Cahaya biru dari monitor komputer seolah menyedot sisa-sisa energi di mataku yang mulai berdenyut. Aku menyandarkan punggung ke kursi kerja yang ergonomis, namun punggungku tetap terasa kaku. Jam digital di sudut kanan bawah layar menunjukkan pukul 21.15. Kantor sudah sepi; hanya menyisakan suara dengung halus pendingin ruangan dan gesekan jemariku pada tetikus.
Ini adalah malam keempat aku sengaja pulang terlambat. Strategiku sederhana: berangkat sebelum Bima bangun, dan pulang saat lampu kamarnya sudah padam atau setidaknya saat dia sudah terjebak di balik pintu kamarnya. Aku lebih memilih bergelut dengan laporan audit yang membosankan daripada harus berbagi oksigen di ruang tamu yang sempit itu. Menghindar adalah mekanisme pertahanan terbaik yang aku miliki.
Aku menghela napas panjang, lalu mematikan komputer. Saat keheningan kantor benar-benar menyergap, tiba-tiba suara gemuruh guntur terdengar dari luar, disusul suara hantaman air yang deras menghunjam kaca jendela besar di lant** dua belas ini.
Sial. Hujan deras.
Aku merogoh tas, mencari ponsel untuk memesan taksi daring. Namun, layar ponselku justru menampilkan notifikasi merah: *Driver tidak tersedia di area Anda. Silakan coba beberapa saat lagi.* Aku mencoba aplikasi lain, hasilnya sama. Lonjakan harga dan kelangkaan pengemudi karena cuaca buruk adalah kombinasi maut bagi karyawan yang tidak membawa kendaraan sepertiku.
Dengan bahu lunglai, aku turun ke lobi. Udara dingin langsung menusuk kulit lenganku yang hanya terbalut blus tipis. Di depan pintu kaca lobi, aku terpaku. Hujan turun begitu lebat hingga pandangan ke jalan raya hanya menyisakan kerlip lampu kendaraan yang kabur.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan lobi. Lampu hazard-nya berkedip ritmis. Aku tidak mengenali mobil itu sampai kacanya turun pelan, menampakkan wajah yang selama empat hari ini mati-matian kuhindari.
"Dinda? Ayo ma**k."
Suara Bima terdengar rendah, namun entah bagaimana mampu menembus suara bising hujan. Dia mengenakan kaus abu-abu sant**, rambutnya sedikit berantakan seolah dia baru saja bangkit dari sofa.
Aku mematung, merapatkan tas ke dada. "Kok kamu di sini?"
"Tadi aku lihat payungmu masih ada di rak sepatu, dan di berita bilang hujan badai sampai tengah malam. Aku a**msikan kamu terjebak," jawabnya tenang, seolah menjemputku di jam segini adalah hal paling wajar di dunia. "Ma**klah, Din. Kamu bisa ma**k angin kalau berdiri di situ terus."
Aku benci bagaimana nada suaranya terdengar begitu peduli. Itu mengingatkanku pada sesuatu yang sangat ingin kulupakan. Dengan terpaksa dan langkah kaku, aku berlari kecil menuju mobilnya, berusaha meminimalisir tetesan air yang membasahi bajuku.
Begitu pintu kututup, aroma *sandalwood* yang maskulin dan hangat langsung menyergap indra penciumanku. Itu parfum yang sama. Bagaimana mungkin dia masih memakai aroma yang sama setelah bertahun-tahun?
Bima menyerahkan sebuah handuk kecil berwarna putih bersih. "Keringkan rambutmu. Aku sudah menyalakan pemanas."
"Terima kasih," gumamku tanpa menatapnya. Aku sibuk mengeringkan helai rambutku yang lembap, berusaha meredam debaran jantung yang mulai tidak beraturan.
Mobil mulai melaju pelan membelah genangan air. Keheningan di dalam kabin terasa jauh lebih menyesakkan daripada kebisingan di luar. Aku menatap keluar jendela, pada rintik air yang meluncur di kaca, dan tiba-tiba memori itu menghantamku tanpa peringatan.
Sepuluh tahun yang lalu. Hujan yang sama derasnya di depan gerbang SMA.
Saat itu, aku berdiri dengan seragam yang basah kuyup, menghadang langkah Bima. Dengan keberanian yang kukumpulkan selama berbulan-bulan, aku mengutarakan perasaanku. Aku masih ingat bagaimana tanganku gemetar saat itu. Namun, Bima hanya menatapku dengan mata sedingin es.
*"Dinda, jangan buang-buang waktumu. Aku nggak punya waktu buat urusan remeh kayak gini. Jangan pernah bahas ini lagi,"* katanya waktu itu, lalu melangkah pergi meninggalkanku sendirian di bawah guyuran hujan tanpa menoleh sedikit pun.
Kenangan itu terasa seperti luka lama yang dipaksa terbuka kembali. Rasanya perih dan membuat mataku panas.
"Din? Kamu melamun?"
Suara Bima memecah lamunanku. Aku mengerjap, menyadari bahwa jemariku mencengkeram handuk pemberiannya begitu erat hingga buku-bukuku memutih.
"Aku cuma capek," jawabku singkat, mencoba mengembalikan benteng pertahananku.
"Maaf kalau aku lancang menjemputmu," kata Bima pelan. Dia memutar setir dengan luwes saat berbelok. "Aku hanya tidak ingin kamu kehujanan seperti dulu."
Kalimat itu membuatku menoleh dengan cepat. "Seperti dulu?"
Bima terdiam sejenak, tatapannya lurus ke jalanan yang gelap. Rahangnya tampak mengeras. "Maksudku... hujan di Jakarta selalu bikin orang sakit kalau tidak hati-hati."
"Bima," aku memanggil namanya dengan nada menuntut. "Jangan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Jangan bersikap seolah-olah kita ini teman lama yang baru bertemu kembali setelah sekian lama berpisah dengan cara yang baik."
Bima menepikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi, meski hujan masih mengg*** di luar. Dia mematikan mesin, membuat suasana menjadi sangat hening, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam atap mobil.
"Aku tahu kamu marah, Din," ucapnya tanpa memandangku. "Dan kamu punya setiap alasan untuk membenciku. Tapi ada hal-hal yang tidak sesederhana kelihatannya."
"Sederhana bagiku, Bima," sahutku dengan suara yang mulai bergetar. "Kamu mempermalukanku. Kamu membuatku merasa seperti sampah yang tidak berharga hanya karena aku menyukaimu. Dan sekarang, setelah sepuluh tahun, kamu tiba-tiba muncul di unit kos yang sama dan bersikap sangat manis? Apa tujuannya? Kamu ingin melihat apakah aku masih semudah itu dipermainkan?"
Bima menoleh. Di bawah remang lampu jalan, aku bisa melihat kilat luka di matanyaβsesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia mendekat sedikit, tangannya bergerak seolah ingin menyentuh bahuku, namun dia mengurungkannya di tengah jalan.
"Kalau saja kamu tahu alasan sebenarnya kenapa aku pergi hari itu..." Bima menggantung kalimatnya.
Aku menatapnya tajam, menantang penjelasan yang telah kutunggu selama satu dekade. "Apa? Katakan. Alasan apa yang membuatmu merasa punya hak untuk menghancurkan perasaan seorang remaja dengan begitu dingin?"
Bima menarik napas berat, tangannya kembali mencengkeram setir mobil dengan kuat. "Karena kalau aku tidak melakukannya, kamu mungkin tidak akan ada di sini sekarang, Dinda. Kamu tidak akan menjadi wanita karier yang hebat seperti ini."
Aku mengerutkan kening, bingung sekaligus kesal. "Apa maksudmu?"
Bima menatapku dalam-dalam, dan untuk sesaat, aku merasa seperti kembali menjadi gadis remaja di bawah hujan itu. "Malam itu, setelah aku meninggalkanmu di gerbang sekolah... aku melihat ayahmu."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Ayahku? Pria keras kepala yang selalu menuntut kesempurnaan dariku dan membenci siapa pun yang mengganggu fokus belajarku?
Bima tampak ragu, namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk terus bicara. "Dia tidak sendirian, Din. Dan apa yang dia katakan padaku malam itu... adalah alasan kenapa aku harus menjauh darimu secepat mungkin."
Aku terpaku, napasku tertahan di tenggorokan. Rahasia apa yang disembunyikan Bima bersama ayahku? Dan kenapa bayangan masa lalu yang kupikir sudah terkubur, kini justru terasa lebih nyata daripada hujan yang tengah mengguyur kami saat ini?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!