Aku tidak naik bus nomor 23. Bukan karena percaya, kataku pada diri sendiri, tetapi karena penelitian membutuhkan kontrol. Aku berdiri di halte dan melihat bus itu melewati tikungan tanpa diriku di dalamnya. Tujuh menit kemudian, grup kampus meledak dengan video kecelakaan: bus menab**k pembatas setelah remnya gagal.
Tanganku dingin ketika malam datang. Pukul 23.35 aku sudah duduk di lant** kos dengan charger terpasang, Wi-Fi dan data seluler menyala bersamaan, serta tiga aplikasi pencatat jaringan terbuka. Naya mengira aku sedang menguji server. Secara teknis, aku memang sedang menguji sesuatu.
23.39 Aluna: Tahun berapa sekarang di tempatmu?
23.39 Arka: 2036.
23.40 Aluna: Bukti dulu.
23.40 Arka: Besok pukul 10.12 listrik Gedung B padam 43 detik. Jangan pakai lift.
23.36. Nomor itu aktif. Aku tidak menyapa. Aku mengirim foto berita kecelakaan. Balasan muncul: kamu tidak ada di daftar korban. Bagus. Aku menuntut bukti tentang siapa dia. Ia tidak menjawab langsung. Ia hanya menyebut nama lengkapku, program studi, dan judul proyek arsip digital yang bahkan belum dipublikasikan.
Aku bertanya tahun berapa sekarang di tempatnya. Tiga titik muncul lama, seolah pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada seharusnya. 2036. Aku tertawa lagi, kali ini tanpa suara.
Kami menghabiskan sisa sebelas menit menguji hal-hal kecil. Cuaca esok pagi. Gangguan listrik di gedung B. Pengumuman rektor yang belum dirilis. Semua jawaban terdengar mustahil. Ketika jam menunjukkan 23.47:36, koneksi putus tepat seperti malam sebelumnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa lega ketika layar menjadi sunyi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!