Aroma teh melati yang mengepul dari cangkir porselen di atas meja makan kecil itu seharusnya menenangkan, tetapi bagi Dinda, uapnya justru terasa seperti kabut yang mempertebal kecanggungan di antara mereka. Ia duduk tegak, jemarinya tak henti memilin pinggiran taplak meja bermotif kotak-kotak. Di hadapannya, Bima duduk dengan posisi yang jauh lebih sant**, namun matanya yang terus memperhatikan setiap gerak-gerik Dinda menunjukkan bahwa laki-laki itu pun tidak sepenuhnya tenang.
Hanya ada jarak satu meter yang memisahkan mereka. Jarak yang biasanya mereka lalui dengan perdebatan tentang siapa yang belum mencuci piring atau siapa yang menghabiskan stok susu di kulkas. Namun malam ini, jarak itu terasa bermuatan listrik.
"Jadi," Bima memecah keheningan. Suaranya rendah, sedikit parau, menciptakan getaran yang entah bagaimana membuat tengkuk Dinda meremang. "Kontrak unit ini habis dua minggu lagi. Pak RT tadi sore tanya, apa kita mau memperpanjang atau salah satu dari kita mau pindah?"
Dinda mengangkat wajahnya, menatap manik mata Bima yang dalam. Di sana, tidak ada lagi tatapan dingin yang ia terima sepuluh tahun lalu di koridor SMA. Yang ada hanyalah binar penuh harap yang membuat pertahanan Dinda meluruh.
"Kamu tahu kan, secara teknis, kita tinggal di sini karena kesalahan administrasi?" Dinda mencoba menjaga nada suaranya tetap datar, meski jantungnya berdegup kencang. "Seharusnya aku sendirian di sini. Kamu seharusnya mencari unit laki-laki."
Bima menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangannya di atas meja. Perlahan, seolah takut akan mengejutkan seekor burung kecil, ia menyentuh punggung tangan Dinda. "Dan kesalahan administrasi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku, Din."
Dinda tidak menarik tangannya. Kulit Bima yang hangat bersentuhan dengan miliknya, mengirimkan gelenyar yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. "Tapi sekarang situasinya beda, Bim. Kita bukan lagi... cuma teman kos yang terpaksa berbagi ruang."
"Memang tidak," potong Bima cepat. Ia meremas lembut tangan Dinda. "Kita pasangan sekarang. Kecuali kalau kamu berubah pikiran dalam sepuluh menit terakhir."
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Dinda, menghilangkan sedikit ketegangan di wajahnya yang perfeksionis. "Aku nggak berubah pikiran. Hanya saja... rasanya aneh. Transisi ini. Aku terbiasa membangun benteng setinggi mungkin setiap kali kamu mendekat. Sekarang, tiba-tiba aku harus membiarkan pintunya terbuka lebar?"
Bima bangkit dari kursinya, bergerak mendekat hingga ia berdiri tepat di samping Dinda. Ia tidak duduk kembali, melainkan bersandar pada tepian meja. "Kita nggak harus buru-buru. Kalau kamu merasa nggak nyaman berbagi unit sebagai kekasih, aku bisa cari tempat lain. Aku akan jemput kamu setiap pagi, kita kencan seperti orang normalβ"
"Jangan," sela Dinda cepat, lebih cepat dari yang ia maksudkan. Ia berdeham, mencoba mengatur kembali harga dirinya yang sempat goyah. "Maksudku... aku nggak mau kamu pindah. Aku sudah terbiasa dengan caramu menyeduh kopi yang terlalu pahit itu. Dan jujur saja, unit ini terasa terlalu luas kalau aku sendirian lagi."
Bima terkekeh, suara tawa yang begitu renyah hingga membuat Dinda ikut tersenyum. Bima membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Dinda. Wangi maskulin bercampur aroma sabun mandi yang segar menyeruak ma**k ke indra penciuman Dinda.
"Jadi, kita tetap di sini? Sebagai pasangan?" tanya Bima memastikan.
