aromanya selalu wangi bunga, bukan aroma kertas tua dan kemarahan.
“Eh, Bara. Ada apa? Konsultasi?” tanyanya ramah.
“Anu, Bu... bukan soal materi skripsi saya. Saya cuma mau minta... sedikit pencerahan tentang Pak Hendra,” kataku pelan, nyaris berbisik.
Senyum Bu Sari tiba-tiba membeku. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatapku dengan tatapan kasihan—tatapan yang biasanya diberikan orang-orang kepada korban kecelakaan yang kecil kemungkinannya untuk selamat.
“Pak Hendra ya?” Bu Sari menghela napas panjang. “Bara, saya sudah mengenal Hendra sejak kami masih asisten dosen. Dia itu orang yang... berprinsip. Sangat berprinsip.”
“Prinsipnya apa, Bu? Mempersulit hidup mahasiswa sampai ke liang lahat?”
Bu Sari terkekeh, tapi ada nada cemas di sana. “Prinsipnya adalah kesempurnaan. Bagi dia, skripsi itu bukan sekadar syarat lulus, tapi cerminan integritas. Kamu tahu, Bara? Pernah ada mahasiswa yang mencoba memberikan bingkisan mahal supaya revisinya cepat selesai. Kamu tahu apa yang terjadi?”
Aku menelan ludah. “Diterima?”
“Dibuang ke tempat sampah di depan muka mahasiswanya. Lalu mahasiswa itu disuruh pindah pembimbing karena dianggap merendahkan martabat dosen,” cerita Bu Sari dengan ekspresi ngeri. “Saran saya, ikuti saja maunya. Jangan membantah, jangan banyak tanya yang tidak perlu, dan yang paling penting... jangan pernah mencoba ma**k ke ruang pribadinya.”
Tanganku mulai berkeringat dingin. *Jangan ma**k ke ruang pribadinya?* Aku bahkan sudah kencan buta dengan putrinya! Aku sudah duduk di ruang tamunya sambil menunggu Tasya bersiap!
“Tapi Bu, nggak ada celah sedikit pun? Misalnya, apa yang dia suka? Hobi? Atau mungkin... dia sayang banget sama keluarganya?” tanyaku mencoba memancing informasi.
Bu Sari tampak berpikir sejenak. “Dia memang sangat protektif pada putrinya. Satu-satunya hal yang bisa membuat Hendra lunak hanya putrinya. Tapi itu justru peringatan buat kamu, Bara. Kalau kamu sampai mengganggu putrinya, atau bahkan berani mendekatinya dengan niat yang tidak-tidak, saya yakin kamu nggak akan cuma gagal skripsi, tapi nama kamu bakal diblacklist dari seluruh universitas ini.”
Duniaku rasanya berputar. Harapan yang tadi sempat menyala kecil, kini padam total tersiram air dingin kenyataan. Jadi, statusku saat ini adalah: Mahasiswa yang skripsinya sedang dibant**, dan pria yang sedang berusaha memenangkan hati putri dari orang yang paling benci jika putrinya didekati.
Aku keluar dari ruangan Bu Sari dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya. Di koridor, aku berpapasan dengan beberapa mahasiswa tingkat bawah yang tampak ceria, kontras sekali dengan jiwaku yang sudah kering kerontang.
Aku duduk di bangku taman kampus, mengeluarkan ponsel, dan menatap layar. Ada sebuah pesan ma**k dari Tasya.
*“Bara, gimana revisian hari ini? Ayah nggak galak kan? Nanti sore kita jadi jalan? Aku pengen makan es krim di tempat yang kemarin kita bahas.”*
Aku memandangi pesan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku ingin sekali bertemu Tasya, melihat senyumnya yang bisa menghapus kepenatan akibat variabel penelitian yang tidak signifikan. Di sisi lain, bayangan wajah Pak Hendra yang melempar skripsi ke tempat sampah menghantui setiap sel otakku.
Tiba-tiba, sebuah pesan lain muncul. Kali ini dari grup WhatsApp angkatan.
*“Woy, ada info! Pak Hendra lagi bad mood parah gara-gara ada mahasiswa yang salah kutip teori di bab dua. Dia bilang besok nggak ada bimbingan, semua revisi yang ma**k bakal langsung dicoret kalau nggak ada perubahan signifikan. Good luck buat para p***ang Hendra!”*
Aku mengerang frustrasi, menjambak rambutku sendiri. Semua orang menyuruhku menyerah. Rio menyuruhku pindah pembimbing. Bu Sari menyuruhku pasrah dan jangan mencari masalah. Tapi menyerah bukan gayaku, apalagi ada Tasya di dalam persamaan ini.
Jika aku mundur sekarang, aku kehilangan skripsiku sekaligus kehilangan Tasya. Namun, jika aku maju tanpa strategi, aku akan hancur berkeping-keping.
Ponselku bergetar lagi. Pangg***n ma**k dari Tasya. Aku ragu sejenak, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
“Halo, Tasya?”
“Bara! Kamu di mana? Aku lagi di depan gedung fakultasmu nih. Tadi habis antar bekal buat Ayah, terus ingat kamu. Bisa ketemu bentar?”
Jantungku rasanya mau copot. Pak Hendra ada di dalam gedung ini. Tasya ada di depan gedung ini. Dan aku berada di tengah-tengah seperti tikus yang terjebak di antara dua kucing pemangsa.
“Tasya, eh, aku... aku di taman. Kamu jangan ke sini ya!” kataku panik.
“Kenapa? Aku sudah hampir sampai di taman, kok. Tuh, aku lihat kamu!”
Aku menoleh ke arah gerbang taman dan melihat Tasya melambaikan tangan dengan ceria. Namun, di belakangnya, sekitar lima puluh meter jauhnya, sosok tinggi besar dengan tas kulit cokelat yang sangat kukenali—Pak Hendra—sedang berjalan keluar dari gedung, matanya menyapu sekeliling dengan tajam seperti elang mencari mangsa.
Pandangan Pak Hendra mulai bergeser ke arah taman, ke arah Tasya, dan tepat ke arahku. Aku membeku. Ini bukan lagi sekadar soal revisi, ini soal kelangsungan hidupku.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!