Angin dini hari menusuk hingga ke tulang, merobek jaket kulit kusam yang kupakai. Pukul tiga pagi di Jakarta biasanya adalah waktu di mana kota ini paling jujur; te******* tanpa kemacetan, hanya menyisakan aspal basah dan aroma solar yang pekat. Namun bagi kurir Nirmana Express sepertiku, jam ini adalah awal dari keg***an.
Tanganku mengepal erat pada s****g motor bebek tua yang mesinnya sudah mulai batuk-batuk. Di kantong jaket, selembar kertas lusuh berisi koordinat yang kudapat secara sembunyi-sembunyi terasa panas, seolah membakar kulitku. Aku harus menemukan 'Gudang Bayangan'. Aku harus melihat kontrak ituβlembaran yang telah merenggut kebebasanku dan mungkin, nyawa bayi yang menangis di kotak terakhirku kemarin.
"Sedikit lagi, Bima. Fokus," gumamku pada diri sendiri. Suaraku terdengar asing di balik helm, tenggelam oleh deru mesin.
Aku membelokkan motor menuju kawasan industri di pinggiran Jakarta Utara. Jalannya rusak, dipenuhi lubang yang digenangi air hitam. Lampu jalan di sini lebih banyak yang mati daripada yang menyala, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah merayap di dinding pabrik-pabrik tua.
Tiba-tiba, sebuah sorot lampu tinggi yang menyilaukan menghantam kaca spionku.
Aku mengernyit, memalingkan wajah sejenak. Sebuah mobil SUV hitam legam, tanpa pelat nomor, muncul entah dari mana. Ia membuntutiku dengan jarak yang terlalu dekat untuk disebut tidak sengaja. Jantungku mulai berdegup kencang, seirama dengan getaran mesin motor yang kupaksa lari lebih cepat.
Aku mencoba bermanuver, ma**k ke dalam gang sempit di antara dua gudang kont**ner. Biasanya, ini adalah keahliankuβmenghilang di 'jalan tikus'. Namun, saat aku keluar dari gang itu, aku tercengang.
Aku berada di jalan yang sama.
Papan reklame bertuliskan "Semen Tiga Roda" yang berkarat itu baru saja kulewati tiga puluh detik lalu. Aku memacu motor lebih kencang, mengambil belokan kiri yang tajam, menembus kabut tipis yang tiba-tiba muncul. Tapi lagi-lagi, aku melewati gedung yang sama. Sebuah pos satpam kosong dengan kalender tahun 1998 yang masih menempel di kacanya.
"Sial! Ruang melengkung," umpatku. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis.
SUV itu masih di sana. Ia tidak mengejarku dengan kecepatan tinggi, melainkan mengikutiku dengan keanggunan predator yang tahu mangsanya tidak punya jalan keluar. Mesinnya hampir tidak bersuara, hanya deru halus yang terdengar seperti dengkur kucing raksasa.
Aku memutar kemudi ke kanan, ma**k ke sebuah lorong panjang yang gelap. Cahaya lampu motorku hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Aku merasa seperti sedang berkendara di dalam perut ular. Dinding-dinding beton di kiri-kananku mulai terasa mendekat, seolah-olah mereka bernapas.
"Oke, kalau ini labirin, aku harus melakukan sesuatu yang di luar logika," pikirku kalut.
Aku memejamkan mata selama dua detik, lalu membanting s****g motor ke arah tembok beton di sisi kanan. Aku bertaruh pada instingku bahwa di dunia Nirmana, apa yang terlihat padat belum tentu nyata.
*B**ak!*
Tidak ada benturan. Aku merasakan sensasi dingin yang luar biasa, seolah-olah aku baru saja menembus selaput air yang sangat tipis. Saat aku membuka mata, aku tidak lagi berada di jalan aspal. Motorku melaju di atas permukaan yang menyerupai kaca hitam, memantulkan ribuan lampu kota yang melayang-layang di atas langit yang tidak memiliki bintang.
