Udara malam di balkon unit kos ini terasa lebih menggigit dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku saja karena kegugupan yang merayap di bawah kulit. Aku merapatkan kardigan rajutku, membiarkan jemariku merasai tekstur benang yang kasar sebagai pengalih perhatian dari gemuruh di dada. Di sampingku, Bima berdiri tegak. Kedua lengannya bertumpu pada pagar besi balkon, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar seperti taburan berlian di atas beludru hitam.
Aroma kopi yang menguar dari cangkir di tangannya bercampur dengan wangi sabun mandi yang khasβmaskulin dan menenangkan. Dulu, wangi ini adalah sesuatu yang selalu ingin kuhindari karena hanya akan mengingatkanku pada penolakan yang menghancurkan harga diriku. Namun sekarang, aroma itu adalah jangkar yang menahanku agar tidak melarikan diri dari momen ini.
"Kamu melamun lagi, Din," suara Bima memecah hening. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun c**up untuk membuat bulu kudukku meremang.
Aku menoleh, menemukan matanya sudah tertuju padaku. Tatapannya tidak lagi dingin seperti delapan tahun lalu. Kini, ada kehangatan yang asing di sana, sesuatu yang sulit kubaca namun sekaligus sangat kuinginkan.
"Aku cuma sedang berpikir," jawabku pelan. Aku mengalihkan pandangan kembali ke jalanan di bawah. "Tentang betapa anehnya hidup ini. Dua bulan lalu, aku hampir menangis saat tahu harus berbagi unit denganmu. Aku benar-benar ingin mengusirmu dari sini secepat mungkin."
Bima terkekeh pelan, sebuah suara yang menggetarkan udara di antara kami. "Aku tahu. Kamu bahkan memasang garis pembatas imajiner di ruang tamu. Aku merasa seperti penyusup di wilayah kekuasaan singa."
Aku tersenyum tipis, meski hatiku masih terasa diremas. "Itu karena aku takut, Bima."
Tawanya mereda. Dia menegakkan tubuh, sepenuhnya berputar ke arahku. "Takut padaku?"
"Bukan padamu," aku menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang berserakan. "Aku takut pada diriku sendiri. Aku takut kalau tembok yang sudah kubangun bertahun-tahun ini ternyata hanya terbuat dari kertas yang mudah hancur begitu kamu tersenyum padaku."
Hening kembali turun, namun kali ini terasa menyesakkan. Aku bisa mendengar deru napas Bima yang sedikit memburu. Inilah saatnya. Aku bukan lagi gadis SMA yang emosional dan menuntut jawaban instan. Aku Dinda, wanita berusia dua puluh empat tahun yang tahu apa yang dia rasakan dan berani menanggung konsekuensinya.
Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen mendinginkan paru-paruku yang panas. "Bima, aku sudah mencoba mengubur residu rindu ini dalam-dalam. Aku meyakinkan diriku kalau perasaanku padamu sudah mati bersama penolakanmu di koridor sekolah waktu itu. Tapi berada satu atap dengamu, melihat caramu merapikan sepatuku, caramu menyiapkan s****an saat aku lembur... itu semua membuatku sadar."
Aku memberanikan diri menatap matanya, mengunci pandangannya agar dia tidak bisa berpaling. "Aku masih punya perasaan yang sama. Tidak, ini berbeda. Ini lebih dewasa, lebih sadar, tapi tetap sama menyakitkannya jika harus dipendam sendiri."
Tangan Bima yang tadinya memegang cangkir kini tampak sedikit gemetar. Dia meletakkan cangkirnya di atas pagar balkon dengan gerakan kaku. Aku melihat jakunnya bergerak saat dia menelan ludah. Ketakutan itu kembali munculβketakutan akan diabaikan, ketakutan akan dianggap tidak c**up baik. Bayangan wajah dinginnya di masa lalu melintas sejenak, membuatku ingin menarik kembali kata-kataku.
"Din..." dia memanggil namaku dengan nada yang sulit diartikan.
"Aku tidak butuh kamu menjawabnya sekarang kalau itu membuatmu merasa terpojok," potongku cepat, sisi defensifku mulai mengambil alih. "Aku hanya tidak ingin menjadi pengecut lagi. Aku ingin kamu tahu bahwa gadis yang pernah kamu tolak itu sudah tumbuh, dan dia masih c**up bodoh untuk mencint**mu lagi di tengah semua rahasia yang kamu simpan."
Aku bersiap untuk berbalik, ingin segera ma**k ke kamar dan mengunci diri sebelum air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata jatuh. Aku merasa sudah melakukan bagianku, dan sekarang rasa malu mulai merayap naik ke pipiku.
Namun, sebelum aku sempat melangkah, sebuah tangan yang hangat dan besar melingkar di pergelangan tanganku. Sentuhannya lembut namun tegas, menghentikan gerakanku seketika. Jantungku serasa berhenti berdetak.
"Jangan pergi dulu," bisik Bima.
Dia menarikku perlahan, memaksaku untuk kembali menghadapnya. Jarak kami sekarang sangat dekat hingga aku bisa merasakan panas dari tubuhnya. Bima menunduk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. Aku bisa melihat gurat penyesalan, kerinduan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam di matanya.
"Kamu bilang aku menolakmu dulu," Bima memulai, suaranya serak. "Kamu benar. Aku memang melakukannya. Tapi apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku masih menyimpan foto wisuda SMA-mu di dompetku selama delapan tahun ini, Din?"
Mataku membelalak. Napasku tertahan di tenggorokan. "Apa?"
Bima menghela napas, tangannya naik untuk membelai pipiku dengan ujung jarinya, sebuah sentuhan ringan yang membuat seluruh tubuhku bergetar. "Ada alasan kenapa aku bersikap dingin dulu. Alasan yang kupikir adalah cara terbaik untuk melindungimu. Tapi melihatmu seberani ini, aku merasa seperti pengecut yang sesungguhnya."
Dia mendekatkan wajahnya, dahinya bersandar di dahiku. Aku bisa merasakan embusan napasnya di bibirku. "Dinda, penolakan itu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan dalam hidupku. Dan sekarang, aku tidak tahu apakah aku punya c**up kekuatan untuk membiarkanmu pergi lagi."
Tepat saat aku mengira dia akan menciumku, ponsel Bima yang tergeletak di atas meja kecil di sudut balkon bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat tubuh Bima seketika menegang. Kehangatan yang baru saja melingkupi kami mendadak menguap, digantikan oleh ketegangan yang membuat tangannya terlepas dari pipiku.
Bima melirik ponselnya, dan ekspresi wajahnya berubah drastisβdari penuh kerinduan menjadi penuh kecemasan yang mendalam.
"Aku harus angkat ini," ucapnya singkat tanpa menatapku.
Dia menyambar ponselnya dan berjalan menjauh ke ujung balkon yang lain, meninggalkan aku yang masih terpaku dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Aku hanya bisa menangkap sepenggal kalimat yang dia ucapkan dengan nada mendesak ke seberang telepon.
"Aku sudah bilang jangan hubungi aku sekarang... dia ada di sini."
Duniaku serasa berputar. Siapa yang dia maksud? Dan apa sebenarnya rahasia yang masih dia sembunyikan dariku? Rasa lega yang sempat kurasakan setelah menyatakan perasaan kini berganti menjadi firasat buruk yang mulai menggerogoti ketenanganku. Ternyata, mengakui perasaan hanyalah puncak gunung es dari apa yang harus kuhadapi selanjutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!