Udara di dalam kantor pusat Nirmana Express malam ini terasa berbedaβlebih berat, seolah oksigen telah digantikan oleh sisa-sisa napas orang mati. Aku berdiri mematung di tengah ruangan yang remang, mendekap kotak kayu itu erat-erat di dadaku. Di dalamnya, suara tangisan bayi itu tidak lagi melengking, melainkan berubah menjadi isakan halus yang gemetar, seakan ia tahu bahwa nasibnya sedang ditimbang di atas meja judi.
Langkah kaki yang tenang bergema di atas lant** beton. Pak Damar muncul dari balik bayang-bayang rak arsip yang menjulang tinggi. Ia tidak mengenakan seragam kurir; ia memakai setelan abu-abu rapi, seolah-olah ia baru saja pulang dari pertemuan bisnis normal, bukan dari sarang i****.
"Kau terlihat lelah, Bima," suara Pak Damar tenang, hampir kebapakan. Ia berhenti tepat tiga langkah di depanku. Aroma tembakau mahal dan tanah basah menguar dari tubuhnya. "Duduklah. Meletakkan beban seberat itu terlalu lama bisa merusak punggungmu."
Aku menggeleng pelan, kakiku terasa kaku seperti tertanam ke lant**. "Apa isi kotak ini sebenarnya, Pak? Ini bukan sekadar barang. Ini... ini bernapas."
Pak Damar tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Nirmana Express tidak pernah mengirim 'barang'. Kita mengirim 'kepentingan'. Dan apa yang kau dekap itu adalah kepentingan yang sangat besar bagi keseimbangan dunia bawah." Ia melangkah mendekat, matanya yang kelam mengunci tatapanku. "Bima, aku tahu apa yang membebani pikiranmu. Bukan hanya bayi itu. Tapi tumpukan kwitansi hutang ibumu di rumah, ancaman penyitaan rumah, dan... kekosongan di hatimu sejak pria itu pergi."
Jantungku berdegup kencang. "Jangan bawa-bawa ayahku."
"Kenapa tidak? Ayahmu, Hardi, adalah kurir terbaik yang pernah kumiliki sebelum ia memutuskan untuk 'tersesat' di Titik Buta," Pak Damar merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah jam tangan kuno dengan tali kulit yang sudah retak-retak.
Napas menyentak di tenggorokanku. Itu jam tangan ayah. Aku ingat goresan di kacanyaβhasil dari jatuh saat ia mengajariku naik sepeda belasan tahun lalu.
"Dia tidak mati, Bima. Dia hanya tertahan. Terjebak di antara dua ruang karena sebuah kesalahan kecil yang sama seperti yang sedang kau lakukan sekarang: terlalu banyak bertanya," lanjut Pak Damar. Ia menyodorkan jam tangan itu padaku. "Serahkan kotaknya. Sekarang juga. Aku akan menghapus seluruh catatan hutangmu. Detik ini juga kau bebas. Dan lebih dari itu... aku akan membukakan pintu untuk ayahmu kembali. Kau ingin keluarga yang utuh, bukan? Bukan sekadar menjadi kurir yang menunggu ajal di pinggir jalan Jakarta?"
Tangisan dari dalam kotak tiba-tiba mengeras, seolah merespons tawaran itu. Kotak itu terasa hangat, denyut kehidupan di dalamnya membalas detak jantungku yang kacau. Tanganku mulai gemetar. Logika di kepalaku berteriak: *Ambil tawaran itu! Selamatkan dirimu sendiri! Bayi ini bahkan mungkin bukan manusia!*
Aku menatap jam tangan di telapak tangan Pak Damar, lalu menatap kotak di pelukanku. Bayangan wajah ayah yang mulai kabur di ingatanku kembali menguat. Bau keringatnya, suaranya yang berat saat memanggil namaku. Semuanya ada di jangkauan tanganku.