Di belakangku, SUV itu juga menembus tembok. Pintunya terbuka sedikit, dan aku bisa melihat sebuah tangan pucat dengan jari-jari yang terlalu panjang menjulur keluar, seolah berusaha menggapai ujung jaketku.
"Jangan sekarang, ayolah!" aku berteriak, memutar tuas gas hingga mentok.
Mesin motorku menjerit protes. Asap hitam mengepul dari knalpot. Jalan di depanku mulai pecah menjadi potongan-potongan kecil yang melayang. Jakarta di bawah sana tampak seperti sirkuit elektronik yang rumit dan kacau. Aku menyadari bahwa ini bukan lagi Jakarta yang kukenal. Ini adalah 'Titik Buta' yang paling dalam, tempat di mana realitas dikunyah dan dimuntahkan kembali.
Aku melihat sebuah bangunan tua di kejauhan. Sebuah gudang tanpa jendela yang seolah-olah dibangun dari tumpukan bayangan yang membeku. Itu pasti Gudang Bayangan.
Namun, SUV itu semakin mendekat. Ban-bannya tidak menyentuh lant** kaca, ia melayang beberapa inci, memangkas jarak dengan kecepatan yang mustahil. Sosok di dalam SUV itu kini menampakkan wajahnya di balik kaca jendela yang turun perlahan.
Bukan manusia. Hanya sebuah topeng porselen putih tanpa lubang mata yang menatapku tajam.
"Bima... kembalikan apa yang bukan milikmu..." suara itu tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergema langsung di dalam tengkorakku, dingin dan bergetar.
Aku melakukan pengereman mendadak, membuat motorku berputar 180 derajat. Ban belakangku berdecit keras di atas permukaan kaca. Saat SUV itu meluncur melebihiku karena momentumnya, aku langsung memacu motor menuju celah sempit di bawah fondasi gudang bayangan yang tampak seperti mulut gua.
Guncangan hebat terjadi. Motorku terpelanting. Aku jatuh tersungkur, berguling di atas lant** semen yang keras dan berdebu. Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga ke pinggangku.
Aku terengah-engah, berusaha bangkit sambil memegangi dadaku yang sesak. Suasana mendadak hening. Tidak ada suara mesin SUV, tidak ada suara angin. Hanya ada suara tetesan air yang jatuh secara ritmis di kejauhan.
Aku mendongak. Aku berada di dalam sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh ribuan rak kayu setinggi sepuluh meter. Setiap rak dipenuhi oleh map-map berwarna cokelat yang diikat dengan tali rami. Di ujung ruangan, sebuah meja kayu besar berdiri sendirian di bawah sorot lampu gantung yang berayun pelan.
Di atas meja itu, sebuah map merah darah tergeletak terbuka.
Aku berjalan mendekat dengan langkah gemetar. Saat mataku menatap lembaran di dalam map itu, jantungku seolah berhenti berdetak. Itu adalah kontrak kerjaku dengan Nirmana Express. Namun, di bagian tanda tangan, bukan tinta hitam yang kulihat.
Ada bercak darah yang masih basah, dan di samping namaku, tertera sebuah nama lain yang sudah lama hilang dari ingatanku. Nama yang selama ini kucari dalam setiap doa dan kutukan.
"Ayah?" bisikku lirih.
Tiba-tiba, lampu gantung di atas meja padam. Di kegelapan total itu, aku mendengar suara langkah kaki berat yang mendekat dari balik rak-rak arsip. Bukan langkah kaki manusia, melainkan suara kuku-kuku tajam yang mengetuk lant** semen dengan irama yang menakutkan.
"Kau seharusnya tidak datang ke sini, Nak," sebuah suara parau membisik tepat di belakang leherku. "Karena sekarang, kau bukan lagi kurir. Kau adalah paketnya."
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!