Dinda mengangguk pelan. "Iya. Kita tetap di sini."
Tangan Bima beralih mengusap pipi Dinda dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Dinda adalah porselen retak yang baru saja direkatkan kembali. Dinda memejamkan mata, menikmati afeksi yang dulu hanya berani ia bayangkan dalam mimpi buruk yang manis. Namun, saat Bima mengecup keningnya lama, rasa canggung itu kembali menyelinap.
Saat Bima menarik diri, matanya menatap bibir Dinda dengan intensitas yang berbeda. Atmosfer ruangan berubah seketika. Dinda menelan ludah, ia merasa tenggorokannya mendadak kering. Ini adalah bagian yang paling sulit dari transisi ini: keintiman fisik yang nyata. Selama ini mereka berbagi ruang publik di unit iniβdapur, ruang tamu, meja makan. Tapi sekarang, garis batas itu mengabur.
"Din," bisik Bima, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter. "Aku nggak akan melakukan apa pun yang membuatmu nggak nyaman. Aku tahu ini baru buat kita."
Dinda mengangguk, mencoba mengendalikan napasnya yang mulai pendek. "Aku tahu. Aku cuma... aku butuh waktu untuk membiasakan diri bahwa kamu benar-benar di sini. Bahwa kamu milikku, dan aku nggak perlu takut kamu bakal pergi lagi seperti dulu."
Bima membawa Dinda ke dalam pelukannya. Dinda menyandarkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu, mendengarkan detak jantung Bima yang sama cepatnya dengan detaknya sendiri. Di balik rasa bahagia yang membuncah, ada satu ketakutan kecil yang masih bersarang di sudut hati Dinda. Ketakutan bahwa kebahagiaan ini terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan.
"Aku nggak akan ke mana-mana," janji Bima di sela rambut Dinda.
Dinda mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Bima dalam-dalam. "Janji?"
"Janji."
Keheningan malam itu terasa jauh lebih bersahabat sekarang. Mereka berdiri c**up lama dalam pelukan itu, seolah sedang menyemen pondasi baru bagi hubungan mereka. Namun, kedamaian itu terusik saat ponsel Bima yang tergeletak di atas meja bergetar hebat.
Bima melepaskan pelukannya dengan enggan untuk melihat layar ponselnya. Dinda memperhatikan perubahan drastis pada ekspresi wajah laki-laki itu. Rahangnya mengeras, dan binar hangat di matanya seketika meredup, digantikan oleh kilatan kecemasan yang berusaha ia sembunyikan.
"Siapa?" tanya Dinda, insting protektifnya langsung bangkit.
Bima mematikan layar ponselnya tanpa menjawab atau mengangkat pangg***n itu. Ia memaksakan sebuah senyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Bukan siapa-siapa. Cuma urusan kantor."
Dinda tahu Bima berbohong. Ia hafal betul perbedaan antara raut wajah Bima yang sedang pening karena pekerjaan dengan raut wajah Bima yang sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Rasa dingin mulai merayap kembali ke hati Dinda, mengingatkannya pada rahasia pahit yang dulu membuat Bima menolaknya.
"Bim, jangan ada rahasia lagi di antara kita. Kamu janji, kan?" suara Dinda bergetar.
Bima terdiam sejenak, menatap ponselnya yang kembali bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar itu bukanlah nama rekan kantor, melainkan sebuah nama dari masa lalu yang Bima harap tidak perlu Dinda temui lagi.
"Aku harus angkat ini di luar sebentar, Din," ucap Bima tanpa menatap mata Dinda. Ia meraih ponselnya dan berjalan cepat menuju balkon, meninggalkan Dinda yang terpaku di tengah ruang tamu yang mendadak terasa dingin kembali.
Dinda menatap punggung Bima dari balik kaca balkon. Saat laki-laki itu mulai berbicara dengan nada rendah yang mendesak, Dinda menyadari bahwa perjuangannya untuk menjaga benteng hatinya mungkin belum benar-benar berakhir. Residu masa lalu itu ternyata belum sepenuhnya menguap.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!