Roommate: Residu Rindu yang Tertunda

Bab 2: Bab 2 - Mencoba membatalkan kontrak atau mengusir Bima

Pengaturan Membaca

Udara pagi di koridor lant** tiga apartemen kos ini terasa mencekik, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh keberadaan satu laki-laki di dalam unit nomor 302. Aku meremas ujung blus kerjaku yang sudah licin disetrika semalam, hingga kini membentuk kerutan-kerutan kasar. Mataku terpaku pada sepasang sepatu kets putih yang tergeletak rapi di rak sepatu—posisinya tepat di sebelah sepatu hak tinggiku. Pemandangan itu mengirimkan gelenyar tidak nyaman ke seluruh syaraf pusatku.

Itu sepatu Bima. Dan kenyataan bahwa sepatu itu ada di sana, di wilayah pribadiku, rasanya seperti sebuah invasi besar-besaran.

Tanpa mempedulikan s****an atau memoles ulang lipstik yang mulai pudar karena aku terus-menerus menggigit bibir, aku menyambar tas tanganku. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Satu atap dengan Bima adalah definisi neraka yang dikemas dalam bentuk unit hunian modern. Bayangan penolakannya delapan tahun lalu—tatapan matanya yang dingin dan kata-kata tajam yang membuatku merasa seperti remah rengginang di bawah kakinya—masih tersimpan rapi dalam laci memori yang seharusnya sudah kukunci rapat.

Aku melangkah cepat menuju kantor pengelola di lant** dasar. Tumit sepatuku beradu dengan lant** granit, menciptakan bunyi *tuk-tuk-tuk* yang ritmis sekaligus penuh kemarahan.

"Bu Rosa!" suaraku sedikit melengking saat mema**ki ruangan administrasi yang sempit dan berbau pengharum ruangan jeruk yang terlalu menyengat.

Wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung itu mendongak dari tumpukan berkasnya. "Lho, Mbak Dinda? Kok sudah rapi? Mau berangkat kantor?"

"Bu, ini soal unit 302. Ada kesalahan besar," kataku tanpa basa-basi. Aku meletakkan kedua telapak tanganku di meja kerjanya, mencoba menstabilkan napas yang memburu. "Kenapa ada orang lain di unit saya? Apalagi laki-laki? Di perjanjian awal, saya memesan unit *single* atau setidaknya sesama perempuan jika memang harus berbagi."

Bu Rosa menghela napas panjang, sebuah reaksi yang sudah sangat kuhapal setiap kali ia menghadapi komplain penyewa. Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.

"Mbak Dinda, saya sudah jelaskan semalam lewat pesan singkat, kan? Ada kesalahan di sistem pusat saat pemesanan *online*. Unit Mbak itu ternyata terdaftar sebagai *sharing unit* premium. Dan Mas Bima itu sudah membayar lunas untuk enam bulan ke depan. Saya tidak bisa mengusirnya begitu saja."

"Lalu pindahkan saya ke unit lain! Saya bayar selisihnya, tidak apa-apa," desakku. Jantungku berdebar kencang. Aku rela menguras tabungan daruratku demi tidak harus berpapasan dengan Bima setiap pagi di dapur.

Bu Rosa menggeleng lemah, tangannya bergerak menyisir tumpukan map di rak belakangnya. "Itu masalahnya, Mbak. Apartemen ini penuh. Musim anak magang dan karyawan baru seperti Mbak ini sedang puncaknya. Tidak ada satu pun kamar kosong. Bahkan ruang penyimpanan di bawah saja sudah dijadikan gudang stok."

"Tapi Bu, ini masalah privasi! Kami bukan... kami tidak bisa tinggal bersama!"

"Mbak Dinda," suara Bu Rosa melunak, namun tetap tegas. "Unit itu punya dua kamar tidur dengan kunci masing-masing. Ruang tengah dan dapur memang dipakai bersama, tapi itu hal biasa di konsep *co-living* sekarang. Mas Bima itu sopan sekali, lho. Dia tidak keberatan sama sekali saat saya beritahu akan tinggal dengan Mbak."

Tentu saja dia tidak keberatan. Dia adalah pihak yang menang dalam situasi ini, sementara aku adalah pihak yang hancur karena trauma masa lalu.

"Kalau begitu, saya mau batalkan kontrak. Kembalikan uang saya, saya akan cari tempat lain hari ini juga," katakku final.

