Aroma buku tua yang lembap dan bau kemenyan tipis menyeruak di antara lorong-lorong sempit Pasar Santa yang sudah tutup. Di sebuah kios pojok yang tak memiliki papan nama, Bima duduk dengan lutut bergetar. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi kerah jaket seragam Nirmana Express yang terasa semakin mencekik lehernya, seolah-olah kain itu perlahan berubah menjadi jerat algojo.
Di hadapannya, seorang pria tua dengan mata yang ditutupi katarak tebal—Aki Ujang—sedang meraba-raba sebuah koin perak kuno di atas meja kayu yang lapuk. Aki Ujang adalah legenda urban di kalangan kurir bawah tanah; satu-satunya orang yang konon berhasil 'pensiun' dari Nirmana Express tanpa berakhir di dalam kotak kayu.
"Kau menciumnya, Bima?" suara Aki Ujang serak, seperti gesekan amplas pada kayu.
Bima menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan berduri. "Mencium apa, Aki? Aku hanya ingin tahu cara memutus kontrak ini. Tangisan di kotak terakhir itu... aku tidak bisa melupakannya. Aku tidak mau mengirim nyawa lagi."
Aki Ujang terkekeh, suara tawa yang lebih mirip batuk kering. "Bau busuk. Bau kontrak yang mulai membusuk karena kau mencoba mengkhianatinya. Kau tidak sekadar menandatangani kertas, Nak. Kau menyerahkan bayanganmu pada mereka. Jika kau pergi, bayanganmu tetap tertinggal di sana, dan mereka akan menggunakan bayangan itu untuk menarik tubuhmu kembali ke kegelapan."
Bima mencondongkan tubuh, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Pasti ada celah. Kau bisa keluar, kan? Bagaimana caranya?"
Aki Ujang berhenti meraba koinnya. Matanya yang putih seolah menembus sukma Bima. "Aku tidak keluar, Bima. Aku hanya menukar posisiku dengan sesuatu yang lebih berharga bagi mereka. Nirmana tidak butuh uangmu. Mereka butuh frekuensi penderitaan. Untuk memutus kontrak tanpa mati, kau harus memberikan mereka 'Titik Buta' yang baru, sebuah lokasi yang bahkan tidak mereka ketahui."
Tiba-tiba, lampu bohlam di atas mereka berkedip-kedip sebelum akhirnya meledak dengan suara pelan. Kegelapan total menyergap. Suasana pasar yang tadinya hanya sunyi, mendadak berubah menjadi senyap yang m****akkan telinga. Bulu kuduk Bima berdiri tegak. Udara di sekelilingnya mendadak turun beberapa derajat, hingga napasnya membentuk kabut tipis di udara.
*Tap. Tap. Tap.*
Suara langkah sepatu bot yang berat menggema dari lorong luar. Langkah itu teratur, lambat, namun membawa beban intimidasi yang luar biasa. Setiap langkah seolah menggetarkan lant** beton di bawah kaki Bima.
"Dia datang," bisik Aki Ujang, suaranya kini penuh ketakutan yang nyata. "Algojo itu. Sang Kurir Hitam."
Bima segera berdiri, tangannya meraba-raba dalam gelap mencari pegangan. "Siapa? Nirmana mengirim seseorang?"
"Mereka tidak mengirim seseorang, Bima. Mereka melepaskan sesuatu," Aki mendorong Bima menuju pintu belakang kios yang tersembunyi di balik rak buku. "Pergi! Jika dia melihat wajahmu, kontrakmu akan langsung dianggap gagal, dan kau akan dieksekusi di tempat!"
Bima tidak menunggu perintah kedua. Ia menyelinap keluar, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia berlari melewati lorong-lorong gelap, mengandalkan insting navigasinya sebagai penguasa jalan tikus Jakarta. Namun, ke mana pun ia berbelok, suara langkah kaki itu selalu terdengar tepat di belakangnya, konsisten dan tak terhindarkan.
Di ujung lorong yang remang oleh lampu darurat berwarna merah, Bima melihatnya.
Sesosok figur tinggi tegap berdiri menghalangi jalan keluar. Sosok itu mengenakan setelan kurir serba hitam yang memantulkan cahaya dengan cara yang aneh—seolah kainnya terbuat dari minyak mentah yang terus bergerak. Helm *full-face* yang dikenakannya benar-benar gelap, tanpa kaca transparan, hanya permukaan hitam legam yang menghisap cahaya di sekitarnya. Di tangannya, ia memegang sebuah alat pemindai yang memancarkan sinar laser berwarna merah darah.
Bima membeku. Ia merasakan aura kematian yang begitu pekat memancar dari sosok itu. Ini bukan manusia. Ini adalah manifestasi dari aturan-aturan kaku Nirmana yang telah dilanggarnya.
"Subjek: Bima," suara itu keluar bukan dari mulut, melainkan seperti transmisi radio yang rusak, statis dan dingin. "Pelanggaran terdeteksi: Niat pengkhianatan. Status kontrak: Meragukan. Prosedur: Pembersihan."
Kurir Hitam itu melangkah maju. Gerakannya patah-patah namun sangat cepat. Bima segera berbalik, memanjat tumpukan palet kayu dan melompat ke arah lubang ventilasi yang terbuka. Ia merayap ma**k tepat saat sinar laser merah itu menyapu dinding tempat kepalanya berada beberapa detik yang lalu.
Di dalam saluran ventilasi yang sempit dan berdebu, Bima berusaha mengatur napasnya. Keringatnya kini bercampur dengan debu, menciptakan rasa gatal yang luar biasa. Ia bisa mendengar Kurir Hitam itu berdiri tepat di bawah saluran ventilasi.
"Kau tidak bisa bersembunyi di dalam Titik Buta selamanya, Bima," suara statis itu menggema kembali, kali ini terdengar lebih dekat, seolah sosok itu berbisik langsung di telinganya. "Nirmana selalu tahu di mana paketnya berada. Dan sekarang, kaulah paketnya."
Bima memejamkan mata, memeluk dirinya sendiri. Di dalam kegelapan itu, samar-samar ia kembali mendengar suara tangisan bayi yang ia dengar di Pemakaman Jeruk Purut tempo hari. Tangisan itu tidak berasal dari luar, melainkan dari dalam dadanya sendiri.
Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: kontrak itu bukan lagi sekadar perjanjian kerja. Sesuatu dari Nirmana telah ma**k ke dalam dirinya, menandainya sebagai mangsa. Jika ia ingin selamat, ia tidak bisa hanya lari. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya dikirimkan Nirmana selama ini, dan mengapa ayahnya—yang juga seorang kurir—pernah mengatakan bahwa "isi kotak" adalah cermin dari jiwa pengantarnya.
Langkah kaki Kurir Hitam itu tiba-tiba berhenti. Keheningan yang lebih mencekam menyusul. Bima memberanikan diri mengintip dari celah terali besi ventilasi. Sosok hitam itu sudah hilang, namun di lant** beton di bawahnya, terdapat sebuah amplop hitam kecil dengan stempel lilin merah bergambar logo Nirmana—sebuah lingkaran tanpa ujung.
Bima tahu itu bukan surat pengampunan. Itu adalah surat perintah eksekusi yang tertunda, dan waktu yang tersisa baginya hanya sampai pukul 3 pagi berikutnya. Jika ia tidak menemukan cara untuk membalikkan keadaan sebelum fajar menyingsing, ia akan menjadi isi kotak selanjutnya yang tidak boleh dilihat oleh siapapun.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!