Tangan Bima gemetar hebat, kunci pas di genggamannya terasa lebih berat dari biasanya. Di depannya, kotak kayu jati tua dengan ukiran sulur-sulur aneh itu seolah bernapas. Suara tangisan dari dalamnya kini bukan lagi sekadar rengekan, melainkan jeritan parau yang mengiris kesunyian Pemakaman Jeruk Purut. Kabut tipis menyelimuti permukaan tanah, merayap naik hingga ke betis Bima, seolah-olah akar-akar gaib sedang mencoba menyeretnya ma**k ke dalam bumi.
"Jangan pernah mengintip, Bima. Sekali kau melihat, kau tidak akan pernah bisa kembali." Suara berat Pak Handoko, manajer operasional Nirmana Express, terngiang di kepalanya seperti kutukan.
Bima menelan ludah. Jaket seragam hitamnya basah oleh keringat dingin. Logika pragmatisnya berteriak agar ia segera meletakkan kotak itu di bawah pohon benda tua di koordinat yang sudah ditentukan dan pergi secepat mungkin. Hutang-hutangnya bisa lunas malam ini. Ia bisa kembali ke kehidupan normal, tidur di ka**r empuk tanpa perlu khawatir ditagih lintah darat. Namun, tangisan ituβfrekuensinya begitu manusiawi, begitu penuh rasa sakitβmembuat kakinya terpaku di atas tanah makam yang lembap.
"Maafkan aku," bisik Bima pada kegelapan.
Ia menyelipkan ujung kunci pas ke sela-sela segel lilin merah yang menutupi celah tutup kotak. Dengan satu hentakan kuat, segel itu pecah. Suara retakannya terdengar seperti tulang yang patah di tengah keheningan malam. Aroma mawar busuk dan besi berkarat menguar dari dalam, menusuk hidung Bima hingga ia tersedak.
Perlahan, ia mengangkat tutup kotak itu.
Cahaya senter ponselnya yang diletakkan di atas nisan tua menyinari isi di dalamnya. Bima tersentak, hampir menjatuhkan kotak itu. Di sana, beralaskan kain sutra hitam yang dingin, terbaring seorang bayi mungil. Kulitnya pucat nyaris transparan, namun pipinya kemerahan karena terlalu lama menangis. Bayi itu tidak memiliki pakaian, hanya terbungkus sehelai kain kafan tipis yang dihiasi simbol-simbol aneh berwarna emas.
Begitu cahaya menyentuh wajahnya, bayi itu berhenti menangis. Matanya yang besar dan hitam legam menatap langsung ke arah Bima. Tidak ada rasa takut di sana, hanya kekosongan yang amat dalam, seolah bayi ini telah melihat akhir dunia berkali-kali.
"Demi Tuhan..." desis Bima. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ini bukan sekadar 'paket'. Ini adalah nyawa.
Nirmana Express benar-benar memperdagangkan manusia ke dimensi lain. Bima merasa mual. Ia merogoh ke dalam kotak, berniat mengangkat bayi itu. Saat jemari kasarnya menyentuh kulit bayi yang sedingin es, bayi itu menggeliat kecil. Tubuhnya berputar sedikit, menyingkap bagian bahu kirinya yang mungil.
Bima membeku. Senter di atas nisan berkedip-kedip, seolah-olah ada energi besar yang sedang menyedot daya baterainya. Di bahu bayi itu, tepat di bawah tulang selangka, terdapat sebuah tanda lahir yang sangat spesifik: sebuah noda berwarna cokelat gelap berbentuk seperti bintang yang terbelah dua.
Dunia di sekitar Bima seolah berhenti berputar. Oksigen di paru-parunya mendadak hilang. Ia mengenal tanda itu. Ia pernah menyentuh tanda yang persis sama setiap kali ia menggendong adik perempuannya, Maya, dua puluh tahun yang lalu sebelum gadis kecil itu hilang tanpa jejak dari halaman rumah mereka.
"Maya?" suara Bima pecah, hampir tidak terdengar.
Ia menggosok matanya kasar, berharap ini hanya halusinasi akibat kelelahan atau pengaruh mistis tempat ini. Namun, tanda itu tetap di sana. Unik, tidak simetris, dan sangat familiar. Ingatan masa kecil yang selama ini ia kunci rapat-rapat meledak keluar. Ia teringat bagaimana ibunya menangis histeris setiap malam, bagaimana ayahnya pergi mencari dan tidak pernah kembali, dan bagaimana ia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena melepaskan pegangan tangan Maya hanya untuk mengejar tukang balon.
Bagaimana mungkin? Maya hilang dua puluh tahun lalu. Jika dia masih hidup, dia seharusnya sudah dewasa. Tapi bayi ini... bayi ini memiliki tanda yang identik. Apakah Nirmana Express tidak hanya melintasi ruang, tapi juga waktu? Ataukah bayi ini adalah reinkarnasi, atau sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang sengaja dibentuk untuk memancingnya?
Bayi itu tiba-tiba mengulurkan tangan kecilnya, jemari mungilnya menggenggam erat telunjuk Bima. Genggamannya sangat kuat, tidak wajar untuk ukuran bayi. Di saat yang sama, suhu di sekitar mereka turun drastis. Kabut yang tadinya hanya setinggi betis kini mulai menebal dan membentuk pusaran di sekeliling mereka.
Dari kegelapan di balik pohon benda, terdengar suara langkah kaki yang berat dan terseret. Bukan suara manusia. Itu adalah suara sesuatu yang besar, sesuatu yang lapar, yang datang untuk menjemput kirimannya.
Bima menatap bayi itu, lalu menatap kegelapan di depannya. Aturan pertama: jangan pernah bertanya. Aturan kedua: jangan pernah terlambat. Aturan ketiga: jangan pernah mengintip.
Bima telah melanggar ketiganya.
Ia menarik bayi itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat di balik jaketnya. Ia bisa merasakan detak jantung bayi itu yang lambat, seirama dengan detak jantungnya sendiri yang liar. Ia tahu, jika ia meninggalkan tempat ini dengan bayi ini, ia tidak lagi sekadar berurusan dengan penagih hutang. Ia akan menjadi buruan Nirmana Express. Ia akan menjadi target dari entitas yang menguasai Titik Buta Jakarta.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi," bisik Bima, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada bayi itu.
Suara geraman rendah terdengar dari balik kabut, diikuti oleh sepasang mata merah yang menyala di antara nisan-nisan tua. Bima meraih kunci pasnya kembali, menggenggamnya kuat-kuat. Ia tahu jalan-jalan tikus di daerah ini lebih baik daripada siapa pun, tapi malam ini, jalanan Jakarta tidak akan lagi terasa sama.
Di kejauhan, jam tangan digitalnya berbunyi pelan. Pukul 03.33 pagi. Waktu di mana gerbang antara dunia ini dan 'sana' terbuka paling lebar. Bima mulai berlari, menembus kabut, sementara di belakangnya, sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini mulai mengejar dengan kecepatan yang tidak ma**k akal.
Ia tidak hanya membawa bayi. Ia membawa kunci menuju masa lalunya yang hilang, dan mulai malam ini, Bima bukan lagi seorang kurir. Ia adalah seorang pencuri di mata i****.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!