Pintu Kosan Nomor 3 Bisa Tembus ke Dunia Lain

Bab 2: Peluang Bisnis Antardimensi

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Peluang Bisnis Antardimensi**

Arka duduk bersila di atas ka**r tipisnya yang sudah kempes, menatap pintu kamar mandi kosannya dengan pandangan tidak percaya. Jantungnya masih berdegup kencang, seperti habis lari maraton sepuluh kilometer. Di dahi dan telapak tangannya, keringat dingin bercucuran.

Beberapa menit yang lalu, dia baru saja mema**kkan kepalanya ke dalam area toilet jongkoknya yang mendadak berubah jadi lubang cahaya biru berkilauan. Dan tebak apa yang dia lihat? Bukannya pipa pembuangan atau septic tank, Arka malah melihat pemandangan hutan pinus raksasa yang super hijau dengan langit biru bersih dan dua buah matahari yang menggantung indah.

Dua matahari, a****! Di dunia mana ada matahari kembar kalau bukan di planet fiksi atau dunia fantasi?

"Gue gak g***, kan?" Arka menampar pipinya sendiri c**up keras. *Plak!* "Aduh! Sakit... Oke, berarti ini bukan mimpi. Gue beneran gak halusinasi gara-gara stres skripsi."

Arka bangkit berdiri, berjalan perlahan mendekati pintu kamar mandi. Dia membukanya sedikit. Lubang portal berwarna biru transparan itu masih ada di sana, melayang tepat beberapa senti di atas toilet jongkoknya. Aroma angin hutan yang segar, dingin, dan bebas polusi perlahan mengalir ma**k, mengalahkan bau karbol murah yang biasa Arka pakai untuk menyikat lant**.

Otak mahasiswa manajemen semester akhir milik Arka langsung bekerja dengan kecepatan penuh. Insting bertahan hidupnya yang sempat sekarat gara-gara saldo ATM sisa seratus lima puluh ribu rupiah mendadak menyala terang benderang.

"Tunggu dulu," gumam Arka, matanya menyipit penuh rencana. "Kalau itu beneran dunia lain—dunia fantasi mirip di anime-anime *isekai*—berarti barang-barang modern dari bumi bisa jadi sesuatu yang langka banget di sana, kan?"

Arka tersenyum lebar. Senyum paling tulus yang pernah dia tunjukkan dalam enam bulan terakhir. Ini bukan lagi soal bagaimana caranya dia membayar kosan bulan depan, tapi ini adalah peluang bisnis terbesar dalam sejarah umat manusia! Bisnis impor-ekspor antardimensi tanpa pajak!

Tanpa buang waktu, Arka langsung menyambar kunci motor bebek tuanya di atas meja belajar. Dia harus bergerak cepat sebelum portal di toiletnya mendadak tertutup.

***

Tujuan pertama Arka adalah minimarket 24 jam yang terletak di ujung gang kosannya. Dengan langkah terburu-buru, dia mendorong pintu kaca minimarket hingga berbunyi *ting-tong*.

Arka langsung menuju lorong makanan instan. Matanya menyapu deretan mi cup. Di kepalanya, dia mulai menimbang-nimbang taktik pemasaran.

"Kalau gue bawa mi instan biasa yang harus dimasak pakai panci, ribet banget. Mereka di sana belum tentu punya kompor," pikir Arka. "Tapi kalau mi cup... mereka cuma butuh air panas. Dan rasa apa yang paling mewakili kejeniusan kuliner I****esia? Jelas, soto ayam!"

Arka mengambil empat buah mi cup rasa soto ayam yang paling populer. Setelah itu, dia berjalan ke meja kasir dan melirik ke arah gantungan di dekat meja pajangan. Di sana berderet korek gas murah berwarna-warni merek Tokai.

"Mbak, mi cup-nya empat, sama korek gas yang ijo ini tiga ya," kata Arka pada kasir yang menatapnya heran karena wajah Arka terlihat sangat bersemangat seperti orang yang baru menang lotre.

"Totalnya jadi dua puluh empat ribu lima ratus rupiah, Mas. Mau sekalian pulsanya?"

"Enggak, Mbak. Ini aja. Makasih!" Arka menyerahkan uang pas, lalu hampir berlari keluar dari minimarket.

Kembali ke kamar kosnya, Arka langsung mengisi termos air panas miliknya yang berwarna perak dengan air yang baru saja mendidih dari dispenser kecilnya. Dia mema**kkan empat mi cup, beberapa garpu plastik, tiga korek gas, dan termos air panas itu ke dalam tas ransel ransel usangnya.

"Oke, persiapan selesai. Saatnya menjemput cuan antardimensi," ucap Arka mantap.

Dia melangkah ma**k ke dalam kamar mandi, menatap portal biru itu sekali lagi untuk memantapkan hati, lalu melompat ma**k melangkahi toilet jongkoknya.

*Zup!*

Sensasi hangat dan sedikit pusing menyerang kepala Arka selama satu detik, sebelum akhirnya kakinya mendarat di atas tanah yang empuk dan tertutup dedaunan kering. Arka mengerjapkan mata. Suhu udara di sini sangat sejuk, jauh berbeda dengan hawa gerah Yogyakarta yang biasanya bikin gerah. Di sekelilingnya menjulang pohon-pohon raksasa yang diameternya mungkin butuh pelukan lima orang dewasa untuk bisa melingkarinya.

Arka menoleh ke belakang. Di belakangnya, portal biru itu tampak melayang rendah di dekat sebuah batu besar berlumut.

"Keren banget," bisik Arka takjub. Dia segera menandai tempat itu dengan beberapa batu kecil agar tidak tersesat saat mau pulang nanti.

Dengan langkah hati-hati, Arka mulai berjalan menyusuri jalan setapak tanah yang tampaknya sering dilewati orang. Tidak butuh waktu lama—mungkin hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki—Arka mulai mendengar sayup-sayup suara percakapan manusia.

Dia bersembunyi di balik semak-semak lebat dan mengintip. Di sebuah area terbuka di pinggir jalan setapak, tampak dua orang sedang beristirahat di dekat sebuah kereta kuda kayu yang sederhana.

Orang pertama adalah seorang pria berbadan kekar dengan pakaian pelindung kulit yang tampak usang. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang besi pendek. Sementara orang kedua adalah seorang gadis remaja berambut pirang yang dikuncir kuda, mengenakan jubah hijau dan membawa busur panah di punggungnya. Mereka berdua terlihat sangat kelelahan dan... kelaparan.

"Jarek, aku bersumpah, kalau kita harus memakan dendeng kering si**** ini lagi, gigiku bisa rontok semua," keluh si gadis pirang sambil melempar sepotong daging kering yang kerasnya kelihatan mirip sandal jepit ke atas tanah.

Pria bernama Jarek itu menghela napas panjang, wajahnya tampak kuyu. "Mau bagaimana lagi, Elian? Desa terdekat masih setengah hari perjalanan dari sini. Dan persediaan makanan segar kita sudah busuk sejak kemarin. Bertahanlah."

Arka yang mengintip dari balik semak-semak tersenyum lebar. *Target pasar terdeteksi!*

Arka sengaja membuat suara berisik dengan menginjak ranting pohon untuk menarik perhatian mereka. *Kretak!*

"Siapa di sana?!" Jarek dengan sigap langsung mencabut pedang pendeknya, sementara Elian langsung memasang anak panah pada busurnya dengan gerakan yang sangat terlatih. Mereka berdua menatap ke arah semak-semak tempat Arka bersembunyi dengan tatapan waspada.

Arka perlahan keluar dari semak-semak sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tighti, mencoba menunjukkan senyum paling ramah dan tidak mengancam yang dia punya.

"Sant**, Bro! Sant**, Mbak! Gue bukan monster, cuma manusia biasa kok," ujar Arka dengan nada sant** khas mahasiswa.

Jarek dan Elian saling berpandangan. Mereka menatap Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan dahi berkerut. Wajar saja, pakaian Arka sangat aneh bagi mereka: jaket hoodie hitam longgar, celana jogger abu-abu, dan sandal selop karet hitam. Ditambah lagi, mereka heran kenapa pemuda aneh ini bisa mengerti bahasa mereka (dan Arka sendiri heran kenapa dia bisa paham bahasa mereka, tapi dia memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang).

"Siapa kamu? Pakaianmu... sangat aneh. Apakah kamu seorang pengembara dari benua jauh? Atau penyihir?" tanya Elian, busur panahnya masih mengarah tepat ke dada Arka.

"Panggil aja Arka. Gue cuma pedagang keliling yang kebetulan lagi lewat," jawab Arka sant**. Dia perlahan menurunkan tangannya dan menepuk tas ranselnya. "Tadi gue gak sengaja denger kalian lagi kelaparan dan bosan sama makanan yang keras-keras. Kebetulan, gue punya solusi terbaik untuk perut keroncongan kalian."

Mendengar kata 'makanan', pertahanan Jarek sedikit goyah. Perut pria kekar itu bahkan mengeluarkan suara keroncongan yang c**up keras, membuat wajahnya memerah karena malu.

"Makanan apa yang kamu miliki, Pedagang?" tanya Jarek dengan nada curiga namun penasaran. "Kami tidak punya waktu untuk memasak daging mentah di sini. Kami butuh sesuatu yang cepat."

"Oh, tenang. Ini sangat cepat. Cuma butuh waktu tiga menit, dan kalian bakal merasakan makanan paling nikmat yang pernah ada di dunia ini," ujar Arka penuh percaya diri, mirip sales panci profesional.

Arka duduk bersila di atas tanah, lalu meletakkan tas ranselnya di depan tubuhnya. Jarek dan Elian perlahan mendekat, meskipun tangan mereka masih tetap siaga di dekat senjata masing-masing.

Arka mengeluarkan satu cup mi instan soto dari dalam tasnya. "Tadaaa! Ini namanya... Mi Cup Soto Nusantara."

Jarek dan Elian menatap benda silinder berbahan plastik tebal dengan gambar mi yang sangat menggiurkan di permukaannya itu dengan mata membelalak.

"Benda bundar apa ini? Apakah ini sejenis kotak sihir?" tanya Elian heran, matanya tidak berkedip menatap gambar potongan telur dan kuah kuning di kemasan mi cup tersebut.

"Bisa dibilang begitu," jawab Arka sambil terkekeh. Dia mulai membuka tutup kertas mi cup itu setengahnya, lalu mengeluarkan bumbu minyak, bumbu bubuk, dan bubuk cabai dari dalamnya. "Perhatikan baik-baik ya."

Arka merobek bungkus bumbu dengan giginya, lalu menaburkannya ke dalam cup. Aroma gurih khas MSG langsung menguar tipis ke udara, membuat hidung Jarek dan Elian kembang kempis.

Selanjutnya, Arka mengeluarkan termos peraknya. "Ini adalah wadah penyimpan elemen panas." Dia membuka tutup termos, lalu perlahan menuangkan air mendidih ke dalam cup hingga batas garis bagian dalam. Asap putih mengepul tinggi, membawa serta aroma bumbu soto yang sangat pekat dan menggoda iman.

Aroma serai, daun jeruk, bawang putih, dan kaldu ayam yang gurih langsung memenuhi area sekitar tempat mereka berkumpul. Itu adalah aroma bumbu instan I****esia yang kekuatannya setara dengan sihir hipnotis tingkat tinggi bagi orang asing yang belum pernah merasakannya.

"Ba-bau apa ini?!" Jarek menelan ludah dengan kasar. Matanya terpaku pada cup yang kini ditutup kembali oleh Arka dan dijepit menggunakan garpu plastik agar uapnya tidak keluar. "Kenapa aromanya sangat... sangat harum? Aku belum pernah mencium aroma serumit dan seindah ini sebelumnya!"

"Sabar, Ngab. Kita harus tunggu tiga menit biar mi-nya matang sempurna," kata Arka sambil menunjuk jam tangannya, meskipun dia tahu mereka tidak mengerti apa itu jam tangan.

Tiga menit terasa seperti tiga tahun bagi Jarek dan Elian. Mereka berdua bahkan sampai berjongkok di dekat Arka, memelototi cup plastik itu seolah-olah benda itu adalah telur naga yang siap menetas. Air liur mereka hampir menetes ke tanah.

"Oke, sudah tiga menit," ucap Arka akhirnya. Dia membuka tutup kertas mi cup tersebut sepenuhnya.

Uap panas yang membawa aroma soto yang luar biasa kuat langsung meledak ke udara. Arka menggunakan garpu plastik untuk mengaduk mi di dalamnya, membuat kuah kuningnya bergolak indah. Dia kemudian menyodorkan cup itu ke arah Jarek.

"Silakan dicoba, Tuan Jarek. Hati-hati, masih panas."

Jarek menerima cup itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia menatap garpu plastik dengan bingung, namun setelah melihat contoh dari gerakan tangan Arka, dia segera menusuk segulung mi kuning tebal dan meniupnya perlahan sebelum mema**kkannya ke dalam mulut.

Elian memperhatikan rekannya dengan cemas. "Bagaimana, Jarek? Apakah itu beracun?"

Jarek tidak menjawab. Matanya mendadak melotot lebar sampai hampir keluar dari rongganya. Tubuhnya menegang kaku selama beberapa detik, membuat Elian panik dan hampir menarik busurnya lagi ke arah Arka.

Namun, sedetik kemudian, Jarek langsung berteriak histeris, "DEWA CAHAYA! INI... INI MAKANAN PARA DEWA!!!"

Tanpa memedulikan rasa panas yang membakar lidahnya, Jarek langsung melahap mi tersebut dengan sangat rakus. Suara seruputan yang nyaring terdengar di tengah hutan yang sunyi itu.

"Sangat kenyal! Dan kuah kuning ini... bagaimana bisa rasanya sangat kaya?! Ada rasa asin, sedikit asam yang segar, gurih yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan rasa hangat yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku!" teriak Jarek dengan air mata yang berlinang di sudut matanya karena terlalu bahagia. Dia langsung menenggak kuah soto itu sampai tandas tak tersisa.

"Jarek! Sisakan untukku! Kamu egois sekali!" jerit Elian yang sudah tidak tahan lagi melihat kenikmatan yang dirasakan temannya. Dia merebut cup kosong itu dari tangan Jarek dan mendesah kecewa karena bahkan setetes kuah pun tidak tersisa.

Elian menatap Arka dengan pandangan memohon yang sangat dramatis. "Pedagang Arka! Tolong buatkan satu lagi untukku! Aku mohon! Aku akan membayar berapa saja!"

Arka tersenyum penuh kemenangan. *Strategi marketing sukses besar.*

"Tenang, Mbak Elian. Gue masih punya tiga lagi," kata Arka sant**. Dia segera menyiapkan satu cup lagi untuk Elian dengan cekatan. Begitu mi cup kedua matang, Elian langsung menyambarnya dan makan dengan tidak kalah rakus dari Jarek. Gadis pemanah yang anggun itu bahkan sampai mendesah keenakan berkali-kali membuat Arka sedikit salah tingkah.

Sambil menunggu Elian menyelesaikan makannya, Jarek menatap termos perak milik Arka dengan penuh rasa ingin tahu. "Pedagang Arka, wadah perakmu itu... bagaimana bisa dia menyimpan air mendidih di dalamnya tanpa menggunakan batu sihir api?"

Arka terkekeh pelan. "Oh, ini teknologi dari kampung halaman gue. Tapi kalau kalian mau bicara soal api, gue punya sesuatu yang lebih praktis daripada harus merapal mantra atau memantik batu api tradisional yang bikin pegal tangan."

Arka merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah korek gas Tokai berwarna hijau transparan. Dia memamerkannya di depan mata Jarek.

"Kalian lihat benda kecil ini?" tanya Arka.

Jarek mengangguk pelan, menatap korek gas murah seharga tiga ribu rupiah itu seolah-olah itu adalah batu permata berharga.

Arka memposisikan jempolnya di atas roda pemantik. "Perhatikan baik-baik. Jangan berkedip."

*Klik!*

Dengan satu gerakan ringan dari jempol Arka, sebuah api kecil yang stabil langsung menyala di ujung korek gas tersebut.

Jarek spontan melompat mundur selangkah dengan wajah pucat karena terkejut. "A-apa?! Api instan?! Tanpa menggunakan batu sihir atau merapal mantra tingkat tinggi?!"

*Klik.* Arka mematikan apinya.

*Klik.* Arka menyalakannya lagi.

"Sihir macam apa ini?!" Elian yang baru saja menandaskan mi cup-nya ikut berteriak kaget, hampir tersedak kuah soto terakhirnya. "Benda sekecil itu bisa menghasilkan api murni secara instan hanya dengan sekali tekan?! Apakah itu artefak sihir tingkat legenda?!"

"Yoi, ini namanya Korek Tokai. Sangat praktis buat petualang kayak kalian yang sering camping di hutan. Gak usah repot-repot gosok kayu atau nunggu penyihir api buat bikin api unggun," jelas Arka dengan gaya sant**, memutar-mutar korek gas itu di antara jari-jarinya.

Jarek menatap korek gas itu dengan mata yang berbinar-binar penuh gairah. Sebagai seorang petualang fisik yang tidak bisa menggunakan sihir, alat pemantik api instan sekecil itu adalah harta karun yang sangat berharga. Alat itu bisa menyelamatkan nyawanya di malam yang dingin saat berada di dalam hutan liar.

"Pedagang Arka!" Jarek melangkah maju, memegang kedua pundak Arka dengan erat, membuat Arka sedikit meringis karena tenaga pria kekar itu tidak main-main. "Jual benda sihir api itu dan semua makanan dewa yang tersisa di tasmu kepadaku! Berapa pun harganya, aku akan membelinya!"

Arka menahan napasnya, mencoba sekuat tenaga untuk menjaga wajahnya tetap datar dan tenang, meskipun di dalam hatinya dia sudah melompat-lompat kegirangan seperti lumba-lumba.

"Hmm... jujur aja ya, barang-barang ini sangat langka dan sulit didapatkan di tempat asal gue," ucap Arka, berbohong demi menaikkan nilai tawar. "Tapi karena kalian adalah pelanggan pertama gue di dunia ini... gue bisa kasih pengecualian. Masalahnya, gue gak terima koin recehan biasa."

Jarek langsung merogoh kantong kulit yang terikat di pinggangnya. Dia mengeluarkan sebuah koin logam berwarna kuning berkilauan yang ukurannya sedikit lebih besar dari koin seribu rupiah logam di bumi. Koin itu memiliki ukiran gambar mahkota yang sangat det**l di permukaannya.

"Aku hanya memiliki koin emas Kerajaan Ovelia ini sebagai sisa bayaran dari misi terakhir kami," kata Jarek dengan nada sedikit cemas, takut tawarannya ditolak. "Apakah... apakah ini c**up untuk menebus alat sihir api itu dan tiga sisa makanan dewa yang kamu miliki?"

Arka menatap koin itu. Jantungnya rasanya mau copot.

*Koin emas asli!*

Meskipun Arka bukan ahli perhiasan, dia bisa melihat kilau murni dan merasakan bobot berat yang khas dari emas asli berkarat tinggi dari koin tersebut. Di bumi, satu koin emas seberat itu nilainya bisa jutaan rupiah! Sedangkan modal yang dikeluarkan Arka di minimarket tadi bahkan tidak sampai tiga puluh ribu rupiah!

Arka berdeham kecil, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar karena terlalu bersemangat. "Hmm... koin emas ya? Ya sudah, karena gue lagi berbaik hati hari ini, deal. Korek Tokai ini dan tiga sisa mi cup soto yang ada di tas gue jadi milik kalian."

Arka menyerahkan korek gas hijau tersebut beserta tiga mi cup soto yang tersisa di dalam tasnya kepada Jarek dan Elian. Sebagai gantinya, Jarek menyerahkan koin emas itu ke tangan Arka.

Begitu logam dingin itu menyentuh telapak tangannya, Arka merasa dunianya mendadak berubah menjadi sangat cerah. Beban skripsi dan ancaman diusir dari kosan rasanya langsung menguap begitu saja ke udara.

"Terima kasih banyak, Pedagang Arka! Kamu adalah penyelamat hidup kami!" ucap Elian dengan tulus, memeluk tiga mi cup soto itu seolah-olah itu adalah bayi naga yang sangat berharga.

"Sama-sama, Mbak. Oh ya, kalau mau makan mi yang sisa itu, tinggal pakai air panas biasa aja ya. Gak usah ribet," pesan Arka.

"Baik! Kami akan mengingatnya!" jawab Jarek sambil sibuk mencoba-coba menyalakan korek Tokai barunya dengan wajah luar biasa bahagia. *Klik! Klik!* "Luar biasa! Ini benar-benar keajaiban!"

"Ya sudah, kalau begitu gue pamit dulu. Masih ada urusan dagang di tempat lain," kata Arka sambil menyampirkan tas ranselnya yang sekarang sudah sangat ringan karena hanya berisi termos kosong.

"Sampai jumpa lagi, Pedagang Arka! Semoga Dewa Cahaya selalu melindungimu dalam perjalanan!" teriak Jarek dan Elian sambil melambaikan tangan saat Arka mulai berjalan kembali ke arah semak-semak tempat dia datang tadi.

Begitu sosok Jarek dan Elian tidak lagi terlihat, Arka langsung berlari sekencang-kencangnya menuju batu besar berlumut tempat portalnya berada. Dia melompati portal biru itu tanpa ragu-ragu.

*Zup!*

Arka mendarat dengan mulus di lant** kamar mandi kosannya yang sempit dan sedikit berbau karbol. Dia segera menutup pintu kamar mandi dengan rapat dan menguncinya dari dalam, lalu bersandar di pintu sambil terengah-engah.

Dia membuka telapak tangan kanannya. Di sana, koin emas Kerajaan Ovelia berkilau indah di bawah temaram lampu bohlam kamar kosnya yang hanya lima watt.

Arka berjalan cepat ke ka**rnya, mengambil ponselnya yang layarnya retak, lalu membuka aplikasi Google. Dengan tangan yang gemetar karena sisa adrenalin, dia mengetik di kolom pencarian: *"Harga emas batangan per gram hari ini".*

Layar ponselnya menunjukkan angka: *Rp1.200.000,- per gram.*

Arka menimbang koin emas di tangannya. Bobotnya terasa c**up berat, mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas gram. Itu berarti koin ini bernilai sekitar dua belas hingga delapan belas juta rupiah!

"Modal dua puluh empat ribu lima ratus rupiah... dapet belasan juta?" gumam Arka dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak seperti orang g*** di dalam kamar kosnya yang sempit.

"Pers**** sama revisi skripsi Bab 4 dan 5! Pers**** sama Pak Hardi!" teriak Arka gembira sambil melempar draf skripsinya yang berserakan ke udara. "Gue bakal jadi juragan mi instan terkaya di dua dunia!"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca