Roommate: Residu Rindu yang Tertunda

Bab 4: Bab 4 - Menetapkan 'Aturan Kos' yang sangat ketat untuk...

Pengaturan Membaca

Suara mesin pencetak di sudut kamar apartemenku berhenti dengan bunyi *klik* yang final. Aku menarik selembar kertas yang masih terasa hangat itu, membacanya sekali lagi untuk memastikan tidak ada saltik. Ini adalah benteng pertahananku. Sebuah manifesto tertulis yang akan menjaga kewarasanku—dan yang lebih penting, menjaga jarak aman antara aku dan laki-laki yang sedang bersenandung kecil di dapur itu.

Aku menarik napas panjang, merapikan kemeja kerjaku yang tanpa cela, lalu melangkah keluar dengan dagu terangkat. Di sana dia, Bima, sedang berdiri di depan kompor dengan kaus oblong abu-abu yang menonjolkan bahu lebarnya. Bau mentega dan roti panggang memenuhi ruangan, aroma yang seharusnya menenangkan, tetapi bagiku terasa seperti ancaman.

"Bima," panggilku, suaraku sedatar mungkin.

Bima menoleh, senyum lebarnya langsung terkembang. Matanya menyipit ramah, jenis tatapan yang dulu selalu membuat jantungku jungkir balik, namun kini hanya memicu alarm waspada di kepalaku. "Pagi, Din! Pas banget, gue baru mau tawarin s****an. Roti telur?"

"Simpan rotimu," aku meletakkan kertas itu di atas meja makan dengan gerakan teatrikal. "Kita perlu bicara. Tentang aturan main di sini."

Bima mematikan kompor, lalu mendekat. Dia tidak mengambil jarak yang sopan; dia berdiri c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar. Dia mengambil kertas itu, membacanya dengan kening berkerut namun sudut bibirnya masih menyimpan sisa senyum.

"Aturan Kos Unit 402," Bima membacanya keras-keras. "Satu, pembagian area kulkas dan lemari dapur harus ditaati secara mutlak. Dua, dilarang menggunakan barang milik orang lain tanpa izin tertulis via WhatsApp. Tiga, interaksi verbal dibatasi hanya untuk urusan mendesak terkait operasional unit. Empat, dilarang ma**k ke area pribadi—dalam hal ini ruang tamu jika salah satu pihak sedang berada di sana—kecuali ada keadaan darurat medis atau kebakaran."

Bima mendongak, menatapku dengan binar jenaka yang menyebalkan. "Izin tertulis via WhatsApp? Din, kita cuma berjarak dua meter sekarang. Lo mau gue nge-chat lo buat minjem garam?"

"Ya," sahutku tegas, melipat tangan di dada. "Itu demi efisiensi. Aku tidak ingin ada gangguan yang tidak perlu dalam rutinitas kerjaku. Dan poin nomor tiga adalah yang paling penting. Kita bukan teman, Bima. Kita hanya korban kesalahan administrasi yang terpaksa berbagi atap. Jadi, mari bersikap profesional."

Aku berharap dia akan tersinggung. Aku berharap dia akan dingin seperti saat dia menolakku di koridor sekolah tujuh tahun lalu. Namun, Bima justru terkekeh pelan. Dia meletakkan kertas itu kembali ke meja, lalu melangkah selangkah lebih maju, mema**ki zona nyamanku.

Secara insting, aku mundur hingga punggungku menab**k pinggiran meja.

"Profesional, ya?" gumamnya. Suaranya rendah, sedikit serak karena baru bangun tidur. "Gue setuju sama sebagian besar aturannya. Tapi poin nomor empat... itu agak sulit."

"Kenapa?" tantangku, berusaha keras agar suaraku tidak bergetar.

"Karena ruang tamu ini adalah satu-satunya akses menuju pintu keluar," dia menunjuk pintu utama dengan ibu jarinya. "Dan gue nggak berencana lewat jendela setiap mau berangkat kerja."

Aku mendengus. "Jangan sengaja mencari celah. Intinya, jangan ganggu aku. Jangan ajak aku bicara kalau tidak perlu. Dan yang paling penting, jangan bersikap seolah-olah kita saling mengenal dengan baik."

Bima terdiam sejenak. Ekspresinya melunak, ada sesuatu yang melintas di matanya—mungkin rasa bersalah, mungkin sesuatu yang lain—tapi itu hilang secepat kilat. "Oke, Dinda. *Your house, your rules.* Gue bakal coba."

Aku merasa menang. Aku mengambil tasku, siap untuk berangkat ke kantor dengan kepala tegak. Namun, saat aku hendak melangkah menuju pintu, aku menyadari satu hal. Bima sedang memegang gelas mug berwarna biru pastel kesukaanku—gelas yang secara spesifik sudah kuberi label nama di rak paling atas.

"Bima! Aturan nomor dua!" seruku, menunjuk gelas di tangannya.

Dia melihat gelas itu, lalu melihatku dengan wajah tanpa dosa. "Oh, ini? Maaf, gue nggak lihat labelnya. Tulisannya kecil banget. Lo mau gue kirim chat izin sekarang?"

Dia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan dalam hitungan detik, ponsel di dalam tasku berdenting. Aku merogohnya dengan kesal.

*Bima: Dinda yang terhormat, bolehkah saya meminjam gelas biru ini untuk tiga menit ke depan? Air di dalamnya sangat nikmat.*

Aku menatapnya dengan api yang hampir meledak di mataku. Dia justru mengedipkan sebelah mata, lalu menyesap kopi dari gelasku dengan sant**, bibirnya menyentuh bagian yang biasanya kusentuh. Itu adalah pelanggaran terang-terangan. Provokasi.

"Bima, itu tidak lucu," desisku.

"Siapa yang bercanda? Gue cuma mengikuti prosedur," dia melangkah mendekat lagi, kali ini begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas dari tubuhnya. Dia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku. "Tapi Din, ada satu hal yang lupa lo tulis di aturan itu."

Jantungku berkhianat. Ia mulai berdegup kencang, menghantam dinding dadaku. Aku berusaha tetap fokus pada kemarahanku, bukan pada aroma maskulin yang menguar darinya atau bagaimana matanya seolah sedang memetakan setiap inci wajahku.

"Apa?" tanyaku, nyaris berbisik.

Bima mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuhku, melainkan untuk mengambil sehelai rambut yang jatuh di bahu kemejaku. Jarinya sempat menyentuh kulit leherku selama sepersekian detik—sentuhan ringan yang terasa seperti sengatan listrik.

"Lo lupa nulis..." dia menggantung kalimatnya, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang dalam, "kalau penghuni dilarang jatuh cinta lagi."

Duniaku seolah berhenti berputar. Aku terpaku di tempat, lidahku kelu. Bima memberikan senyum miring yang penuh rahasia, lalu dengan sant** berjalan melewatiku menuju dapur seolah-olah dia tidak baru saja meledakkan bom di tengah ruang tamu.

Aku berdiri mematung, meremas tali tasku hingga jemariku memutih. Dia sengaja melakukannya. Dia tahu persis apa yang dia lakukan. Benteng yang kubangun dengan susah payah sepanjang pagi ini retak hanya dengan satu kalimat. Sambil mengatur napas yang memburu, aku menyadari satu hal yang mengerikan: Bima tidak berniat mengikuti aturanku. Dia berniat menghancurkannya, satu demi satu.

Dan yang membuatku paling takut adalah, jauh di sudut hatiku yang paling gelap, aku tidak yakin apakah aku benar-benar ingin dia berhenti.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca