Pintu Kosan Nomor 3 Bisa Tembus ke Dunia Lain

Bab 5: Sembunyi di Kamar Kosan

Pengaturan Membaca

"Napas gue hampir putus, sumpah!"

Arka telentang di atas lant** ubin kamarnya yang dingin, menatap langit-langit kosan yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Jantungnya berdegup kencang, saking cepatnya sampai-sampai dia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri di telinga. Rasanya seperti baru saja lolos dari kejaran an**** herder kelaparan, tapi versi sepuluh kali lebih ekstrem karena yang mengejarnya tadi adalah ksatria berbaju zirah hitam dengan pedang menyala yang siap membelah kepalanya menjadi dua.

Di sebelah ka**r lipatnya, seorang gadis bertelinga lancip sedang duduk meringkuk. Kedua lututnya ditarik rapat ke dada, sementara kedua tangannya gemetar hebat memegangi robekan gaun hijaunya yang indah namun kini dipenuhi noda tanah dan abu gosong.

Gadis itu, Lyra, menatap sekeliling ruangan dengan mata hijau jernihnya yang membelalak lebar. Pandangannya kosong, penuh dengan rasa syok yang teramat sangat.

"Ini... di mana?" suara Lyra terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan yang tertelan angin. "Apakah ini dimensi setelah kematian? Kenapa aromanya... sangat aneh? Seperti bau minyak dan... tepung gurih?"

Arka mendengus pelan, berusaha mendudukkan dirinya sambil memegangi pinggangnya yang agak encok akibat melompat terburu-buru melewati pintu toilet tadi. "Bukan, Mbak Elf. Ini bukan akhirat. Dan bau gurih yang lu maksud itu bau sisa kuah Pop Mie rasa soto di tempat sampah gue. Selamat datang di kamar kosan gue. Selamat datang di Bumi. Lebih spesifiknya, daerah Jakarta Barat."

"Bumi?" Lyra mengeja kata asing itu dengan dahi berkerut dalam. "Bumi... dunia tanpa mana? Dunia legendaris yang hanya tertulis di lembaran kitab kuno perpustakaan istana Solaria? Bagaimana mungkin aku bisa ada di sini?"

"Ya mungkin lah, kan tadi lu latah ikut melompat pas gue lari ma**k ke pintu toilet," sahut Arka sant**, walau sebenarnya dia juga masih agak syok melihat ada makhluk fantasi nyata sedang duduk di lant** kamarnya. "Tapi tenang aja. Di sini aman. Gak bakal ada ksatria tengkorak atau monster serigala yang bakal ngejar lu ke sini."

Lyra tidak langsung menjawab. Matanya masih sibuk menjelajahi setiap sudut kamar kosan Arka yang berukuran tiga kali empat meter itu. Kamar itu sangat sederhanaβ€”atau bisa dibilang agak berantakan khas mahasiswa tingkat akhir. Ada tumpukan buku kuliah, jemuran baju yang digantung di balik pintu, kulkas mini satu pintu, dan beberapa poster band indie menempel di dinding.

Tiba-tiba, pandangan Lyra terkunci pada sebuah benda bulat berbahan plastik di sudut ruangan. Benda itu memiliki baling-baling di dalamnya yang sedang berputar dengan kecepatan tinggi, menghasilkan suara dengungan halus dan mengembuskan angin sejuk ke arah mereka.

Mata Lyra membelalak panik. Dia langsung berlutut di lant**, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan posisi menyembah. "Oh, Dewa Angin yang agung! Maafkan kelancangan hamba yang tidak menyadari kehadiranmu! Sihir angin tingkat tinggi macam apa ini? Bagaimana bisa lingkaran besi sekecil itu mengendalikan elemen angin tanpa perlu rapalan mantra atau batu mana?!"

Arka yang baru saja mau meneguk air mineral dari botol langsung tersedak. "Uhuk! Woi, woi! Bangun, Mbak! Jangan sujud-sujud ke situ!"

"Tapi... roh angin di dalam benda itu sangat patuh!" seru Lyra panik, wajahnya pucat. "Dia berputar tanpa henti!"

"Itu namanya kipas angin merek Miyako, harganya seratus lima puluh ribu di toko elektronik depan!" Arka bangkit berdiri, lalu menekan tombol '0' di badan kipas angin tersebut. Seketika, baling-balingnya melambat dan berhenti berputar. "Tuh, liat. Gak ada dewa-dewaan. Ini cuma butuh aliran listrik dari colokan tembok itu. Kalau gue pencet tombol '3', dia muter kencang lagi." Arka memencet tombolnya lagi, dan angin kembali berembus membelai rambut perak panjang Lyra.

Lyra terpaku. Dia perlahan bangkit berdiri, mendekati kipas angin itu dengan langkah super hati-hati seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja. Dia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh pelan jaring-jaring plastik pelindung kipas, lalu menarik tangannya kembali dengan cepat sambil m****ik kecil.

"Luar biasa..." gumam Lyra takjub. "Manusia di dunia ini benar-benar tidak memiliki mana, tapi kalian bisa menciptakan alat sihir secerdas ini hanya dengan... apa tadi? Lis-trik?"

"Yup. Di sini teknologi adalah dewa kami," jawab Arka bangga, meskipun dia sendiri sering menunggak bayaran listrik kosan.

Belum sempat rasa heran Lyra hilang, sebuah bunyi nyaring bernada ceria terdengar dari atas ka**r lipat Arka.

*Ting-ting-ting!*

Sebuah benda persegi panjang hitam tipis di atas ka**r mendadak menyala terang, memancarkan cahaya biru keputihan dan menampilkan beberapa baris tulisan serta gambar dinamis.

"Awas! Artefak itu memancarkan sihir penyerang!" Lyra refleks melompat ke depan Arka, merentangkan kedua tangannya dengan posisi melindungi, siap merapal mantra pelindung meskipun tidak ada satu pun energi sihir yang keluar dari tangannya. "Arka, menjauh dari benda itu!"

"Aduh, sant**, Mbak Elf..." Arka menepuk pundak Lyra yang tegang, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil benda itu. "Ini namanya handphone. HP. Cuma ada notifikasi chat ma**k dari grup angkatan kuliah gue."

Arka membuka kunci layarnya menggunakan sidik jari, menampilkan halaman utama yang dipenuhi ikon aplikasi warna-warni dan wallpaper foto kucing oren miliknya yang sedang menguap lebar.

Lyra menatap layar HP itu dengan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya. Kepalanya miring ke kiri dan ke kanan, mencoba memahami apa yang sedang dia lihat. "Bagaimana bisa... ada monster berbulu jingga yang terperangkap di dalam cermin tipis itu? Apakah kamu seorang penyihir penyegel jiwa, Arka? Dan kenapa wajah monster itu tampak sangat... mengantuk?"

Arka menahan tawa sampai bahunya berguncang. "Ini kucing, Lyra. Bukan monster. Dan ini cuma foto, semacam gambar yang diambil pakai kamera di dalam HP ini. Liat nih." Arka mengarahkan kamera depan HP-nya ke arah mereka berdua.

Seketika, wajah Arka yang agak kuyu dan wajah cantik jelita Lyra dengan telinga panjangnya terpampang nyata di layar.

"Ah! Wajahku!" Lyra m****ik, hampir saja menjatuhkan HP Arka jika cowok itu tidak memeganginya dengan sigap. "Apakah jiwaku sedang disedot ke dalam cermin itu?!"

"Kagak ada yang disedot, ini namanya foto selfie. Tuh, kalau gue senyum, di layar juga senyum," jelas Arka sabar. Dia lalu menggeser layarnya, membuka aplikasi Instagram dan memperlihatkan video reels orang sedang menari di jalanan New York. "Dan ini video. Kita bisa melihat orang-orang di belahan bumi lain melakukan aktivitas mereka secara langsung, atau yang sudah direkam sebelumnya."

Lyra menatap layar itu tanpa berkedip selama beberapa menit. Seluruh badannya melemas, bukan karena takut lagi, melainkan karena rasa takjub yang teramat sangat telah menguras seluruh energinya. Di dunianya, sihir penglihatan jarak jauh adalah sihir tingkat legendaris yang hanya bisa dirapal oleh penyihir agung kelas kekaisaran dengan bayaran ribuan koin emas dan persiapan ritual berhari-hari. Tapi di sini, di kamar sempit yang bau soto ini, seorang pemuda biasa bisa melakukannya hanya dengan mengetukkan jempolnya pada sepinggan kaca kecil.

Melihat tamunya mulai tampak kelelahan dan linglung, Arka berjalan ke arah kulkas mininya. Dia mengambil sebotol air mineral dingin, lalu menyodorkannya pada Lyra.

"Nih, minum dulu. Biar kepala lu gak meledak mikirin teknologi bumi," kata Arka.

Lyra menerima botol plastik itu dengan ragu. Dia memutar tutupnya setelah memperhatikan instruksi visual dari Arka, lalu meneguk isinya. Seketika, matanya kembali berbinar jernih. "Air ini... sangat murni. Dan dingin sekali! Apakah ini air suci yang diambil dari puncak gunung salju abadi?"

"Itu air galon isi ulang merek Aqua, harganya lima ribu per galon," gumam Arka dalam hati. Namun dia hanya tersenyum tipis. "Ya, anggap saja begitu. Jadi... Lyra, kan? Sekarang lu udah agak tenang. Bisa jelasin gak ke gue, sebenarnya apa yang terjadi di Solaria? Kenapa pasar perbatasan yang damai itu tiba-tiba diserang habis-habisan?"

Mendengar pertanyaan itu, binar di mata Lyra langsung meredup, digantikan oleh awan mendung yang sangat kelam. Dia menatap botol plastik di genggamannya dengan tatapan kosong. Bahunya yang ramping perlahan melorot.

"Kerajaanku... sudah runtuh, Arka," ucap Lyra dengan suara yang bergetar menahan tangis. "Nama lengkapku adalah Lyra Eleniel. Aku adalah putri kedua dari dinasti kerajaan Elf Eldoria di Solaria."

Arka membelalakkan matanya. "Bentar, bentar. Lu... putri raja? Royal family?"

Lyra mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. "Tiga hari yang lalu, ibukota kerajaan kami diserang secara mendadak dari dalam. Ternyata, perdana menteri kami telah berkhianat dan bergabung dengan Sekte Penyembah Raja I****. Mereka membawa pa**kan zirah hitam, monster-monster bawah tanah, dan sihir kegelapan yang sangat mengerikan."

Lyra mengusap setetes air mata yang jatuh ke pipinya yang mulus. "Mereka membant** seluruh keluarga kerajaan. Ayahanda, ibunda... semua gugur demi memberiku waktu untuk melarikan diri bersama para pengawal pribadi. Tapi satu per satu pengawalku tewas di perjalanan karena terus diburu. Sekte itu tidak akan berhenti sampai mereka menangkapku."

"Kenapa mereka ngejar lu sampai segitunya?" tanya Arka, merasa simpati sekaligus ngeri membayangkan kekejaman yang diceritakan Lyra.

"Karena di dalam darahku mengalir garis keturunan murni Elf kuno," jawab Lyra lirih. "Mereka membutuhkanku sebagai tumbal hidup untuk membuka segel terdalam dari makam Raja I**** kuno yang terkubur di bawah tanah Solaria. Jika mereka berhasil menangkapku, seluruh Solaria akan tenggelam dalam kegelapan abadi."

Lyra mendongak, menatap Arka dengan tatapan memohon yang sangat rapuh. "Aku berlari tanpa arah hingga sampai di pasar perbatasan, menyamar dengan jubah lusuh. Namun, an****-an**** pelacak bayangan mereka berhasil mengendus keberadaanku. Saat kepanikan melanda pasar, aku melihatmu ma**k ke dalam pintu toilet yang memancarkan energi magis yang aneh. Tanpa berpikir panjang, aku ikut melompat. Dan sekarang... aku ada di sini."

Arka terdiam seribu bahasa. Dia memandangi gadis di depannya dengan perasaan campur aduk. Awalnya, dia mengira pintu ajaib di toilet kamar nomor 3 miliknya hanyalah sebuah "tambang emas" gratis yang bisa membuatnya kaya raya dengan cepat hanya dengan berjualan Pop Mie dan korek gas. Tapi sekarang, dia sadar bahwa dia baru saja terlibat dalam sebuah konflik dimensi tingkat dewa yang mempertaruhkan nasib seluruh dunia lain.

"Gue... turut berduka cita atas keluarga lu, Lyra," kata Arka tulus, suaranya melunak. Dia menepuk pundak gadis elf itu dengan canggung, mencoba memberikan ketenangan. "Tapi lu gak usah khawatir lagi sekarang. Di bumi ini gak ada sihir kegelapan, gak ada sekte i****, dan gak ada ksatria zirah hitam. Pintu kosan gue selalu gue kunci slotnya dari dalam. Lu bisa sembunyi di sini sampai keadaan di sana aman."

Lyra menatap Arka dengan tatapan haru. "Terima kasih, Arka. Kamu... adalah manusia yang sangat baik. Padahal kita baru saja bertemu, tapi kamu mau menampung buronan sepertiku."

"Sant** aja. Sesama makhluk hidup harus saling membantu, kan?" Arka menyengir, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.

Namun, senyum di wajah Arka tidak bertahan lama.

*GUGUGUGUGU...*

Tiba-tiba, ubin lant** di bawah kaki mereka bergetar hebat. Getaran itu sangat kuat hingga membuat botol air mineral di lant** terguling dan tumpah. Beberapa buku di atas meja lipat Arka jatuh berserakan.

"Gempa?!" Arka panik, refleks memegang pinggiran ka**r.

"Bukan!" Lyra tiba-tiba berdiri dengan wajah yang berubah menjadi luar biasa pucat. Matanya menatap lurus ke satu arah. "Energi ini... tidak mungkin!"

Arka mengikuti arah pandangan Lyra. Jantungnya serasa merosot ke dalam perut.

Getaran hebat itu ternyata tidak berasal dari dalam bumi, melainkan berpusat di pintu toilet kosan nomor 3 miliknya. Pintu kayu berwarna cokelat yang biasanya terlihat biasa saja itu kini bergetar sangat liar, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar dan kuat sedang mencoba mendob**knya dari balik sana.

*DUM! DUM! DUM!*

Suara hantaman keras terdengar dari dalam toilet, membuat engsel pintu besi tua itu mengeluarkan derit yang menyayat telinga.

Tak lama kemudian, dari sela-sela kusen dan lubang kunci pintu toilet, memancar cahaya merah darah yang sangat pekat dan menyilaukan. Cahaya itu berdenyut-denyut seperti detak jantung monster yang sedang murka, menyinari seluruh kamar kosan Arka yang remang-remang menjadi merah mencekam. Udara di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat panas, pengap, dan berbau belerang yang sangat menyengat hidung.

"Arka! Portalnya!" teriak Lyra, mencoba mengalahkan suara gemuruh yang kian keras. "Sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di Solaria! Energi hitam yang bangkit dari ritual sekte i**** itu terlalu besar, membuat aliran dimensi di Solaria menjadi sangat tidak stabil!"

"Terus hubungannya sama pintu toilet gue apa?!" tanya Arka histeris, menutupi hidungnya dari bau belerang yang menusuk.

"Portal ini terhubung langsung dengan koordinat Solaria tempat kamu membukanya terakhir kali!" Lyra berteriak panik, tubuhnya gemetar menahan tekanan energi magis yang mulai meluap keluar dari celah pintu. "Kekuatan kegelapan di sana sedang meluap dan mencoba merembet ke dunia ini melalui portal yang tidak stabil ini! Jika portal ini hancur karena tekanan energi hitam, kita semua akan terseret ke dalam celah dimensi dan hancur menjadi debu!"

*KRETAAAK!*

Pintu toilet kayu itu mulai menampakkan retakan-retakan kecil yang memancarkan cahaya merah membara, siap meledak kapan saja.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca