**Bab 4: Putri Elf dan Semprotan Merica**
Ternyata, punya duit seratus sepuluh juta rupiah di rekening nggak lantas bikin Arka pensiun jadi pedagang antardimensi. Malahan, jiwa *entrepreneur* dadakannya makin meronta-ronta. Arka sadar betul kalau pintu ajaib di kamar kos nomor 3 miliknya adalah mesin pencetak uang paling gokil yang pernah ada di sejarah umat manusia.
Hari ini, bermodalkan meja lipat *portable* yang baru dia beli dari Tokopedia dan sebuah tas ransel besar, Arka kembali menyeberang ke Solaria. Dia mengambil spot di sudut pasar perbatasan, sebuah tempat ramai yang mirip pasar malam tapi versi abad pertengahan. Baunya campur aduk antara aroma daging panggang bumbu asing, keringat monster peliharaan, dan wangi tanaman herbal yang aneh.
Di atas meja lipatnya, Arka memajang barang dagangan barunya: sepuluh cup Pop Mie rasa soto dan baso, lima pak korek gas warna-warni, beberapa bungkus sosis siap makan, dan—ini yang paling estetik—lima buah senter LED mini gantungan kunci seharga sepuluh ribuan yang bisa di-*charge* pakai kabel USB.
"Ayo, Kak, silakan dilihat! Ini namanya Kotak Api Abadi, sekali pencet langsung nyala, nggak perlu mantra api!" seru Arka dengan gaya khas sales tanah abang. "Ada juga mi instan instan dari negeri seberang. C**up siram air panas, langsung kenyang!"
Beberapa petualang lokal dan manusia setengah hewan mulai mengerumuni lapak Arka. Mereka menatap senter LED mini yang dinyalakan Arka dengan mata membelalak. Bagi orang-orang Solaria yang biasa pakai obor atau sihir cahaya tingkat rendah yang boros mana, senter kecil yang super terang itu jelas kelihatan kayak artefak sihir tingkat tinggi.
Baru saja Arka mau melayani transaksi pertamanya dengan seorang pria berkepala serigala yang tertarik membeli korek gas, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari arah gerbang luar pasar.
*BOOM!*
Jeritan histeris langsung pecah seketika. Tanah yang dipijak Arka bergetar hebat. Asap hitam pekat membubung tinggi ke langit sore Solaria yang awalnya berwarna jingga kemerahan.
"Serangan! Pa**kan kegelapan menyerang!"
"Lari! Mereka membant** siapa saja!"
Pasar yang tadinya damai langsung berubah jadi lautan manusia—dan makhluk-makhluk lain—yang kocar-kacir menyelamatkan diri. Lapak-lapak pedagang terguling, barang-barang berhamburan ke tanah.
Jantung Arka hampir copot. "A****, baru juga mau jualan!" umpatnya panik. Dia buru-buru menyabet tas ranselnya dan mencoba melipat meja portable-nya dengan tangan gemetar. Ini bukan tawuran antar-geng motor di Jakarta yang paling-paling cuma modal gir motor. Ini dunia fantasi, Bos! Kalau kena tebas pedang sihir, bisa langsung beda alam beneran!
Dari arah kepulan asap, muncul belasan prajurit berkuda dengan zirah hitam legam. Wajah mereka tertutup topeng besi berbentuk tengkorak yang menyeramkan. Di tangan mereka, pedang-pedang besar berkilat merah karena dialiri sihir api. Mereka menebas apa saja yang ada di depan mereka tanpa ampun.
Arka yang sudah bersiap mau lari ke arah portalnya—yang dia samarkan di balik sebuah pilar batu besar tak jauh dari lapaknya—mendadak menghentikan langkah.
Dari arah kerumunan, seorang gadis berlari dengan napas terengah-engah. Gadis itu mengenakan jubah putih keperakan yang sudah agak robek di bagian bawahnya. Rambutnya yang pirang panjang tampak acak-acakan, tapi yang paling mencolok adalah sepasang telinga lancip yang menyembul dari balik helai rambutnya.
*G***, itu Elf?!* batin Arka melongo. *Cantik banget, kayak karakter game RPG keluar ke dunia nyata!*
Tapi wajah cantik yang biasanya terlihat anggun di ilustrasi novel itu kini dipenuhi ketakutan yang amat sangat. Di belakang gadis elf itu, dua prajurit bertopeng hitam mengejarnya dengan kecepatan penuh. Salah satu prajurit mengayunkan pedang besarnya, hampir saja menebas punggung si gadis kalau saja dia tidak refleks berkelit dan jatuh terguling di dekat tumpukan jerami, tepat beberapa meter di depan Arka.
"Uh..." Gadis elf itu meringis kesakitan, memegangi pergelangan kakinya yang tampaknya terkilir. Dia mendongak, matanya yang berwarna hijau zamrud menatap pasrah ke arah dua prajurit yang kini berjalan mendekat dengan seringai yang terasa di balik topeng mereka.
"Putri Lyra... Akhirnya pelarianmu selesai di sini," desis salah satu prajurit dengan suara berat yang menggema menyeramkan.
Gadis bernama Lyra itu mundur perlahan dengan menyeret tubuhnya. "Jangan mendekat..." lirihnya, suaranya terdengar merdu namun bergetar hebat karena ketakutan.
Arka yang bersembunyi di balik pilar batu mendadak keringat dingin. Otaknya berputar cepat. *Gue harus gimana? Kabur aja lewat portal? Tapi kalau gue biarin, ini cewek bakal mati! Tapi gue kan cuma mahasiswa biasa, bukan pahlawan isekai yang punya skill cheat!*
Saat meraba-raba tas selempang kecil di dadanya untuk mencari kunci portal, jari-jari Arka menyentuh sebuah botol tabung kecil dari besi berukuran genggaman tangan.
Itu adalah semprotan merica anti-begal merek *NATO Super Extreme Hot* berkekuatan 500.000 SHU (Scoville Heat Units) yang dia beli di Shopee seharga tiga puluh ribu rupiah. Kemarin, Arka sengaja membawanya buat jaga-jaga kalau dipalak preman pasar.
*Ah, pers**** dengan logika! Semoga ini berhasil!*
Sambil menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Arka melompat keluar dari balik pilar batu.
"Woi, muka kaleng! Sini lu!" teriak Arka sekencang-kencangnya.
Dua prajurit bertopeng itu langsung menoleh ke arah Arka. Mereka tampak bingung melihat seorang pemuda berpakaian aneh—jaket hoodie hitam dan celana jins robek-robek—berdiri menantang mereka tanpa memegang senjata tajam sama sekali.
"Manusia lemah dari mana ini? Cari mati?!" gertak salah satu prajurit sambil mengayunkan pedang apinya ke arah Arka.
Prajurit itu melangkah maju dengan cepat, berniat membelah dada Arka menjadi dua. Jantung Arka rasanya mau melompat keluar dari kerongkongan. Begitu jarak prajurit itu tinggal dua meter, Arka langsung mengarahkan botol kecil di tangannya tepat ke arah celah mata di topeng besi si prajurit.
*PSSSSSHHHH!*
Cairan kuning pekat beraroma cabai s**** super pedas menyembur keluar dalam bentuk kabut mikro, langsung menghantam tepat ke area mata dan hidung prajurit zirah hitam tersebut.
Efeknya instan dan luar biasa brutal.
"ARGGGHHH!!! MATAKU!!! PANAS!!! S**** MACAM APA INI?!"
Prajurit pertama langsung menjatuhkan pedang besarnya ke tanah. Dia berlutut sambil mencakar-cakar topeng besinya sendiri, berusaha melepasnya karena sensasi terbakar yang luar biasa. Dia berguling-guling di tanah sambil menjerit-jerit histeris, seperti orang yang disiram air keras.
Temannya yang satu lagi melongo kebingungan melihat rekannya yang tangguh mendadak lumpuh seketika tanpa ada luka fisik. "Sihir hitam jenis apa yang kamu gunakan?!" teriak prajurit kedua, langsung melompat menerjang Arka.
"Sihir Cabe Rawit, Ja****!" teriak Arka yang panik tingkat dewa. Dia langsung menekan tombol semprotan merica itu sekencang mungkin ke arah wajah prajurit kedua.
*PSSSSSHHHH!*
Tembakan kali ini bahkan lebih telak. Karena prajurit kedua sempat membuka mulutnya untuk berteriak, sebagian kabut merica itu ma**k ke dalam mulut dan tenggorokannya.
"UHUK! UHUK! COUGH! ARGHHH! DADA--DADAKU TERBAKAR! S-SESAK NAPAS!" Prajurit kedua langsung ambruk ke tanah dengan posisi sujud, batuk-batuk hebat sampai air mata dan air liurnya bercucuran deras di balik topeng. Dia bahkan tidak sanggup lagi mengangkat senjatanya.
Arka sendiri hampir tersedak karena sisa angin membawa sedikit uap merica ke arahnya. "Uhuk! A****, emang pedes banget parah!" umpat Arka sambil mengucek hidungnya yang mulai gatal.
Melihat dua prajurit elite kegelapan yang biasanya ditakuti kini kocar-kacir dan menangis bombay di tanah hanya karena sebuah botol kecil, Arka tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Efek semprotan merica ini berdurasi terbatas, dan pa**kan musuh yang lain bisa datang kapan saja.
Arka langsung berbalik dan menghampiri Lyra yang masih terduduk di tanah dengan mata melotot lebar, menatap Arka seolah-olah pemuda itu adalah penyihir legendaris yang menyamar.
"Lu masih bisa jalan nggak?!" tanya Arka cepat dengan bahasa gaulnya yang refleks keluar karena panik.
Gadis elf itu hanya berkedip bingung, tidak mengerti ucapan Arka, tapi dia mencoba berdiri dan langsung meringis kesakitan sambil hampir jatuh lagi. Pergelangan kakinya benar-benar bengkak.
"Ah, kelamaan!"
Tanpa permisi, Arka langsung merangkul pinggang Lyra dan membopong tubuh gadis itu. Tubuh sang putri elf ternyata sangat ringan, seperti kapas, dan tercium aroma harum bunga melati yang menenangkan dari tubuhnya—kontras banget dengan situasi perang di sekitar mereka.
"K-Kau... siapa?" tanya Lyra dengan bahasa Solaria kuno yang terdengar lembut namun terbata-bata.
"Nanti aja kenalannya, yang penting kita cabut sekarang!" seru Arka sambil setengah berlari membopong Lyra menuju pilar batu besar tempat portalnya berada.
Di balik pilar batu itu, terdapat sebuah pintu kayu jati tua yang tampak berdiri tegak tanpa ada dinding penyangga di kanan kirinya. Bagi orang Solaria, pintu itu kelihatan aneh dan mencurigakan, tapi bagi Arka, itu adalah jalan pulang menuju keselamatan.
Arka merogoh saku celananya, mengambil kunci kuningan antik, lalu mema**kkannya ke lubang kunci pintu tersebut. Sambil memutar kunci hingga terdengar bunyi *klik*, Arka melirik ke belakang. Beberapa prajurit kegelapan lain mulai menyadari kekacauan di tempat mereka dan mulai berlari ke arah pilar batu dengan senjata terhunus.
"Mampus, ayo cepat!"
Arka mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar, menampakkan pemandangan yang sangat tidak ma**k akal bagi Lyra: sebuah ruangan sempit dengan dinding keramik putih, sebuah wastafel, bak mandi plastik warna biru, dan gantungan handuk bergambar Doraemon. Itu adalah toilet kamar kos nomor 3 milik Arka di bumi.
Tanpa ragu-ragu, Arka langsung menarik Lyra ma**k melewati batas pintu tersebut. Begitu tubuh mereka berdua sepenuhnya berada di dalam toilet, Arka dengan cepat membanting pintu jati itu hingga tertutup rapat dan langsung menguncinya dari dalam.
*B**AAKKK!*
Hening.
Suara teriakan histeris, dentingan pedang, dan ledakan sihir di pasar Solaria mendadak lenyap seketika, digantikan oleh suara tetesan air dari keran toilet Arka yang agak bocor dan keheningan khas kamar kosan di siang hari bolong.
Arka menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang tertutup rapat itu, lalu merosot jatuh ke lant** toilet yang dingin. Napasnya memburu cepat, jantungnya berdegup seperti habis lari maraton sepuluh kilometer. Dia memandangi botol semprotan merica di tangan kanannya, lalu tertawa kecil dengan sisa-sisa napasnya.
"G***... sumpah, ini g*** banget..." gumam Arka sambil menyeka keringat di dahinya. "Shopee emang penyelamat hidup."
Sementara itu, Lyra si putri elf masih terduduk lemas di lant** keramik toilet. Matanya yang bulat menatap sekeliling dengan ekspresi luar biasa syok. Dia melihat kloset jongkok, botol sampo Lifebuoy, sabun batang Giv yang sudah mengecil, dan sebuah gantungan kunci berbentuk emoticon tersenyum yang menggantung di dekat cermin.
Dia menghirup napas dalam-dalam, dan bukannya mencium bau sihir kegelapan atau bau darah, hidungnya justru dimanjakan oleh wangi lemon yang sangat menyengat dari pengharum ruangan Stella yang digantung Arka di dekat ventilasi.
Gadis elf itu menatap Arka dengan pandangan campur aduk antara takut, bingung, dan takjub.
"I-Ini... di mana? Apakah kita sudah berada di alam baka?" tanya Lyra dengan suara gemetar, matanya mulai berkaca-kaca menatap Arka yang kini terduduk lemas di depannya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!