Nama Aluna Prameswari muncul di layar audit seperti kesalahan yang terlalu rapi untuk disebut bug. Status: meninggal. Tanggal: 17 Maret 2027. Usia: dua puluh. Namun di panel anomali, perangkat miliknya tercatat aktif pada 2026 dan mengirim paket data melalui node yang sudah dimatikan hampir satu dekade.
Aku seharusnya menutup ka**s itu, membuat laporan, lalu menunggu izin Dr. Sena. Sebagai gantinya, aku membuka berkas korban. Foto Aluna muncul: seorang perempuan berhoodie abu-abu, tersenyum di depan gedung kampus yang sekarang sudah berubah menjadi pusat riset transportasi. Aku menatap foto itu lebih lama daripada yang wajar.
23.37 Arka: Seseorang yang terlambat sepuluh tahun.
23.38 Aluna: Itu kalimat paling jelek untuk penipu.
23.38 Arka: Aku catat. Besok jangan naik bus 23.
Node EchoLink berdenyut tepat pukul 23.36 Waktu Nasional. Di layar, jalur komunikasi terbentuk ke perangkat yang menurut sistem belum pernah terdaftar di jaringan masa kini. Aku mengetik peringatan paling sederhana yang bisa kuberikan tanpa menghancurkan logika seorang manusia dari masa lalu.
Atasanku memanggil dua kali. Aku mengabaikannya. Audit manual memperlihatkan satu hal yang membuat tengkukku dingin: setiap kali pesan terkirim, metadata kematian Aluna berkedip. Seolah-olah arsip itu menyadari kami sedang membacanya.
Aku memberi tahu dia tentang bus, bukan tentang tanggal kematian. Belum. Ada perbedaan besar antara menyelamatkan seseorang dari satu kecelakaan dan mengatakan bahwa seluruh masa depannya berakhir sembilan bulan lagi. Aku belum tahu apakah aku sedang membuka jalan keluar atau justru menjadi bagian dari penyebabnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!