Kacamata berbingkai perak yang bertengger di pangkal hidungku terasa lebih berat dari biasanya. Padahal, aku baru saja meletakkannya di atas meja makan kayu jati yang meng***p, tepat di samping cangkir teh melati yang uapnya masih mengepul tipis. Di depanku, Sari—istriku yang selalu tampak anggun bahkan dalam balutan daster sutra—sedang mengupas apel dengan presisi seorang ahli bedah.
"Jadi," suara Sari memecah keheningan, tajam dan terukur. "Bagaimana perkembangan anak itu? Siapa namanya tadi? Bara?"
Aku berdeham, mencoba melonggarkan kerah kemeja rumahanku yang sebenarnya sudah longgar. Di kampus, aku adalah 'Malaikat Maut' bagi mahasiswa tingkat akhir. Satu coretan merah dariku bisa membuat seorang pria berotot menangis di pojok perpustakaan. Namun di sini, di hadapan Sari, aku hanyalah seorang asisten peneliti yang sedang memberikan laporan kemajuan kepada kepala laboratorium.
"Bara. Ya, Bara," jawabku sambil menyesap teh yang tiba-tiba terasa pahit. "Secara akademis, dia... eksentrik. Daya tahannya luar biasa. Sudah lima belas kali revisi dan dia belum menyerah. Itu rekor baru di departemen."
Sari menghentikan gerakan pisaunya. Matanya yang tajam menatapku lurus-lurus. "Eksentrik itu kata halus untuk 'bodoh' atau 'malas', Mas? Aku tidak butuh statistik ketabahan. Aku butuh tahu apakah dia pantas untuk Tasya."
Aku menghela napas panjang. Bayangan wajah Bara yang pucat pasi setiap kali melihatku di koridor kampus terlintas di benak. Anak itu punya kebiasaan aneh; dia selalu terlihat seolah-olah sedang menghitung sisa hari hidupnya setiap kali aku memanggil namanya. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa memungkiri cara matanya berbinar saat menjemput Tasya tempo hari—sebuah binar yang memudar seketika begitu dia menyadari bahwa dosen pembimbing yang paling dia benci adalah ayah dari gadis yang dia puja.
"Dia gigih, Sari. Masalahnya, logikanya sering kali melompat-lompat seperti tupai yang overdosis kafein," jelasku sambil mencoba menggambarkan kerumitan skripsi Bara tanpa terdengar terlalu kejam. "Tulisannya berantakan, metodenya sering kali 'kreatif' yang menjurus ke arah nekat. Tapi, dia jujur. Dia tidak mencoba menyuapku dengan parsel atau koneksi keluarga."
Sari meletakkan pisau dan potongan apelnya dengan denting pelan di atas piring porselen. "Kejujuran itu standar minimum, Mas. Bukan prestasi. Kamu tahu sendiri bagaimana aku membesarkan Tasya. Dia lulusan terbaik, bekerja di firma hukum ternama, dan punya masa depan yang terukur. Aku tidak mau Tasya menghabiskan sisa hidupnya mengurus pria yang bahkan tidak bisa menyelesaikan satu bab skripsi tepat waktu."
Aku merasakan tekanan di dadaku meningkat. Sari selalu memiliki standar yang setinggi menara gading. Baginya, calon menantu haruslah sebuah paket lengkap: mapan, cerdas, memiliki visi sepuluh tahun ke depan, dan setidaknya tahu perbedaan antara 'di' sebagai awalan dan kata depan. Sementara Bara? Bara adalah definisi dari kata 'revisi berjalan'.
"Dia sedang berusaha, Sayang," ujarku, mencoba membela—setidaknya sedikit—mahasiswa bimbinganku yang malang itu. "Hari ini dia membawa draf Bab Empat lagi. Ada kemajuan, meski kecil. Dia mulai memahami pola pikirku."
Sari menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Aku tidak peduli seberapa besar dia memahamimu. Yang aku peduli adalah seberapa besar dia bisa menjamin masa depan putri tunggal kita. Jika dia lulus saja susah, bagaimana dia mau mencari kerja? Bagaimana dia mau memberi makan Tasya? Dengan tumpukan kertas revisi?"
Aku terdiam. Kalimat Sari menghujam tepat di pusat kekhawatiranku. Sebagai dosen, aku ingin Bara lulus karena dia memang layak. Sebagai ayah, aku ingin Bara menjauh jika dia memang hanya akan menjadi beban bagi Tasya. Namun, ada sesuatu pada anak itu—mungkin cara dia menatap coretan merahku dengan keputusasaan yang bercampur dengan tekad baja—yang membuatku tidak bisa benar-benar 'menghabisinya'.
"Aku akan memberikan ujian lebih berat padanya," kataku akhirnya. "Bukan hanya soal skripsi. Aku akan melihat sejauh mana dia bisa bertahan di bawah tekanan. Jika dia pecah, maka dia memang bukan orangnya."
Sari mengangguk pelan, seolah menyetujui protokol eksperimen yang baru saja kuusulkan. "Bagus. Karena aku sudah menyiapkan daftar kriteria. Akhir pekan ini, undang dia makan malam di sini. Aku ingin melakukan 'sidang' versiku sendiri."
Aku tersedak tehku sendiri. "Makan malam? Sekarang? Dia bahkan belum menyelesaikan analisis datanya!"
"Lebih cepat lebih baik, Mas," sahut Sari dengan senyum yang tidak mencapai matanya—senyum yang biasanya dia gunakan saat menghadapi pedagang pasar yang mencoba menipunya. "Aku ingin melihat apakah dia tipe pria yang akan lari saat melihat badai, atau tipe yang akan tetap berdiri meski basah kuyup. Dan tolong, jangan beritahu dia kalau aku yang meminta. Biar dia mengira ini hanya... undangan ramah tamah."
Aku memijat pelipis yang mulai berdenyut. Undangan ramah tamah? Bagi Bara, diundang ke rumahku mungkin setara dengan undangan untuk ma**k ke lubang singa yang sedang lapar. Aku bisa membayangkan wajahnya yang akan berubah seputih kertas HVS 80 gram saat aku menyampaikan berita ini besok.
Ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari grup WhatsApp dosen, tapi mataku justru menangkap siluet Tasya yang baru saja pulang, wajahnya tampak berseri-seri setelah bertemu Bara. Dia tampak begitu bahagia, kontras dengan suasana dingin di meja makan ini.
"Ingat, Mas," Sari beranjak dari kursinya, memberikan tepukan ringan di bahuku yang terasa seperti beban berton-ton. "Standarku tidak pernah turun. Jika dia gagal di matamu sebagai mahasiswa, dia otomatis gagal di mataku sebagai menantu. Jangan lembek hanya karena Tasya menyukainya."
Sari melangkah pergi menuju kamar, meninggalkanku sendirian dengan sisa teh dingin dan pikiran yang berkecamuk. Aku meraih kembali draf skripsi Bara yang kubawa pulang. Di halaman depan, ada bekas tumpahan kopi kecil—mungkin karena dia gemetar saat menyerahkannya tadi siang.
Besok, aku harus memberitahunya tentang makan malam ini. Dan besok juga, aku harus memberikan coretan merah paling brutal yang pernah dia terima di Bab Empat-nya. Aku harus memastikan, jika dia memang ingin membawa putriku pergi, dia harus melewati neraka akademis dan domestik yang kubuat secara bersamaan.
Aku mengambil pulpen merah dari saku kemejaku, menatap tajam pada paragraf pertama tulisan Bara yang berantakan itu. "Mari kita lihat seberapa kuat mentalmu, Bara," gumamku dalam hati sambil menggoreskan garis miring yang panjang di atas kertas.
Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, aku mulai bertanya-tanya: apakah aku sedang mempersiapkan Bara untuk masa depan, atau aku justru sedang menyiapkan panggung untuk sebuah bencana besar yang akan menghancurkan hubungan ayah-anak antara aku dan Tasya? Karena jika Bara gagal dalam 'sidang' Sari hari Minggu nanti, aku tahu persis siapa yang akan disalahkan Tasya selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!