Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega memenuhi unit kos kami yang sempit, menciptakan suasana domestik yang seharusnya terasa hangat, namun bagiku justru terasa menyesakkan. Di depanku, Bima berdiri dengan sant** di depan kompor listrik, mengenakan kaus oblong abu-abu yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Ia bersenandung kecil, seolah-olah berbagi ruang pribadi dengan wanita yang pernah ia hancurkan hatinya adalah hal paling lumrah di dunia.
Aku duduk di meja makan kayu kecil yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang tengah, pura-pura sibuk dengan laptopku. Namun, mataku terus mencuri pandang ke arah punggungnya. Punggung yang sama yang kulihat menjauh tujuh tahun lalu di koridor sekolah, meninggalkan aku yang berdiri mematung dengan surat cinta yang remuk di kepalan tangan.
"Din, mau telurnya matang atau setengah matang?" suara Bima membuyarkan lamunanku.
Aku berdeham, mencoba menstabilkan suaraku. "Matang saja. Aku nggak suka yang masih cair."
Bima menoleh sebentar, memberikan senyum tipis yang membuat perutku mulas. Bukan karena jatuh cinta lagi, tapi karena rasa tidak percaya. "Oke, satu porsi nasi goreng spesial tanpa telur setengah matang untuk Tuan Putri," candanya.
Aku tidak tertawa. Dadaku justru terasa panas. Bagaimana bisa dia bersikap seakrab ini? Bagaimana bisa dia menggunakan nada bicara seolah kami adalah teman lama yang selalu akrab?
"Bim," panggilku, menutup laptop dengan suara *klik* yang c**up keras.
Ia mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng ke piring. "Ya?"
"Kamu... kamu benar-benar nggak merasa aneh ya?"
Bima meletakkan piring di depanku, lalu duduk di kursi seberang. Ia menatapku dengan tatapan jernih, tanpa beban. "Aneh kenapa? Karena kita harus berbagi unit? Aku sudah bilang, ini salah administrasi Bu Siti, tapi anggap saja ini cara semesta buat kita hemat biaya sewa, kan?"
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Bukan itu. Maksudku... kita. Kita yang dulu satu SMA. Kita yang dulu... kamu tahu maksudku."
Bima menyuap sesendok nasi goreng, mengunyahnya pelan, lalu menelan. Ekspresinya tidak berubah. Tetap tenang, tetap ramah. "Oh, masa SMA? Iya, aku ingat kita satu angkatan. Aku ingat kamu sering duduk di perpustakaan di pojok kanan bawah AC. Kamu selalu baca buku-buku tebal yang kelihatannya membosankan."
Darahku mendidih. Dia ingat di mana aku duduk di perpustakaan, tapi apakah dia ingat apa yang dia katakan padaku di belakang laboratorium kimia saat aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku?
*"Aku nggak punya waktu buat urusan nggak penting kayak gini, Dinda. Tolong jangan ganggu aku lagi."*
Kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku seperti kaset rusak. Kata-kata yang membuatku mengunci diri di kamar selama tiga hari dan bersumpah tidak akan pernah menjadi wanita yang "mengemis" perhatian laki-laki lagi.
"Cuma itu?" tanyaku, suaraku kini sedikit bergetar. "Kamu nggak ingat kejadian lain? Sesuatu yang... mungkin lebih personal?"
Bima meletakkan sendoknya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatapku dalam-dalam. Sesaat, aku melihat kilatan sesuatu di matanyaβkesedihan? Rasa bersalah? Namun, kilatan itu hilang secepat munculnya, digantikan oleh binar jenaka yang menyebalkan.
"Maksudmu waktu kamu tidak sengaja menumpahkan jus jeruk ke baju Pak kepsek saat upacara?" Bima tertawa kecil. "Itu legendaris, Din. Seluruh sekolah membicarakannya."
Aku merasakan dorongan kuat untuk menyiramkan air putih di depanku ke wajahnya. Dia sedang bermain-main denganku. Dia pasti ingat. Tidak mungkin seseorang melupakan momen di mana dia menolak orang lain dengan begitu dingin hingga membuat orang itu trauma dalam urusan asmara.
"Bima, berhenti bercanda," desisku. "Aku serius. Kamu ingat hari itu? Di belakang lab kimia? Minggu terakhir sebelum ujian nasional?"
Keheningan tiba-tiba menyergap ruangan. Suara detak jam dinding di atas kulkas terdengar seperti dentuman drum di telingaku. Bima tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas airnya, meminumnya perlahan, seolah sedang menyusun kata-kata di kepalanya.
"Din," suaranya merendah, kehilangan nada candanya yang tadi. "Masa SMA itu sudah lama sekali. Kita masih anak-anak yang belum tahu apa-apa. Apa pun yang terjadi dulu, bukannya lebih baik kalau kita mulai dari awal lagi di sini? Sebagai orang dewasa?"
Aku tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan rasa sakit yang terpendam. "Mulai dari awal? Kamu bisa bilang begitu karena bukan kamu yang terluka, Bim. Kamu bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja karena bukan kamu yang merasa seperti sampah hari itu."
Bima terdiam. Ia menunduk, memandangi butiran nasi di piringnya yang belum habis. Tangannya yang memegang sendok tampak menegang, buku-buku jarinya memutih. Untuk pertama kalinya sejak kami tinggal bersama, aku melihat celah di topeng ramahnya.
"Aku nggak pernah menganggapmu sampah, Dinda," ucapnya lirih, hampir seperti bisikan.
"Tapi kamu memperlakukanku seperti itu!" suaraku naik satu oktav. "Kamu menolakku seolah-olah kehadiranku adalah gangguan yang menjijikkan bagi hidupmu. Dan sekarang, tiba-tiba kamu jadi si 'Mr. Nice Guy' yang masak nasi goreng buatku? Kamu pikir itu bisa menghapus semuanya?"
Bima mendongak. Matanya kini tidak lagi jernih; ada kabut gelap yang menyelimutinya. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka sedikit, namun kemudian ia mengatupkannya kembali rapat-rapat.
"Maaf kalau sikapku sekarang malah membuatmu nggak nyaman," katanya dengan nada datar, sangat kontras dengan emosiku yang meluap. "Aku cuma berusaha memperbaiki keadaan yang bisa kuperbaiki sekarang."
Ia berdiri, membawa piringnya yang masih berisi setengah porsi nasi ke wastafel. Ia membelakangiku, mulai menyalakan keran air. Suara kucuran air yang deras mengisi kekosongan di antara kami.
Aku menatap punggungnya, merasa tidak puas dengan jawabannya. Dia tidak membantah, tapi dia juga tidak mengakui secara gamblang. Dia menggantungku di antara kepastian dan keraguan, persis seperti yang dia lakukan dulu.
Saat aku hendak berdiri dan meninggalkan meja makan, mataku menangkap sesuatu yang menonjol dari saku celana kain yang ia gantung di gantungan baju dekat pintuβcelana yang ia pakai kerja tadi siang. Sebuah sudut kertas kecil yang tampak lusuh dan berwarna kekuningan.
Rasa ingin tahuku memuncak. Saat Bima masih sibuk mencuci piring dengan suara gemericik air yang bising, aku melangkah pelan mendekati gantungan itu. Dengan jantung berdegup kencang, aku menarik ujung kertas itu sedikit demi sedikit.
Itu adalah sebuah foto kecil berukuran pasfoto. Foto seorang gadis remaja dengan seragam SMA, rambut dikuncir kuda, dan senyum malu-malu ke arah kamera.
Itu adalah fotoku. Foto yang hilang dari dompetku saat hari penolakan itu.
Tanganku gemetar. Kenapa foto itu ada padanya? Dan kenapa foto itu tampak begitu lusuh, seolah-olah sudah sering disentuh dan disimpan dalam waktu yang sangat lama?
Tiba-tiba, suara air berhenti.
"Dinda? Sedang apa?"
Aku tersentak dan berbalik cepat, menyembunyikan kertas itu di balik punggungku, namun mata tajam Bima sudah tertuju pada tanganku yang gemetar. Ekspresinya yang tadi datar kini berubah menjadi tegang, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di wajah laki-laki itu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!