Cermin di depanku seolah sedang mengejek. Aku sudah mematut diri selama tiga puluh menit, memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang keluar dari tatanannya. Blazer *beige* yang kupakai terasa seperti baju zirah. Aku butuh perlindungan hari ini, karena aku akan melangkah ke medan perang yang bernama reuni kecil SMA. Dan yang lebih buruk lagi, aku pergi ke sana bersama sumber luka terbesarku.
"Dinda? Sudah siap?" Suara Bima terdengar dari balik pintu kamar, tenang dan dalam.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang terasa menyempit. "Sebentar!" seruku sambil menyambar tas tangan.
Saat aku keluar, Bima berdiri di ruang tengah, menyandarkan punggungnya pada meja makan yang biasanya menjadi batas wilayah kami. Dia hanya mengenakan kemeja biru dongker dengan lengan yang digulung hingga siku, tapi entah bagaimana, dia terlihat jauh lebih bersinar daripada lampu gantung di atasnya. Dia menatapku tanpa berkedip, sebuah binar aneh muncul di matanyaβsesuatu yang selalu kusebut sebagai 'tatapan manipulatif' agar aku luluh.
"Kamu cantik, Din," ucapnya tulus.
Aku mendengus, berusaha keras menekan debar jantung yang mendadak liar. "Ayo berangkat sebelum aku berubah pikiran."
Perjalanan menuju kafe di daerah Jakarta Selatan itu terasa sunyi, hanya diisi oleh suara radio yang memutar lagu-lagu pop *mellow*. Aku terus menatap ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang membias di kaca mobil. Pikiranku melayang pada kejadian tujuh tahun lalu. Surat cinta yang kutulis dengan tangan gemetar, bau keringat di koridor sekolah, dan suara dingin Bima yang mengatakan, *"Gue nggak tertarik sama lo, Din. Jangan buang-buang waktu."*
Kata-kata itu masih tersimpan rapi di kepalaku, seperti berkas yang dikategorikan dalam folder 'Jangan Pernah Dibuka'.
Begitu kami melangkah ma**k ke area *private* kafe tersebut, aroma kopi dan suara tawa yang riuh menyambut kami. Ada sekitar sepuluh orang di sanaβteman-teman satu geng dulu. Pandangan semua orang mendadak tertuju ke arah pintu.
"Wah, wah! Lihat siapa yang datang!" teriak Pandu, si biang kerok kelas, sambil berdiri dan bertepuk tangan. "Bima dan Dinda? Barengan?"
Aku memaksakan senyum tipis, sementara Bima dengan sant** meletakkan tangannya di belakang punggungkuβtidak menyentuh, tapi c**up dekat untuk membuatku merasakan panas tubuhnya. "Kami satu arah," jawab Bima singkat, sebuah jawaban ambigu yang membuat teman-teman kami saling pandang penuh arti.
"Duduk, Din! Sini!" Maya, sahabat lamaku, menarik kursi di sebelahnya.
Suasana awalnya berjalan normal. Kami membicarakan pekerjaan, siapa yang sudah menikah, dan siapa yang masih berjuang dengan cicilan apartemen. Aku mulai merasa rileks, mengira kekhawatiranku akan masa lalu hanyalah paranoid belaka. Namun, alkohol dalam bentuk *cockt**l* dan nostalgia adalah kombinasi yang berbahaya.
"Eh, kalian ingat nggak sih," Pandu memulai, suaranya sudah agak serak karena terlalu banyak tertawa, "dulu Dinda itu *queen of drama* di sekolah kita."
Jantungku mencelos. Aku menggenggam gelas jus jerukku hingga buku-buku jariku memutih.
"Oh, kejadian di atap sekolah itu ya?" timpal Riko sambil terkekeh. "Yang Dinda nembak Bima pakai surat wangi mawar terus ditolak mentah-mentah di depan anak-anak basket?"
Tawa pecah di meja itu. Bagiku, suara tawa itu terdengar seperti pecahan kaca yang digosokkan ke telingaku. Panas menjalar dari leher hingga ke pipiku. Aku merasa kecil, merasa seperti remaja tujuh belas tahun yang dipermalukan lagi. Aku ingin menghilang, menembus lant** kafe ini kalau bisa.
