Pintu Kosan Nomor 3 Bisa Tembus ke Dunia Lain

Bab 3: Sultan Baru di Kampus

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Sultan Baru di Kampus**

"G***... Ini beneran emas murni, Mas?"

Arka menahan napas saat Koh Alim, pemilik Toko Emas Jaya Makmur, meneliti kepingan koin emas berukir kepala naga di genggamannya. Pria paruh baya itu menggunakan kaca pembesar khusus, membolak-balik koin itu beberapa kali, lalu mengetuknya perlahan ke meja kaca. Bunyi *ting* yang nyaring dan berdenting indah langsung terdengar.

"Iya, Koh. Itu warisan dari kakek saya," dusta Arka lancar tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang. Bohong besar tentu saja. Koin itu adalah hasil barter pertamanya di dunia Solaria kemarin sore, setelah dia menukar empat mangkok mi cup soto ayam dan dua buah korek gas kepada seorang pemburu lokal yang kelaparan di dekat gerbang portal toiletnya.

"Kadar kemurniannya tinggi banget, hampir mendekati dua puluh empat karat. Tapi aneh, saya belum pernah lihat cap ukiran kerajaan kayak gini. Klasik banget. Mas mau jual?" tanya Koh Alim, matanya berbinar penuh minat. Bagi kolektor barang antik, koin ini nilainya pasti berkali-kali lipat.

"Mau, Koh. Butuh uang banget buat bayar kuliah sama kosan," jawab Arka jujur setengahnya.

"Satu keping ini beratnya sekitar lima puluh gram. Kalau saya hargai seratus sepuluh juta rupiah, gimana? Cash atau transfer?"

Mendengar angka itu, lutut Arka mendadak lemas. *Seratus sepuluh juta?!*

Cuma modal empat mi cup seharga total lima belas ribu rupiah dan dua korek gas seharga enam ribu rupiah, dia bisa dapat uang sebanyak ini? Ini bukan lagi untung, ini namanya perampokan legal antardimensi!

"Transfer aja, Koh. Ke rekening Mandiri saya," jawab Arka, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak gemetar karena terlalu senang.

Begitu bunyi *ting* notifikasi M-Banking di ponselnya berbunyi, Arka hampir saja berteriak histeris di dalam toko emas. Angka di layarnya benar-benar nyata: Rp110.000.000,00.

Arka keluar dari toko emas dengan langkah seringan kapas. Rasanya seolah-olah beban hidup yang menghimpit pundaknya selama setahun terakhir menguap begitu saja ke udara.

***

Tujuan pertama Arka setelah kaya mendadak adalah kembali ke kosannya. Begitu motor bebek tuanya terparkir di halaman kos, sosok yang paling ditakuti Arka langsung muncul dari balik pintu utama.

Bu Ratna, sang ibu kos berkacamata tebal dengan daster motif dahlia, berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya judes, siap menyemprot Arka yang sudah menunggak uang sewa selama tiga bulan.

"Arka! Bagus ya baru pulang! Kamu mau bayar tunggakan kapan? Jangan sampai barang-barang kamu saya keluarin sore ini juga, ya!" semprot Bu Ratna tanpa basa-basi.

Arka tidak gemetar seperti biasanya. Kali ini, dia malah tersenyum lebarβ€”senyum paling menawan yang pernah dia tunjukkan pada ibu kosnya.

"Siang, Bu Ratna yang paling cantik," sapa Arka sant**.

"Nggak usah ngerayu! Bayar sekarang!"

"Memang mau saya bayar kok, Bu. Tapi saya nggak mau bayar tiga bulan." Arka merogoh saku celana jinsnya yang agak belel.

"Wah, menantang kamu ya?!" mata Bu Ratna membelalak.

"Maksud saya, saya mau bayar langsung setahun penuh, Bu. Ditambah denda keterlambatan kemarin. Tolong ditotal ya, sekarang saya transfer lunas," ucap Arka tenang sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan aplikasi M-Banking dengan saldo ratusan juta.

Bu Ratna tertegun. Matanya langsung melotot melihat deretan angka nol di ponsel Arka. Dalam sekejap, wajah judesnya meleleh, digantikan oleh senyuman super manis yang kelewat ramah.

"Aduh, Mas Arka... Ibu kan cuma bercanda tadi. Lagian Mas Arka ini emang anak kos paling ganteng dan paling rajin di sini. Sebentar ya, Ibu ambilkan kuitansinya dulu. Mau Ibu buatkan es teh manis juga hangat-hangat?" nada suara Bu Ratna berubah drastis, naik lima oktav jadi selembut sutra.

"Nggak usah, Bu. Kuitansi aja c**up," jawab Arka, menahan tawa di dalam hati. Uang memang punya kekuatan sihir yang luar biasa, bahkan di bumi sekalipun.

Setelah urusan kosan beres, Arka langsung menuju ke kampus. Dia mendatangi bagian keuangan dan melunasi seluruh tunggakan uang kuliah tunggal (UKT) semester ini, bahkan langsung membayar untuk semester depan sekalian agar dia bisa fokus mengerjakan skripsi tanpa pusing diteror pihak akademik.

Saat berjalan di koridor kampus, Arka merasa seperti terlahir kembali. Langkah kakinya terdengar mantap.

"Woy, Ka!"

Arka menoleh. Dion, sahabat kentalnya sesama p***ang skripsi abadi, berlari kecil menghampirinya. Dion memperhatikan penampilan Arka dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Tumben lo seger bener hari ini? Biasanya muka lo kayak cucian basah belum kering diperas," ledek Dion sambil merangkul pundak Arka.

"Gue baru aja bayar lunas UKT semester ini dan semester depan," jawab Arka sant**.

Dion langsung menghentikan langkahnya. Matanya membelalak tidak percaya. "Bercanda lo nggak lucu, a****. Lo dapet duit dari mana? Jangan bilang lo jual ginjal? Atau lo melihara b*** ngepet?!"

"Sembarangan! Gue dapet investor buat proyek bisnis gue," Arka terkekeh, menepuk pundak Dion. "Udah, jangan banyak tanya. Sebagai perayaan, hari ini lo bebas mau makan apa aja di kantin. Gue yang traktir!"

"Beneran? Mau makan bakso mercon plus es jeruk tiga gelas boleh?"

"Jangankan es jeruk tiga gelas, lo mau beli sama gerobak baksonya juga gue bayarin sekarang!" seloroh Arka, membuat Dion tertawa terbahak-bahak dan langsung menuduh Arka sebagai 'Sultan Baru di Kampus'.

***

Malam harinya, di dalam kamar kos nomor 3 yang sudah terkunci rapat, Arka duduk di depan laptopnya sambil membuat daftar belanjaan baru. Kamar mandinya masih memancarkan cahaya biru lembut dari lubang portal di atas toilet jongkok.

Arka menyadari satu hal: dia tidak boleh menyia-nyiakan peluang emas ini. Portal ini adalah tambang emas pribadinya. Dan kunci untuk menguras isi Solaria bukanlah senjata canggih, melainkan barang-barang sepele harian yang ada di bumi.

Sore tadi, sebelum pulang ke kosan, Arka menyempatkan diri pergi ke pasar grosir. Dia membeli beberapa barang dalam jumlah banyak:

1. Dua dus micin merek ternama ukuran kemasan kecil.

2. Satu krat kecap manis botol plastik.

3. Dua puluh pcs jas hujan plastik tipis warna-warni yang biasanya dijual lima ribuan di pinggir jalan saat musim hujan.

Arka mengemas semua barang itu ke dalam tas ransel gunungnya yang berukuran besar. Setelah memastikan semuanya aman, dia memakai jaket tebalnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ma**k ke dalam kamar mandi.

Dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa, Arka melompat ma**k ke dalam portal cahaya biru di atas toiletnya.

*Sreeet!*

Sensasi dingin dan melayang menyelimuti tubuhnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya kaki Arka mendarat di atas rumput hijau yang basah oleh embun. Aroma udara hutan Solaria yang sangat segar langsung memenuhi paru-parunya. Langit di atas sana tampak indah dengan taburan bintang dan dua bulan yang bersinar terang.

Arka berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang menuju ke Desa Oakhaven, sebuah pemukiman kecil di perbatasan hutan yang sempat dia kunjungi kemarin. Di sana terdapat sebuah kedai minum kumuh milik seorang pria paruh baya bernama Jarek.

Begitu pintu kedai kayu itu didorong, denting lonceng berbunyi. Beberapa petualang berwajah garang dengan zirah kulit dan pedang di pinggang menoleh ke arah Arka. Arka langsung berjalan menuju meja konter tempat Jarek sedang mengelap gelas kayu.

"Hei, anak muda dari negeri asing!" sapa Jarek, matanya langsung berbinar ramah. "Alat pemantik api instan yang kamu berikan kemarin sangat luar biasa! Aku bisa menyalakan perapian dalam sekali tekan tanpa perlu batu api lagi! Kamu bawa barang ajaib apa lagi hari ini?"

Arka tersenyum misterius. Dia menurunkan ransel gunungnya dan meletakkannya di atas meja konter.

"Aku membawa ramuan kelezatan dari duniaku," kata Arka dengan nada penuh rahasia. Dia mengeluarkan satu sachet kecil micin berwarna merah putih dan botol kecap manis.

Jarek mengerutkan kening. "Ramuan kelezatan? Makanan di tempat kami hanya direbus dengan garam. Sangat hambar. Apa benda kecil ini bisa mengubahnya?"

"Mari kita coba," tantang Arka.

Jarek kemudian menyajikan sepiring daging rusa rebus yang tampak pucat dan tanpa rasa. Arka merobek sachet micin, lalu menaburkannya sedikit di atas daging tersebut. Dia juga menuangkan beberapa tetes kecap manis kental yang berwarna hitam pekat di sisinya.

"Silakan dicicipi, Tuan Jarek," ujar Arka sopan.

Jarek memandang daging itu dengan ragu. Namun, aroma manis gurih yang tiba-tiba menguar dari kecap manis mulai menggoda indra penciumannya. Dengan menggunakan pisau kecil, Jarek memotong daging tersebut, mencocolnya ke dalam kecap manis dan sejumput bubuk micin, lalu mema**kkannya ke dalam mulut.

Seketika itu juga, mata Jarek membelalak lebar. Tubuhnya menegang. Gelas kayu yang dipegangnya hampir saja terlepas dari tangan.

"Demi Dewa Cahaya..." bisik Jarek dengan suara gemetar. Dia mengunyah daging itu dengan kecepatan penuh, matanya berair karena saking enaknya. "Rasa apa ini?! Manis, gurih, kaya akan rasa... Jiwaku seperti menari-nari! Ini... ini adalah bumbu para dewa!"

Beberapa petualang di kedai yang melihat reaksi ekstrem Jarek langsung penasaran.

"Hei Jarek! Apa benar rasanya se-enak itu? Jangan bercanda!" teriak salah satu petualang bertubuh kekar.

"Aku tidak bercanda, Elidyr! Cobalah sendiri!" Jarek menyodorkan sisa dagingnya.

Si petualang bernama Elidyr maju, mengambil potongan daging tersebut, dan memakannya. Reaksinya tidak kalah dramatis. Pria berotot itu langsung berlutut di lant** kedai sambil memegangi pipinya.

"Luar biasa! Daging buruan murahan ini rasanya jadi lebih enak daripada hidangan di istana kerajaan! Anak muda, berapa harga ramuan ajaib ini?! Aku mau membelinya!" teriak Elidyr heboh.

Arka tersenyum penuh kemenangan di dalam hati. *Efek MSG mematikan digabung kecap manis emang nggak pernah gagal menjajah lidah siapapun!*

"Satu sachet kecil bubuk penyedap jiwa ini, harganya setengah keping perak. Dan satu botol nektar hitam manis ini harganya dua keping perak," kata Arka, sengaja memasang harga tinggi. Di Solaria, satu keping emas setara dengan sepuluh keping perak.

Tanpa ragu, para petualang di kedai itu langsung berebut mengeluarkan koin perak mereka. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh persediaan micin dan kecap manis yang dibawa Arka lunas terjual.

Namun, kejutan malam itu belum selesai. Saat para petualang sedang asyik menikmati makanan mereka yang kini sudah terasa 'bintang lima' berkat micin, tiba-tiba terdengar suara guntur menggelegar dari luar. Hujan badai khas Solaria yang sangat deras mendadak turun mengguyur desa.

"Sial, badai lagi! Kalau begini caranya, patroli malam kita akan basah kuyup dan kita bisa mati kedinginan karena zirah besi kita kema**kan air!" keluh salah satu penjaga desa yang baru ma**k ke kedai dengan tubuh basah kuyup.

Arka tersenyum lebar. Ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggunya.

Dia merogoh ranselnya lagi dan mengeluarkan sebuah jas hujan plastik tipis berwarna hijau neon cerah.

"Tuan-tuan sekalian," panggil Arka, menarik perhatian semua orang di kedai. "Saya punya solusi untuk masalah Anda. Ini adalah 'Zirah Transparan Anti-Badai'."

Arka membentangkan jas hujan plastik itu dan memakainya di depan mereka semua. Dia menunjukkan bagaimana air hujan sama sekali tidak bisa menembus bahan plastik tipis tersebut, dan betapa ringannya barang itu dibandingkan jubah wol tebal mereka yang kalau basah akan menjadi sangat berat.

"Benda ini bisa menahan air sepenuhnya? Dan sangat ringan?!" mata sang penjaga desa berbinar penuh harap. "Berapa harganya?!"

"Satu jubah pelindung ini... seharga satu keping perak," ucap Arka mantap.

"Aku beli lima!"

"Aku beli tiga!"

"Jangan rebutan! Aku mau yang warna merah!"

Kedai Jarek malam itu berubah menjadi pasar kaget. Jas hujan plastik murahan yang di bumi biasanya cuma dijadikan gantungan kunci atau dibuang setelah sekali pakai, di Solaria mendadak diperebutkan seperti barang pusaka legendaris tingkat tinggi.

Ketika Arka akhirnya berpamitan untuk pulang menjelang tengah malam, ransel gunungnya yang tadi berat berisi barang belanjaan, kini terasa sangat ringan namun dipenuhi oleh gemerincing koin emas dan perak yang saling berbenturan.

Kembali ke kamar kosnya lewat portal toilet jongkok, Arka langsung menumpahkan isi kantong uangnya ke atas ka**r kempesnya yang legendaris.

Puluhan koin emas dan ratusan koin perak berkilauan di bawah cahaya lampu neon kamarnya yang redup.

Arka merebahkan tubuhnya di samping tumpukan harta karun tersebut, menatap langit-langit kosan yang agak berjamur dengan senyum lebar yang enggan luntur.

"Skripsi? Aman. Kosan? Lunas. Masa depan? Jelas jadi Sultan," gumam Arka pelan, sebelum akhirnya memejamkan mata dengan perasaan paling damai yang pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca