**Bab 8: Misi Pertama: Dungeon Goa Kristal**
"Gue masih gak habis pikir, naga agung kayak gue bisa disuap pake mie kuah instan rasa pedas mampus," gerutu Ignis sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya mengerucut sebal, tapi tangannya tetap memegang erat bungkus kosong *Samyang* yang dia simpan di dalam saku zirahnya sebagai kenang-kenangan.
"Elu aja yang murahan, Naga Merah," sahut Lyra sambil menahan tawa. Gadis elf itu sedang sibuk merapikan anak panah di punggungnya.
"Berisik, Kuping Panjang! Itu namanya diplomasi kuliner!" balas Ignis, wajahnya memerah sampai ke ujung sisik di pipinya.
Arka cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua makhluk dunia lain ini. Setelah negosiasi alot (yang sebenarnya cuma butuh satu cup mie instan super pedas dari lemari stok kosannya), Ignis akhirnya setuju buat jadi garda terdepan tim mereka. Ditambah Elara, seorang penyihir muda berbakat berambut perak yang merupakan sahabat Lyra, tim mereka sekarang sudah lengkap dan siap tempur.
Tujuan mereka hari ini: Goa Kristal.
Sebuah *dungeon* kelas menengah yang terletak di perbatasan hutan Solaria. Di dalam sana, terdapat Kristal Mana murni yang energinya bisa dipakai Arka buat nyetabilin portal toilet kosannya yang sering *error* dan megap-megap kayak kompor gas kehabisan minyak.
Saat mereka berempat sampai di depan mulut goa, hawa dingin nan lembap langsung menyergap. Mulut goa itu kelihatan gelap gulita, mirip tenggorokan monster raksasa yang siap menelan mereka bulat-bulat. Bau belerang dan aroma busuk khas spora jamur liar tercium samar-samar.
"Oke, guys, kumpul dulu," panggil Arka, menepuk tangannya beberapa kali seperti seorang pelatih futsal yang mau membagikan taktik tak terduga.
Ignis, Lyra, dan Elara langsung mendekat, meskipun wajah Ignis masih kelihatan malas-malasan.
"Goa ini gelap banget, kan? Dan berdasarkan info dari Elara, di dalam banyak tanaman spora beracun yang bisa bikin paru-paru kita berjamur," kata Arka serius.
"Tenang aja, Arka. Gue bisa pakai sihir api gue buat membakar jalan dan jadi obor!" ujar Ignis sombong. Tangannya sudah mulai memercikkan api merah yang terang.
"Heh, jangan!" Arka langsung menepis tangan Ignis sampai apinya padam. "Lu mau kita mati konyol? Di dalam goa sempit begini, kalau lu main bakar-bakaran, oksigennya bakal habis. Kita bisa pingsan gara-gara kekurangan napas. Belum lagi kalau ada kantong gas metana yang gak kelihatan, begitu kena api lu... *BOOM!* Kita semua jadi sate naga."
Ignis melongo. "Gas... me-apa? Apaan sih itu? Tapi kan obor itu standar petualang!"
"Itu standar kuno. Sekarang, kita pakai cara modern," ujar Arka penuh kemenangan. Dia menurunkan ransel hitam besarnyaβransel yang sengaja dia bawa dari dunia manusia setelah sempat 'pulang' sebentar lewat pintu kosan nomor 3 kemarin malam.
Arka merogoh ranselnya dan mengeluarkan empat buah masker medis N95 berwarna abu-abu gelap.
"Nih, pakai ini dulu," kata Arka sambil membagikan masker itu satu per satu.
"Ini kain pelindung apa? Kok tipis banget? Gak ada aliran mana-nya sama sekali," tanya Elara, membolak-balik masker itu dengan heran. Matanya yang bulat menatap Arka dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Ini namanya masker N95 dari dunia gue. Gak butuh mana, tapi teknologi seratnya bisa menyaring partikel super kecil, terma**k spora beracun di dalam goa ini. Pakainya gini, cantolin di kuping, terus bagian kawatnya ditekan pas di hidung," jelas Arka sambil mempraktikkannya.
Lyra dan Elara langsung mengikuti instruksi Arka dengan patuh. Ignis sempat mendengus dan mengeluh kalau masker itu bikin dia kelihatan tidak keren, tapi setelah diancam Arka kalau jatah mie instannya bakal dipotong, si Ksatria Naga itu akhirnya pasrah memakai masker abu-abu tersebut.
Melihat cowok berambut merah sangar, berzirah gagah, tapi pakai masker medis penutup hidung, Arka hampir saja kelepasan tertawa. *Sumpah, estetikanya jadi hancur banget, tapi yang penting aman,* batin Arka geli.
"Langkah kedua: penerangan," kata Arka lagi. Kali ini dia mengeluarkan empat buah senter LED taktis berkekuatan 10.000 lumens yang biasa dipakai polisi atau tim SAR. Senter itu berukuran genggam, tapi dayanya luar biasa.
*KLIK!*
Arka menyalakan salah satu senter dan mengarahkannya ke dalam goa. Seketika itu juga, lorong goa yang tadinya gelap gulita langsung terang benderang seperti siang hari. Cahaya putihnya yang super fokus menembus kegelapan hingga puluhan meter ke depan.
"Demi Dewa Solaria..." gumam Elara, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. "Sihir cahaya tingkat tinggi tanpa merapal mantra? Arka, kamu ini sebenarnya penyihir agung dari mana?"
"G***! Terang banget, a****!" seru Lyra, saking kagetnya sampai tidak sengaja memakai kata ka**al yang sering dia dengar dari Arka.
Ignis matanya sampai berkedip-kedip karena silau. "Si****, alat apa lagi ini? Kok bisa menghasilkan cahaya sekuat ini tanpa membakar apa-apa?"
"Ini namanya senter LED, Bro. Pake baterai lithium yang bisa dicas," jawab Arka bangga. Dia membagikan senter itu ke masing-masing anggota tim. "Gak bakal bikin oksigen habis, gak bakal bikin kebakaran, dan jangkauannya jauh. Senter ini juga punya mode *strobe*βyang kalau dipencet bakal kedap-kedip cepat banget. Bisa dipakai buat membutakan mata monster goa yang sensitif sama cahaya."
Terakhir, Arka mengeluarkan empat buah *walkie-talkie* (HT) kecil berwarna hitam. Dia menjepitkan alat itu di kerah baju masing-masing rekannya, lalu memasang *earpiece* di telinga mereka.
"Ini alat komunikasi jarak jauh. Namanya *walkie-talkie*," jelas Arka. Dia berjalan menjauh sekitar sepuluh meter ke dalam kegelapan, lalu menekan tombol di samping HT-nya.
"Tes, tes. Satu dua dicoba. Ma**k Pak Eko, ganti," suara Arka terdengar sangat jernih dan nyaring langsung di telinga Lyra, Elara, dan Ignis melalui *earpiece* mereka.
Ketiganya langsung melompat kaget. Ignis bahkan refleks mencabut pedang besarnya karena mengira ada roh yang mera**ki telinganya.
"Woy! Siapa yang bisik-bisik di kuping gue?!" teriak Ignis panik, celingukan seperti orang linglung.
"Gue, Ignis. Ini suara gue lewat alat itu," sahut Arka sambil berjalan kembali mendekat dengan cengiran lebar di wajahnya. "Gak usah teriak-teriak. Tinggal pencet tombol ini kalau mau ngomong. Jadi, kalau kita kepisah atau ada yang diserang dari belakang, kita bisa langsung koordinasi tanpa perlu teriak-teriak yang malah bisa memancing monster lain. Paham?"
Elara menyentuh *earpiece* di telinganya dengan takjub. "Ini... benar-benar luar biasa. Di dunia kami, alat komunikasi sihir seperti ini sangat mahal dan hanya bisa dimiliki oleh para bangsawan atau penyihir tingkat tinggi kelas kerajaan. Tapi kamu membagikannya seolah ini cuma mainan."
"Di dunia gue, ini dijual di toko online dan harganya gak nyampe seratus ribu rupiah," batin Arka sambil tersenyum misterius. "Oke, semuanya siap? Formasi standar. Ignis di depan sebagai *tanker*, gue di tengah sebagai *shot-caller* sekaligus *support* logistik, Lyra sama Elara di belakang sebagai *damage dealer*. Let's go!"
Dengan persiapan modern yang sangat tidak biasa bagi standar Solaria, mereka mulai melangkah ma**k ke dalam Goa Kristal.
Keadaan di dalam goa ternyata jauh lebih menantang dari yang mereka duga. Jalanannya licin karena tertutup lumut basah, dan beberapa kali mereka harus melewati jembatan batu alami yang sangat sempit dengan jurang dalam di kanan-kirinya. Untungnya, senter LED super terang milik Arka membuat setiap sudut goa yang berbahaya itu kelihatan jelas, meminimalisir risiko mereka terpeleset.
"Arka, di depan ada persimpangan," bisik Ignis melalui *walkie-talkie*. Meskipun awalnya menolak, sekarang dia kelihatan sangat menikmati menggunakan alat itu. Dia berbisik dengan gaya sok keren layaknya agen rahasia di film-film aksi.
"Oke, bentar. Elara, coba deteksi aliran mana yang paling kuat ke arah mana?" tanya Arka.
Elara memejamkan matanya sejenak, membiarkan rambut peraknya sedikit melayang saat dia merasakan energi magis di sekitar mereka. "Arah kanan, Arka. Aku merasakan fluktuasi energi mana yang sangat murni di sana. Tapi... aku juga merasakan ada banyak detak jantung makhluk hidup di lorong itu."
"Kelelawar Spora," sahut Lyra cepat. "Mereka monster pelindung goa ini. Biasanya mereka menyerang dalam kelompok besar dan menyemburkan gas tidur."
"Gas tidur gak bakal mempan karena kita pakai masker N95," kata Arka tenang. "Tapi jumlah mereka yang banyak bisa jadi masalah. Ignis, siap-siap. Begitu mereka keluar, jangan langsung tebas serampangan. Kita pakai taktik *flashbang*."
"Taktik apaan lagi itu?" tanya Ignis heran.
"Begitu gue bilang 'sekarang', kalian bertiga arahkan senter ke depan, terus pencet tombol dayanya dua kali dengan cepat biar ma**k ke mode kedap-kedip (*strobe*). Monster goa matanya sangat sensitif. Cahaya kedap-kedip itu bakal bikin mereka pusing dan buta sementara. Setelah itu, Lyra sama Elara tinggal habisi mereka dari jauh. Paham?"
"Gokil, taktik lu licik juga ya," seringai Ignis, mulai menyukai cara kerja Arka yang praktis dan efisien.
Mereka melangkah perlahan mema**ki lorong sebelah kanan. Dan benar saja, baru berjalan sekitar dua puluh meter, terdengar suara kepakan sayap yang sangat bising dari kegelapan di depan. Ribuan kelelawar seukuran kucing dengan mata merah menyala dan tubuh yang diselimuti jamur bercahaya terbang ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
*CIT! CIT! CIT!*
Suara lengkingan mereka memenuhi lorong goa, c**up untuk membuat nyali petualang biasa menciut.
"Mereka datang!" seru Lyra, tangannya sudah siap menarik busur panah.
"Tahan... tahan..." Arka memperhatikan jarak kelompok kelelawar itu melalui sorot senternya. Sepuluh meter... lima meter...
"SEKARANG! KLIK DUA KALI!" teriak Arka lewat HT.
*KLAP! KLAP! KLAP! KLAP!*
Seketika itu juga, empat buah senter LED taktis di tangan mereka berubah menjadi lampu strobo super cepat. Cahaya putih yang berkedip g***-g***an itu langsung memenuhi lorong sempit tersebut.
Efeknya instan dan luar biasa.
Rombongan Kelelawar Spora yang tadinya terbang dengan formasi rapi langsung kehilangan arah. Mereka menab**k dinding goa, saling bertab**kan satu sama lain, dan jatuh bergelimpangan di tanah sambil mencicit kesakitan karena mata mereka mendadak buta akibat intensitas cahaya yang terlalu ekstrem.
"A****, beneran berhasil!" teriak Ignis kegirangan. "Lyra, Elara, sikat!"
"Panah Angin: Hujan Badai!" Lyra melepaskan anak panahnya yang langsung pecah menjadi puluhan jarum angin tajam, melesat cepat menghujani monster-monster yang sedang kebingungan di tanah.
"Bola Cahaya Suci!" Elara merapikan mantranya, menciptakan bola energi putih yang meledak tepat di tengah-tengah kerumunan kelelawar, menyapu bersih sisa-misa monster yang masih bertahan.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, seluruh kelompok Kelelawar Spora yang biasanya menjadi mimpi buruk bagi para petualang pemula berhasil diatasi tanpa ada satu pun anggota tim Arka yang lecet atau terkena gas tidur.
Ignis menurunkan pedangnya, lalu menatap Arka dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Yang ada hanyalah rasa kagum yang mendalam, meskipun egonya yang setinggi langit membuat dia gengsi untuk mengatakannya langsung.
"Oke... gue akui, taktik 'senter joget' lu tadi lumayan keren," gumam Ignis sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
"Senter joget kepalamu, itu namanya strobo," sahut Arka sambil tertawa kecil. "Tapi kerja bagus, semuanya. Kerjasama tim yang solid. Ayo lanjut, target kita sudah dekat."
Mereka berjalan beberapa menit lagi hingga lorong goa itu akhirnya terbuka lebar, mengarah ke sebuah aula gua raksasa yang sangat indah. Di tengah-tengah aula tersebut, tumbuh pilar-pilar kristal berwarna biru muda yang memancarkan cahaya lembut yang menenangkan.
Itulah Kristal Mana murni yang mereka cari.
"Indah banget..." bisik Lyra takjub, matanya berbinar menatap pantulan cahaya biru kristal di dinding-dinding goa.
"Arka, lihat! Itu Kristal Mana tingkat tinggi! Dengan energi sebanyak itu, pintu kosanmu bukan cuma bisa stabil, tapi mungkin bisa terbuka lebih lama!" kata Elara dengan nada bersemangat.
"Mantap," Arka tersenyum lebar. Dia langsung mengeluarkan palu geologi dan pahat besi dari dalam tasnya. "Ayo kita panen kristalnya, terus kita pulang ke kosan. Gue bakal masakin mie instan lagi buat perayaan misi pertama kita yang sukses besar!"
"Setuju! Gue mau yang kuahnya merah membara kayak naga!" seru Ignis paling semangat, bahkan langsung menawarkan diri untuk memahat kristal paling besar menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa.
Melihat kekompakan timnya yang unik ini, Arka merasa kalau hidup barunya sebagai penjaga pintu kosan lintas dimensi ternyata tidak seburukβdan sebosanβyang dia bayangkan sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!