Suara *sreeettt* dari selotip bening yang ditarik paksa itu menyayat kesunyian di ruang tengah unit kami. Aku berdiri terpaku di ambang pintu kamar, memerhatikan punggung Dinda yang tegang. Di sekelilingnya, beberapa kardus cokelat sudah mulai bertumpuk, menelan barang-barang yang selama beberapa minggu terakhir ini mulai membuat tempat ini terasa seperti... rumah.
Tenggorokanku terasa tersumbat. Ada ribuan kata yang berdesakan di ujung lidah—penjelasan tentang apa yang terjadi di SMA, alasan mengapa aku bersikap br****** dulu, dan pengakuan bahwa keberadaannya di sini adalah hal terbaik yang terjadi padaku dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, melihat betapa agresifnya dia mema**kkan buku-buku ke dalam kardus, aku tahu kata-kata hanya akan menjadi angin lalu baginya. Dinda tidak butuh janji manis; dia butuh bukti bahwa dia berharga. Dan saat ini, tindakannya menunjukkan bahwa dia merasa sebaliknya.
Aku melangkah mendekat, mencoba mengabaikan debar jantung yang tidak beraturan. "Dinda, kamu nggak perlu buru-buru. Pemilik kos bilang batasnya masih akhir bulan."
Dia tidak menoleh. Tangannya sibuk melipat bagian bawah kardus. "Lebih cepat lebih baik, Bim. Aku nggak mau terjebak di situasi yang... membingungkan ini lebih lama lagi."
"Situasi yang mana?" tanyaku pelan, meski aku tahu jawabannya.
"Situasi di mana aku harus berbagi oksigen dengan orang yang nggak pernah menganggap aku ada, tapi tiba-tiba bersikap seolah kita sahabat lama," sahutnya tajam. Tangannya gemetar saat mencoba merobek selotip, tapi alat pemotongnya macet. Dia mendesis frustrasi, menyentakkan dispenser selotip itu hingga hampir mengenai jempolnya sendiri.
"Biar aku saja," kataku, melangkah lebih dekat.
"Nggak perlu!"
Aku tidak mendengarkan. Aku berlutut di sampingnya, perlahan mengambil alih dispenser selotip dari tangannya yang kaku. Aku bisa merasakan panas dari tubuhnya, aroma sabun lavendernya yang menenangkan—kontras dengan suasana hatiku yang kacau. Dengan satu gerakan terampil, aku memperbaiki posisi selotip itu dan menyegel bagian bawah kardusnya dengan rapi.
Dinda menarik tangannya, memeluk lututnya sendiri di atas lant** parket. Dia memalingkan wajah, tapi aku bisa melihat gurat kelelahan dan kesedihan di matanya. Di layar ponselnya yang tergeletak menyala di sampingnya, aku melihat daftar aplikasi pencari kos. Beberapa sudah ditandai dengan label "Sudah Dihubungi".
Hatiku mencelos. Dia benar-benar serius ingin pergi.
Aku berdiri, bukan untuk menjauh, melainkan menuju dapur. Aku tahu Dinda kalau sedang stres; dia lupa makan dan kepalanya akan mulai berdenyut jika tidak segera mendapat a**pan kafein yang tepat. Aku mengambil cangkir keramik favoritnya—yang bergambar kucing dengan ekspresi judes, persis seperti wajahnya saat ini—dan mulai menyeduh kopi.
Aku tidak hanya membuat kopi biasa. Aku mencampurkan satu sendok teh bubuk cokelat dan sejumput kayu manis, persis seperti resep "kopi rahasia" yang dulu sering dia bicarakan saat kami masih di perpustakaan sekolah, saat dia masih mengira aku mendengarkan ocehannya dengan bosan. Padahal, aku merekam setiap det**lnya dalam kepalaku.
Aku meletakkan cangkir itu di dekatnya, bersama sepiring kecil roti bakar dengan selai srikaya yang aku tahu dia sukai.
"Aku nggak lapar," gumamnya, tetap tidak melihatku.
"Kamu punya tiga janji temu survei kos besok pagi di daerah Jakarta Selatan yang macetnya nggak ma**k akal," kataku datar, mencoba menjaga nada suaraku tetap tenang. "Kalau kamu pingsan di jalan, pencarianmu akan makin lama. Makanlah."
Dinda terdiam. Aroma kayu manis itu sepertinya berhasil menembus pertahanannya. Dia melirik cangkir itu, matanya sedikit membelalak saat menyadari komposisinya. Dia mendongak menatapku, tatapannya penuh selidik dan kecurigaan. "Gimana kamu tahu?"
"Tahu apa?"
"Kopi ini. Kayu manisnya."
Aku hanya mengangkat bahu, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan majalah di meja kopi agar tidak perlu menatap matanya. "Hanya menebak. Sepertinya cocok untuk cuaca mendung begini."
Kebohongan itu terasa pahit di mulutku. Aku ingin berteriak, *Aku tahu karena aku selalu memerhatikanmu, Dinda! Dulu, sekarang, selalu!* Tapi aku tetap diam. Aku mulai bergerak lagi, kali ini mengambil obeng dari laci perkakas.
Aku berlutut di dekat meja belajarnya yang kakinya sedikit goyang—sesuatu yang sering dia keluhkan dengan gumaman kecil setiap kali dia sedang bekerja lembur. Dengan telaten, aku mengencangkan sekrup-sekrupnya, memastikan meja itu kokoh kembali. Setelah itu, aku berpindah ke pintu lemari pakaiannya yang engselnya berdecit menyebalkan setiap kali dibuka.
"Bima, apa yang kamu lakukan?" tanyanya, suaranya kini tidak setajam tadi, malah terdengar bingung.
"Memastikan barang-barangmu siap dipindahkan," jawabku, meski setiap putaran obeng terasa seperti aku sedang mempercepat keberangkatannya. "Aku nggak mau barangmu rusak karena kondisinya tidak prima saat diangkut nanti."
Ini adalah caraku bicara. Karena setiap kali aku mencoba menjelaskan alasan di balik penolakanku sepuluh tahun lalu—tentang ancaman ayahku, tentang kondisi finansial keluargaku yang hancur, tentang ketakutanku bahwa aku hanya akan menariknya ma**k ke dalam lubang hitam hidupku—suaraku mendadak hilang. Jadi, aku membiarkan tanganku yang bekerja. Aku memperbaiki mejanya, menyeduh kopinya, dan sekarang, aku mulai membantunya membungkus barang-barang pecah belah dengan *bubble wrap* secara sangat hati-hati, seolah-olah aku sedang membungkus jantungku sendiri.
Dinda memerhatikanku dalam diam. Ketegangan di bahunya perlahan melandai. Dia mengambil roti bakarnya dan menggigitnya kecil. Kami bekerja dalam keheningan yang berbeda sekarang; bukan lagi keheningan yang penuh permusuhan, tapi keheningan yang sarat dengan hal-hal yang tidak terucapkan.
Setiap kali tanganku bersentuhan dengan tangannya saat menyerahkan isolasi, ada sengatan listrik yang membuatku ingin menariknya ke dalam pelukan dan memohon agar dia tinggal. Tapi aku menahannya. Aku harus menunjukkan padanya bahwa aku menghargai keputusannya, meski itu menghancurkanku.
"Bim," panggilnya pelan saat malam semakin larut dan hanya tersisa satu kardus besar yang belum tertutup.
"Ya?"
"Kenapa kamu baru baik sekarang? Kenapa nggak dari dulu?"
Aku berhenti menempelkan lakban. Pertanyaan itu adalah jebakan yang tidak bisa kuhindari. Aku menatapnya, melihat matanya yang mulai berkaca-kaca di bawah temaram lampu ruangan.
"Karena dulu aku bodoh, Din," jawabku jujur, suaraku serak. "Dan aku takut."
Dinda hendak membalas, tapi ponselnya tiba-tiba berdering nyaring di lant**. Sebuah nama muncul di layar: *Ibu*.
Wajah Dinda mendadak pucat. Dia menyambar ponselnya dengan tangan gemetar. "Halo, Bu? Ada apa malam-malam begini?"
Aku memerhatikan ekspresi wajahnya yang berubah dari bingung menjadi ngeri dalam hitungan detik. Ponsel di tangannya hampir terjatuh jika dia tidak segera menggenggamnya dengan kedua tangan.
"Apa? Ibu di rumah sakit? Tapi... tapi uang deposit kos itu baru saja aku transfer sore tadi..."
Suara Dinda tertahan di tenggorokan. Dia menatap tumpukan kardus di depannya, lalu menatapku dengan pandangan kosong yang menghancurkan hatiku. Krisis baru saja datang, dan rencana pelariannya baru saja hancur berkeping-keping oleh kenyataan pahit yang lain.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!