Hujan di luar jendela belum juga reda, menyisakan aroma tanah basah yang menyusup lewat celah ventilasi. Aku menatap meja kerja di sudut unit kami yang kini tampak sedikit lebih berantakan dari biasanya. Bima sedang keluar—katanya ada urusan mendadak dengan rekan kantornya—meninggalkan tumpukan berkas dan sebuah laptop yang masih menyala dalam mode *sleep*.
Biasanya, aku tidak akan pernah berani menyentuh barang-barangnya. Namun, saat aku berniat merapikan cangkir kopi kosong yang ia tinggalkan di pinggir meja, tanganku tak sengaja menyenggol setumpuk kertas. Beberapa lembar terjatuh, tergelincir ke celah sempit di antara laci meja dan dinding.
"Sial," gumamku pelan.
Aku berlutut, mencoba merogoh celah itu. Jemariku menyentuh sesuatu yang terasa berbeda dari kertas HVS biasa. Teksturnya lebih kasar, sedikit kaku, dan terasa seperti amplop tua. Dengan susah payah, aku menariknya keluar.
Itu memang amplop. Warnanya sudah menguning di bagian tepi, menandakan usianya yang sudah bertahun-tahun. Tidak ada nama pengirim di bagian depan, hanya coretan tanggal yang sangat kukenal: bulan Mei, sepuluh tahun yang lalu. Itu adalah bulan yang sama saat Bima menolak pernyataan cintaku di depan gerbang sekolah, tepat sebelum pengumuman kelulusan.
Dadaku berdegup kencang. Rasa ingin tahu berperang dengan prinsip privasi yang selalu kujunjung tinggi. Namun, ada sesuatu yang menarikku, sebuah magnet dari masa lalu yang belum benar-benar selesai. Dengan tangan gemetar, kukeluarkan selembar kertas dari dalamnya.
*Bima, anakku,*
Kalimat pembukanya saja sudah membuat tenggorokanku kering. Itu tulisan tangan ibunya. Aku pernah melihatnya sekali di buku agenda Bima saat SMA.
*Maafkan Ayah dan Ibu yang harus memberitahumu lewat surat ini. Kami tidak sanggup melihat matamu jika bicara langsung. Bisnis Ayah benar-benar hancur, Nak. Semua aset kita sudah disita bank. Kita harus mengosongkan rumah ini dalam dua minggu. Ibu tahu ini berat, apalagi kamu baru saja akan lulus. Tapi kami mohon, jangan libatkan siapa pun dalam masalah ini. Jangan biarkan teman-temanmu, atau siapa pun yang kamu sayangi, ikut memikul beban ini. Fokuslah pada studimu, atau carilah kerja apa saja untuk bertahan hidup di Jakarta nanti. Tinggalkan semua beban di sini, terma**k perasaan-perasaan yang mungkin hanya akan membuatmu semakin sulit melangkah.*
Aku terduduk di lant** yang dingin, napas ku tertahan di kerongkongan. Mataku terus menyisir baris demi baris berikutnya yang semakin menyayat hati.
*Jangan biarkan gadis itu—Dinda, kan namanya?—ikut menderita. Ayah tahu kamu sangat menyukainya, tapi hidup kita sekarang tidak punya tempat untuk masa depan orang lain. Membawanya ma**k ke dalam kekacauan kita hanya akan menghancurkan masa depannya juga. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab dengan cara melepaskannya. Biarkan dia membencimu jika itu perlu, asalkan dia tetap bisa terbang tinggi tanpa beban finasial kita yang mencekik ini.*
Kertas di tanganku bergetar hebat. Pandanganku mengabur oleh air mata yang tiba-tiba mendesak keluar. Jadi, ini alasannya?
Selama ini, aku memupuk kebencian. Aku membangun benteng tinggi karena merasa tidak c**up baik untuknya. Aku menganggap penolakannya yang dingin sebagai bukti bahwa aku hanyalah gangguan di matanya. Aku ingat betul bagaimana dia menatapku hari itu—datar, tanpa emosi, seolah aku adalah orang asing yang tidak berarti.
"Aku nggak punya waktu buat urusan remeh kayak gini, Din. Hidupku lebih penting dari sekadar perasaanmu," katanya waktu itu.
Kata-kata yang dulu kurasakan sebagai belati, kini terungkap sebagai perisai. Dia tidak sedang menghinaku; dia sedang mengusirku agar aku tidak ikut tenggelam dalam kapal keluarganya yang sedang karam.
"Dinda?"
Suara berat itu membuatku terlonjak. Aku menoleh dengan cepat, mengabaikan air mata yang jatuh ke pipi. Bima berdiri di ambang pintu unit, masih mengenakan kemeja kantor yang lengannya digulung hingga siku. Payung hitam yang basah masih tergenggam di tangannya, meneteskan air ke lant**.
Matanya langsung tertuju pada kertas di tanganku. Aku bisa melihat perubahan ekspresinya secara instan. Dari yang tadinya tampak lelah dan hangat, menjadi pucat dan tegang. Rahangnya mengeras, dan ada kilatan luka yang berusaha ia sembunyikan di balik tatapan tajamnya.
"Kenapa kamu buka laci itu?" suaranya rendah, hampir seperti bisikan, tapi mengandung getaran yang membuat nyaliku menciut.
Aku berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas, kertas itu masih erat kugenggam. "Bim, aku... aku nggak sengaja. Kertasnya jatuh dan..."
Bima melangkah mendekat, gerakannya cepat dan intimidatif. Dia mengambil surat itu dari tanganku dengan sentakan kasar, seolah-olah kertas itu adalah luka terbuka yang tidak boleh disentuh siapa pun.
"Ini bukan urusanmu, Dinda. Kamu nggak seharusnya tahu," desisnya. Suaranya terdengar pecah, seolah dia sedang menahan beban yang selama sepuluh tahun ini ia pikul sendirian.
"Kenapa kamu nggak bilang, Bim?" tanyaku dengan suara serak. "Kenapa kamu biarkan aku membencimu selama bertahun-tahun? Kamu membuatku merasa seperti sampah hari itu!"
Bima membuang muka, menatap dinding dengan tatapan kosong. Napasnya memburu. "Karena memang itu tujuannya," sahutnya dingin, meski matanya berkaca-kaca. "Kalau aku nggak bikin kamu benci, kamu nggak akan pergi. Dan kalau kamu nggak pergi, kamu akan terjebak bersamaku di lubang kemiskinan yang nggak jelas ujungnya."
"Tapi itu pilihanku, Bima! Bukan kamu yang menentukan aku layak menderita atau nggak!" teriakku, tumpah sudah segala sesak yang kupendam.
Bima berbalik menatapku, kali ini matanya merah. "Aku nggak punya pilihan, Dinda! Aku harus memilih antara egoku untuk memilikimu atau masa depanmu yang lebih layak. Dan sekarang, setelah aku susah payah membangun semuanya lagi, kamu malah menemukan ini dan mengacaukan semuanya."
Dia melangkah mundur, meremas surat itu ke dalam genggamannya, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta, penyesalan, dan kemarahan yang mendalam.
"Keluar, Din. Aku butuh waktu sendiri," katanya, lalu ma**k ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras, meninggalkanku dalam kesunyian yang mencekam, ditemani suara hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Aku terpaku di tempat, menyadari bahwa rahasia yang baru saja terungkap bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari badai yang lebih besar dalam hubungan kami. Karena sekarang, aku tahu persis seberapa besar pengorbanannya, dan itu justru membuatku merasa lebih hancur daripada saat dia menolakku dulu.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!