Udara dini hari di pinggiran Jakarta Timur terasa lebih menusuk dari biasanya, seolah-olah suhu drop beberapa derajat tepat saat aku mema**ki area gudang tua yang tersembunyi di balik deretan ruko kosong. Aroma solar yang basi bercampur dengan bau tanah basah menyambut indra penciumanku. Aku mematikan mesin motor, membiarkan keheningan yang tidak wajar menyelimuti tempat itu. Di pojok ruangan yang remang, diterangi oleh satu bohlam kuning yang berkedip-kedip seolah sedang sekarat, duduklah seorang pria tua yang sosoknya tampak seperti bayangan yang dipadatkan.
Pak Damar. Mantan kurir senior Nirmana Express yang menghilang dari radar perusahaan dua tahun lalu.
Tangannya yang gemetar sedang melinting tembakau. Ia tidak menoleh saat aku melangkah mendekat, sepatuku menimbulkan suara gesekan pasir yang nyaring di lant** beton. "Kau masih bersikeras mencari jawaban, Bima," suaranya serak, seperti gesekan amplas pada kayu. "Padahal di dunia ini, ketidaktahuan adalah berkah terbesar yang bisa kau miliki."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang memalu rongga dada. "Aku tidak butuh berkah, Pak. Aku butuh kebenaran. Anda bilang di pertemuan terakhir bahwa ayahku bukan sekadar menghilang. Anda tahu sesuatu tentang apa yang terjadi padanya sepuluh tahun lalu."
Pak Damar akhirnya mendongak. Matanya yang keruh dan sedikit kekuningan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβantara kasihan dan ngeri. Ia menghembuskan asap rokoknya pelan-pelan. Asap itu membentuk pola-pola aneh di udara sebelum memudar.
"Surya," bisiknya, menyebut nama ayahku. "Dia adalah kurir terbaik yang pernah dimiliki Nirmana. Dia tidak pernah terlambat, tidak pernah mengeluh, dan yang paling penting, dia mematuhi aturan pertama dengan sangat disiplin. Jangan pernah bertanya."
"Lalu kenapa dia tidak pernah pulang?" suaraku meninggi, sedikit bergetar oleh emosi yang kupendam selama satu dekade. "Ibuku meninggal dalam penantian, mengira dia selingkuh atau kabur karena hutang. Aku tumbuh besar dengan kebencian pada bayangannya!"
Pak Damar terbatuk pelan, sebuah suara kering yang terdengar menyakitkan. Ia merogoh saku jaketnya yang lusuh dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna hitam dengan logo Nirmana Express yang sudah memudarβsimbol ular melingkari kotak yang tersegel.
"Bima, kau tahu apa yang terjadi pada kurir yang gagal dalam tugasnya? Mereka menjadi bagian dari sistem. Tapi ada hal yang lebih buruk dari sekadar gagal," Pak Damar menjeda, jemarinya mengusap sampul buku itu. "Terkadang, pesanan yang ma**k ke Nirmana bukan berupa barang mati. Terkadang, entitas di 'Sana' menginginkan sesuatu yang lebih... organik."
Rasa dingin yang bukan berasal dari cuaca mulai merayap naik dari tulang ekorku. Aku teringat kotak yang kubawa ke Jeruk Purut kemarin, tangisan bayi yang menyayat hati dari dalamnya. Genggamanku pada s****g motor yang sudah kutinggalkan terasa masih membekas di telapak tanganku yang berkeringat dingin.
"Maksud Bapak?"
Pak Damar berdiri dengan susah payah, lututnya berderit. Ia berjalan ke arah sebuah meja kayu lapuk dan membentangkan sebuah manifes pengiriman lama yang kertasnya sudah menguning dan rapuh. Ia menunjuk sebuah baris pengiriman tertanggal 14 April sepuluh tahun yang lalu.
"Malam itu, ada sebuah pengiriman khusus. Titik Butanya berada di bawah Jembatan Ancol, tepat pukul 03.15 pagi. Paketnya berukuran besar, seukuran peti mati kecil, dibungkus kain kafan hitam dan disegel dengan lilin merah yang tidak bisa mencair," Pak Damar bercerita dengan mata menerawang, seolah ia kembali ke malam terkutuk itu.
