Udara di perbatasan ini tidak terasa seperti oksigen. Rasanya lebih seperti menghirup debu sisa pembakaran yang dingin dan berasa besi. Di depan Bima, gerbang itu berdiriβbukan berupa pagar besi atau pintu kayu, melainkan sebuah robekkan vertikal di ruang hampa yang berpendar ungu kehitaman. Suara deru mesin motor Honda tua miliknya terdengar sember, seolah-olah mesin itu sendiri ketakutan untuk terus menyala.
Di dalam dekapannya, kotak kayu itu bergetar hebat. Isinya bukan lagi sekadar suara tangisan bayi, melainkan jeritan melengking yang sanggup meretakkan kaca spion motornya. Bima bisa merasakan detak jantung kecil dari dalam sana menembus lapisan kayu, berdenyut cepat, memohon perlindungan.
"Kau terlambat tiga menit, Bima."
Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan bergema langsung di dalam tengkoraknya. Dari balik kabut hitam yang menyelimuti 'Titik Buta' di pinggiran Jakarta Timur ini, sesosok figur muncul. Tingginya hampir dua setengah meter, mengenakan seragam kurir Nirmana Express yang tampak baru dan kaku, namun di tempat di mana seharusnya ada wajah, hanya ada lubang hitam pekat yang terus berputar.
"Jalanan macet... ada gangguan di rute biasanya," Bima berbohong, suaranya bergetar. Tangannya mencengkeram kotak itu lebih erat.
Si Auditor, begitulah para kurir menyebut makhluk itu, melangkah mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki berupa cairan hitam yang membakar rumput hingga abu. "Nirmana tidak mengenal macet. Nirmana hanya mengenal pengiriman yang tuntas. Serahkan paketnya. Ritual pemutusan harus dimulai."
Bima mundur selangkah. "Dia masih bayi. Kalian bilang ini cuma logistik. Kalian tidak bilang isinya adalah... nyawa."
"Isi kotak bukan urusanmu. Peraturan nomor satu: jangan pernah bertanya," Auditor itu mengangkat tangannya yang jemarinya panjang dan meruncing seperti belati. "Melanggar kontrak berarti menjadi bagian dari inventaris. Kau ingin berakhir di dalam kotak, Kurir?"
Tiba-tiba, tangisan di dalam kotak berhenti. Digantikan oleh isakan kecil yang lemah. Naluri Bima bergejolak. Dia teringat ayahnyaβpria yang hilang sepuluh tahun lalu, menyisakan hanya hutang dan ruang hampa di hati Bima. Mungkinkah ayahnya juga berdiri di sini dulu? Menyerahkan sesuatu yang tak seharusnya diserahkan demi melunasi janji pada kegelapan?
"Aku tidak akan memberikannya," bisik Bima.
Keheningan yang m****akkan telinga menyusul kata-kata itu. Auditor itu berhenti bergerak. Atmosfer di sekitar mereka mendadak membeku. "Kontrak harus ditebus, Bima. Jika bukan bayi ini yang mengisi celah di dimensi kami, maka harus ada sesuatu yang setara harganya. Sesuatu yang membuatmu tetap terikat pada dunia manusia."
"Apa?" tanya Bima, napasnya memburu.
Auditor itu mendekat hingga bau busuk seperti daging terbakar memenuhi indra penciuman Bima. "Ingatanmu tentangnya. Ayahmu."
Jantung Bima seakan berhenti berdetak. "Apa maksudmu?"
"Kami tahu apa yang kau cari di sela-sela gang gelap Jakarta setiap malam. Kau menyimpan wajahnya, suaranya, dan kenangan saat dia mengajarimu membaca peta di dalam kepalamu seperti sebuah jimat. Itulah 'harga' yang memiliki bobot di dunia kami. Berikan kenangan itu, dan bayi ini boleh tetap berada di duniamu yang fana."
Bima merasa dunianya runtuh. Kenangan tentang ayahnya adalah satu-satunya kompas yang membuatnya tetap waras di tengah pekerjaan g*** ini. Jika dia memberikannya, dia tidak akan tahu mengapa dia memulai semua ini. Dia akan menjadi cangkang kosong yang hanya tahu cara mengantar paket.
"Bima... tolong..."
Suara itu bukan dari si Auditor. Itu suara halus dari dalam kotak. Bima menunduk, melihat segel kertas di atas kotak mulai membara merah. Jika dia tidak memutuskan sekarang, kotak itu akan tersedot ke dalam gerbang dimensi secara paksa.
"Cepat, Kurir. Waktumu habis," desis Auditor sambil membuka telapak tangannya. Cahaya abu-abu mulai terpancar dari sana, menarik paksa bayangan dari tubuh Bima.
Bima memejamkan mata. Bayangan ayahnya yang tersenyum saat mereka memancing di dermaga lama terlintas. Suara tawa ayahnya yang berat. Aroma tembakau murah yang selalu menempel di jaketnya. Semua itu adalah harta karunnya.
"Ambil," bisik Bima pedih. "Ambil semuanya, tapi biarkan dia hidup."
Auditor itu mengeluarkan suara mendesis yang menyerupai tawa. Tiba-tiba, Bima merasakan tarikan hebat di belakang kepalanya, seolah-olah ada kait besi yang merenggut paksa sepotong jiwanya. Rasa sakitnya luar biasaβpanas dan membutakan. Dia terjatuh berlutut, memegangi kepalanya yang terasa seperti dihantam palu godam.
Kilasan-kilasan gambar di benaknya mulai memudar. Wajah ayahnya mengabur, menjadi buram, lalu hilang tertutup kabut putih. Nama ayahnya... siapa namanya? Bima mencoba mengingatnya, namun yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin.
*B**k!*
Kotak kayu itu terbuka sendiri. Cahaya ungu yang tadinya mengancam berubah menjadi putih terang yang menyilaukan. Bima jatuh tersungkur di atas aspal dingin.
Saat dia membuka mata, Auditor dan gerbang dimensi itu telah lenyap. Suasana kembali normalβkebisingan Jakarta yang jauh, aroma polusi, dan embusan angin dini hari. Di depannya, seorang bayi mungil berselimut kain putih tergeletak di atas aspal, bernapas dengan tenang.
Bima mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Dia berhasil. Bayi itu selamat. Namun, saat dia mencoba mengingat mengapa dia merasa sangat sedih, dia tidak menemukan jawabannya. Dia melihat sebuah foto tua di dompetnya yang terjatuh; foto seorang pria dewasa yang sedang merangkul pundaknya.
Bima mengerutkan kening. Dia mengenali dirinya di foto itu, tapi pria di sebelahnya... dia merasa seharusnya dia mengenalnya. Namun, wajah pria itu terasa seperti orang asing yang tak sengaja lewat di mimpinya.
Tiba-tiba, ponsel di saku jaketnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi Nirmana Express.
*Pengiriman Gagal. Kompensasi Diterima. Silakan Kembali ke Gudang untuk Penugasan Darurat: Paket #000-X.*
Di bawah pesan itu, terdapat sebuah lampiran foto paket selanjutnya yang harus dia ambil. Bima membeku saat melihat alamat penjemputannya. Itu adalah alamat rumah lamanya yang seharusnya sudah kosong bertahun-tahun lalu.
Dan di sana, di bawah lampu jalan yang berkedip dalam foto tersebut, berdiri sesosok pria yang mengenakan jaket kurir Nirmana, melambai ke arah kamera dengan senyum yang sangat akrab, namun sama sekali tidak bisa diingat oleh Bima.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!