Jari-jari itu kecil sekali, nyaris transparan, dengan kuku-kuku halus yang baru tumbuh. Mereka mencuat dari celah segel lilin merah yang retak di sudut kotak kayu tersebut. Bima membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan, mencekik paru-parunya. Suara tangisan yang tadi terdengar sayu kini berubah menjadi rintihan pendek yang menuntut udara.
"Demi Tuhan..." bisik Bima. Suaranya gemetar, pecah di tengah kesunyian Pemakaman Jeruk Purut yang menyesakkan.
Logika di kepalanya berteriak, menyuruhnya untuk meletakkan kotak itu di bawah pohon kamboja tua sesuai instruksi GPS dan segera pergi. *Jangan tanya apa isinya. Jangan pernah mengintip.* Itu adalah doktrin Nirmana Express yang sudah menyelamatkannya selama tiga bulan terakhir. Namun, saat tangan mungil itu mencengkeram pinggiran kayu yang kasar, naluri manusianya—yang selama ini ia kubur demi membayar hutang—meronta hebat.
Bima menarik napas panjang, bau tanah basah dan bunga kamboja busuk memenuhi rongga dadanya. Ia tidak meletakkan kotak itu. Sebaliknya, ia mendekapnya erat ke dada. Ia bisa merasakan kehangatan yang tidak wajar menembus jaket kurirnya yang tebal.
*B**k!*
Suara dahan patah di kegelapan makam membuatnya melonjak. Bayangan hitam yang panjang mulai memanjang dari balik nisan-nisan tua, seolah-olah kegelapan itu sendiri sedang bangkit untuk menuntut haknya.
Bima berbalik dan berlari.
Sepatu botnya menghantam jalanan aspal yang retak di pinggiran pemakaman. Ia melompat ke atas motor matic-nya yang sengaja ia parkir di posisi siap meluncur. Mesin motor meraung, memecah kesunyian pukul tiga pagi yang terkutuk itu. Saat ia memutar gas dalam-dalam, ponsel di holder stang motornya bergetar hebat.
Layar ponsel yang biasanya berwarna biru redup kini berkedip-kedip merah darah. Sebuah notifikasi muncul dengan font hitam yang tajam:
**PELANGGARAN PROTOKOL TERDETEKSI.**
**KONTRAK DIBATALKAN.**
**STATUS KURIR: KOMPROMIS.**
"Sial, sial, sial!" Bima memaki sambil memacu motornya menembus kabut tipis yang menyelimuti Jakarta Selatan.
Di spion, ia melihat sesuatu yang membuatnya nyaris kehilangan kendali. Lampu jalan di belakangnya padam satu per satu, seolah-olah ada raksasa tak kasat mata yang sedang memadamkan lilin di sepanjang jalurnya. Dan di tengah kegelapan itu, beberapa sosok bermantel hitam dengan helm *full-face* tanpa kaca—ciri khas kurir penjemput 'sampah' Nirmana—muncul entah dari mana. Mereka tidak menggunakan mesin; motor mereka meluncur tanpa suara, hanya meninggalkan jejak asap hitam di aspal.
Bima membelokkan motornya ke sebuah gang sempit, jalan tikus yang hanya ia dan para pengojek malam yang tahu. Ia mematikan lampu depan, mengandalkan insting dan cahaya remang bulan yang tertutup polusi.
Di dalam dekapan satu tangannya, kotak itu berguncang. Suara bayi di dalamnya kini bukan lagi tangisan, melainkan gumaman yang terdengar seperti rangkaian kata dalam bahasa yang tidak ia kenali. Setiap kali suara itu terdengar, suhu udara di sekitar Bima anjlok drastis. Es tipis mulai mengkristal di stang motornya.
"Sabar, kecil. Sabar," bisik Bima, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan notifikasi, melainkan pangg***n ma**k tanpa nomor. Bima tahu itu adalah 'Pusat'. Ia tidak berani mengangkatnya, tapi speaker ponselnya tiba-tiba aktif sendiri.
"Bima..." Suara itu dingin, mekanis, namun memiliki intonasi yang merayap di bawah kulit. "Kau tahu apa yang terjadi pada paket yang tidak sampai. Kau tahu apa yang terjadi pada kurir yang terlalu ingin tahu."
"Ini bayi, ba******!" teriak Bima ke arah ponselnya, suaranya parau karena amarah dan ketakutan. "Kalian mengirim nyawa manusia ke tempat seperti itu?"
"Bukan manusia," suara di seberang menjawab datar. "Hanya wadah. Kembalikan kotak itu ke Titik Buta terdekat, atau statusmu akan diubah menjadi Aset yang Hilang."
Bima tahu apa artinya. Di Nirmana, 'Aset yang Hilang' tidak dicari untuk dibawa pulang. Mereka dicari untuk diproses menjadi paket berikutnya. Ayahnya hilang dengan cara yang sama—sebuah lubang hitam dalam ingatannya yang tak pernah tertutup.
Bima membanting ponselnya ke aspal saat ia meluncur di kecepatan 80 km/jam. Ia melihat ponsel itu hancur terlindas, namun suara tawa dingin dari Pusat seolah masih terngiang di telinganya.
Ia keluar dari gang dan ma**k ke jalan raya yang kosong. Di depannya, langit Jakarta tampak aneh. Awan menggantung rendah, berwarna ungu pekat yang tidak alami. Ruang dan waktu di sekitarnya mulai melintir. Gedung-gedung tinggi di kejauhan tampak memanjang dan melengkung, seolah-olah ia sedang berkendara di dalam mimpi buruk yang cair.
Tiba-tiba, mesin motornya mati total.
Bima mengerem mendadak, ban belakangnya berdecit panjang sebelum ia berhasil menyeimbangkan diri. Di tengah jalan raya yang lebar dan sepi itu, di bawah lampu merkuri yang berkedip sekarat, berdiri seorang pria.
Pria itu mengenakan seragam Nirmana Express yang sempurna, tanpa noda, tanpa debu. Wajahnya tertutup helm hitam legam yang permukaannya halus seperti cermin. Di tangannya, ia memegang sebuah pemindai kode batang yang mengeluarkan sinar laser merah panjang.
"Pengiriman gagal, Bima," suara pria itu menggema, bukan dari mulutnya, tapi langsung di dalam kepala Bima.
Bima turun dari motor, kakinya gemetar tapi tangannya memeluk kotak itu lebih erat dari sebelumnya. Ia melirik ke celah kotak. Tangan kecil itu kini menggenggam ujung jaketnya. Genggaman yang kuat. Genggaman yang memohon kehidupan.
"Aku tidak akan menyerahkannya," kata Bima, suaranya kini stabil, meskipun rasa takutnya melampaui apa pun yang pernah ia rasakan.
Pria di depannya perlahan mengangkat tangan. Aspal di bawah kaki Bima mulai retak, dan bau busuk yang amat sangat—bau daging terbakar dan besi berkarat—mulai menguar dari bawah tanah.
"Kau bukan lagi kurir," kata sosok itu. Laser merah di tangannya kini mengarah tepat ke dahi Bima. "Kau adalah paket yang terlambat."
Bima mundur selangkah, namun di belakangnya, bayangan-bayangan dari makam tadi sudah mengepung. Tidak ada jalan keluar. Ia melihat ke arah kotak di pelukannya, lalu ke arah kegelapan yang mendekat. Jika ia harus lenyap tanpa jejak seperti ayahnya, ia tidak akan melakukannya sambil berlutut.
Tepat saat laser itu mulai memanas di kulit dahinya, segel di kotak kayu itu pecah sepenuhnya. Cahaya putih yang menyilaukan meledak dari celah-celah kayu, dan untuk pertama kalinya, Bima tidak mendengar tangisan bayi, melainkan raungan yang sanggup menggetarkan fondasi kota Jakarta.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!