Dingin malam di Pemakaman Jeruk Purut tidak seperti dinginnya AC di minimarket atau angin malam saat aku memacu motor di jalanan Jakarta. Dingin di sini terasa padat, seolah udara memiliki massa yang menekan pori-pori kulit dan membekukan aliran darah. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 03.14 pagi. Waktu di mana dunia seharusnya tertidur, tapi bagi Nirmana Express, ini adalah jam sibuk.
Aku menelan ludah yang terasa sekeras kerikil. Di hadapanku, gerbang pemakaman yang gelap tampak seperti rahang raksasa yang siap menelan apa saja yang berani melintas. Dan di boncengan motorku, kotak kayu berbalut lakban hitam berlogo 'N' perak itu terus mengeluarkan suara yang merusak kewarasanku.
*Oweee... Oweee...*
Suara tangisan itu melengking, tipis namun tajam, seolah bayi di dalamnya sedang kehabisan napas. Tanganku gemetar saat mencoba melepaskan tali pengikat paket. Si****. Kenapa simpulnya mendadak jadi sekeras kawat baja?
"Cuma paket, Bim. Ingat kata Pak Danu. Itu cuma barang. Jangan tanya, jangan intip," bisikku pada diri sendiri, lebih sebagai mantra perlindungan daripada pengingat aturan.
Setelah berjuang selama beberapa menit, paket itu akhirnya terlepas. Beratnya luar biasa. Seharusnya kotak seukuran ini tidak seberat ini kecuali isinya adalah tumpukan timah. Tapi sensasi di tanganku mengatakan hal lain; ada sesuatu yang bergeser di dalam sana, sesuatu yang lunak dan hangat, mengikuti gravitasi saat aku menurunkan kotak itu ke permukaan tanah yang basah oleh embun.
Aku tidak bisa menggendongnya. Kakiku terasa lemas. Terpaksa, aku mulai menyeret kotak itu.
*Sreeek... Sreeek...*
Bunyi dasar kotak yang bergesekan dengan tanah makam yang berkerikil menciptakan simfoni yang mengerikan bersama tangisan dari dalam kotak. Aku melangkah melewati deretan nisan yang berbaris seperti prajurit bisu. Pohon kemboja tua meliuk-liuk di atasku, ranting-rantingnya yang gundul tampak seperti jemari kurus yang berusaha menggapai jaketku.
*Oweee... Oweee...*
Tangisan itu mengeras. Sekarang suaranya terdengar seperti jeritan kesakitan. Hatiku mencelos. Setiap kali kotak itu membentur akar pohon atau gundukan tanah, suara di dalam sana meledak dalam tangisan yang memilukan. Naluri kemanusiaankuβbagian dari diriku yang seharusnya sudah mati sejak aku menandatangani kontrak dengan Nirmanaβmulai memberontak.
*Bagaimana jika benar-benar ada bayi di dalam sana? Bagaimana jika mereka menjadikanku kaki tangan pembunuhan?*
"Diam," desis ku, entah pada kotak itu atau pada pikiranku sendiri. "Aku cuma butuh uangnya. Aku harus bayar hutang."
Aku terus menyeretnya lebih dalam ke arah sektor yang lebih gelap, menuju koordinat yang hanya ada di kepalaku, bukan di GPS. Peluh dingin mengucur dari pelipisku, perih saat mengenai mata. Napas kian memburu. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung. Kotak itu seolah bertambah berat setiap detiknya, seakan ia sedang menyerap energi dari tanah pemakaman ini.
Lalu, tiba-tiba, tangisan itu berhenti.
Hening yang tercipta jauh lebih mengerikan daripada suara tangisan tadi. Kesunyian itu begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar. Aku berhenti melangkah, berdiri di antara dua makam tanpa nama.
"Habis baterainya?" gumamku, mencoba melontarkan lelucon hambar untuk menenangkan sarafku yang tegang.
Tiba-tiba, sebuah suara keluar dari dalam kotak. Itu bukan lagi tangisan bayi.
"Bima..."
Aku membeku. Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak. Suara itu bukan suara bayi. Itu adalah suara pria dewasa. Serak, rendah, dan sangat familiar.
"Bima... tolong Papa..."
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Suara itu... suara yang sudah sepuluh tahun tidak pernah kudengar. Suara yang hanya muncul dalam mimpi burukku. Suara ayahku.
"Enggak, ini nggak mungkin," bisikku, mundur selangkah. Peganganku pada pinggiran kotak terlepas. "Ini cuma trik. Nirmana sedang mempermainkanku."
"Bima... jangan tinggalkan Papa lagi. Di sini gelap, Nak. Dingin..."
Suara itu terdengar begitu nyata, seolah mulut orang yang berbicara tepat berada di balik lapisan kayu tipis itu, hanya beberapa inci dari kakiku. Getaran suaranya membuat kotak itu bergetar halus di atas tanah. Aku teringat hari itu, hari di mana Ayah pergi membeli rokok dan tidak pernah kembali, meninggalkan aku dan tumpukan hutang yang menghancurkan hidup kami.
"Siapa kau?!" teriakku ke arah kotak, suaranya menggema di keheningan makam, memantul di antara nisan-nisan. "Ayah sudah hilang! Kau bukan dia!"
"Kau anak yang baik, Bima... kau selalu menemukan jalan pintas..." suara itu merintih, kini disert** bunyi kuku yang menggaruk bagian dalam kotak. *Srat... srat... srat...* "Buka kotaknya... tolong Papa keluar. Pak Danu berbohong padamu. Mereka yang membawaku ke sini..."
Tanganku bergerak tanpa sadar menuju pinggiran lakban hitam yang menyegel tutup kotak. Jariku menyentuh permukaan plastik yang dingin. Logika di kepalaku berteriak agar aku lari, tapi kerinduan yang terkubur selama satu dekade menarikku seperti magnet yang tak terelakkan.
Satu sentakan, dan rahasia ini akan terungkap. Satu gerakan, dan aku mungkin akan menemukan jawaban atas hilangnya Ayah. Namun, di saat yang sama, aku teringat aturan nomor tiga yang tertulis dengan tinta merah di kontrak kerjaku: *Jangan pernah melanggar segel, atau kau akan menjadi bagian dari pengiriman selanjutnya.*
Kotak itu mulai berguncang hebat. Suara garukan di dalam berubah menjadi hantaman keras.
"BIMA! BUKA KOTAKNYA!" suara itu berubah menjadi raungan yang m****akkan telinga, bukan lagi suara Ayah, melainkan perpaduan dari ribuan suara yang berteriak bersamaan.
Di bawah sinar bulan yang pucat, aku melihat lakban hitam itu mulai mengelupas dengan sendirinya, seolah ada sesuatu dari dalam yang sedang berusaha keras untuk mendob**k keluar. Sesuatu yang hitam dan kental seperti oli mulai merembes dari sela-sela tutup kotak, menetes ke tanah dan mengeluarkan bau busuk bangkai yang menyengat.
Aku berdiri terpaku, jemariku masih menempel di sudut lakban, sementara kotak itu mulai mengeluarkan suara tawa yang melengking tinggi, menertawakan keraguanku. Di depanku, pilihan itu bukan lagi soal uang atau hutang, tapi tentang apakah aku siap melihat apa yang sebenarnya dikirim oleh Nirmana Express ke dunia ini.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!