Pacarku Tinggal di Tahun 2036

Bab 1: Bab 1: Nomor yang Tidak Ada

Pengaturan Membaca

Pesan itu ma**k pada pukul 23.36, ketika aku sedang menatap layar laptop dan berusaha meyakinkan diri bahwa data yang hilang dari server kampus pasti cuma salah sinkronisasi. Nomornya tidak tersimpan. Foto profilnya kosong. Yang membuatku berhenti bernapas bukan sapaan pertama, melainkan kalimat kedua: jangan naik bus nomor 23 besok pagi.

Aku memeriksa nomor itu dengan cara paling rasional yang kupunya. Truecaller tidak mengenalinya. Operator bahkan menampilkan notifikasi bahwa blok nomor tersebut belum diterbitkan. Aku memblokirnya, mengambil screenshot, lalu menaruh ponsel terbalik. Dua detik kemudian layar menyala lagi. Pesan baru muncul dari nomor yang barusan kublokir.

23.36 Arka: Jangan naik bus 23 besok. Turun di halte sebelumnya kalau terpaksa.

23.36 Aluna: Siapa ini?

23.37 Arka: Seseorang yang terlambat sepuluh tahun.

Aku mengetik bahwa kalau ini prank, pelakunya perlu mencari hobi yang lebih murah daripada meneror mahasiswa Sains Data menjelang tengah malam. Balasannya datang terlalu cepat: aku tidak menerormu. Aku mencoba mencegahmu. Aku menertawakan kalimat itu, tetapi tawa yang keluar terdengar seperti orang lain.

Pukul 23.47 lewat tiga puluh enam detik, percakapan berhenti. Pesanku hanya satu centang. Nomor itu menjadi sunyi seperti tidak pernah ada. Di luar kos, hujan tipis memantul di lampu jalan. Aku meletakkan ponsel di bawah bantal dan memutuskan bahwa besok pagi aku tetap akan naik bus nomor 23 hanya untuk membuktikan bahwa orang asing itu salah.

Lalu notifikasi terakhir muncul, terlambat sepersekian detik sebelum koneksi mati: Besok kamu hampir mati. Dan untuk pertama kalinya sejak ibuku meninggal, aku membenci kata hampir lebih daripada kata mati.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca