Aku menatap pantulan diriku di cermin lemari sekali lagi. Poles gincu merah bata yang sedikit lebih berani dari biasanya, sapuan *blush on* tipis untuk menyamarkan pucat karena kurang tidur, dan sweter *oversized* yang sengaja kubiarkan jatuh di satu bahu. Aku menarik napas panjang, membiarkan dadaku naik-turun dengan tidak teratur.
Ini konyol. Aku tahu ini kekanakan. Namun, keramahan Bima selama beberapa hari terakhir—caranya menyapaku setiap pagi, kopi yang ia siapkan di meja makan, hingga senyum tipisnya yang seolah menghapus memori penolakan dinginnya di masa lalu—benar-benar mengusik kewarasanku. Aku butuh pengalihan. Aku butuh pengingat bahwa aku masih punya daya pikat, dan yang paling penting, aku butuh melihat apakah ada celah di balik topeng "teman sekamar yang baik" yang ia kenakan.
Suara ketukan di pintu unit kos kami membuyarkan lamunanku. Itu pasti Reno.
"Biar aku yang buka!" teriakku, lebih keras dari yang diperlukan, supaya Bima yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tengah mendengarnya.
Aku melangkah cepat, membuka pintu dengan senyum paling cerah yang bisa kukeluarkan. "Hai, Ren! Tepat waktu banget."
Reno, rekan kerjaku di divisi pemasaran, berdiri di sana dengan tas laptop dan sekotak donat. Ia pria yang menyenangkan, humoris, dan yang paling penting, dia sudah lama terang-terangan menunjukkan ketertarikannya padaku.
"Hai, Din. Sori ya ganggu malam-malam, soalnya revisi klien ini harus kelar besok pagi," ujar Reno ramah. Matanya sempat memindai penampilanku sejenak, ada binar kagum di sana yang membuat egoku sedikit terangkat.
"Enggak apa-apa, kok. Ma**k yuk."
Begitu kami melangkah ke ruang tengah, atmosfer hangat yang biasanya menyelimuti unit ini mendadak terasa sedikit lebih tipis. Bima masih duduk di sofa, namun ia tidak lagi menatap layar laptopnya. Ia bersandar, kedua tangannya terlipat di depan dada, menatap tamu yang kubawa dengan ekspresi yang sulit kubaca.
"Bim, ini Reno, teman kantorku. Kita ada proyek yang harus diselesaikan," kataku, berusaha terdengar sant**. "Ren, ini Bima... teman sekamarku."
Reno mengulurkan tangan dengan sopan. "Reno. Maaf ya, Bro, ganggu privasinya sebentar."
Bima berdiri, menjabat tangan Reno. Genggamannya tampak mantap, mungkin terlalu mantap. "Bima. Sant** saja. Anggap saja rumah sendiri, tapi jangan sampai larut malam ya. Dinda biasanya susah bangun kalau kurang tidur."
Aku tertegun. Kalimat itu terdengar seperti perhatian, tapi ada nada kepemilikan yang terselip di sana. Aku segera mengajak Reno duduk di meja makan yang hanya berjarak beberapa meter dari sofa tempat Bima berada.
Selama satu jam berikutnya, aku berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada berkas-berkas di depanku. Namun, fokusku terus-menerus terpecah. Aku tertawa lebih keras pada setiap lelucon garing yang Reno lontarkan. Aku sengaja memajukan tubuhku, sesekali menyentuh lengan Reno saat menjelaskan poin presentasi. Aku ingin tahu, apakah Bima terganggu?
Bima tampak masih sibuk dengan laptopnya, tapi aku menyadari sesuatu. Dia tidak lagi mengetik. Jarinya hanya sesekali menekan tombol *scroll* dengan irama yang kaku.
"Din, ini bagian yang ini kayaknya lebih oke kalau kita pakai visual yang lebih *bold*," ujar Reno sambil mendekatkan kursinya ke arahku. Bahu kami hampir bersentuhan.
"Hmm, setuju. Kamu memang paling tahu deh seleraku, Ren," balasku dengan nada yang sengaja kumanis-maniskan.
Tiba-tiba, suara denting cangkir yang diletakkan agak keras di atas meja kaca terdengar dari arah sofa. Bima berdiri, berjalan menuju dapur—yang artinya dia harus melewati meja makan kami.
"Mau minum apa, Ren? Teh? Kopi? Atau sesuatu yang dingin?" tanya Bima, suaranya terdengar sangat sopan, namun matanya menatap Reno dengan intensitas yang membuat Reno sedikit berdehem canggung.
"Eh, air putih saja c**up, Mas Bima," jawab Reno.
Bima mengambil gelas, mengisinya dengan air dari dispenser, lalu meletakkannya di depan Reno. Namun, alih-alih langsung kembali ke sofa, ia berdiri di sampingku. Tangannya mendarat di sandaran kursiku, membuatku merasa seolah-olah sedang dikurung oleh keberadaannya.
"Kamu sudah minum vitaminmu, Din? Di luar lagi musim hujan, jangan sampai drop lagi kayak minggu lalu," ucap Bima pelan. Tangannya yang bebas bergerak secara alami—atau setidaknya terlihat alami—untuk merapikan sehelai rambut yang jatuh menutupi mataku, menyelipkannya ke belakang telingaku.
Jarinya sempat bersentuhan dengan kulitku. Dingin, namun memberikan efek setruman yang membuat napas dalam paruku mendadak macet. Gerakannya terlalu intim untuk sekadar "teman sekamar".
Reno tampak mematung, menatap interaksi itu dengan kening berkerut. "Kalian... akrab banget ya?"
"Namanya juga tinggal bareng, Ren. Harus saling jaga," jawab Bima dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Lanjutkan saja kerjanya. Aku ke kamar duluan kalau begitu. Jangan lupa kunci pintu depannya nanti kalau pulang, ya."
Bima berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Bunyi pintu yang tertutup rapat seolah menjadi titik akhir dari sandiwara yang kupentaskan. Tiba-tiba saja, tawaku menghilang. Semangatku untuk menggoda Reno menguap begitu saja.
"Din? Kamu oke?" Reno menyentuh punggung tanganku.
Aku menarik tanganku dengan refleks. "Eh, iya. Oke kok. Sampai mana tadi?"
Sisa malam itu terasa hambar. Reno pulang setengah jam kemudian, sepertinya dia menyadari ada ketegangan yang tidak bisa ia tembus di unit ini. Setelah menutup pintu dan menguncinya, aku berdiri diam di ruang tengah yang kini sunyi.
Jantungku masih berdegup kencang karena sentuhan singkat Bima tadi. Apa maksudnya? Dia menolakku dengan sangat kejam bertahun-tahun lalu, mengabaikan perasaanku seolah itu adalah sampah. Lalu sekarang, saat aku mencoba menjaga jarak, dia justru bertingkah seolah dia memiliki hak atas diriku di depan pria lain.
Aku berjalan menuju pintu kamar Bima, berniat untuk protes atau setidaknya meminta penjelasan atas sikap "overprotektif"-nya yang berlebihan tadi. Namun, tepat saat tanganku hendak mengetuk pintu kayu itu, pintu tersebut terbuka lebih dulu.
Bima berdiri di sana, masih mengenakan pakaian yang sama, namun matanya tampak lebih gelap, lebih lelah. Ia tidak lagi memakai topeng ramahnya.
"Sudah selesai main-mainnya?" tanyanya dingin.
Aku terperangah. "Maksudmu apa?"
"Laki-laki tadi. Kamu membawanya ke sini hanya untuk melihat reaksimu, kan?" Bima melangkah maju, memaksaku mundur satu langkah hingga punggungku menab**k dinding koridor kecil itu. "Jangan gunakan orang lain hanya untuk memancing sesuatu yang sebenarnya sudah kamu tahu jawabannya, Dinda."
Napasnya terasa di keningku. Aku mendongak, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Aku tidak tahu apa-apa, Bima! Kamu yang membuatku bingung! Kamu yang tiba-tiba bersikap seolah kita ini sahabat, padahal dulu kamu—"
"Dulu aku apa?" potongnya cepat. Ia mendekatkan wajahnya, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara kami. "Kamu pikir aku senang melihatmu tertawa dengan pria lain di depanku? Di rumah ini?"
Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun penuh dengan emosi yang tertahan. Aku bisa merasakan kemarahan, kecemburuan, dan sesuatu yang lebih menyakitkan: kerinduan yang sama besarnya dengan apa yang kusimpan selama ini.
Tangannya naik, menumpu di dinding di samping kepalaku, mengunci pergerakanku. "Jangan pernah bawa pria lain ke sini lagi, Dinda. Aku tidak menjamin bisa tetap bersikap 'sopan' seperti tadi."
Aku terpaku, lidahku kelu. Di bawah temaram lampu koridor, aku melihat kilat luka di matanya yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat. Sebelum aku sempat membalas, Bima menjauhkan dirinya, kembali ma**k ke kamarnya, dan menutup pintu dengan dentuman yang menggetarkan seluruh unit—juga hatiku yang baru saja ia porak-porandakan lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!