Langit di atas Jakarta mulai memucat, berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu kusam yang menyakitkan mata. Namun, di gang sempit kawasan Tambora ini, fajar seolah enggan menyentuh aspal. Di hadapan Bima, sebuah ruko tua berlant** tiga berdiri tegak tanpa papan nama. Hanya ada sebuah stiker kecil di sudut kaca jendela yang nyaris terkelupas: logo burung gagak melingkar membentuk simbol tak terhingga. Nirmana Express.
Bima menyeka keringat dingin di pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya seperti kurir yang tak sabar ingin ma**k. Ia tahu, kembali ke sini di luar jam operasional adalah tindakan bunuh diri. Namun, suara tangisan bayi dari kotak yang ia sembunyikan di kontrakan semalam terus terngiang, menuntut jawaban yang hanya ada di dalam gedung ini.
Ia melangkah mendekati pintu besi ruko. Tidak ada gembok. Nirmana tidak butuh kunci fisik untuk menjaga rahasianya. Bima menarik napas panjang, menempelkan telapak tangannya ke permukaan besi yang sedingin es. Ia mengingat bisikan Pak Marwan, kurir senior yang kini entah di mana: *"Kalau kau harus ma**k ke pusat saat fajar, jangan pernah bergerak seperti manusia. Mereka tidak melihat dagingmu, mereka melihat ritmemu."*
Pintu itu berderit pelan saat Bima mendorongnya. Bau apak kertas tua dan aroma amis yang samar menyambut penciumannya. Ruangan lobi itu gelap, hanya diterangi oleh pendar biru pucat dari tumpukan resi yang berserakan di atas meja resepsionis kosong.
Tiba-tiba, udara di sekitar Bima membeku. Di ujung koridor, tiga bayangan jangkung berdiri mematung. Tubuh mereka kurus melampaui logika, dengan lengan yang menjunt** hingga menyentuh lant**. Mereka tidak memiliki wajah—hanya permukaan rata berwarna abu-abu asap. Para Penjaga. Entitas yang bertugas memastikan tidak ada 'paket' yang keluar atau penyusup yang ma**k tanpa izin.
Bima segera menghentikan langkahnya. Ia mematung, bahkan menahan napasnya hingga paru-parunya berdenyut perih.
Salah satu Penjaga memutar kepalanya 180 derajat. Makhluk itu tidak melihat Bima, tetapi kepalanya bergerak-gerak mengikuti getaran udara. Bima teringat instruksinya: *Gerakan adalah kematian.* Para Penjaga ini mendeteksi keberadaan berdasarkan pergeseran molekul udara yang disebabkan oleh gerakan yang tergesa-gesa atau tidak stabil.
Dengan perlahan—sangat perlahan hingga seolah-olah ia adalah bagian dari debu yang melayang—Bima menggeser kaki kanannya. Ia bergerak dengan ritme yang sangat lambat, mengikuti detak jam dinding tua yang berdetak setiap lima detik sekali. Satu detik, satu inci. Lima detik, satu langkah kecil.
Keringat mulai menetes dari dahi Bima, mengalir melewati kelopak matanya. Rasanya pedih, namun ia tidak berani berkedip. Jika ia berkedip terlalu keras, tekanan udara dari kelopak matanya bisa memancing perhatian makhluk-makhluk itu. Di depannya, salah satu Penjaga mulai berjalan mendekat. Langkah makhluk itu tidak bersuara, seolah ia melayang tipis di atas ubin.
Bima memejamkan mata dalam hati, memusatkan seluruh pikirannya pada satu titik: menjadi benda mati. Ia membayangkan dirinya adalah lemari besi yang kaku, atau tiang beton yang tak bernyawa. Makhluk itu melintas tepat di depannya. Bima bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa merembes ke dalam kulitnya, seolah-olah seluruh panas tubuhnya diserap paksa. Bau kematian yang pekat—seperti daging busuk yang dicampur dengan kemenyan—memenuhi rongga hidungnya.
Penjaga itu berhenti. Kepalanya yang tanpa wajah berada hanya beberapa senti dari hidung Bima. Bima bisa merasakan "kehadiran" yang mencoba memindai keberadaannya. Ia mengunci rahangnya kuat-kuat. *Jangan gemetar. Jangan berdenyut.*
Setelah keabadian yang terasa seperti beberapa menit, Penjaga itu kembali berbalik dan melanjutkan patrolinya ke arah gudang belakang. Bima melepaskan napasnya perlahan, sangat tipis hingga nyaris tak terdengar. Ia berhasil melewati rintangan pertama.
Ia segera menyelinap menuju tangga kecil di balik meja resepsionis, tempat yang diyakininya menuju ruang arsip atau kantor pusat administrasi. Di setiap langkah, bayang-bayang di dinding seolah berbisik, memanggil namanya dengan suara yang menyerupai desiran angin.
Sampai di lant** dua, suasananya berbeda. Ruangan ini dipenuhi oleh rak-rak kayu raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit. Ribuan kotak kecil berjejer rapi, masing-masing memiliki label dengan nama dan tanggal yang berbeda. Bima menyusuri lorong rak tersebut, matanya mencari sesuatu yang berkaitan dengan pengiriman ke Jeruk Purut atau daftar kurir tahun 1999—tahun di mana ayahnya menghilang.
Langkahnya terhenti di sebuah rak paling pojok yang tertutup debu tebal. Di sana, sebuah kotak kayu hitam dengan segel lilin merah yang sudah pecah menarik perhatiannya. Labelnya tidak bertuliskan nama penerima, melainkan sebuah koordinat yang ia kenali sebagai rumah kontrakannya sendiri.
Dengan tangan gemetar, Bima meraih kotak itu. Namun, sebelum ia sempat menyentuhnya, sebuah suara berat dan serak menghentikannya dari kegelapan di sudut ruangan.
"Kau melanggar aturan paling dasar, Bima. Kau bertanya. Dan sekarang, kau mencari tahu."
Bima tersentak, berbalik dengan cepat. Di sana, duduk di balik meja kerja yang tertutup bayangan, adalah seorang pria paruh baya dengan pakaian necis namun wajahnya pucat pasi seperti mayat. Itu adalah Pak Baskoro, manajer operasional Nirmana Express yang seharusnya baru datang pukul tiga pagi besok.
"Pak Baskoro?" suara Bima bergetar.
Baskoro berdiri, cahaya fajar yang ma**k dari celah ventilasi menunjukkan bahwa setengah dari wajah pria itu tidak lagi memiliki kulit—hanya otot merah yang berdenyut-denyut. "Aku kecewa. Kau adalah kurir terbaik kami bulan ini. Tapi sepertinya, kau lebih memilih menjadi isi kotak daripada pengantarnya."
Tiba-tiba, dari arah tangga, suara langkah kaki yang berat dan terseret mulai terdengar. Bukan satu, melainkan banyak. Para Penjaga sedang menuju ke atas, dan kali ini, mereka tidak lagi bergerak pelan. Mereka berlari dengan ritme yang kacau, seolah-olah mereka baru saja mencium bau mangsa yang segar.
Bima mengeratkan genggamannya pada kotak hitam itu, matanya liar mencari jalan keluar. Di luar, matahari mulai terbit, namun di dalam gedung ini, kegelapan justru semakin pekat dan mengepungnya dari segala penjuru.
"Tunggu," ujar Bima, suaranya mencoba mencari celah. "Kalau aku memang harus jadi paket, setidaknya katakan padaku... kenapa nama ayahku ada di manifes pengiriman hari ini?"
Pak Baskoro tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang terlalu runcing untuk ukuran manusia. "Ayahmu tidak pernah pergi, Bima. Dia hanya sedang menunggu giliran untuk dikirim... kepadamu."
Pintu ruang arsip terbanting terbuka, dan bayangan-bayangan tanpa wajah itu melompat ma**k.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!