Hujan gerimis yang turun di Jakarta dini hari itu tidak terasa dingin, melainkan lebih seperti ribuan jarum halus yang menusuk kulit. Bima berdiri di depan gerbang kayu tua sebuah panti a**han di pinggiran kota, jauh dari hiruk-pikuk lampu neon Jakarta yang biasanya ia lalui. Di dalam dekapannya, terbungkus jaket *hoodie* yang mulai basah, bayi itu terlelap. Suara tangisannya yang semalam merobek kesunyian kini telah reda, digantikan oleh napas halus yang teratur—sebuah irama kehidupan yang terlalu murni untuk dunia gelap Nirmana Express.
Bima menunduk, memandangi wajah mungil yang nyaris menjadi 'barang kiriman' itu. Jemari kecil bayi tersebut melingkar erat di kelingking Bima, seolah memohon agar ia tidak dilepaskan. Ada beban yang lebih berat dari sekadar berat fisik di dada Bima. Ia tahu, dengan meletakkan bayi ini di sini, ia bukan hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga secara resmi memutuskan tali pengikatnya dengan dunia normal.
"Maafkan aku," bisik Bima pelan, suaranya serak tertelan deru hujan. "Di sini, kau punya nama. Di sana... kau hanya akan menjadi angka dalam manifes."
Dengan gerakan hati-hati yang hampir terasa sakral, Bima meletakkan keranjang bayi itu di bawah kanopi teras panti. Ia telah menyelipkan sepuc** surat anonim dan sisa uang tunai yang ia miliki di dalam selimutnya. Ia menekan bel pintu, lalu segera mundur ke dalam bayang-bayang pepohonan di seberang jalan.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya dengan daster panjang membuka pintu. Ia terkesiap, lalu dengan cepat menggendong bayi itu ma**k ke dalam kehangatan rumah. Cahaya lampu kuning dari dalam panti menyinari trotoar sesaat sebelum pintu tertutup rapat, meninggalkan Bima kembali dalam kegelapan yang pekat.
Bima tidak beranjak sampai ia yakin bayi itu aman. Ia menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara basah yang berbau tanah. Inilah saatnya.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit yang sudah kusam. Di dalamnya terdapat KTP, kartu debit, dan foto kecil ayahnya yang sudah memudar. Tanpa ragu, Bima mengeluarkan korek api gas. Api kecil menari-nari di ujung jarinya sebelum melahap sudut-sudut identitasnya. Plastik KTP itu meleleh, mengeluarkan bau kimia yang menyengat, menyerupai bau hangus jiwanya yang lama. Ia menjatuhkan sisa-sisa abu identitasnya ke dalam genangan air, membiarkannya terurai dan hanyut ke selokan.
Bima yang dulu—pemuda yang punya utang, kurir yang patuh, warga negara yang terdaftar—kini telah mati.
Ia berjalan menjauh, menghindari rute yang dipenuhi kamera CCTV. Langkah kakinya ringan namun waspada. Selama berminggu-minggu berikutnya, Bima belajar untuk hidup di sela-sela realitas. Ia menetap di sebuah bangunan terbengkalai di kawasan industri yang terbengkalai, tempat di mana bahkan hantu pun merasa kesepian. Ia bekerja serabutan di pasar induk saat subuh, di mana identitas hanyalah gangguan bagi orang-orang yang ingin barangnya cepat diangkut.
Namun, ia tidak benar-benar pergi. Setiap pukul 3 pagi, saat dunia manusia terlelap dan dunia 'Titik Buta' mulai berdenyut, Bima akan bangun. Ia akan duduk di ketinggian gedung atau bersembunyi di balik pilar jembatan layang, mengamati jalanan dengan teropong tua.
Matanya mencari satu hal: jaket hitam dengan logo lingkaran tanpa ujung yang bersinar redup. Nirmana Express.
Malam itu, di minggu keempat pelariannya, Bima melihatnya. Sebuah motor matik tanpa plat nomor melaju pelan di bawah kolong jembatan jalan layang non-tol Antasari. Pengendaranya mengenakan helm *full-face* hitam, membawa sebuah kotak kayu yang dililit rant** tembaga di kursi belakang. Bau anyir darah dan melati tiba-tiba menusuk indra penciuman Bima dari jarak sepuluh meter.
Bima mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang selama ini ia pendam mendidih seketika. Nirmana tidak berhenti. Mereka hanya mengganti kurir.
Ia mengikuti motor itu dari balik bayang-bayang gedung, melompat dari satu atap ke atap lain dengan kelincahan yang lahir dari keputusasaan. Kurir baru itu tampak ragu, ia terus-menerus melihat ke arah GPS di ponselnya yang hanya menampilkan layar statis berwarna abu-abu. Ia sedang menuju ke sebuah gang buntu yang secara fisik tidak ada di peta mana pun—sebuah pintu ma**k ke Titik Buta yang baru.
Bima tahu apa yang ada di dalam kotak itu. Ia mendengar detak jantung yang tidak beraturan dari arah sana. Sesuatu yang hidup, sesuatu yang takut.
Saat kurir itu berhenti di depan sebuah tembok bata merah yang tampak bergetar seperti riak air, Bima melompat turun dari lant** dua sebuah ruko. Ia mendarat tanpa suara tepat di belakang motor tersebut.
"Jangan buka kotaknya," suara Bima terdengar seperti gesekan amplas di tengah kesunyian malam.
Kurir itu tersentak, hampir menjatuhkan motornya. Ia berbalik dengan mata terbelalak di balik kaca helm. "Siapa kau? Jangan ikut campur! Ini urusan perusahaan!"
Bima melangkah maju, membiarkan cahaya bulan menyinari separuh wajahnya yang kini terlihat lebih tirus dan liar. "Aku adalah orang yang seharusnya berada di posisimu, tapi memilih untuk tidak menghilang dengan cara yang mereka inginkan."
Bima mendekat ke arah kotak kayu itu. Rant** tembaganya bergetar hebat, dan dari celah kayu yang sempit, keluar asap hitam tipis yang berbau seperti daging terbakar.
"Kau tidak tahu apa yang kau bawa," lanjut Bima, matanya terkunci pada kotak itu. "Dan mereka tidak akan memberitahumu bahwa setelah pengiriman ini, namamu akan dihapus dari dunia."
Tiba-tiba, ponsel kurir itu berdering. Layarnya tidak menunjukkan nomor telepon, melainkan sebuah simbol lingkaran merah yang berputar-putar. Sebuah suara statis yang berat keluar dari *speaker* ponsel, memenuhi gang sempit itu dengan getaran yang membuat tulang rusuk Bima bergetar.
*"Kurir Nomor 404... eksekusi gangguan di depanmu. Jangan tanya, jangan terlambat."*
Bima merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan suara manusia. Itu adalah suara Nirmana—entitas yang selama ini ia layani tanpa wajah. Di saat yang sama, segel rant** pada kotak di atas motor mulai retak satu per satu, dan sesuatu dari dalam mulai mencakar kayu dengan kekuatan yang tidak ma**k akal.
"Lari," desis Bima kepada kurir baru itu, sambil mencabut sebilah belati lipat dari balik sepatunya. "Atau kau akan menjadi bagian dari manifes malam ini."
Tepat saat kata-kata itu keluar, tembok bata di depan mereka terbelah, menyingkap sebuah lorong panjang yang dipenuhi kabut biru elektrik yang mengerikan. Dari dalam lorong itu, puluhan pasang mata merah mulai menatap ke arah mereka, dan Bima menyadari bahwa pelariannya selama ini hanyalah masa tenang sebelum badai yang sesungguhnya dimulai. Nirmana Express tidak hanya ingin paketnya kembali, mereka ingin kurir pembangkang itu menjadi isinya.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!