Kurir Paket Spesial: Jangan Tanya Apa Isi Kotaknya

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan rutinitas Bima sebagai kurir mal...

Pengaturan Membaca

Layar ponselku yang retak seribu berpendar di kegelapan, menampilkan notifikasi pesan singkat yang lebih tajam daripada sayatan pisau.

*“Bima, sisa 125 juta. Kalau besok jam 12 siang bunga belum ma**k, adekmu yang di asrama tanggung risikonya. Kami tahu alamatnya.”*

Aku meremas ponsel itu hingga buku-buku jariku memutih. Napas yang keluar dari mulutku terasa panas, kontras dengan angin malam Jakarta yang menusuk hingga ke tulang melalui pori-pori jaket parasitku yang mulai menipis. Di depanku, jalanan kawasan industri Pulo Gadung tampak seperti kota mati. Lampu jalan yang berkedip-kedip memberikan ritme horor pada bayangan gedung-gedung tua yang bisu.

Pukul 02.15 pagi. Masih ada empat puluh lima menit sebelum gerbang 'kantor' dibuka.

Aku menyandarkan punggung ke jok motor bebekku yang kulitnya sudah pecah-pecah. Menunggu adalah bagian paling menyiksa dari pekerjaan ini. Dalam diam, pikiranku selalu terseret ke lubang hitam yang sama: wajah ayahku yang memudar dalam ingatan, menghilang lima tahun lalu tanpa jejak, meninggalkan tumpukan utang yang jumlahnya tidak ma**k akal dan sebuah teka-teki yang sepertinya mulai kutemukan jawabannya di tempat ini.

Nirmana Express.

Nama itu tidak akan ditemukan di Google Maps. Tidak ada papan iklan megah dengan wajah artis ternama. Kantornya hanyalah sebuah gudang tua tanpa nomor, terselip di antara bangunan pabrik tekstil yang sudah bangkrut. Namun, upah sekali antar di sini bisa menutupi cicilan utangku selama tiga bulan. Itu pun jika aku c**up beruntung untuk kembali dengan kewarasan yang utuh.

*Wiuuu... wiuuu...*

Jantungku mencelos. Cahaya biru dan merah berputar-putar di kejauhan, memantul pada dinding-dinding kusam. Sial. Patroli polisi.

Aku segera menegakkan punggung, memutar kunci kontak. Mesin motorku mengerang, batuk beberapa kali sebelum akhirnya hidup dengan suara kasar yang terasa terlalu keras di kesunyian malam ini. Aku tidak boleh terlihat di sini. Bagi polisi, seorang pemuda yang nongkrong di depan gudang kosong jam dua pagi adalah sasaran empuk—entah itu dituduh maling, kurir narkoba, atau sekadar diperas habis-habisan.

"Ayo, jalan, Nak. Jangan sekarang," bisikku pada motor tua ini.

Aku memutar gas pelan, mencoba menyelinap ma**k ke sebuah gang sempit di samping pabrik cat. Aku mematikan lampu utama, hanya mengandalkan insting dan sisa cahaya bulan yang redup. Aku mengenal area ini seperti punggung tanganku; setiap lubang jalan, setiap tikungan buta, semuanya sudah terpetakan di kepalaku sejak aku mulai menjadi kurir reguler tiga tahun lalu sebelum akhirnya terjerumus ke Nirmana.

Mobil patroli itu melambat saat melewati mulut gang. Aku menahan napas, merapatkan tubuh ke dinding tembok yang lembap dan berlumut. Bau pesing dan sampah busuk menusuk hidung, tapi aku tak berani bergerak sedikit pun. Melalui celah sempit, aku bisa melihat sorot lampu tembak polisi menyapu gerbang gudang Nirmana yang tertutup rapat.

*Jangan berhenti. Teruslah jalan,* rapalku dalam hati.

Entah karena keberuntungan atau memang ada 'kekuatan' lain yang melindungi tempat itu, mobil patroli tersebut kembali melaju, menjauh menuju jalan raya utama. Aku mengembuskan napas panjang yang gemetar. Keringat dingin mengucur di pelipisku.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 02.55.

Suasana di sekitar gudang tiba-tiba berubah. Angin yang tadinya berembus kencang mendadak berhenti total. Kesunyian yang tercipta terasa tidak alami—seolah-olah suara serangga malam dan desis jauh kendaraan di tol telah diserap oleh lubang hitam. Suhu udara turun drastis, membuat embun napasku terlihat jelas di udara.

Tepat saat jarum jam menyentuh angka 12, 12, dan 3—pukul tiga pagi yang keramat—pintu besi gudang yang tadinya berkarat dan gemboknya yang dirant** rapat, tiba-tiba terbuka tanpa suara sedikit pun. Tidak ada derit engsel. Hanya kegelapan pekat yang menganga dari dalam, lebih hitam dari malam Jakarta mana pun.

Aku menghidupkan mesin motorku lagi. Kali ini, tidak ada rasa ragu. Tekanan utang dan ancaman terhadap adikku jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang bersembunyi di balik pintu itu.

Aku ma**k ke dalam area gudang. Di sana, di bawah satu-satunya lampu bohlam kuning yang bergoyang pelan, berdiri seorang pria tinggi kurus dengan setelan jas hitam yang tampak terlalu rapi untuk tempat kumuh ini. Wajahnya pucat, nyaris transparan, dengan mata yang selalu tersembunyi di balik bayangan topinya. Kami menyebutnya Pak Tua, meski dia tidak terlihat tua atau muda.

Tanpa sepatah kata pun, Pak Tua meletakkan sebuah kotak kayu berukuran sedang di atas meja beton. Kotak itu dibalut kain mori kusam dan diikat dengan tali rami yang ujung-ujungnya disegel dengan lilin merah.

"Titik Buta: Pemakaman Jeruk Purut. Pohon kembar di sisi timur," suara Pak Tua terdengar seperti gesekan kertas amplas di atas kayu. Kering dan tanpa emosi.

Aku menelan ludah. Jeruk Purut. Aku sudah pernah ke sana, tapi tidak pernah pada jam-jam seperti ini, dan tentu saja tidak untuk mencari 'Titik Buta'.

"Ingat aturannya, Bima," lanjut Pak Tua, matanya yang dingin seolah menembus tengkorak kepalaku. "Jangan pernah terlambat. Jangan pernah bertanya apa isinya. Dan yang paling penting..."

"Jangan pernah mengintip isi kotaknya," sambungku dengan suara serak.

"Bagus. Berangkatlah. Kau punya waktu sampai azan subuh pertama berkumandang. Jika kau terlambat... kau tahu sendiri siapa yang akan menggantikan isi kotak selanjutnya."

Aku mengangguk kaku, lalu mengangkat kotak itu. Terasa lebih berat dari kelihatannya, dan entah mengapa, permukaannya terasa hangat—seperti ada suhu tubuh yang terpancar dari dalam kayu tersebut. Begitu aku meletakkannya di antara kedua kakiku di atas motor, sebuah sensasi aneh menjalar ke tulang punggungku.

Aku memutar motor, keluar dari gudang tanpa menoleh lagi. Namun, baru beberapa meter meninggalkan gerbang Nirmana, suara itu muncul.

Sangat pelan, nyaris tertutup oleh suara mesin motor.

*Uwaaa... uwaaa...*

Aku mengerem mendadak. Jantungku berdegup kencang seirama dengan suara tangisan bayi yang merobek kesunyian dari dalam kotak yang baru saja kuterima. Tangisannya tidak terdengar seperti rekaman; itu adalah tangisan makhluk hidup yang sedang kesakitan, atau ketakutan.

Tanganku gemetar di atas stang motor. Aku teringat instruksi Pak Tua. *Jangan pernah bertanya. Jangan mengintip.* Tapi tangisan itu... makin lama makin menyayat hati, seolah-olah sesuatu di dalam sana sedang memohon untuk diselamatkan.

Aku menatap kotak berselubung kain mori itu. Lilin merahnya masih utuh, tapi aku bisa bersumpah kain itu sedikit bergerak, seolah ada tangan mungil yang meronta dari dalam.

Jakarta masih gelap, dan perjalananku menuju Jeruk Purut baru saja dimulai, namun aku sudah merasa nyawaku berada di ujung tanduk. Apakah aku sedang membawa paket, ataukah aku sedang mengantar sebuah nyawa menuju kematiannya?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca