"G***, ini kastil *vibe*-nya mirip wahana rumah hantu di Dufan, tapi versi modalnya triliunan," bisik Arka sambil merunduk di balik semak-semak berduri hitam.
Di hadapan mereka, Kastil Kegelapan berdiri dengan sangat angkuh. Menara-menara lancipnya yang berwarna hitam legam menjulang tinggi, seolah-olah ingin menusuk langit merah darah khas Solaria wilayah barat. Udara di sekitar sini sangat tidak bersahabatβdingin, kering, dan bau belerangnya tajam sekali sampai membuat hidung Arka gatal.
"Arka, fokus! Kita tidak punya banyak waktu. Ritual kebangkitan Raja I**** bisa selesai kapan saja kalau kita telat menyusup," tegur Elara dengan suara berbisik yang gemetaran. Penyihir elf itu tampak sangat tegang, tangannya yang memegang tongkat sihir sampai berkeringat dingin.
"Sant**, El. Panik nggak akan bikin ritualnya batal. Yang ada malah bikin kita salah langkah," sahut Arka sant**. Karakter keras kepala khas mahasiswa semester tua yang kenyang tekanan tugas akhir memang sangat berguna di situasi hidup dan mati seperti ini. "Lagian, kita udah punya rencana matang. Iya kan, Ignis?"
Ignis, sang ksatria berotot yang berdiri di samping Arka, mengangguk mantap. Meskipun wajahnya tertutup helm zirah, aura semangatnya terasa sangat membara. "Benar! Aku sudah siap menjadi garda terdepan. Tapi Arka, apakah benda p****at ini benar-benar sekuat yang kamu katakan?"
Ignis menunjuk ke arah baju zirahnya yang kini terlihat... agak nyeleneh. Di beberapa bagian vital zirahnya, terutama di bagian dada, bahu, dan persendian yang sempat retak akibat pertempuran sebelumnya, kini tertutup rapat oleh gulungan lakban hitam tebal.
Bukan sembarang lakban, itu adalah lakban serat karbon industri yang Arka bawa dari bumiβsisa proyek pengerjaan dekorasi panggung acara kampus tahun lalu yang tidak sengaja tertinggal di pojokan kosan nomor 3.
"Lo meragukan teknologi bumi?" Arka menepuk dada zirah Ignis dengan percaya diri. Bunyi *tuk-tuk* yang dihasilkan terdengar sangat padat. "Ini lakban serat karbon, Ignis. Di bumi, benda ini dipakai buat benerin bodi mobil balap sampai pipa industri bertekanan tinggi. Ditambah serat karbonnya tebal banget. Jangankan cakar monster kerdil, hantaman gada raksasa pun bakal mental. Zirah lo sekarang udah setara tank tempur!"
Ignis memegang dadanya, matanya berbinar kagum di balik celah helm. "Luar biasa... Benda tipis dan lengket ini memiliki kekuatan magis pertahanan yang sangat kokoh. Aku merasa tidak terkalahkan sekarang!"
"Nah, sekarang giliran lo, El," Arka menoleh ke arah Elara, lalu merogoh tas ranselnya. Dia mengeluarkan sebuah benda berbentuk dua tabung hitam sejajar yang dilengkapi tali gantungan. "Nih, pakai ini."
Elara menerima benda itu dengan dahi berkerut. "Benda apa lagi ini? Bentuknya aneh sekali. Apa ini sejenis alat sihir tingkat tinggi?"
"Bisa dibilang begitu. Namanya teropong binokular. Alat legendaris dari bumi buat memperdekat jarak pandang," jelas Arka sambil membantu Elara memasangkan tali teropong ke lehernya. "Coba lo tempelkan ke mata, terus putar roda kecil di tengahnya buat menyesuaikan fokus. Coba deh arahkan ke menara pengawas di atas gerbang luar."
Elara menurut. Dia mengangkat teropong itu ke matanya, lalu perlahan memutar kenop fokus seperti yang diajarkan Arka.
Seketika, mata Elara membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka karena syok. "A-Astaga! Ini... bagaimana bisa?! Menara yang jaraknya hampir setengah kilometer itu rasanya ada tepat di depan hidungku! Aku bahkan bisa melihat det**l wajah jelek monster Orc yang sedang mengantuk di atas sana!"
"Keren, kan?" Arka menyeringai puas. "Selama ini kelemahan sihir api lo itu ada di akurasi jarak jauh. Lo sering meleset karena mata lo silinder atau emang nggak biasa membidik sasaran yang jauh. Nah, dengan teropong ini, lo bisa jadi *sniper* magis pertama di Solaria. Begitu lo kunci targetnya lewat teropong, langsung tembak pake sihir api presisi tinggi lo."
Elara menurunkan teropongnya, menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara kagum, heran, dan sedikit ngeri dengan kepraktisan barang-barang dari dunia Arka. "Arka... orang-orang di duniamu itu sebenarnya penyihir semua, ya? Bagaimana bisa kalian menciptakan alat sehebat ini tanpa setetes pun energi mana?"
"Nggak, kami cuma orang biasa yang kelewat kreatif karena males repot," jawab Arka sambil terkekeh. "Oke, semuanya sudah siap. Rencana kita simpel: Elara habisi para penjaga menara dari sini secara diam-diam. Begitu jalur bersih, Ignis maju paling depan buat mendob**k gerbang luar. Gue bakal *back-up* kalian dari belakang. Paham?"
"Paham!" jawab Ignis dan Elara serempak. Hubungan kerja sama tim mereka yang awalnya canggung kini terasa sangat solid dan saling percaya.
"Sip. Elara, waktu dan tempat dipersilakan," kata Arka sambil memberikan isyarat jempol.
Elara mengambil posisi tiarap di balik semak-semak. Dia kembali menempelkan teropong binokular ke matanya. Dengan tangan kirinya yang memegang teropong untuk membidik, tangan kanannya memegang tongkat sihir yang mulai berpendar kemerahan.
"Target terkunci. Dua penjaga di menara pengawas bagian barat," gumam Elara dengan nada dingin, fokus sepenuhnya. Dia memutar kenop teropong sedikit lagi untuk memastikan arah angin. "Mantra api: *Ignis Sagitta*."
Sebuah tombak api kecil, namun sangat padat dan berkonsentrasi tinggi, tercipta di ujung tongkat Elara. Biasanya, mantra ini akan menyebar luas dan tidak terarah jika ditembakkan dari jarak sejauh ini. Namun kali ini, berkat pandangan super jelas dari teropong bumi, Elara bisa mengarahkan mana miliknya dengan sangat presisi.
*Wusss!*
Tombak api itu melesat membelah malam dengan suara desingan tipis.
*BOOM!*
Tepat sasaran! Menara pengawas barat langsung meledak dalam diam, melenyapkan dua monster penjaga di dalamnya sebelum mereka sempat membunyikan lonceng alarm.
"Kerja bagus, El! Satu lagi di menara timur!" bisik Arka menyemangati.
"Serahkan padaku," sahut Elara dengan senyum tipis yang mulai mengembang di bibirnya. Dia menggeser arah bidikan teropongnya. "Target kedua terkunci... Tembak!"
Sekali lagi, tombak api presisi meluncur dan menghantam menara timur dengan akurasi seratus persen. Dua menara pengawas utama yang menjaga gerbang luar Kastil Kegelapan kini telah lumpuh total tanpa menimbulkan kecurigaan dari pa**kan di dalam halaman kastil.
"Gerbang luar sudah bersih dari pengawasan atas! Ignis, sekarang giliran lo! Hancurkan!" perintah Arka.
"Haaaah! Rasakan ini, monster-monster kegelapan!" teriak Ignis dengan suara menggelegar. Dia langsung melompat keluar dari tempat persembunyian, berlari kencang menuju gerbang besi kastil yang tertutup rapat.
Mendengar suara gaduh, belasan monster kurcaci bertaring (*Imps*) dan an**** neraka berbulu hitam tajam langsung keluar dari balik bayangan halaman kastil. Mereka langsung menyerbu ke arah Ignis yang berlari sendirian.
"Hati-hati, Ignis! Mereka mengincarmu!" teriak Elara yang masih memantau dari kejauhan lewat teropongnya.
"Jangan khawatir! Zirahku dilindungi oleh... lakban serat karbon bumi!" teriak Ignis dengan penuh kebanggaan yang terdengar agak kocak di telinga Arka.
Tiga ekor an**** neraka melompat secara bersamaan, mencakar dan menggigit bagian dada serta pundak Ignis dengan taring-taring tajam mereka yang biasanya bisa menembus zirah besi biasa seperti kertas.
*Kret! Srek!*
Bunyi cakar tajam bergesekan dengan permukaan lakban terdengar nyaring. Namun, tidak ada satu pun cakar yang berhasil menembus lapisan pelindung hitam tersebut. Serat karbon bumi itu menahan semua daya tekan fisik dengan sangat sempurna.
"Hahaha! Rasanya cuma seperti digelitik!" Ignis tertawa puas. Dengan satu ayunan pedang besarnya yang dilapisi aura suci, ketiga an**** neraka itu langsung terlempar dan hancur menjadi debu hitam.
Beberapa monster *Imps* mencoba menembakkan panah-panah beracun ke arah sendi lutut Ignis. Namun lagi-lagi, panah-panah itu hanya membentur lakban serat karbon yang melilit lututnya dan patah begitu saja.
"G***, lakban lima puluh ribu per rol di bumi ternyata bisa jadi tameng legendaris di sini," gumam Arka yang ikut berlari di belakang Ignis. Dia membawa sebilah belati magis pendek untuk menusuk monster-monster yang mencoba mengendap-endap di sekitar kaki Ignis. "Ignis, jangan berhenti! Langsung tab**k gerbang utamanya!"
"Siap, Arka! Minggir kalian semua!" Ignis menurunkan posisi tubuhnya, memasang bahu kanannya yang dilapisi lakban paling tebal ke depan, lalu meningkatkan kecepatan larinya hingga maksimal seperti banteng yang mengamuk.
"Elara, tembak gerbangnya dengan sihir ledakan buat melemahkan engselnya!" teriak Arka memberikan komando lewat sisa-sisa napasnya saat berlari.
Dari kejauhan, Elara yang masih menggunakan teropong binokular langsung mengunci pandangannya pada engsel gerbang besi raksasa tersebut. "Sihir ledakan: *Explosio*!"
Sebuah bola api raksasa meluncur cepat, menghantam tepat di engsel gerbang bagian atas.
*DUARRR!*
Engsel gerbang itu langsung meleleh dan retak parah. Tepat pada detik yang sama, Ignis tiba dengan kecepatan penuh.
"Hiaaaaaaaaah!"
*B**KKKKKKKK!*
Suara benturan yang sangat dahsyat menggema di seluruh area luar kastil. Gerbang besi raksasa yang terkenal sangat kokoh dan tidak bisa ditembus oleh pa**kan ksatria kerajaan sekalipun, kini roboh total ke tanah akibat hantaman bahu Ignis yang dilapisi lakban serat karbon bumi dan dibantu oleh ledakan presisi dari Elara.
Asap tebal dan debu beterbangan di mana-mana. Di tengah-tengah reruntuhan gerbang, Ignis berdiri tegak sambil berkacak pinggang, napasnya terengah-engah tapi wajahnya dipenuhi kepuasan luar biasa. Dia melihat ke arah bahu zirahnya; lakbannya hanya sedikit lecet, tapi zirah aslinya sama sekali tidak mengalami kerusakan tambahan.
"Kita... kita benar-benar berhasil menembusnya," gumam Elara yang baru saja berlari menyusul mereka dengan napas terengah-engah. Dia menatap gerbang yang hancur itu dengan tidak percaya. "Pertahanan luar Kastil Kegelapan yang terkenal mustahil ditembus... runtuh hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit?"
Arka berjalan melewati reruntuhan gerbang sambil menepuk-nepuk debu di jaketnya. Dia tersenyum lebar, menatap lorong gelap di dalam kastil yang kini terbuka lebar di depan mereka.
"Gue udah bilang, kan? Kombinasi taktik anak kosan, peralatan bumi, dan kekuatan sihir kalian itu nggak ada tandingannya," kata Arka sant** sambil mema**kkan kembali sisa lakban karbon ke dalam tasnya. "Yuk ma**k. Saatnya kita kasih kejutan buat sekte pemuja i**** di dalam."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!