Udara Jakarta pukul tiga pagi biasanya hanya menyisakan sisa-sisa polusi yang mengendap, namun malam ini berbeda. Dingin yang menusuk tulang itu terasa tidak wajar, seolah-olah es merambat keluar dari pori-pori aspal. Bima menarik napas panjang, membiarkan uap tipis keluar dari mulutnya di balik helm *full-face* yang sudah lecet di sana-sini. Di atas motor Supra lamanya yang bergetar hebat, ia mencoba fokus pada jalanan di depannya.
Seharusnya, Jalan Ampera tetap terang oleh lampu-lampu jalan. Namun, setelah melewati persimpangan terakhir, lampu-lampu itu meredup, berkedip ritmis seperti detak jantung yang sekarat, sebelum akhirnya padam total. Kemudian, kabut itu datang.
Awalnya hanya gumpalan tipis yang menyapu ban motornya. Namun dalam hitungan detik, kabut itu menebal, berwarna kelabu pekat dan beraroma tanah basah bercampur karat. Jarak pandang Bima menyusut drastis hingga hanya tersisa dua meter.
"Sial," umpatnya pelan. Suaranya teredam oleh busa helm, terdengar asing di telinganya sendiri.
Ia melirik spion. Tidak ada apa pun di belakangnya kecuali kegelapan yang seolah siap menelan siapa pun yang tertinggal. Di punggungnya, kotak paket dari Nirmana Express terasa lebih berat dari biasanya. Kotak kayu berukuran sedang itu dilapisi segel lilin merah di setiap sudutnya, dengan simbol-simbol aneh yang tidak ingin Bima pahami.
Bima memutar tuas gas lebih dalam. Mesin motornya meraung, membelah keheningan yang menyesakkan. Navigasi di kepalanya mulai bekerja; ia sudah hafal setiap lekuk jalan tikus di Jakarta, namun kabut ini seolah memutarbalikkan logikanya. Belok kiri seharusnya membawanya ke arah pemukiman, tapi entah mengapa, aspal di bawahnya terasa semakin kasar, berganti menjadi jalanan berbatu yang sempit.
Tiba-tiba, suhu udara merosot tajam. Bulu kuduk Bima berdiri. Di tengah kabut, sebuah siluet gerbang besi tua yang menjulang tinggi mulai menampakkan diri. Ukiran besi berkarat itu membentuk pola-pola sulur yang tampak seperti tangan-tangan kurus yang sedang menggapai langit.
Itulah gerbang Pemakaman Jeruk Purut. Titik Buta malam ini.
Tepat saat ban depan motornya menyentuh batas bayangan gerbang tersebut, mesin motornya tersedak.
*C**... c**... pret.*
"Jangan sekarang. Ayo, jangan sekarang," bisik Bima penuh harap. Ia memutar kunci kontak berkali-kali, namun instrumen di panel motornya tetap mati total. Motor itu terbatuk sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar bungkam.
Keheningan yang mengikuti begitu pekat hingga Bima bisa mendengar suara aliran darah di pelipisnya. Ia turun dari motor, mencoba menghentakkan *kick starter* dengan tenaga penuh. Satu kali, dua kali, nihil. Motornya terasa seperti seonggok besi mati yang kehilangan jiwanya.
Bima menyeka keringat dingin di dahinya. Ia berdiri di depan pintu ma**k pemakaman yang gelap gulita. Pohon-pohon kamboja di dalam sana terlihat seperti raksasa yang sedang membungkuk, mengawasinya dengan diam.
Lalu, suara itu muncul.
Awalnya sangat samar, nyaris tertutup oleh desau angin yang melewati celah-celah nisan. Sebuah isakan kecil. Bima mematung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap itu hanya suara kucing liar atau sekadar halusinasinya yang kelelahan.
Namun suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan lebih panjang. Sebuah tangisan bayi.
Suara itu tidak datang dari balik semak-semak atau dari dalam area pemakaman. Suara itu bergetar tepat di balik punggungnya.
Bima melepaskan tali pengikat paket dengan tangan gemetar. Ia menurunkan kotak kayu itu dari jok belakang motornya dengan hati-hati, seolah-olah benda itu terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Begitu kotak itu mendarat di tanah berbatu, suara tangisan itu meledak.
"Oweee... uweee... uweee..."
Itu bukan sekadar isakan; itu adalah tangisan bayi yang baru lahir, terdengar penuh ketakutan, lapar, dan kedinginan. Suara itu merembes keluar dari celah-celah kayu yang rapat, memukul nurani Bima dengan keras.
Bima mundur satu langkah, napasnya memburu. Peraturan nomor satu Nirmana Express bergema di kepalanya seperti mantra terkutuk: *Jangan pernah bertanya apa isi kotaknya.* Peraturan nomor tiga: *Jangan pernah mengintip isi kotak atau kau akan terjebak di dalamnya selamanya.*
"Ini bukan apa-apa. Ini cuma trik," gumam Bima, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam mengepal kuat. "Bukan urusanmu, Bima. Antar saja, lalu pergi."
Namun, kotak itu tiba-tiba berguncang. Sesuatu di dalamnya menendang-nendang dinding kayu, membuat kotak itu bergeser beberapa sentimeter di atas tanah yang becek. Tangisannya kini berubah menjadi rintihan yang menyayat hati, seolah bayi di dalamnya mulai kehabisan napas.
Bima berlutut di depan kotak tersebut. Cahaya rembulan yang samar menembus kabut, menyinari segel lilin merah yang mulai retak karena guncangan dari dalam. Ia melihat ada cairan bening yang merembes keluar dari bagian bawah kotakβhangat dan berbau amis.
Logika pragmatisnya berteriak agar ia segera meninggalkan kotak itu dan lari sejauh mungkin. Namun, bayangan wajah ayahnya yang hilang, yang lenyap tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, mendadak melintas di benaknya. Jika ada sesuatu yang hidup di dalam sana, apakah ia sanggup membiarkannya mati membeku di depan gerbang pemakaman ini?
Jarinya menyentuh permukaan kayu yang kasar. Segel lilin itu terasa panas, seolah-olah ada energi yang menolak sentuhannya.
"Halo?" suara Bima bergetar. "Ada orang di dalam?"
Tangisan itu mendadak berhenti. Keheningan yang menyusul jauh lebih mengerikan daripada suara tangisan tadi. Bima bisa merasakan sepasang mata sedang mengamatinya dari balik celah kayu yang gelap.
Kemudian, sebuah suara cakaran terdengar. *Sret... sret...* dari arah dalam, seolah ada kuku-kuku kecil yang mencoba menggali jalan keluar.
Bima menelan ludah. Tangannya bergerak menuju pinggiran tutup kotak, menyentuh segel merah yang menjadi pembatas antara dunianya dan entah apa yang ada di dalam sana. Satu tarikan kecil, dan ia akan tahu kebenarannya. Namun, satu tarikan itu juga mungkin akan menjadi hal terakhir yang ia lakukan sebagai manusia.
Di kejauhan, lonceng gereja tua entah di mana berdentang tiga kali. Waktu pengiriman hampir habis, dan kabut di sekelilingnya mulai membentuk bayangan-bayangan hitam yang perlahan mendekat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!