Bu Rosa menatapku dengan tatapan kasihan yang paling kubenci. "Mbak sudah tanda tangan kontrak setahun. Di pasal pembatalan sepihak, uang muka dan sewa tiga bulan pertama tidak bisa kembali. Apa Mbak yakin mau kehilangan hampir lima belas juta rupiah begitu saja? Di tanggal tua begini?"

Kalimat itu telak menghantam egoku. Lima belas juta. Itu adalah hasil lembur berdarah-darahku selama berbulan-bulan. Aku tidak sekaya itu untuk membuang uang demi sebuah harga diri yang sudah lama terkoyak. Bahuku merosot. Ruangan itu mendadak terasa semakin sempit, menghimpitku dengan realitas yang pahit.

"Jadi, tidak ada jalan keluar?" tanyaku, suaraku nyaris berupa bisikan.

"Saran saya, coba jalani dulu seminggu," ujar Bu Rosa sambil kembali mengenakan kacamatanya. "Kalau memang Mas Bima berbuat macam-macam atau Mbak merasa benar-benar tidak nyaman setelah mencoba, kita bicara lagi. Tapi untuk sekarang, saya tidak bisa berbuat apa-apa."

Aku keluar dari kantor pengelola dengan langkah gont**. Setiap langkah menaiki tangga menuju lant** tiga terasa seperti mendaki gunung yang terjal. Aku berdiri di depan pintu unit 302 selama beberapa menit, memandangi angka kuningan yang tertempel di daun pintu kayu itu. Di balik pintu ini, ada seseorang yang pernah membuatku bersumpah untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi.

Saat aku memberanikan diri menempelkan kartu akses dan mendorong pintu, aroma kopi yang baru diseduh menyambutku. Itu bukan aroma kopi instan murah yang biasa kuminum. Aromanya kuat, elegan, dan menenangkan—sangat kontras dengan badai di dalam dadaku.

Bima ada di sana, di dapur kecil kami. Dia hanya mengenakan kaos oblong putih polos yang pas di badannya dan celana pendek selutut. Rambutnya sedikit acak-acakan, khas orang yang baru selesai mandi. Dia sedang menuangkan air panas ke dalam *v60 dripper* dengan gerakan yang sangat presisi.

Mendengar suara pintu, dia menoleh. Senyumnya terkembang—senyum yang sama sekali berbeda dengan senyum sinis yang kulihat saat perpisahan SMA dulu.

"Eh, Dinda. Baru dari bawah?" tanyanya ringan, seolah kami adalah teman lama yang tidak pernah punya masalah. "Bu Rosa bilang kamu tadi agak panik. *Anyway*, aku baru bikin kopi. Mau? Ini biji kopi dari Flores, kurasa kamu bakal suka."

Aku mematung di dekat meja makan. Keramahan itu terasa seperti serangan bagiku. Bagaimana bisa dia bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa? Bagaimana bisa dia menatapku dengan mata secerah itu setelah dia membuang surat cintaku ke tempat sampah di depan mataku sendiri delapan tahun lalu?

"Aku tidak butuh kopimu," kataku dingin, suaraku bergetar karena emosi yang tertahan.

Bima meletakkan teko leher angsanya. Dia menatapku lurus, tidak ada ejekan di matanya, hanya ada ketenangan yang mengusik. "Din, soal tempat tinggal ini... aku tahu ini mendadak buat kamu. Tapi aku janji nggak akan ganggu privasi kamu. Kita bisa bikin aturan kalau kamu mau."

"Aturan nomor satu," aku melangkah mendekat, mencoba membangun benteng pertahanan setinggi mungkin. "Jangan bicara padaku kalau tidak penting. Jangan ma**k ke ruang pribadiku. Dan jangan pernah bertingkah seolah kita saling kenal."

Bima terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Oke. Kalau itu yang bikin kamu nyaman."

Dia berbalik, mengambil satu cangkir kopi dan membawanya ke arahku. Aku refleks mundur satu langkah, namun dia hanya meletakkan cangkir itu di ujung meja yang paling dekat denganku.

"Tapi untuk yang terakhir, aku nggak bisa janji," ucapnya pelan, suaranya kini terdengar lebih rendah dan serak. "Karena kenyataannya, kita memang saling kenal, Din. Dan aku nggak berniat melupakan itu."

Dia berjalan melewati aku menuju kamarnya, meninggalkan aroma kopi dan parfum maskulin yang samar, serta jantungku yang kini berdegup jauh lebih liar daripada saat aku marah-marah pada Bu Rosa tadi. Aku menatap cangkir kopi yang masih mengepul itu, menyadari bahwa benteng yang kubangun selama delapan tahun ternyata punya retakan yang sangat besar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca