Hujan di Jakarta Selatan pukul setengah empat pagi tidak pernah terasa romantis. Air yang turun terasa seperti jarum-jarum es yang menembus jaket hitam sintetis berlogo 'Nirmana Express' yang kukenakan. Namun, bukan hawa dingin yang membuat tanganku gemetar di atas stang motor, melainkan suara dari kotak kayu di celah kakiku.
*Oek... oek...*
Suara itu kecil, serak, seolah tenggorokan mungil di dalamnya sudah kehabisan tenaga karena terus meronta sejak aku melewati gerbang TPU Jeruk Purut sepuluh menit lalu. Aku memacu motor Mio bututku menembus gang sempit yang tidak terpetakan di Google Maps, hingga mataku menangkap pendar lampu kuning redup dari sebuah warung kopi di pojok jalan buntu.
Sebuah papan kayu reyot tergantung di depan, bertuliskan "Warkop Abadi". Di bawahnya, ada simbol kecil berbentuk mata yang dicoret—tanda rahasia bagi kami, para kurir kurir 'Titik Buta'.
Aku mengerem mendadak, hampir tergelincir di atas aspal licin. Tanpa mematikan mesin, aku menyambar kotak itu—yang anehnya terasa hangat sekaligus berdenyut seperti jantung—lalu menerjang ma**k ke dalam warkop.
Bau tembakau cengkeh dan kopi pahit menyambutku. Di balik meja kayu yang menghitam karena usia, seorang pria tua dengan satu mata keruh sedang mengelap gelas. Aki. Ia adalah legenda hidup di kalangan kurir Nirmana, salah satu dari sedikit orang yang berhasil 'pensiun' tanpa harus pulang dalam kantong mayat.
"Kau terlambat dua menit, Bima," suara Aki parau, seolah tenggorokannya dilapisi amplas.
"Pers**** dengan waktu, Ki," napasku memburu. Aku meletakkan kotak itu di atas meja. *Oek...* Suara tangisan itu kembali muncul, kali ini lebih jelas, memicu getaran ganjil yang merambat ke permukaan meja kayu. "Kotak ini... isinya bayi. Aku tidak salah dengar, kan?"
Aki berhenti mengelap gelas. Matanya yang sehat menatap kotak kayu dengan segel lilin merah yang mulai retak itu. Ia tidak tampak terkejut. Pria tua itu justru menghela napas panjang, lalu berbalik untuk menyeduh segelas kopi hitam kental tanpa gula.
"Duduklah. Kau pucat seperti orang yang baru saja melihat liang kuburnya sendiri," titah Aki.
Aku duduk di kursi plastik yang reyot, mataku tak lepas dari kotak itu. "Aki, aku kurir paket. Aku mengantar keris, jimat, atau mungkin organ tubuh ilegal. Tapi ini... ini manusia. Kita tidak bisa mengirim manusia seperti barang kiriman."
Aki meletakkan gelas kopi yang mengepul di depanku. Uapnya yang pahit sedikit menenangkan syarafku yang tegang. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di hadapanku, dipisahkan oleh kotak yang masih merintih itu.
"Nirmana Express tidak pernah mengirim 'barang', Bima," kata Aki pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. "Nirmana mengirimkan 'utang' dan 'bayaran'. Dan apa yang kau bawa di dalam sana adalah jenis bayaran yang paling mahal."
Aku menggelengkan kepala, tanganku mengepal hingga buku-buku jariku memutih. "Apa maksudmu?"
Aki menunjuk segel merah di atas kotak. "Itu disebut *Tumbal Pengganti*. Klien besar yang memesan paket ini—seorang pengusaha atau mungkin politikus yang namanya terlalu berbahaya untuk kita sebut—telah melakukan perjanjian besar dengan 'Pihak Sana' untuk kekayaan atau kekuasaan. Tapi hukum alam semesta itu adil. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kau harus memberikan sesuatu yang memiliki nyawa."
Suara tangisan di dalam kotak mendadak berhenti, digantikan oleh suara garukan halus di dinding kayu. *Sret... sret...*
"Klien itu seharusnya menyerahkan anaknya sendiri," lanjut Aki, matanya menatapku tajam. "Tapi mereka pengecut. Jadi mereka menggunakan jasa Nirmana untuk mencari pengganti. Bayi itu... mungkin diambil dari panti a**han yang tidak tercatat, atau bayi yang 'hilang' di rumah sakit. Nirmana mengemasnya, menyegel jiwanya agar tetap hidup sampai ke tujuan, dan tugasmu adalah menyerahkannya kepada penerima di Titik Buta sebagai tumbal pengganti."
Rasa mual seketika melonjak ke kerongkonganku. Aku teringat wajah ayahku yang hilang tanpa jejak belasan tahun lalu. Apakah dia juga berakhir seperti ini? Menjadi paket yang dikirimkan ke dimensi yang tidak ma**k akal?
"Aku tidak bisa melakukannya," bisikku. Suaraku bergetar karena amarah. "Aku akan membawanya ke polisi. Aku akan keluar dari sini."
Aki tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti tulang yang beradu. Ia mencondongkan tubuhnya, aroma kopinya tercium pekat. "Polisi? Kau pikir mereka bisa melihat tempat ini? Kau pikir mereka bisa menyentuh segel itu tanpa meledak menjadi debu? Begitu kau menyentuh kotak itu di gudang pukul 3 pagi tadi, kontrakmu sudah terikat darah, Bima."
Aki menunjuk pergelangan tanganku. Aku tersentak. Di bawah kulit nadiku, muncul garis hitam tipis yang berdenyut searah dengan denyutan kotak kayu itu.
"Jika kau tidak mengantarkan paket itu sebelum fajar menyingsing, segelnya akan menganggap *kau* sebagai penggantinya," ucap Aki dengan nada dingin yang mematikan. "Jiwa bayi itu akan terlepas, tapi jiwamu akan tersedot ma**k ke dalam kotak. Kau akan menjadi paket selanjutnya, dikirim ke tempat yang lebih buruk dari neraka, selamanya."
Aku menatap garis hitam di tanganku, lalu menatap kotak itu. Di dalamnya, bayi itu kembali menangis, namun kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti bayi manusia. Suaranya mulai berubah, memberat, dan sedikit bergaung, seolah-olah sesuatu yang lain sedang mulai mengambil alih wadah kecil di dalam sana.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku putus asa.
Aki menyesap kopinya perlahan, matanya menatap ke arah pintu warkop yang tertutup rapat. Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan turun drastis. Lampu kuning di atas kami berkedip-kedip tidak stabil.
"Kau punya dua pilihan, Nak," bisik Aki. "Selesaikan pengiriman itu dan biarkan bayi itu menjadi urusan mereka, atau buka segelnya sekarang dan hadapi apa yang akan keluar. Tapi ingat satu hal..."
Aki berhenti bicara. Bulu kudukku meremang. Dari luar warkop, di balik suara hujan, terdengar suara langkah kaki yang berat dan terseret di atas genangan air. Sesuatu yang besar sedang mendekat. Bukan manusia. Bukan polisi.
"...Nirmana tidak pernah membiarkan kurirnya membawa lari barang titipan. Mereka sudah mengirim 'Pencatat' untuk menjemputmu."
Pintu warkop yang terbuat dari kayu jati tua itu tiba-tiba dihantam dari luar dengan kekuatan yang luar biasa hingga engselnya mengerang. Aku menyambar kotak itu, jantungku berdegup kencang hingga terasa mau pecah. Pilihan apa pun yang kuambil, malam ini tidak akan berakhir dengan aku tetap menjadi manusia yang sama.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!