"Dulu Bima dingin banget ya," lanjut Maya tanpa sadar bahwa aku sedang menahan napas. "Din, lo kok bisa sih kepikiran nembak dia waktu itu? Padahal kita tahu Bima itu kan es kutub."
"Namanya juga cinta mo****, May," sahutku pelan, mencoba terdengar acuh tak acuh meski suaraku sedikit bergetar.
"Cinta mo**** atau obsesi?" Pandu tertawa lagi, sedikit terlalu keras. "Sampai-sampai Bima nggak mau ngomong sama lo selama setahun gara-gara itu, kan? Lo bikin dia merasa risi banget kayaknya, Bima?"
Suasana mendadak hening. Pandangan mereka beralih pada Bima, menanti jawaban yang akan menambah bumbu ejekan malam ini. Aku menunduk, tidak sanggup melihat wajah Bima. Aku sudah siap mendengar konfirmasi dari Bimaβsesuatu yang akan menghancurkan sisa-sisa harga diriku di depan semua orang.
Namun, yang kudengar bukan tawa.
Suara denting sendok yang diletakkan Bima di atas piring porselen terdengar begitu tajam di tengah keheningan. Aku memberanikan diri menoleh. Wajah Bima yang tadinya ramah telah berubah. Matanya yang biasanya hangat kini menatap Pandu dengan sorot yang membuat tawa pria itu perlahan mati.
"Gue rasa memori lo agak bermasalah, Ndu," ucap Bima dengan nada datar namun sangat mengintimidasi.
"Lho, kan emang bener..."
"Nggak ada yang lucu dari perasaan seseorang," potong Bima. Dia tidak berteriak, tapi otoritas dalam suaranya membungkam seluruh meja. "Dan kalau ada yang harus malu soal kejadian tujuh tahun lalu, itu gue. Bukan Dinda."
Aku terpaku. Napasku tertahan di tenggorokan. Bima menoleh ke arahku, mengabaikan tatapan bingung dan kaget dari teman-teman yang lain. Di bawah meja, aku merasakan tangannya mencari tanganku. Dia menggenggam jemariku yang dingin, meremasnya lembut seolah memberikan kekuatan.
"Bima, lo..." suaraku tercekat.
Bima tidak melepaskan genggamannya. Dia justru berdiri, membuat kursi yang didudukinya berderit di lant** kayu. "Maaf semuanya, kami harus pergi lebih awal. Dinda sedang kurang enak badan."
Tanpa menunggu persetujuan mereka, Bima menuntunku keluar dari kafe itu. Aku melangkah seperti robot, masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Dinginnya udara malam Jakarta menyambut kami di luar, tapi tanganku masih terasa panas karena genggamannya.
Begitu sampai di depan mobil, aku melepaskan tanganku dengan kasar.
"Kenapa kamu lakukan itu, Bim?" tanyaku dengan suara serak. Air mata yang sejak tadi kutahan kini mulai mengaburkan pandanganku. "Harusnya kamu diam saja. Dengan membela aku seperti itu, mereka makin curiga! Kamu cuma bikin semuanya jadi makin rumit."
Bima berbalik, menatapku tepat di mata. Tidak ada lagi sisa-sisa keramahan palsu. Ada kesedihan yang mendalam di sana, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Sampai kapan kamu mau lari dari kenyataan, Din?" tanyanya pelan.
"Kenyataan apa? Kenyataan bahwa kamu mempermalukan aku dulu?"
Bima melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan udara malam. "Kenyataan bahwa alasan aku menolakmu dulu bukan karena aku nggak suka sama kamu."
Lidahku kelu. "Apa?"
"Ada hal yang nggak kamu tahu, Din. Hal yang membuat aku terpaksa jadi pengecut hari itu," Bima menghela napas berat, suaranya nyaris berbisik namun terdengar sangat jelas di telingaku. "Dan kalau aku nggak melakukan itu, mungkin kamu nggak akan ada di sini sekarang."
Aku menatapnya dengan kening berkerut, mencoba mencari kebohongan di wajahnya, tapi yang kutemukan hanyalah kejujuran yang menyakitkan. Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, ponsel Bima di saku celananya bergetar hebat. Dia melihat layar ponselnya, dan wajahnya mendadak pucat pasi.
"Dinda," suaranya berubah tegang. "Kita harus pulang sekarang. Dia... dia tahu di mana kita tinggal."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!