Aku mendekat, mataku memicing membaca tulisan tangan yang rapi di manifes tersebut. Nama kurirnya tertera jelas di sana: *Hadi Kusuma*. Rekan kerja ayahku dulu.
"Hadi yang membawa paket itu," lanjut Pak Damar. "Dia tidak tahu apa isinya. Dia hanya menjalankan instruksi. Tapi di tengah jalan, motornya mogok. Segel kotak itu retak karena guncangan, dan Hadi mendengar suara dari dalam. Bukan suara tangisan, tapi suara ketukan yang sangat pelan. *Tok. Tok. Tok.*"
Aku menahan napas. "Apa... apa isinya?"
Pak Damar menatapku lurus-lurus. Cahaya bohlam di atas kami berkedip sekali lagi, lalu mati selama dua detik sebelum menyala kembali. Dalam kegelapan singkat itu, wajah Pak Damar tampak seperti tengkorak yang dibalut kulit tipis.
"Isi kotak itu adalah ayahmu, Bima," bisik Pak Damar.
Duniaku seakan runtuh seketika. "Apa? Tidak mungkin! Ayahku seorang kurir, bukan barang!"
"Nirmana Express tidak hanya mengirimkan paket, Bima. Mereka mengelola hutang nyawa," Pak Damar mencengkeram bahuku dengan kekuatan yang tak terduga dari pria seumurnya. "Ayahmu melakukan kesalahan besar. Dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat dalam salah satu pengirimannya. Sebagai hukumannya, perusahaan tidak membunuhnya. Mereka menjadikannya 'komoditas'. Ayahmu adalah paket yang dikirim untuk memenuhi kontrak dengan penghuni dimensi bawah."
Aku mundur selangkah, menggelengkan kepala dengan kalap. Air mata panas mulai menggenang di pelupuk mataku. "Bapak bohong. Ayahku... dia dikirim ke mana?"
Pak Damar melepaskan cengkeramannya, bahunya merosot layu. "Dia tidak dikirim ke satu tempat. Dia dikirim berulang kali. Setiap kali seorang kurir baru membuka kotak yang salah, atau setiap kali ada kontrak nyawa yang harus diperbarui, bagian dari dirinya dikirim ke sana. Dia tidak pernah mati, Bima. Dia terjebak dalam siklus pengiriman abadi sebagai 'Isi Kotak'."
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Sebuah notifikasi ma**k. Jam menunjukkan pukul 02.45 pagi.
Aku merogoh ponselku dengan tangan gemetar. Sebuah pesan dari aplikasi Nirmana Express muncul di layar yang retak. Isinya membuat jantungku seolah berhenti berdetak:
*PENGIRIMAN BARU: Ambil paket di Gudang 09. Tujuan: Kediaman Pak Damar. Catatan: Jangan tanya kenapa paketnya bergetar.*
Aku menatap Pak Damar, lalu kembali ke layar ponselku. Di bawah instruksi itu, tertera sebuah foto paket yang harus kuambil. Itu adalah sebuah kotak kayu tua yang sangat kukenalβkotak yang sama dengan yang ada di foto masa kecilku, yang biasa digunakan ayahku untuk menyimpan peralatan bengkelnya.
"Pak..." suaraku tercekat di tenggorokan.
Pak Damar melihat ke arah ponselku, lalu tersenyum pahit. "Mereka tahu kau di sini, Bima. Dan mereka baru saja mengirimkan bagian selanjutnya dari ayahmu untuk kau antarkan... kepadaku."
Dari luar gudang, terdengar suara mesin motor yang mendekat, namun suaranya anehβseperti raungan binatang buas yang terbuat dari logam. Cahaya lampu depan motor itu menyorot ma**k ke dalam gudang, memanjang dan mendistorsi bayangan kami di dinding. Seseorang baru saja tiba untuk mengantarkan paket pertama sebelum aku berangkat menjemput paketku sendiri.
Dan aku tahu, siapa pun yang berada di atas motor itu, dia bukan lagi manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!