"Hanya satu langkah, Bima. Letakkan kotaknya di meja, dan kau bisa pulang sebagai pahlawan bagi ibumu. Kau tidak perlu lagi bangun jam tiga pagi untuk mempertaruhkan nyawa," bisik Pak Damar, suaranya kini semanis madu yang mematikan.
Aku melirik celah kecil di segel kotak yang sedikit terbuka. Di sana, aku melihat sebuah jari mungil, kemerahan, bergerak-gerak lemah mencari pegangan. Bayi itu tidak tahu apa-apa tentang hutang, tentang ayahku, atau tentang kegelapan yang menunggunya jika aku menyerahkannya. Jika aku menyerahkannya pada Pak Damar, aku tidak hanya menyerahkan sebuah paket. Aku menyerahkan bagian terakhir dari kemanusiaanku.
"Ayahku..." suaraku tercekat. "Ayahku tidak akan pernah setuju jika aku menukar nyawa orang lain untuk keselamatannya."
Senyum di wajah Pak Damar perlahan memudar, digantikan oleh garis wajah yang dingin dan tajam seperti pisau. "Jangan menjadi martir, Bima. Itu peran yang sangat tidak cocok untuk pemuda miskin sepertimu."
"Ayahku hilang karena dia menolak aturan kalian, kan?" aku melangkah mundur, mengeratkan pelukanku pada kotak itu. "Dia tidak tersesat. Dia memilih untuk tidak kembali jika harganya adalah menjadi seperti Anda."
Pak Damar menarik kembali tangannya. Jam tangan itu menghilang ke dalam sakunya, dan seketika itu juga, lampu-lampu neon di langit-langit kantor mulai berkedip liar. Bayangan di dinding merayap naik, memanjang seperti jari-jari raksasa yang ingin mencengkeramku.
"Kau punya potensi, Bima. Tapi kau memilih beban yang akan menghancurkanmu," suara Pak Damar berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusukku. "Kau pikir kau bisa keluar dari sini hidup-hidup setelah menolak permintaanku?"
"Aku sudah mati sejak aku menandatangani kontrak dengan Nirmana," balasku dengan keberanian yang dipaksakan. "Setidaknya kali ini, aku tahu untuk apa aku mati."
Aku berbalik dan berlari menuju pintu keluar, namun pintu besi besar itu mendadak lumer, berubah menjadi dinding daging yang berdenyut dan tertutup rapat. Ruangan kantor mulai melintir, ruang dan waktu seolah diperas oleh tangan tak terlihat.
Di belakangku, Pak Damar tidak lagi berdiri sebagai manusia. Sosoknya mulai memudar menjadi gumpalan kabut hitam yang pekat, dengan mata yang bersinar merah redup di tengah kegelapan.
"Kau bukan lagi kurir kami, Bima," suara itu menggema dari segala arah, bukan lagi dari mulut Pak Damar. "Kau adalah paket yang terlambat dikirim. Dan kau tahu apa yang kami lakukan pada paket yang gagal?"
Tiba-tiba, kotak di pelukanku menjadi sangat berat, seberat bongkahan timah. Isakan bayi di dalamnya berubah menjadi jeritan peringatan yang m****akkan telinga. Lant** di bawah kakiku retak, menyingkapkan jurang tanpa dasar yang berisi ribuan tangan pucat yang menggapai-gapai ke atas.
Aku terperosok, satu kakiku sudah menggantung di atas kegelapan abadi itu. Aku mencengkeram pinggiran lant** yang retak dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memeluk kotak itu sekuat tenaga. Dari bawah sana, aku melihat wajah-wajah yang kukenali di antara ribuan tangan itu. Salah satunya mengenakan jam tangan yang sama dengan yang ditunjukkan Pak Damar tadi.
"Ayah?" bisikku lirih, saat tangan-tangan dingin itu mulai merayap di pergelangan kakiku, menarikku turun ke dalam Titik Buta yang sesungguhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!