Detik jam dinding di atas meja kerja terasa sepuluh kali lebih keras dari biasanya. *Tik. Tok. Tik. Tok.* Suara itu bergema di seluruh penjuru unit kos yang biasanya terasa sesak, namun entah mengapa malam ini justru terasa seluas lapangan bola. Aku meringkuk di atas sofa abu-abu, memeluk lutut erat-erat, membiarkan ujung kaus kakiku bergesekan dengan kain sofa yang kasar.
Aku yang meminta ini. Aku yang mengatakan pada Bima bahwa aku butuh waktu. Aku butuh jarak. Aku butuh napas untuk mencerna semua pengakuan yang tumpah ruah beberapa jam lalu. Dan Bima, dengan sorot mata yang begitu terluka namun penuh kepatuhan, hanya mengangguk pelan sebelum menyambar jaketnya dan melangkah keluar pintu.
"Aku akan menginap di tempat Rio malam ini. Kabari aku kalau kamu sudah merasa lebih baik," ucapnya pelan tadi, sebelum suara klik pintu yang menutup menandai dimulainya kesunyian yang mencekam ini.
Seharusnya aku merasa lega. Dinding pertahanan yang kubangun bertahun-tahun seharusnya merasa aman sekarang karena sang penyerbu telah mundur. Namun, yang kurasakan justru sebaliknya. Dadaku terasa lowong, seolah-olah oksigen di ruangan ini ikut terbawa keluar bersamanya.
Aku bangkit berdiri, melangkah gont** menuju dapur kecil kami. Kebiasaanku jika sedang stres adalah merapikan sesuatu. Tanganku meraih spons cuci piring, bermaksud membersihkan wastafel yang sebenarnya sudah bersih. Mataku terpaku pada sebuah mug keramik berwarna biru tua yang tergeletak di rak pengering. Itu milik Bima. Mug yang selalu ia gunakan untuk meminum kopi hitam tanpa gula setiap pagi, sementara aku mengomel tentang betapa buruknya aroma kaus kaki basahβsebutan dariku untuk kopinya.
Aku menyentuh pinggiran mug itu dengan ujung jari. Dingin.
Biasanya, jam segini, suara denting sendok yang beradu dengan gelas akan memenuhi ruangan. Bima akan duduk di meja makan yang kecil itu, berkutat dengan laptopnya, sementara sesekali ia akan melirikku dan melontarkan komentar konyol tentang drama Korea yang sedang kutonton.
"Din, tokoh utamanya terlalu sempurna. Mana ada cowok yang nangisnya masih estetik begitu," ejeknya suatu kali.
Dulu, aku akan melempar bantal sofa ke arahnya. Sekarang, aku hanya bisa menatap kursi kosong itu dengan pandangan kabur.
Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan melangkah ke arah meja kerja. Aku harus fokus. Ada laporan audit yang harus kuselesaikan besok pagi. Aku membuka laptop, jemariku mulai menari di atas keyboard. Namun, baru tiga kalimat, aku berhenti. Mataku tertuju pada selembar *sticky note* kuning yang tertempel di sudut monitor.
*βJangan lupa minum air putih. Kamu kalau sudah kerja suka lupa napas. β B.β*
Tulisannya cakar ayam, khas laki-laki yang lebih suka mengetik daripada menulis tangan. Aku merobek kertas itu, bermaksud membuangnya ke tempat sampah, namun tanganku tertahan di udara. Alih-alih meremasnya, aku justru mendekapkan kertas kecil itu ke dadaku.
Kebenaran yang ia sampaikan tadi... tentang mengapa ia menolakku di SMA... tentang beban keluarga dan ancaman yang ia terima saat itu... semuanya terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan persepsiku selama delapan tahun. Aku telah membencinya dengan sepenuh hati, memupuk rasa sakit itu menjadi bahan bakar untuk kesuksesanku, hanya untuk mengetahui bahwa dia melakukannya demi melindungiku?
"Bodoh," bisikku pada udara kosong. Suaraku serak, tertelan oleh sunyi. "Kamu benar-benar bodoh, Bima."
Aku berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di kejauhan. Dari lant** tujuh ini, semuanya tampak kecil dan tidak berarti. Namun, badai di dalam kepalaku terasa begitu raksasa.
Kesunyian ini mulai menyiksa. Aku tidak pernah menyadari betapa aku sudah terbiasa dengan suara napasnya yang teratur saat ia tertidur di ranjang sebelah, atau bunyi gesekan kakinya di lant** saat ia berjalan menuju kamar mandi di tengah malam. Kehadirannya telah menyusup ke dalam rutinitasku, merambat perlahan seperti tanaman rambat yang kini telah melilit seluruh sendi kehidupanku.
Aku meraih ponsel di saku celana. Jariku gemetar saat membuka kolom percakapan dengannya. Pesan terakhirnya adalah foto martabak telur yang ia kirim dua hari lalu dengan *caption*: *"Buat nyogok tuan putri yang lagi PMS."*
Aku mulai mengetik. *Bima, kamu di mana?*
Lalu kuhapus lagi. Terlalu agresif.
*Bima, aku sudah tenang.*
Kuhapus lagi. Itu bohong. Aku sama sekali tidak tenang.
Aku melemparkan ponsel ke atas ka**r dengan frustrasi. Aku berjalan mondar-mandir di ruangan yang hanya seluas dua puluh meter persegi itu. Setiap sudut ruangan ini memiliki jejaknya. Wangi sabun mandinya yang beraroma *sandalwood* masih tertinggal tipis di udara. Buku-buku referensi tekniknya yang tersusun rapi di rak bawah seolah sedang mengawasiku.
Rasa asing yang menakutkan mulai menjalar. Selama ini aku bangga dengan kemandirianku. Aku bangga bisa hidup tanpa bergantung pada siapa pun. Namun malam ini, di tengah jeda yang kupinta sendiri, aku menyadari sebuah kenyataan pahit: aku tidak lagi mengenali unit kos ini sebagai "rumah" jika Bima tidak ada di dalamnya.
Kesunyian ini bukan memberikan kedamaian, melainkan menjadi cermin yang memantulkan betapa pengecutnya aku. Aku takut pada kebenaran, aku takut pada perasaan yang kembali tumbuh, dan aku takut bahwa jika aku memaafkannya, aku akan kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Tiba-tiba, suara kunci pintu diputar mengejutkanku. Jantungku berdegup kencang hingga ke tenggorokan. Pintunya terbuka perlahan, menampakkan sosok jangkung dengan bahu yang tampak turun karena lelah. Bima berdiri di sana, masih mengenakan jaket yang sama, memegang sebuah kantong plastik putih.
Ia mematung saat melihatku masih berdiri di tengah ruangan dengan mata sembab.
"Maaf," suaranya parau. "Aku... aku cuma mau mengantar ini. Aku tahu kamu belum makan malam. Aku akan langsung pergi lagi setelah ini."
Ia meletakkan kantong plastik itu di atas meja kecil dekat pintu. Ia tidak berani menatap mataku. Saat ia berbalik untuk kembali keluar, sebuah dorongan impulsif yang tidak ma**k akal membuatku melangkah maju.
"Bim, tunggu," panggilku, suaraku nyaris hilang.
Bima berhenti, tangannya masih memegang gagang pintu. Ia menoleh perlahan, dan dalam keremangan cahaya lampu tidur, aku bisa melihat kilat luka dan harapan yang berperang di matanya. Di detik itu, aku tersadar bahwa ruang yang kupinta bukanlah untuk menjauh darinya, melainkan untuk meruntuhkan tembok terakhir yang memisahkan kami.
"Jangan pergi," bisikku, yang lebih terdengar seperti sebuah pengakuan kekalahan daripada sebuah permintaan.
Bima melepaskan gagang pintu, namun ia tidak melangkah mendekat. Ia tetap di sana, terpaku, seolah-olah jika ia bergerak sedikit saja, bayanganku akan menghilang. Ketegangan di antara kami merambat begitu nyata, lebih menyesakkan daripada kesunyian yang baru saja kulalui.
"Dinda, kalau aku tetap di sini..." ia menggantung kalimatnya, napasnya terdengar berat. "Aku nggak bisa menjamin aku bakal tetap diam seperti sebelumnya."
Aku menelan ludah, menyadari bahwa setelah malam ini, tidak akan ada jalan kembali ke zona nyaman kami yang lama. Pilihannya hanya dua: hancur bersama atau pulih bersama. Dan saat aku melihatnya melangkah satu senti lebih dekat, aku tahu jawabannya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!