Napas Arka ngos-ngosan. Dadanya naik turun dengan cepat, menghirup udara Solaria yang kini bercampur bau mesiu sisa sihir petir Elara dan aroma mi instan cup yang tumpah ruah di tanah. Di sekelilingnya, pasar Lemor yang tadinya ramai kini berantakan. Meja kayu reyot tempatnya jualan es teh manis sudah patah jadi dua. Boks *styrofoam* andalannya hancur berkeping-keping, menyisakan balok es batu yang perlahan mencair di atas debu jalanan.
Namun, di tengah kekacauan itu, puluhan prajurit berzirah hitam dari Pa**kan Kegelapan kini terkapar tidak berdaya. Komandan mereka—sosok raksasa dengan zirah paling tebal dan helm bertanduk—terlentang di tanah dengan mata mendelik ke atas. Mulutnya sedikit berbusa, efek dari sengatan raket nyamuk listrik rakitan bumi milik Arka yang sudah dimodifikasi dengan sihir penguat milik Elara.
"G***... kita beneran menang, Ar?" gumam Elara.
Gadis penyihir berambut perak itu menyeka keringat di dahinya dengan ujung jubah, menyisakan coretan abu hitam di pipinya yang malah membuatnya kelihatan menggemaskan. Tongkat sihir kecil di tangannya masih sesekali mengeluarkan percikan cahaya ungu redup.
"Menang sih menang, El. Tapi modal jualan gue hari ini melayang semua!" keluh Arka sambil menatap nanar sisa-sisa Pop Ice blender yang tumpah ke tanah. "Bisa-bisa gue diusir dari kosan bulan depan kalau nggak ada pema**kan. Belum lagi uas kalkulus minggu depan. Kepala gue mau pecah rasanya."
Arka berjalan lunglai mendekati tubuh si komandan musuh yang masih pingsan dan sesekali kejang-kejang kecil. Niatnya murni pragmatis: mencari barang berharga apa pun yang bisa dijarah sebagai uang ganti rugi modal dagangannya yang hancur. Di bumi, ini mungkin disebut penjarahan. Tapi di dunia alternatif Solaria? Ini namanya kompensasi perang yang sah.
"Arka, kamu ngapain? Jangan sembarangan sentuh, siapa tahu zirahnya dipasang kutukan jebakan!" Elara memperingatkan dengan nada judes khasnya, meski langkah kakinya ikut mendekat karena penasaran.
"Tenang, Elara sayang. Gini-gini gue juga punya insting bertahan hidup anak kos yang tinggi," sahut Arka sant**.
Tangannya meraba-raba kantong kulit di balik jubah hitam si komandan. Bukannya menemukan koin emas atau batu permata, jari-jari Arka malah menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Dia menariknya keluar. Sebuah gulungan kulit berwarna merah darah dengan segel lilin hitam pekat berbentuk wajah i**** yang sedang menyeringai.
Begitu melihat benda itu, napas Elara langsung tertahan. Wajahnya yang semula kemerahan karena lelah mendadak berubah pucat pasi.
"Itu... Segel Kerajaan Kegelapan faksi utama," bisik Elara, suaranya bergetar hebat. "Hanya jenderal tingkat tinggi atau tangan kanan langsung Raja I**** yang boleh membawanya. Arka, letakkan benda itu! Sihir hitam di dalamnya bisa melelehkan tanganmu kalau kamu nekat membukanya!"
"Masa sih? Perasaan biasa aja," kata Arka. Dia menatap segel lilin hitam itu. Naluri penjelajahnya—atau mungkin rasa cuek khas mahasiswanya—mulai kambuh.
Arka mengambil obeng minus kecil yang selalu dia kantongi di saku celana jinsnya. Dengan gerakan sant** seperti sedang membuka tutup botol kecap, Arka mencongkel segel hitam tersebut.
*Prak!*
Segel lilin itu pecah dengan gampang. Ada kilatan cahaya ungu gelap yang sempat memercik, tapi langsung lenyap begitu menyentuh ujung besi obeng Arka. Di dunia Solaria, sihir bekerja berdasarkan aliran mana. Tapi karena benda-benda dari bumi sama sekali tidak memiliki partikel mana, hukum sihir sering kali mendadak *error* atau tidak berfungsi saat bergesekan langsung dengan teknologi bumi, sekecil apa pun itu.
Elara melongo sampai mulutnya membentuk huruf O sempurna. "Sihir pengunci tingkat tinggi... hancur cuma pakai besi aneh itu?"
"Fisika mengalahkan mistis, El. Udah, mending kita baca isinya. Gue nggak paham aksara cakar ayam ginian," ujar Arka sambil membentangkan gulungan kulit merah itu di hadapan Elara.
Mata Elara yang bulat bergerak cepat menyusuri setiap baris tulisan kuno yang tertulis dengan tinta emas gelap di atas kulit merah tersebut. Namun, semakin jauh dia membaca, warna kulit di wajahnya semakin memudar. Tubuhnya mulai gemetar, sampai-sampai dia harus berpegangan pada pundak Arka agar tidak jatuh.
"El? Kenapa? Isinya apaan? Jangan bikin gue *overthinking* dong, aslinya gue udah pusing mikirin tugas kuliah," desak Arka, mulai merasa ada aura tidak beres yang menguar dari gulungan tersebut.
"Arka... ini... ini bukan sekadar perintah penyerangan ke wilayah perbatasan Solaria," suara Elara terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan ketakutan. "Ini adalah dokumen rencana invasi besar-besaran."
"Ya terus? Raja I**** mau nyerang ibu kota Solaria? Biarin aja lah, kan ada ksatria kerajaan. Yang penting lapak dagangan gue aman," sahut Arka acuh tak acuh.
"Bukan, Arka! Target utama mereka bukan Solaria!" Elara mencengkeram jaket Arka erat-erat, matanya menatap langsung ke dalam mata Arka dengan tatapan ngeri yang belum pernah Arka lihat sebelumnya. "Target mereka adalah... duniamu. Bumi."
Seketika itu juga, jantung Arka rasanya seperti berhenti berdetak. Angin gurun Solaria yang panas mendadak terasa sedingin es di tengkuknya.
"Hah? Lo bercanda, kan? Nggak usah ngaco deh, El. Mana mungkin monster-monster Solaria tahu soal bumi?" Arka tertawa garing, mencoba menganggapnya sebagai lelucon fiksi ilmiah tingkat rendah.
"Aku tidak bercanda! Baca bagian ini!" Elara menunjuk sebaris kalimat yang tiba-tiba bersinar kemerahan saat dibacakan. "*'Raja I**** yang agung telah mendeteksi adanya kebocoran dimensi yang sangat stabil di koordinat selatan Solaria. Sebuah celah tak kasat mata yang menghubungkan dunia kita dengan dunia tanpa mana.'*"
Arka merebut gulungan itu dari tangan Elara. Meskipun dia tidak bisa membaca hurufnya, di bagian bawah gulungan terdapat sebuah gambar sketsa kasar yang sangat familier. Sebuah gambar ruangan sempit berukuran dua kali dua meter, lengkap dengan bak mandi plastik abu-abu, gayung merah, dan sebuah pintu kayu yang di bagian depannya tertulis angka '3' menggunakan spidol permanen hitam yang sudah agak luntur.
"A****..." Arka menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. "Ini... ini kan toilet kosan gue?!"
"Mereka menyebutnya 'Gerbang Nomor Tiga'. Raja I**** menyadari kalau portal di toilet kamarmu adalah jalan pintas paling sempurna," lanjut Elara dengan napas memburu. "Mereka tahu kalau Solaria dijaga ketat oleh sihir pelindung para dewa, jadi menginvasi Solaria secara langsung akan memakan banyak korban. Tapi duniamu? Bumi sama sekali tidak memiliki pelindung sihir."
"Bumi emang nggak punya sihir, El. Di sana isinya cuma orang-orang biasa yang pusing mikirin cicilan motor, macetnya jalan raya, sama skripsi yang nggak kelar-kelar. Kenapa Raja I**** mau repot-repot ke sana?" tanya Arka dengan suara serak, separuh tidak percaya dan separuh mulai panik.
Elara membaca bagian paling mengerikan dari dokumen itu dengan bibir yang gemetar. "*'Dunia tanpa mana adalah ladang emas yang belum terjamah. Manusia di sana memiliki fisik yang sangat rentan karena tidak dilindungi oleh energi mana alami. Mereka tidak akan bisa menahan sihir kegelapan tingkat rendah sekalipun. Mereka akan menjadi sumber daya manusia dan budak yang sempurna untuk membangun kembali kejayaan Kerajaan Kegelapan. Tanpa perlu sihir tingkat tinggi, satu batalion infanteri kegelapan bisa menaklukkan seluruh peradaban mereka dalam hitungan hari.'*"
Kepala Arka langsung berdenyut kencang. Kalimat-kalimat di dokumen itu berputar-putar di otaknya seperti komidi putar rusak.
Selama ini, Arka cuma menganggap pintu toilet kosan nomor 3 miliknya sebagai rezeki nomplok. Sebuah alat gaib yang membantunya bertahan hidup sebagai mahasiswa rantau berkantong cekak. Dia bisa beli mi instan cup murah di minimarket bumi, lalu menjualnya dengan harga selangit pada petualang Solaria yang kelaparan. Dia bisa membawa es batu higienis dari kulkas bumi untuk dijadikan es teh manis mewah di dunia fantasi yang gersang ini.
Dia cuma mau bertahan hidup. Dia cuma mau bayar uang kosan tepat waktu agar tidak diomeli oleh pemilik kos yang galak. Dia sama sekali tidak pernah mendaftar untuk jadi pahlawan super penyelamat dunia.
Tapi sekarang, situasinya berubah total. Taruhannya bukan lagi soal kelangsungan kuliahnya atau apakah dia bisa makan enak besok hari. Taruhannya adalah keselamatan miliaran nyawa manusia di bumi. Ibunya di kampung halaman, teman-teman kuliahnya yang suka mabar sampai subuh, bapak kosnya yang galak tapi suka memberi takjil gratis, hingga mbak-mbak kasir minimarket langganannya—semuanya terancam menjadi budak tanpa kekuatan sihir di bawah kaki Raja I****.
"Si****," umpat Arka, mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut di dadanya perlahan terkikis, digantikan oleh gelombang kemarahan yang membakar. "Mereka pikir bumi itu gampang dijajah cuma karena kita nggak punya sihir?"
"Arka, apa yang harus kita lakukan?" tanya Elara panik. "Di sini tertulis kalau pa**kan perintis kegelapan sudah mulai bergerak menuju titik koordinat kamarmu. Komandan yang kita lawan hari ini sebenarnya cuma umpan untuk mengalihkan perhatian pa**kan patroli Solaria!"
"Mereka mau langsung nge-serbu kosan gue?" Arka menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang sempat kacau. Sebagai mahasiswa semester akhir yang terbiasa menghadapi *deadline* tugas yang mepet, kemampuan berpikir cepat di bawah tekanan adalah salah satu keahlian terbaiknya.
"Sihir portal itu sangat kuno dan melekat pada struktur bangunan kamar kosmu," kata Elara lagi, matanya tampak berkaca-kaca karena cemas. "Aku bahkan tidak yakin ada penyihir agung di Solaria yang bisa menyegel portal itu dari sisi sini tanpa menghancurkan ruang dimensi di sekitarnya."
Arka tiba-tiba tersenyum tipis. Sebuah senyuman nekat yang membuat Elara mengernyitkan dahi heran.
"Siapa bilang kita harus menyegel portalnya?" tanya Arka dengan nada suara yang kembali sant**, meski sorot matanya sangat tajam.
"Hah? Terus gimana? Kamu mau membiarkan mereka ma**k ke duniamu begitu saja?!"
"Nggak akan gue biarin mereka melangkah keluar dari toilet kosan gue hidup-hidup," jawab Arka dingin. Dia menatap pintu kayu kosan nomor 3 yang berdiri kokoh di balik reruntuhan bangunan pasar Lemor, siap mengantarnya kembali ke bumi kapan saja.
"Dengar, El. Mereka pikir manusia bumi itu lemah karena nggak punya sihir. Tapi mereka lupa satu hal: manusia bumi punya teknologi, dan yang paling penting... manusia bumi punya insting pertahanan anak kos yang sangat kreatif kalau tempat tinggalnya diusik."
Arka menepuk pundak Elara lembut, mencoba menenangkan gadis penyihir itu. "Gue bakal balik ke bumi sekarang juga. Gue butuh belanja beberapa barang di supermarket dan toko bangunan terdekat."
"Belanja? Di saat genting seperti ini?!" Elara melotot tidak percaya. "Kamu mau jualan es teh manis lagi?!"
"Bukan," Arka menyeringai lebar. "Gue mau beli kawat berduri, racun tikus dosis tinggi, lem tikus super lengket, petasan kembang api ukuran jumbo, sama beberapa tabung gas melon tiga kilo. Kalau mereka berani ma**k lewat toilet kosan gue, mereka bakal langsung disambut sama neraka versi kearifan lokal."
Arka membalikkan badannya dan melangkah mantap menuju pintu kosan nomor 3. Dia membuka pintu kayu itu, memperlihatkan pemandangan kamar kosnya yang tenang, sunyi, dan berantakan di seberang sana—kontras dengan dunia Solaria yang sedang dilanda ketakutan.
Sebelum melangkah ma**k, Arka menoleh ke arah Elara sekali lagi.
"Jaga diri lo di sini, El. Kalau ada monster yang mendekati pintu ini dari arah Solaria, langsung kasih tahu gue lewat kertas memo yang biasa gue selipin di bawah pintu. Perang ini baru dimulai, dan gue bakal mastiin kalau toilet kosan nomor 3 adalah tempat terakhir yang ingin dikunjungi oleh Pa**kan Kegelapan seumur hidup mereka."
Dengan langkah mantap, Arka melangkah melewati batas dimensi, menutup pintu toilet kosannya rapat-rapat dari dalam, dan bersiap menyusun strategi pertahanan paling g*** dalam sejarah umat manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!