Debu-debu halus menari di bawah sorotan lampu bohlam kuning yang berkedip samar. Aku terbatuk kecil, mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah sambil menatap tumpukan kardus yang berjubel di gudang kecil di sudut unit kos ini. Sesuai dengan sifatku yang tidak bisa melihat sesuatu yang berantakan, pemandangan ini adalah siksaan. Bima bilang dia belum sempat merapikan barang-barangnya sejak pindah, tapi "belum sempat" versinya sepertinya berarti "selamanya."
Aku berniat mencari obeng untuk memperbaiki engsel lemari pakaianku yang mulai longgar. Namun, perhatianku justru teralih pada sebuah kotak karton berwarna cokelat kusam yang terselip di antara tumpukan buku-buku teknik setebal bantal. Kotak itu tidak terlalu besar, tapi ada sesuatu yang familier pada robekan isolasi di bagian pinggirnya.
Tanganku terulur, menariknya perlahan agar tidak meruntuhkan tumpukan di atasnya. Saat kotak itu berhasil berpindah ke pangkuanku, jantungku berdegup satu kali lebih kencang tanpa alasan yang jelas. Di atas penutupnya, tertulis sebuah inisial dengan spidol permanen yang sudah memudar: *D.*
"Punya dia?" gumamku lirih. Tapi kenapa inisialnya 'D'? Nama Bima jelas berawalan 'B'.
Rasa ingin tahu yang menjadi kelemahanku mulai mengambil alih. Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku membuka tutup kotak itu. Aroma kertas lama dan sedikit bau kamper menyeruak keluar. Di dalamnya, aku tidak menemukan buku teknik atau perkakas pria. Alih-alih, mataku tertuju pada sebuah buku sketsa bersampul biru tua yang pinggirannya sudah mengelupas.
Napas seolah tertahan di tenggorokan. Aku mengenal buku ini. Aku sangat mengenalnya.
Ini adalah buku sketsa yang aku nyatakan hilang satu minggu setelah pernyataan cintaku yang memalukan di koridor SMA delapan tahun lalu. Buku yang berisi coretan-coretan perasaan, puisi picisan, dan sketsa wajah seseorang yang selalu kupuja dari jauh.
Aku membukanya dengan tangan gemetar. Di halaman pertama, ada sketsa kasar seorang laki-laki yang sedang membaca di perpustakaan. Garis rahangnya yang tegas, sorot matanya yang dingin namun fokusβitu Bima. Di bawahnya, ada tulisan tanganku yang masih sangat rapi dan penuh harapan: *Untuk dia yang tidak pernah menoleh.*
Pikiran segera melesat ke masa lalu. Hari itu, hujan turun sangat deras. Aku berdiri di hadapan Bima dengan seragam yang lembap, menyodorkan sebuah surat dengan tangan gemetar. Bima hanya menatap surat itu, lalu menatapku dengan tatapan paling dingin yang pernah kulihat.
*"Gue nggak punya waktu buat drama kayak gini, Dinda. Fokus sekolah. Jangan ganggu gue lagi,"* katanya saat itu. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah aku hanyalah gangguan kecil seperti lalat yang hinggap di bahunya.
Lalu, bagaimana bisa buku sketsa ini ada di sini? Di dalam kotak barang-barang pribadinya?
Aku terus merogoh ke dalam kotak. Ada sebuah gantungan kunci berbentuk bintang yang pernah kubuang ke tempat sampah di depan kelas karena Bima menolak pemberianku. Ada juga jepit rambut stroberi milikku yang kupikir jatuh di selokan sekolah. Semua benda yang berhubungan denganku, benda-benda yang kupikir sudah musnah ditelan waktu dan rasa malu, tersimpan rapi di sini.
Bahkan ada sebuah amplop merah jambu yang masih tertutup rapat. Itu surat cintaku. Dia tidak membuangnya. Dia menyimpannya.
"Kenapa..." suaraku tercekat.
Rasa sesak mulai merambat naik ke dadaku. Kenyataan ini menghantam benteng pertahanan yang selama ini kubangun dengan susah payah. Selama delapan tahun, aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak berarti apa-apa baginya. Bahwa penolakannya adalah bukti mutlak bahwa aku tidak c**up baik. Aku membencinya karena sikap dingin itu, karena dia membuatku merasa seperti sampah yang tidak layak dipedulikan.
Tapi barang-barang ini bercerita lain. Benda-benda mati ini seolah berteriak bahwa Bima peduli. Bahwa dia memperhatikan setiap det**l kecil yang bahkan aku sendiri sudah lupa.
Jika dia begitu membenciku, atau setidaknya tidak peduli padaku, kenapa dia menyimpan residu masa laluku selama ini? Kenapa dia membawanya pindah dari satu tempat ke tempat lain, menjaganya agar tetap utuh di saat aku berusaha keras menghapus segala kenangan tentangnya?
Suara langkah kaki yang mendekat membuatku tersentak. Aku berusaha menutup kotak itu dengan terburu-buru, tapi karena terlalu panik, buku sketsa itu justru terjatuh dan terbuka di lant**, menampilkan sketsa wajah Bima yang memenuhi satu halaman penuh.
"Dinda? Kamu lagi cari apa di..."
Suara itu terhenti. Aku mendongak dan mendapati Bima berdiri di ambang pintu gudang yang sempit. Dia mengenakan kaus rumahan abu-abu, rambutnya sedikit berantakan. Namun, ekspresinya langsung berubah saat matanya jatuh pada kotak di pangkuanku dan buku sketsa yang tergeletak di lant**.
Keheningan yang mencekam menyelimuti kami. Hanya suara detak jam dinding dari ruang tengah yang terdengar memburu, seirama dengan pacu jantungku. Wajah Bima yang biasanya tenang dan ramah selama kami tinggal bersama, mendadak kaku. Ada kilat kepanikan yang melintas di matanyaβsesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya dari sosok Bima yang selalu terkontrol.
"Itu..." Bima bersuara, suaranya serak dan jauh lebih rendah dari biasanya. Dia melangkah maju satu tindak, tapi segera berhenti saat melihatku menyusut mundur, masih mendekap amplop merah jambu itu di dadaku.
"Kenapa kamu simpan semua ini, Bim?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku bisa merasakan mataku mulai memanas. "Kamu bilang jangan ganggu kamu. Kamu bilang aku cuma drama. Kamu tolak aku di depan semua orang seolah-olah aku nggak berharga. Terus sekarang aku nemuin ini?"
Aku mengangkat amplop merah jambu itu, menunjukkannya tepat di depan wajahnya. "Kenapa, Bima? Kenapa kamu simpan barang-barang dari orang yang nggak mau kamu lihat lagi?"
Bima terdiam. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal di samping tubuh. Dia tidak menjawab dengan kata-kata yang menenangkan seperti biasanya. Dia justru memalingkan wajah, menghindari tatapanku yang menuntut penjelasan.
"Harusnya kamu nggak buka kotak itu, Dinda," ucapnya dingin, nada yang sangat mirip dengan Bima delapan tahun lalu.
"Tapi aku sudah membukanya!" seruku, air mata akhirnya jatuh membasahi pipiku. "Jelasin ke aku. Apa maksud dari semua ini? Apa selama ini kamu cuma pura-pura benci?"
Bima kembali menatapku. Kali ini, tatapannya bukan lagi dingin, melainkan penuh dengan luka yang terpendam begitu dalam. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang maskulin bercampur debu gudang. Dia membungkuk, mengambil buku sketsa di lant**, lalu menatapnya lama sebelum menutupnya dengan kasar.
"Ada alasan kenapa beberapa hal lebih baik tetap terkunci, Dinda," katanya dengan nada mengancam yang pelan. "Dan ada alasan kenapa aku harus nolak kamu dulu. Alasan yang kalau kamu tahu sekarang, mungkin bakal bikin kamu lebih benci sama aku daripada sebelumnya."
Dia berbalik pergi, meninggalkanku mematung di tengah debu gudang dengan seribu pertanyaan yang kini menghantam kepalaku lebih keras daripada sebelumnya. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Rahasia apa yang lebih buruk daripada penolakan dingin yang pernah menghancurkan hatiku?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!