"Masa sih? Perasaan biasa aja," kata Arka sant**. Dia menatap segel lilin hitam itu dengan saksama. Naluri petualangnya—atau mungkin lebih tepatnya rasa cuek dan nekat khas mahasiswa semester tua—mulai kambuh.
Tanpa memedulikan peringatan Elara yang sudah setengah histeris, Arka merogoh saku celana jinsnya. Dia mengeluarkan sebuah *cutter* merah seharga lima ribu rupiah yang biasa dia pakai untuk membuka paket kiriman di kosan. Dengan satu gerakan presisi ala anak kosan yang tidak sabar melakukan *unboxing*, ujung pisau *cutter* yang tajam itu langsung menyabet tepat di tengah-tengah segel lilin hitam berwujud wajah i**** tersebut.
*Krek.*
"ARKA! JANGAN!" teriak Elara sambil spontan menutup mukanya dengan kedua tangan. Dia sudah bersiap menerima ledakan sihir kegelapan dahsyat yang bakal mengubah mereka berdua menjadi tumpukan abu hitam dalam sekejap.
Satu detik... dua detik... tiga detik berlalu.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada asap hitam beracun yang keluar. Yang ada hanyalah aroma lilin gosong yang sangat tipis, disusul oleh suara gemercik magis yang perlahan-lahan meredup dan hilang begitu saja ke udara bebas.
Arka mengembuskan napas panjang, lalu menyeringai lebar. "Tuh, kan. Apa gue bilang, El. Aman-aman aja. Lagian, sihir hitam faksi i**** lo itu kayaknya nggak mempan kalau dihadapi pakai pisau *cutter* buatan pabrik Tangerang. Kurang kompatibel sistemnya."
Elara perlahan membuka celah di antara jarinya. Matanya yang bulat membelalak tidak percaya menatap gulungan kulit yang kini sudah terbuka lebar di tangan Arka tanpa menimbulkan cedera apa pun pada pemuda itu.
"K-Kok bisa...?" gumam Elara dengan wajah cengong yang menurut Arka sangat menggemaskan. "Segel itu punya kutukan tingkat tinggi! Orang biasa yang menyentuhnya tanpa mantra pelindung seharusnya langsung lumpuh!"
"Mungkin karena darah gue murni anak bumi, jadi sistem kekebalan tubuh gue nggak kenal sama *coding* sihir Solaria," gurau Arka asal.
Namun, senyum di wajah Arka langsung memudar begitu matanya membaca isi dari gulungan kulit tersebut. Di dalamnya terpampang sebuah peta wilayah Solaria bagian barat, digambar dengan tinta merah pekat yang tampak seperti darah kering. Di atas peta itu, terdapat banyak sekali tanda silang merah berukuran besar. Salah satu tanda silang yang paling tebal dan mencolok berada tepat di atas Kota Lemor—wilayah tempat mereka berada sekarang, yang juga merupakan lokasi pintu portal kosan nomor 3 milik Arka berada.
Di bawah peta, terdapat tulisan kuno Solaria yang untungnya otomatis diterjemahkan oleh kemampuan pasif yang didapat Arka sejak pertama kali menyeberang ke dunia ini.
"Ini... rencana invasi skala penuh," bisik Elara yang kini ikut mengintip dari balik bahu Arka. Napasnya mendadak memburu, wajahnya kembali pucat pasi. "Faksi utama Kerajaan Kegelapan... mereka tidak cuma mengirim pa**kan patroli kecil seperti tadi. Mereka mau mengerahkan tiga puluh ribu prajurit monster, ratusan penyihir hitam, dan... astaga, mereka juga membawa *Acid Behemoth*, monster raksasa pelontar asam korosif."
"Tiga puluh ribu?" Arka menelan ludah dengan susah payah. Di kepalanya, angka tiga puluh ribu itu setara dengan jumlah mahasiswa baru saat ospek universitas digabung jadi satu stadion penuh. "Gimana cara ngelawan monster sebanyak itu pakai pedang karatan dan panah kayu? Kota ini bakal rata dengan tanah dalam semalam."
"Bukan cuma Kota Lemor, Arka," suara Elara bergetar, hampir menangis. "Kalau kota ini jatuh, pertahanan wilayah barat bakal runtuh. Dan tempat tinggalmu... pintu ajaib di kamarmu itu, monster-monster itu pasti akan menemukannya dan menyeberang ke duniamu!"
Mendengar hal itu, bulu kuduk Arka langsung berdiri. Bayangan segerombolan orc hijau bertaring mengob**k-abrik warung burjo di depan kosannya langsung melintas di kepalanya. Belum lagi kalau mereka mengacaukan jadwal ujian akhir semesternya minggu depan. Itu adalah skenario terburuk dari yang terburuk.
"Kapan mereka bakal mulai menyerang?" tanya Arka dengan nada yang mendadak serius, kehilangan semua gaya bercandanya yang sant**.
"Berdasarkan tanggal di dokumen ini... lima hari lagi," jawab Elara lemas, tangannya terkulai di sisi tubuhnya. "Kita tidak punya waktu untuk meminta bantuan dari ibukota. Solaria akan hancur."
Arka terdiam beberapa saat. Dia memandangi gulungan kulit itu, lalu menatap Elara yang tampak begitu rapuh dan putus asa. Otaknya yang biasa dipakai untuk memikirkan cara memotong anggaran makan mingguan kini bekerja dengan kecepatan penuh, memutar otak mencari solusi instan.
"Lima hari, ya?" Arka bergumam, sebuah senyuman tipis yang sarat akan rencana g*** perlahan terukir di sudut bibirnya. "Oke, El. Jangan nangis dulu. Kita masih punya waktu. Saatnya kita pakai kekuatan paling mengerikan dan paling tidak ma**k akal yang ada di bumi."
Elara mendongak, matanya yang basah menatap Arka dengan penuh harap. "Sihir kuno terlarang? Atau senjata pemusnah massal bertenaga nuklir yang pernah kamu ceritakan itu?"
"Bukan," sahut Arka sambil menepuk dadanya dengan bangga. "Namanya... belanja modal perang pakai promo gratis ongkir ekstra di Tokopedia."
***
Satu jam kemudian, Arka sudah kembali ke kamar kosan nomor 3 miliknya di bumi. Suasana kamarnya masih sama: berantakan, ka**r lipat yang agak tipis, tumpukan buku kalkulus, dan bau sisa mi instan cup rasa soto ayam. Kontras sekali dengan atmosfer Solaria yang baru saja dia tinggalkan.
Tanpa membuang waktu, Arka langsung membongkar laci meja belajarnya. Di bagian paling belakang, di bawah tumpukan kaus kaki cadangan, dia mengeluarkan sebuah kotak besi kecil. Di dalamnya tersimpan harta paling berharganya: beberapa keping koin emas murni hasil jarahan dari monster Solaria dan keuntungan bersih hasil jualan es teh manis blender kemarin yang sudah dia tukarkan ke toko emas.
Arka membawa semua emas itu ke pusat gadai dan toko emas langganannya di dekat kampus. Prosesnya cepat karena Arka tidak mau berbelit-belit soal harga. Setelah tawar-menawar singkat yang c**up melelahkan, Arka keluar dari toko dengan senyum puas. Ponselnya bergetar, memunculkan notifikasi SMS banking yang membuat jantungnya berdegup kencang.
*Saldo ma**k: Rp 95.000.000,00.*
"G***, mendadak jadi jutawan," gumam Arka sambil berjalan cepat kembali ke kosannya. "Tapi duit segini bakal langsung habis buat modal perang. Nggak apa-apa, demi kelangsungan hidup kosan nomor 3 dan masa depan Solaria."
Begitu sampai di kamar, Arka langsung mengunci pintu, merebahkan diri di ka**r, dan membuka aplikasi Tokopedia di ponselnya. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan cahaya, mengetik kata kunci pencarian demi kata kunci dengan liar.
Pertama, Arka memikirkan soal *Acid Behemoth*—monster pelontar asam korosif yang diceritakan Elara. Senjata besi apa pun bakal meleleh kalau kena cairan itu. "Solusinya? Jas hujan proyek!" Arka menggumam sendiri.
Dia mengetik kata kunci "Jas hujan PVC tebal proyek proyekan lengan karet". Arka langsung memilih produk dengan ulasan bintang lima terbaik yang biasa dipakai oleh pekerja tambang atau konstruksi berat. Bahan PVC tebal tidak akan mempan oleh zat asam biasa.
"Oke, pesan 300 pasang warna kuning lemon menyala. Biar kalau perang kelihatan kompak kayak pa**kan minion," gumam Arka sambil langsung mema**kkannya ke keranjang belanjaan.
Kedua, masalah artileri jarak jauh. Archer di Solaria sangat terbatas, dan panah biasa tidak punya daya ledak. Arka tentu tidak bisa membeli peluncur roket RPG di Tokopedia karena bakal langsung diciduk Densus 88. Tapi, dia punya alternatif yang tidak kalah g***.
Dia mengetik: "Kembang api roket hercules jumbo isi 50 shot tembakan". Benda ini kalau ditembakkan ke langit malam bisa menghasilkan ledakan cahaya dan suara yang luar biasa bising. Bagi monster Solaria yang tidak pernah melihat kembang api bumi, ini bakal memberikan efek psikologis yang mengerikan, sekaligus efek daya ledak api yang c**up untuk membakar jubah penyihir hitam. Arka langsung memesan 150 kotak ukuran raksasa dari toko grosir kembang api terlengkap.
Ketiga, gas beracun. "Masker gas respirator ganda anti-polusi kimia". Arka memesan 200 buah, lengkap dengan filter cadangannya.
Keempat, peralatan medis modern. Di Solaria, luka gores kecil yang terkena infeksi bisa berujung pada amputasi karena minimnya sanitasi. Arka memesan 10 karton besar berisi alkohol antiseptik, Betadine ukuran satu liter, ribuan perban elastis, obat antibiotik Amoxicillin, serta ratusan strip Paracetamol dan Ibuprofen untuk pereda nyeri. Di dunia alternatif, obat-obatan ini setara dengan ramuan penyembuh tingkat tinggi (Elixir) yang sangat langka.
Terakhir, untuk pertempuran jarak dekat yang aman. Arka memesan 50 unit *taser gun* alias pistol setrum bertegangan tinggi 80 juta volt yang bisa diisi ulang dayanya menggunakan *power bank*.
Arka memeriksa total keranjang belanjanya yang sudah penuh sesak. Angkanya mencapai hampir delapan puluh juta rupiah. Dia memilih opsi pengiriman kilat menggunakan kargo instan dan kurir sameday untuk toko-toko yang lokasinya masih satu kota. Dia bahkan rela membayar biaya tips tambahan yang sangat besar agar para penjual segera memproses dan mengirimkan barangnya hari itu juga.
*Klik.* Pembayaran berhasil.
"Selesai," Arka menghela napas panjang, menyeka keringat dingin di dahinya. "Sekarang tinggal nunggu paketnya datang."
***
Keesokan harinya, area parkiran kos-kosan Arka mendadak gempar. Ibu kos sampai keluar kamar dengan daster batiknya, menatap bingung ke arah sebuah mobil boks kargo berukuran besar yang parkir tepat di depan gerbang.
"Paket buat Mas Arka kamar nomor tiga!" teriak sang kurir yang tampak kelelahan, sementara di belakangnya, tiga orang rekannya mulai menurunkan tumpukan kardus cokelat raksasa yang tingginya hampir menyentuh langit-langit mobil boks.
Arka keluar dari kamarnya sambil menyengir canggung. "Iya, Pak, betul! Di taruh di depan kamar saya aja semuanya!"
"Mas Arka ini mau buka toko grosir atau mau demo masak, sih? Banyak banget belanjaannya," tanya Ibu kos sambil menggeleng-gelengkan kepala heran melihat tumpukan kardus yang memenuhi koridor kosan yang sempit.
"Ah, ini... anu, Bu, proyek tugas kuliah kewirausahaan," jawab Arka asal sambil sibuk menandatangani lembar resi penerimaan barang.
Setelah semua kurir pergi, Arka dengan tergesa-gesa menyeret kardus-kardus berat itu ma**k ke dalam kamarnya satu per satu. Kamar kosannya yang semula sempit kini benar-benar berubah menjadi gudang logistik ekspedisi. Hampir tidak ada ruang tersisa bahkan hanya untuk melangkah.
Arka membuka pintu lemari pakaiannya yang berada di sudut kamar—pintu kayu usang yang sebenarnya merupakan portal dimensi menuju Solaria. Dia mulai mendorong kardus-kardus besar itu ma**k ke dalam portal, mengeluarkannya di sisi lain yang mengarah langsung ke sebuah gudang kayu kosong milik serikat petualang di Kota Lemor yang sudah disewa oleh Elara.
***
Di dalam gudang kayu yang remang-remang di Solaria, Elara, Kael (seorang pemanah ras elf yang berwajah dingin dan selalu skeptis), serta Orik (prajurit kurcaci bertubuh kekar dengan janggut kepang dua) sedang menunggu dengan cemas.
Pintu gudang tiba-tiba terbuka dengan suara berderit keras. Arka muncul dari balik kegelapan sambil mendorong gerobak kayu yang dipenuhi oleh gunungan kardus cokelat besar dengan tulisan-tulisan aneh khas bumi yang disegel rapat menggunakan selotip plastik bening.
"Arka! Akhirnya kamu kembali!" Elara langsung berlari mendekat, matanya berbinar lega. Namun, pandangannya segera beralih ke tumpukan kardus di belakang pemuda itu. "Dan... apa ini semua? Apa ini senjata dewa dari duniamu?"
Kael si elf melangkah maju dengan anggun, menyilangkan dada sambil menatap kardus-kardus itu dengan pandangan meremehkan. "Hanya tumpukan kertas cokelat tebal. Aku tidak merasakan adanya aliran mana atau energi sihir sedikit pun dari benda-benda ini. Arka, apakah kamu berniat membuat pa**kan kegelapan mati ketawa dengan mainan anehmu?"
"Tenang dulu, Kael. Jangan menilai buku dari sampulnya," sahut Arka sant** sambil mengambil sebuah pisau *cutter* dari sakunya.
Dengan sekali sabetan cepat, Arka merobek segel salah satu kardus terbesar. Dia merogoh ke dalam dan mengeluarkan selembar jas hujan PVC tebal berwarna kuning menyala terang. Tanpa banyak bicara, Arka langsung memakaikan jas hujan itu ke tubuh Orik si kurcaci.
Orik yang bertubuh pendek dan lebar seketika terlihat seperti buah pisang raksasa yang siap panen. Jas hujan itu sangat kedodoran di tubuhnya yang kekar.
"Arka! Apa-apaan ini?!" seru Orik, mencoba meraba-raba bahan plastik tebal yang membungkus tubuhnya. "Ini sangat ringan, tapi rasanya sangat kaku! Apa ini jenis kulit monster jenis baru?"
"Ini namanya *Zirah Pelindung Abadi Anti-Asam*," jelas Arka dengan nada bicara ala presenter iklan TV. "Bahan ini dibuat khusus untuk menahan segala jenis cairan korosif di dunia gue. Air liur asam dari monster *Acid Behemoth* yang kalian takuti itu? Nggak bakal bisa menembus bahan plastik tebal ini. Dan bonusnya, jas ini sangat ringan jadi pergerakan kalian nggak akan terhambat seperti saat memakai zirah besi yang berat!"
Elara mendekat dan meraba bahan jas hujan tersebut dengan teliti. Matanya langsung melebar saat menyadari potensi luar biasa dari benda elastis ini. "Luar biasa... ini benar-benar tidak berpori! Cairan asam tidak akan menempel dan langsung mengalir jatuh ke tanah. Bagaimana bisa dunia tanpa sihir menciptakan material sekuat ini?!"
"Di tempat gue, ini namanya teknologi polimer, El," jawab Arka sambil mengedipkan sebelah matanya.
Berikutnya, Arka membuka kardus yang berisi kembang api roket jumbo. Dia mengeluarkan satu tabung peluncur panjang yang di ujungnya terdapat sumbu merah kecil. Dia menyerahkannya kepada Kael yang masih menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Kael, lo kan pemanah andalan kita," kata Arka. "Kenalin: *Artileri Api Instan Tanpa Mana*. Cara pakainya super gampang. Lo tinggal taruh tabung ini di tanah, arahkan ujungnya ke barisan musuh, lalu bakar sumbu kecil di bawahnya menggunakan korek gas ini."
Arka mempraktikkan cara menyalakan korek gas kecil di tangannya, memunculkan percikan api kecil yang membuat ketiga petualang itu tersentak kaget karena tidak melihat adanya mantra yang diucapkan.
"Begitu sumbunya terbakar, benda ini akan meluncurkan puluhan bola api raksasa ke udara secara beruntun dengan suara ledakan yang sangat keras. Jarak tembaknya bisa mencapai ratusan meter," lanjut Arka dengan penuh percaya diri. "Yang paling penting: benda ini tidak menguras energi sihir atau mana lo sedikit pun. Bahkan anak kecil di dunia gue bisa menggunakannya tanpa perlu belajar sihir selama sepuluh tahun."
Kael menatap tabung kembang api itu dengan tangan gemetar. "Menembakkan bola api beruntun tanpa menggunakan mana sedikit pun? Ini... ini benar-benar melanggar seluruh hukum alam Solaria! Ini adalah senjata tingkat tinggi!"
"Di dunia gue, kami menyebutnya hiburan malam tahun baru, Kael. Tapi di sini, benda ini bakal jadi mimpi buruk buat pa**kan orc yang takut api," sahut Arka dengan seringai lebar.
Arka tidak berhenti di situ. Dia membuka kardus berikutnya dan mengeluarkan sebuah masker respirator gas dengan filter ganda berwarna hitam legam. Dia langsung mengenakannya ke wajahnya sendiri, membuat penampilannya seketika berubah drastis menjadi tampak seperti prajurit futuristik yang menakutkan dari masa depan.
"Mmpfh mmpfh..." suara Arka terdengar teredam dari balik masker. Dia melepasnya kembali dengan cepat. "Ini namanya *Topeng Penyaring Racun Purba*. Pakai ini di wajah kalian, dan semua gas beracun atau kabut hitam yang disebarkan oleh penyihir hitam musuh tidak akan bisa ma**k ke paru-paru kalian. Kalian bisa bernapas dengan sant** di tengah medan perang yang penuh racun."
Orik si kurcaci mengelus janggut tebalnya, tatapan matanya yang semula penuh keraguan kini perlahan-lahan berubah menjadi binar antusiasme yang liar. "Hahaha! Demi para dewa penempa! Arka, kamu benar-benar membawa mukjizat dari duniamu!"
Terakhir, Arka membuka kotak kecil yang berisi *taser gun*. Dia menyalakan tombol daya di sampingnya, lalu mengarahkan ujung pistol setrum itu ke arah udara kosong di dalam gudang yang remang-remang.
Arka menekan tombol pemicunya.
*ZAP! ZAP! ZAP!*
Loncatan arus listrik berwarna biru terang yang sangat pekat seketika berderit keras di udara, mengeluarkan suara bising yang m****akkan telinga dan memantul di dinding-dinding kayu gudang. Kilatan cahayanya menyinari seluruh ruangan dengan sangat terang.
Elara langsung melompat mundur karena terkejut, hampir saja menab**k tumpukan kardus obat-obatan di belakangnya. "S-Sihir petir tingkat tinggi tanpa mantra?! Dan energinya stabil sekali!"
"Yoi. Pistol Setrum Elektrik 80 Juta Volt," Arka tersenyum puas sambil memainkan *taser gun* itu di sela-sela jarinya dengan gaya keren. "Nggak usah capek-capek komat-kamit baca mantra kuno yang panjang. Begitu musuh berzirah besi mendekat, tinggal tempelin ujung alat ini ke badan mereka. Arus listriknya bakal langsung menjalar lewat besi zirah mereka dan bikin mereka joget kejang-kejang di tempat sampai pingsan."
Kael, Orik, dan Elara hanya bisa berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka. Mereka menatap gunungan kardus cokelat di hadapan mereka dengan pandangan yang benar-benar berbeda sekarang. Apa yang awalnya mereka anggap sebagai sampah kertas dari dunia non-sihir, kini terlihat seperti gudang persenjataan legendaris milik para dewa.
Orik tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di seluruh gudang, menepuk pundak Arka dengan sangat keras sampai pemuda itu hampir terhuyung ke depan. "Bagus sekali! Sangat bagus! Kita tidak akan sekadar bertahan dalam perang ini, Arka... Kita akan membant** mereka semua dengan mainan aneh dari duniamu ini!"
Elara melangkah mendekat, menatap Arka dengan tatapan mata yang dalam dan penuh rasa kagum yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Mahasiswa biasa dari bumi yang awalnya hanya peduli soal bayar kosan dan jualan es teh manis, sekarang berdiri di hadapannya sebagai sosok yang mungkin saja baru saja menyelamatkan seluruh dunia Solaria dari kepunahan.
"Arka..." bisik Elara dengan suara lembut, pipinya sedikit merona merah. "Kamu... benar-benar luar biasa."
Arka yang dipuji seperti itu langsung merasa salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyeringai lebar. "Ah, biasa aja kali, El. Yang penting, nanti setelah perang besar ini selesai dan kita menang..."
"Apa?" tanya Elara penasaran. "Kamu mau hadiah emas lagi? Atau wilayah kekuasaan?"
"Nggak usah muluk-muluk," sahut Arka sant**. "Lo harus bantuin gue ngerjain tugas kalkulus minggu depan. Soalnya kalau gue dapet nilai E, gue bisa didepak dari kampus, dan itu jauh lebih menyeramkan daripada seluruh pa**kan Raja I**** digabung jadi satu."
Elara tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pecah, menggema dengan indah di dalam gudang kayu yang hangat itu. Ketakutan akan perang yang sempat menghantuinya kini sepenuhnya sirna, digantikan oleh rasa optimisme yang membara.
"Deal, Arka! Aku akan jadi guru kalkulus pribadimu!" seru Elara sambil tersenyum manis.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!