Dinginnya es krim cokelat di depanku sama sekali tidak membantu menurunkan suhu tubuhku yang mendadak naik. Padahal, AC di kedai ini c**up menusuk tulang, tapi butiran keringat sebesar biji jagung tetap saja nekat meluncur dari pelipisku. Aku mengaduk-aduk es krim itu sampai wujudnya lebih mirip semen basah daripada hidangan penutup yang menggugah selera.
"Bar, kamu beneran nggak apa-apa?"
Pertanyaan Tasya membuatku tersentak. Sendok perak di tanganku berdenting keras saat membentur pinggiran gelas kaca. Aku mendongak, mencoba memasang senyum paling menawan yang kupunya, meski aku tahu hasilnya pasti lebih mirip seringai orang yang sedang sembelit.
Tasya memperhatikanku dengan tatapan menyelidik. Matanya yang jernih, yang biasanya membuatku tenang, kini justru terasa seperti sinar rontgen yang sedang memindai seluruh kebohonganku. Ia mengulurkan tangan, mengambil selembar tisu, lalu perlahan mengusap dahi dan pelipisku.
"Kamu keringetan parah banget. Kita di dalem ruangan, lho, bukan lagi maraton di Senayan," gumamnya pelan, nada bicaranya penuh kekhawatiran. "Dan ini udah ketiga kalinya tangan kamu gemeteran sejak kita duduk di sini."
Aku meneguk ludah. Tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan amplas. Bagaimana caraku menjelaskan bahwa setiap kali aku melihat garis rahangnya, yang terbayang di otakku justru coretan tinta merah Bapaknya yang menyilang di halaman tiga puluh dua skripsiku? Bagaimana caraku bilang kalau aroma parfum melati yang ia pakai entah kenapa selalu bercampur dengan aroma kopi pahit dan wibawa mencekam di ruang dosen lant** dua?
"Aku... cuma agak kurang tidur aja, Tas. Biasalah, mahasiswa tingkat akhir, otaknya sering korslet kalau kena udara dingin," jawabku, berusaha tertawa kecil. Gagal total. Tawa itu terdengar seperti mesin mobil tua yang mogok.
Tasya meletakkan sendoknya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan. "Bukan itu. Aku perhatiin, setiap kali Papa lewat di depan kita tadi, atau bahkan pas aku cuma nyebut nama Papa, muka kamu langsung pucat. Kamu kayak... ketakutan?"
Gawat. Sensor kecurigaan Tasya mulai aktif. Aku harus melakukan manuver penyelamatan tingkat tinggi sebelum dia menyimpulkan bahwa aku menganggap ayahnya sebagai inkarnasi malaikat pencabut nyawa dalam wujud dosen pembimbing.
"Bukan takut, Tas. Lebih ke... segan?" aku mencoba memilih kata yang paling aman. "Maksudku, Pak Hendra itu kan tokoh besar di kampus. Semua mahasiswa tahu reputasinya. Beliau itu... sangat berdedikasi."
"Berdedikasi atau kejam?" Tasya memotong dengan senyum miring yang manis namun mematikan.
Aku hampir tersedak ludah sendiri. "Ehh, itu istilah yang terlalu ekstrem. Aku lebih suka menyebutnya 'perfeksionis yang visioner'. Beliau itu seperti pandai besi, Tas. Beliau menempa pedang dengan api yang panas supaya hasilnya tajam dan nggak gampang patah. Nah, aku ini mungkin... besi karatan yang lagi beliau tempa habis-habisan."
Tasya tertawa, suara renyahnya sedikit mencairkan ketegangan di dadaku. "Kamu puitis banget kalau lagi tertekan, ya? Tapi serius, Bar. Papa emang killer kalau di kampus, aku tahu itu. Tapi kamu nggak perlu merasa se-terintimidasi itu di depan aku. Aku ini pacar kamu, bukan asisten dosen Papa."
Aku meraih jemari Tasya, berusaha memberikan sentuhan yang tulus meski telapak tanganku masih sedikit lembap. "Aku cuma nggak mau malu-maluin di depan beliau, Tas. Aku ingin beliau melihat aku sebagai laki-laki yang pantas buat putrinya. Tapi di sisi lain, tiap kali aku ketemu beliau sebagai mahasiswa, rasanya kayak lagi ujian akhir setiap detik. Tekanannya dobel."
Aku tidak berbohong sepenuhnya. Memang benar aku ingin restu itu, tapi aku juga menyembunyikan fakta bahwa revisi ke-15 milikku baru saja dilempar ke tempat sampah kemarin sore oleh "si Pandai Besi" itu.
Tasya membalas genggamanku, ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan lembut. "Papa itu emang susah dipuasin. Sejak kecil, aku juga sering ngerasa gitu. Nilai sembilan aja ditanya, 'kenapa nggak sepuluh?'. Jadi, aku ngerti banget gimana rasanya ada di posisi kamu. Kamu nggak perlu pura-pura kuat di depan aku."
Melihat gurat simpati di wajah Tasya, ada bagian dari diriku yang merasa menang. Misiku mendapatkan simpati tanpa menjelek-jelekkan Pak Hendra berhasil. Namun, rasa bersalah mulai menyelinap. Aku merasa seperti mata-mata yang sedang menjalin asmara dengan putri dari komandan musuh.
"Makasih ya, Tas. Dukungan kamu itu lebih berarti daripada ACC skripsi," kataku tulus. Kali ini senyumku tidak dipaksakan.
"Sama-sama. Oh iya," Tasya tiba-tiba teringat sesuatu dan merogoh tasnya. "Tadi Papa titip ini buat kamu. Katanya dia lupa kasih pas tadi sore kamu jemput aku."
Jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat. Tasya mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dengan tangan gemetar, aku menerimanya. Di pojok kanan atas amplop itu, ada tulisan tangan yang sangat kukenali. Tulisan yang rapi, tajam, dan dingin.
*Bara, perbaiki metodologi penelitianmu. Temui saya besok jam 7 pagi. Jangan telat sedetik pun.*
Aku menatap tulisan itu seolah-olah itu adalah surat pangg***n dari alam baka. Keringat yang tadi sempat kering, kini kembali mengucur deras di punggungku.
"Apa isinya?" tanya Tasya penasaran.
Aku menutup amplop itu cepat-cepat dan mema**kkannya ke saku jaket. "Cuma... tips belajar. Katanya aku harus lebih rajin."
Tasya tersenyum lebar. "Wah, Papa perhatian banget ya sama kamu? Jarang-jarang lho Papa mau kasih catatan pribadi ke mahasiswa kalau dia nggak bener-bener peduli."
"Iya, Tas. Peduli banget," jawabku dengan suara yang semakin mengecil.
Saat itu juga, ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp muncul di layar yang tak sempat kututup. Nama pengirimnya membuat bulu kudukku berdiri: *The Terminator (Pak Hendra)*.
Pesan itu terbaca jelas di layar yang menyala: *"Saya lihat kamu sedang di kedai es krim dengan Tasya. Pastikan es krim itu tidak membuat otakmu makin beku besok pagi."*
Aku refleks menoleh ke sekeliling kedai dengan gerakan patah-patah, mencari sosok pria berkacamata dengan tatapan elang yang mungkin saja sedang mengint** dari balik tanaman hias atau mobil yang parkir di luar. Tasya ikut bingung melihat tingkahku yang mendadak seperti buronan internasional.
"Bar? Kamu nyari siapa?"
Aku baru saja akan menjawab saat kulihat sebuah mobil sedan hitam familiar perlahan melintas di depan kaca kedai, melambat sejenak, lalu melaju pergi. Aku tahu siapa yang ada di balik kemudi itu. Dan aku tahu, kencan malam ini baru saja berubah menjadi mimpi buruk administratif yang akan menghantuiku besok pagi.
"Tas," bisikku parau, "Kayaknya aku harus pulang sekarang. Aku... tiba-tiba ngerasa ada yang nggak beres sama lambungku."
Tapi sebelum aku sempat beranjak, Tasya menahan tanganku. Matanya tidak lagi menatapku dengan simpati, melainkan dengan kerutan di dahi yang jauh lebih dalam. "Bar, hp kamu... kenapa nama Papa di kontak kamu ditulis 'The Terminator'?"
Skakmat. Aku lupa mematikan layar ponselku.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!