Satu detik kemudian, sebuah bola api raksasa melesat tepat di atas kepala mereka, menghanguskan puc** semak-semak hingga jadi abu dalam sekejap.
*WUUUSH!*
Hawanya panas banget, sampai-sampai rambut depan Arka rasanya hampir keriting. Bau gosong langsung menyengat hidung.
"A****! Panas banget!" umpat Arka, langsung mengusap-usap kepalanya yang untungnya masih utuh. "Siapa sih yang main petasan siang bolong gini? Gak ada akhlak banget!"
"Bukan petasan, Arka," bisik Lyra dengan wajah pucat, matanya menatap lurus ke arah kepulan asap di depan mereka. "Itu sihir api tingkat menengah."
Dari balik kabut asap yang perlahan menipis, terdengar langkah kaki yang berat. Langkah itu sant**, tapi entah kenapa bikin bulu kuduk merinding. Begitu sosok itu kelihatan jelas, Arka cuma bisa melongo.
Cowo itu tinggi, tegap, dan punya rambut merah menyala yang berantakan tapi kelihatan keren kayak karakter anime. Di beberapa bagian kulit pipi dan lehernya, ada sisik-sisik merah berkilau yang menegaskan kalau dia bukan manusia biasa. Dia memakai zirah ringan warna hitam-emas, lengkap dengan pedang besar yang disampirkan di punggungnya. Tatapan matanya tajam, warnanya kuning keemasan mirip mata reptil.
"Heh, siapa yang izinin kalian ma**k wilayah gue?" tanya cowok berambut merah itu. Suaranya berat, sombong, dan super menjengkelkan. Dia melipat kedua tangannya di dada, memandang Arka dan Lyra dengan tatapan merendahkan. "Apalagi... ada bau manusia lemah yang bikin hidung gue gatal."
Arka langsung mendengus. *Wah, baru juga sampai di Solaria lagi, udah ketemu bocah songong,* batinnya kesal.
"Naga Merah..." gumam Lyra, buru-buru berdiri di depan Arka dengan pose waspada. "Ignis? Kamu Ignis si Ksatria Naga Merah yang terkenal itu, kan?"
Cowok itu menyeringai lebar, kelihatan bangga banget namanya disebut. "Oh, ternyata reputasi gue udah sampai ke telinga elf hutan. Baguslah. Jadi kalian gak perlu repot-repot gue kasih pelajaran buat tahu siapa bos di sini."
"Kebetulan banget, Ignis," ujar Lyra, mencoba bernegosiasi. "Kami butuh bantuanmu. Kami butuh pengawal kuat untuk pergi ke perpustakaan kuno di pinggiran Solaria. Kami bisa membayarmu dengan—"
"Bentar, bentar," sela Ignis sambil tertawa meremehkan. Dia menunjuk Arka dengan dagunya. "Kalian butuh pengawal? Dan siapa itu? Budak lu? Lemah banget, mana gak punya energi mana sama sekali lagi. Lu mau gue jadi bodyguard manusia ampas kayak dia? Hahaha, mimpi!"
Arka yang tadinya malas ribut, lama-lama gerah juga dikat**n 'ampas' dan 'lemah'. Dia maju satu langkah, menyejajarkan posisinya dengan Lyra, lalu menatap Ignis dengan sant**.
"Heh, Bro Merah," panggil Arka sant**. "Mulut lu boleh juga ya, disekolahin di mana? Gak usah rasis gitu kenapa sih sama manusia. Belum tentu juga lu lebih hebat dari gue."
Ignis langsung berhenti tertawa. Matanya menyipit, menatap Arka dengan pandangan tidak percaya. "Lu... barusan ngomong apa? Manusia gak berguna kayak lu berani nantang gue?"
"Gue gak nantang, gue cuma ngomong fakta. Cowok yang modalnya cuma modal bacot sama rambut merah doang biasanya aslinya cupu," tantang Arka makin memprovokasi.
Lyra langsung panik. Dia menarik-narik lengan jaket Arka. "Arka, kamu g*** ya? Dia itu Ksatria Naga! Kulitnya sekeras baja, dan dia bisa menyemburkan api! Kita bisa mati!"
"Sant**, Ly. Gue punya rencana," bisik Arka sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ignis mendengus kasar, lalu mencabut pedang besarnya dari punggung. Ujung pedang itu dia tancapkan ke tanah dengan keras sampai tanah di sekitarnya retak. *BUM!*
"Oke, manusia sombong. Gue kasih lu kesempatan," ujar Ignis dengan senyum licik. "Kita duel satu lawan satu. Kalau lu bisa bikin gue mundur satu langkah aja, gue bakal patuh dan gabung jadi pengawal kalian secara gratis. Tapi kalau lu kalah... lu harus sujud di kaki gue dan jadi keset gue seumur hidup. Gimana?"
"Deal," jawab Arka cepat, bahkan tanpa berpikir sedetik pun.
"Arka?!" Lyra hampir menjerit histeris. Dia merasa manusia dari bumi ini sudah kehilangan akal sehatnya.
Arka mengabaikan kepanikan Lyra. Dia meraba tas selempang hitam yang selalu dia bawa dari bumi. Di dalam sana, selain ada powerbank, kabel charger, dan dompet, ada satu barang yang baru dia beli kemarin lusa di toko online oranye karena lagi promo *Flash Sale*.
Sebuah alat setrum (stun gun) tipe militer berkekuatan 10 juta volt.
Bentuknya mirip senter hitam biasa, tapi di ujungnya ada dua lempengan besi kecil yang kalau tombolnya ditekan, bakal mengeluarkan sengatan listrik instan yang bisa bikin sapi kurban pingsan dalam dua detik. Harganya cuma seratus lima puluh ribu rupiah, tapi review di tokonya bintang lima semua.
Arka mengeluarkan alat itu, memegangnya dengan sant** di balik saku jaketnya agar tidak kelihatan oleh Ignis.
"Ayo, Bro. Jangan lama-lama, gue mau buru-buru nih," tantang Arka lagi sambil melambaikan tangan kirinya, memanggil Ignis untuk maju.
Ignis beneran terpancing. Wajahnya memerah menahan amarah. "Si****! Rasakan ini, manusia cacing!"
*BOOM!*
Ignis melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Langkah kakinya meninggalkan jejak hangus di rumput. Dia tidak menggunakan pedangnya—mungkin merasa terlalu mulia untuk menebas manusia biasa—melainkan mengepalkan tinju kanannya yang mulai diselimuti api merah membara. Dia berniat memukul Arka sampai pingsan sekali serang.
"Mati lu!" teriak Ignis.
Lyra memejamkan matanya, tidak tega melihat Arka yang sebentar lagi bakal jadi ayam panggang.
Namun, Arka sama sekali gak panik. Berkat sering main game konsol dan punya refleks lumayan sebagai anak futsal, Arka menunggu sampai jarak Ignis tinggal satu meter di depannya. Saat tinju api Ignis meluncur ke arah wajahnya, Arka dengan cepat merunduk ke samping kiri.
Gerakan menghindar Arka sebenarnya biasa saja, tapi karena Ignis terlalu meremehkan dan menyerang dengan nafsu besar, ksatria naga itu kehilangan keseimbangan jalurnya.
Begitu posisi Ignis terbuka lebar di sampingnya, Arka langsung mengeluarkan alat setrum dari saku jaketnya, mengarahkannya tepat ke sela-sela leher Ignis yang tidak terlindungi zirah—area sensitif di mana sisik naganya lebih tipis.
Arka menekan tombol hitam di alat tersebut dengan sekuat tenaga.
*BZZZZZZZZZZZZTTTTTTTT!!!*
Cahaya biru keputihan berkelebat hebat, diiringi suara gemeretak listrik yang sangat nyaring dan m****akkan telinga.
"ARGHHHHHHHHHHHUUUUGGGHHH!!!"
Seketika itu juga, tubuh gagah Ignis langsung menegang kaku. Matanya melotot lebar sampai pupilnya mengecil, lalu perlahan-lahan matanya berputar ke atas hingga menyisakan bagian putihnya saja. Seluruh tubuh ksatria naga itu bergetar hebat layaknya orang kesurupan yang sedang menari breakdance. Rambut merahnya yang tadi tertata rapi langsung berdiri tegak ke segala arah mirip landak gurun.
Sengatan 10 juta volt dari teknologi bumi murni mengalir langsung ke sistem saraf pusatnya, mengabaikan segala pertahanan fisik maupun mana api yang dia banggakan.
Setelah tiga detik disetrum tanpa ampun, Arka melepas tombolnya.
*Bruk!*
Ignis ambruk ke tanah dengan posisi tengkurap. Asap tipis mengepul dari ujung rambutnya, dan tubuhnya masih sesekali berkedut kecil di atas rumput.
Hening seketika.
Lyra perlahan membuka matanya. Dia mengecek situasi, berharap melihat Arka yang sudah gosong. Tapi pemandangan yang dia lihat justru sebaliknya. Arka berdiri sant** sambil meniup ujung alat hitam di tangannya layaknya koboi yang baru menembakkan pistol, sementara Ksatria Naga yang ditakuti itu terkapar tak berdaya di tanah sambil ngorok halus.
"Ar... Arka?" Lyra mengerjap-ngerjapkan matanya, syok berat. "Sihir apa... sihir petir tingkat tinggi apa yang barusan kamu pakai? Tanpa lingkaran sihir? Tanpa rapalan mantra kuno?!"
Arka terkekeh pelan, lalu mema**kkan kembali stun gun miliknya ke dalam tas selempang. "Oh, ini? Ini namanya sihir 'Flash Sale Shopee', Ly. Petir instan 10 juta volt. Bayarnya pakai COD."
"C-COD?" Lyra makin bingung, tapi dia menatap Arka dengan pandangan yang kini penuh rasa kagum sekaligus ngeri. Manusia ini benar-benar penuh misteri.
Sekitar lima menit berlalu sampai akhirnya Ignis mulai sadar. Dia melenguh pelan, memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Begitu dia mencoba duduk, seluruh ototnya terasa lemas seperti jeli.
"Aduh... kepala gue..." gumam Ignis, suaranya serak. Dia mendongak dan langsung melihat Arka yang sedang jongkok di depannya sambil tersenyum lebar—senyum yang sekarang kelihatan sangat menyeramkan di mata Ignis.
"Gimana, Bro Merah? Enak gak rasanya kesetrum petir?" tanya Arka jahil.
Ignis langsung mundur merangkak beberapa senti dengan panik. Wajah sombongnya tadi hilang total, digantikan dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa. "L-Lu... lu monster apa?! Sihir petir macam apa itu?! Gue bahkan gak merasakan aliran mana sama sekali, tapi tiba-tiba seluruh tubuh gue lumpuh!"
Bagi seorang ksatria yang mengandalkan mana dan kekuatan fisik, diserang dengan sesuatu yang sama sekali tidak menggunakan mana tapi bisa melumpuhkannya dalam sekejap adalah hal yang paling mengerikan. Di mata Ignis sekarang, Arka bukan lagi manusia lemah, melainkan penyihir hitam tingkat tinggi yang menyamar jadi gembel bumi.
"Mau tahu rahasianya?" Arka menepuk-nepuk tas selempangnya. "Makanya, gabung sama kita. Sesuai perjanjian tadi, lu harus patuh sama gue dan jadi pengawal kita. Gimana? Masih mau nantang?"
Arka pura-pura meraba tasnya lagi, membuat Ignis langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Ampun! Gak, gak mau lagi!" seru Ignis panik, wajahnya pucat pasi. Tapi di sela-sela ketakutannya, matanya juga memancarkan rasa penasaran yang sangat besar. "Oke, gue ngaku kalah. Gue bakal ikutin semua kemauan lu. Tapi... lu harus janji bakal kasih tahu gue gimana cara dapet sihir petir instan itu! Gue belum pernah lihat sihir seefektif itu seumur hidup gue!"
Arka tersenyum penuh kemenangan. Dia berdiri lalu menepuk pundak Ignis yang masih sedikit bergetar karena sisa-sisa listrik.
"Gampang, ntar kalau kita sempat balik ke kosan gue, gue pesenin satu warna merah biar couple-an sama rambut lu," ujar Arka sant**. "Sekarang, buruan berdiri. Tunjukin jalan ke perpustakaan kuno itu. Jangan sampai portal di toilet kosan gue keburu meledak."
Ignis mengangguk patuh bagaikan anak an**** yang baru jinak, sementara Lyra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana ksatria naga paling songong di wilayah ini bisa takluk hanya dalam waktu tiga detik di tangan Arka dan alat aneh dari dunianya. Perjalanan mereka ke perpustakaan kuno Solaria akhirnya resmi dimulai dengan pengawal baru yang kini sangat penurut.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!